Mr And Mrs Chandramohan

Mr And Mrs Chandramohan
Kompak nya Para Bumil



Sudah 3 minggu sejak keluarga Charlie kembali dari Dubai, dan selama itu pula Jendra rutin mengetik e mail untuk Alona yang dikirimkan pada Ranveer.


Ranveer selalu mendapat e mail dari calon menantu nya itu setiap akhir minggu. Bocah kecil tersebut bercerita bagaimana hari hari nya berlangsung, tentang teman teman nya, atau tentang kesibukan nya dalam merakit robot. Sebagai ayah yang baik, Ranveer membiarkan putri nya untuk membalas e mail tersebut.


Seperti yang terjadi pagi ini, Jendra terlihat sibuk dengan ipad nya. Tampak nya ia tengah merangkai kata kata yang pas untuk ia kirimkan pada sahabat nya.


"Sayang, jadi ikut aunty Janvi tidak ?!" Seru Mohini dari luar pintu kamar Jendra." Ikut momy ! Tunggu sebentar !" Jendra buru buru mengirim e mail nya setelah itu dia menyambar kemeja putih yang tergelatak di atas ranjang.


"Sudah siap aunty !" Ujar nya saat tiba di ruang keluarga. Terlihat Janvi bersama sang suami sudah menunggu keponakan kecil mereka yang ingin ikut periksa kandungan ke rumah sakit.


Janvi, Rhea, dan Shamita akan memeriksakan kandungan mereka secara bersama sama. Dan tampak nya Jendra tak ingin melewatkan momen tersebut, ia ingin melihat bagaimana para calon uncle dan aunty nya tumbuh di dalam sana.


"Come on aunty, kita berangkat." Janvi mengangguk, mereka pun akhirnya pergi ke rumah sakit bersamaan.


Di rumah sakit, dokter Ansel telah menyiapkan tiga brankar untuk tiga pasien nya hari ini. Mereka bertiga sangatlah kompak dalam segala hal, mulai dari rentang kehamilan yang tak terlalu jauh, sampai saat pemeriksaan pun harus dilakukan bersama.


Mau tak mau, dokter Ansel harus memanggil dua rekan nya yang lain untuk membantu nya pagi ini. Para perawat juga sigap membantu mengecek berat badan hingga tekanan darah para ibu hamil tersebut. Setelah nya mereka baru dipersilahkan untuk berbaring di brankar.


"Baiklah, Mom. Silahkan naik ke brankar yah. Kita akan lakukan USG Transvaginal," kata Dokter Ansel.


Melihat transducer yang besar dengan panjang hingga 13 centimeter itu membuat para ibu hamil ini merasa ngeri. Mereka tahu bahwa transducer itu yang akan dimasukkan ke dalam inti sari tubuh nya.


"Dok, saya takut," balas mereka bertiga bersamaan.


"Tidak apa apa, Moms. Tidak sakit kok. Justru di trimester awal dianjurkan karena transducer ini bisa melihat hingga ke rahim," balas Dokter Zeline yang bertugas hari ini bersama Dokter Ansel dan Dokter Mavra.


Akhirnya datang tiga orang perawat yang membantu mereka. Kemudian bagian transducer diberikan gell usg kemudian perlahan lahan Dokter Ansel memberikan instruksi kepada Rhea.


"Pelan pelan saya masukkan yah, Mom. Tahan nafas...tolong jangan berfikir yang aneh aneh," kata Dokter Ansel. Hal yang sama juga terjadi pada Shamita dan Janvi.


"Nah, terlihat di monitor yah, ini adalah rahim nya Mom Rhea. Rahim ini nanti yang akan menjadi tempat tumbuh kembang si kecil, dan titik ini adalah embrio nya," kata Dokter Ansel.


"Nah, bisa dilihat yah. Ini ada embrio yang berenang renang di dalam rahimnya Mom Rhea. Janin nya sangat sehat ya, detak jantung nya sudah terdeteksi dengan baik." Imbuh Dokter Ansel lagi.


"Dug...Dug...Dug..." Rhea dan Manohar terharu bukan main saat mendengar detak jantung calon buah hati yang mereka nantikan kehadiran nya ini. Meski ini bukan kali pertama Manohar mengantar istrinya memeriksakan kehamilan, tetapi tetap saja perasaan haru masih dirasakan oleh pasutri tersebut.


"Apa Junior ku tumbuh sehat, Ansel ?" Dokter Ansel tersenyum kearah Manohar." Perkembangan nya sangat baik tidak ada yang perlu dikhawatirkan, Tuan," kata Dokter Ansel.


"Dokter, apa istri dan anak kami baik baik saja ?" Kali ini Pratap yang bertanya pada Dokter Zeline." Ibu dan janin nya sehat sehat, Tuan. Janin nya berkembang dengan baik dan sangat aktif." Kata Dokter Zeline ramah.


"Dok, ini calon anak kami ?" Raj tampak tak berkedip saat melihat layar monitor yang menayangkan kondisi calon anak mereka di dalam rahim sang istri.


"Itu benar, ini calon anak kalian. Bisa dilihat yah, kondisi nya sehat dan aktif. Saya akan meresepkan vitamin juga penguat kandungan untuk Mom Janvi." Ucap Dokter Mavra kepada pasutri tersebut.


"Terimakasih ya, Dokter Mavra." Balas kedua nya ramah.


Ketiga lelaki ini terlihat menuju apotek guna menebus resep vitamin juga penguat kandungan bagi istri istri mereka." Bagaimana kondisi cucu ku, Raj ?" Tanya Manihar dan Pratap secara bersamaan. Kedua kakek ini sangat mengkhawatirkan keadaan cucu mereka.


"Semua nya baik, Dad–Yah." Jawab Raj sebelum ia mengambil sekantung obat yang sudah diresepkan tadi. Manohar dan Pratap pun sama, mereka juga mengambil obat sesuai resep tadi.


"Aunty, adik ku baik baik saja kan ?" Jendra mendekati aunty nya sembari membawakan smothies yang dibeli bersama Jack tadi saat mereka melakukan pemeriksaan.


"Adik mu sehat Jendra, oh ya..apa ini untuk aunty ?" Jendra mengangguk ia menyerahkan smothies strawberry kesukaan aunty nya itu.


"Terimakasih, kakak Jendra."


"Jendra juga membelikan smothies untuk nenek dan oma." Kedua wanita paru baya itu terlihat menyunggingkan senyum di bibir masing masing." Terimakasih ya, Sayang." Rhea menerima smothies pemberian cucu nya dan memberinya kecupan hangat di pipi chubby nya.


"Cucu oma memang sangat baik dan perhatian."


"Oh ya, adik bayi nya sehat kan oma, nenek ?" Bocah kecil itu juga bertanya kondisi kedua calon paman atau aunty nya itu.


"Oma, foto usg punya oma mana ?"


"Wahhh...mereka menggemaskan ya, Oma–Nenek."


"Jendra maunya adik nya boy atau girl ?" Tanya mom Shamita.


"Boy, Jendra mau semua adik nya boy." Ujar Jendra yang sangat ingin ketiga calon adik bayi nya berjenis kelamin laki laki.


"Kalau ada yang girl bagaimana ?"


"Begitu ya...kalau ternyata girl, Jendra juga sayang kok, Oma."


"Pintar nya cucu Nenek dan Oma."


"Nenek, itu kakek sudah selesai." Jendra menunjuk ke arah sang kakek yang datang membawa kantung berisi vitamin.


"Iya...Opa dan Uncle juga sudah selesai."


"Sweetie, ini vitamin dan penguat kandungan untuk mu." Ucap Manohar yang sudah duduk di samping sang istri.


"Terimakasih sudah mau mengambilkan nya untuk ku. Love you, Manu."


"Sudah selesai, By ?" Dady Pratap mengangguk membenarkan.


"Ini, jangan lupa diminum vitamin dan penguat nya." Dady Pratap menyerahkan bungkusan itu pada istrinya." Terimaksih. Cup." Mom Shamita turut mengecup sungkat pipi suami nya sebagai bentuk terimakasih nya.


"Maaf jadi lama menunggu di sini, Apotek nya benar benar padat tadi."


"Aku tahu dan itu membuatku sedikit lapar." Balas Janvi yang memang merasa sedikit lapar akibat menunggu sang suami yang menebus obat nya tadi.


"Mau makan apa hari ini ?"


"Gulai udang saja."


"Momy dan Mami ingin makan apa ?" Tanya Raj pada kedua wanita yang sudah seperti ibu nya sendiri.


"Sama seperti Janvi, Gulai udang." Sahut kedua nya kompak.


"Okay. Lets go para bumil."


Mereka pun menuju sebuah tempat makan yang menyajikan aneka menu gulai dan kari tentunya.


VISUAL


Dady Pratap



Ayah Manohar



Raj Verma



Gulai Udang