
"Momy, kakek mana ?" Tanya bocah kecil nan menggemaskan pada momynya. "Kakek pergi dengan nenek, sayang." Jawab sang momy sambil menatap manik coklat putranya. "Yaahh...momy, padahal jendra mau main dengan kakek dan nenek." Jawab si kecil Jendra dengan wajah lesu nya. "Nanti kalau kakek pulang, Jendra bisa main lagi...ok ?" Ucap Mohini lembut sembari menyuapi Jendra dengan cookies coklat kesukaan nya. "Ok mom, Jendra main dengan Jev dan Ara boleh ?" Ujar Jendra yang berbalik ingin bermain dengan adik twins nya yang mau genap setahun tersebut.
"Boleh, adik mu bersama bibi mothi dan opa didekat kolam renang." Jawab Mohini yang mengelap bekas coklat disudut bibir Jendra. "Jendra pergi sendiri saja mom." Jendra menolak ketika sang momy ingin mengantarnya, dirinya menolak karena merasa sudah besar dan tak boleh merepotkan momynya." Baiklah, tapi Jendra jangan pergi jauh jauh. Hanya bertemu opa saja ! Jangan mengobrol dengan orang asing !" Mohini berpesan pada putra nya agar berhati hati dengan orang asing. "Beres mom." Jawab nya patuh. Baru selangkah ia pergi, tiba tiba dirinya dihampiri oleh Yuvi. "Kita pergi bersama saja, kakak juga ingin bermain dengan Jev." Ujar Yuvi yang segera merangkul pundak adik nya.
Melihat kedekatan keduanya Mohini senyum senyum sendiri, dalam hati nya ia sangat bangga pada Yuvi yang mampu menyayangi adik adik nya. "Yuv, Jendra...kemarilah." panggil dady Pratap saat melihat kedua cucunya mendekat. "Baik opa." Kedunya mendekat dan memeluk opa nya erat. "Opa rindu pada mu Yuv. Kau pergi terlalu lama." Ujar dady Pratap dipelukan cucu pertamanya itu.
"Yuv, juga rindu opa, oma, dan kalian semua. Yuv akan selesaikan kuliah nya secepat mungkin." Ucap Yuvi tanpa keraguan sedikitpun. "Opa percaya itu, kau dan Meena adalah anak yang sangat cerdas." Balas dady Pratap mendaratkan tepukan dibahu remaja lelaki tersebut. "Kakak sini, main sama Jev dan Ara." Ujar Jendra dengan suara cempreng nya. "Oo jadi ini jagoan kita ! Tampan sekali kau Jev." Ucap Yuvi saat melihat bayi gembul tiga bulan itu tersenyum padanya.
"Dan ini princess kita kak, nama nya Ara." Jendra tampak mengenalkan kedua adik kembar nya pada sang kakak." Dia cantik sekali, persis seperti momy." Yuvi semakin jatuh hati saat pertamakali melihat kedua adik nya, terutama pada Ara yang semakin cantik namun seringkali menangis. Kedua nya memiliki karakter yang berbeda. Jev yang tampan tapi sangat cool, Ara yang cantik namun gampang menangis saat dijahili oleh kakak nya.
"Kemari, biar kak Yuvi gendong kalian." Yuvi menggendong Jev dilengan kanan nya, sementara lengan kirinya menggendong baby Ara." Uuhh kalian berat juga rupanya." Kelakar Yuvi saat menggendong kedua baby menggemaskan tersebut.
Sementara itu dilobby hotel
"Manu, turunkan aku...aku masih kuat berjalan sendiri." Rengek Rhea yang tubuh nya berada dalam gendongan suaminya, Manohar menggendong istrinya sangat mesra. Dia tahu Rhea sangat kelelahan akibat ritual mereka siang tadi. "Tidak ! Aku akan menggendongmu." Jawab Manohar tak menerima penolakan. "Baiklah, suamiku sayang." Jawab Rhea pasrah pada akhirnya.
Saat tengah berjalan kearah resepsionis, mereka berpapasan dengan Charlie dan Mohini yang ingin menuju ke restoran." Ayah, mami...kalian habis dari mana saja ?" Tanya Charlie saat melihat ayah dan mami nya.
"Kami baru saja pergi, Nak." Jawab Manohar. Charlie yang mengerti dengan jawaban ayah nya pun mengganggukan kepalanya. "Ayo kita kerestoran dulu, kalian pasti lapar." Ajak Charlie pada mereka berdua, keduanya pun menyetujui ajakan Charlie. "Tadi mami kenapa ayah gendong ? Mami sakit ?" Tanya Charlie menggoda ayah nya sendiri, ia sebenarnya tahu kenapa sang ayah menggendong maminya. Itu pasti karena kaki maminya terlalu lelah sehingga tak dapat berjalan. "Eemm...mami mu hanya merasa lelah saja." Jawab Manohar beralasan, tak mungkin dirinya menjawab Rhea tak bisa berjalan karena ulah nya yang terus menggempur nya dihotel.
"Lelah ? Memang apa yang mami lakukan ?" Tanya Charlie semakin membuat keduanya salah tingkah. "Habis mengganti oli ayah yang sudah mengental." Ujar Manohar tanpa malu malu, yeah sudah kecebur basah saja sekalian batin nya. "Astaga! Kalau begitu tebakan ku benar." Charlie terkejut mengetahui yang dia pikirkan ternyata benar adanya. "Hei ingat, kau dulu juga begitu !" Manohar berupaya membela dirinya agar tak ditertawakan oleh anaknya sendiri.
"Apa kalian berdua berencana untuk honeymoon ?" Giliran Charlie bertanya pada ayahnya. Manohar menggangguk membenarkan pertanyaan Charlie. "Kemana ayah akan mengajak mami ?" Tanya Charlie yang penasaran,"kami akan honeymoon ke Yunani." Manohar pun menjawab rasa penasaran putranya itu.
"Woah pas sekali !! Aku juga ingin memberikan ini untuk kalian." Charlie terlihat menyodorkan sebuah amplop warna merah. "Apa ini, Nak ?" Manohar dan Rhea memandangi amplop merah tersebut dengan wajah penuh tanya. "Itu kado pernikahan dari kami berdua. Aku juga akan memberi kejutan yang sama untuk Raj." Ucap Charlie memberitahu ayah nya, Manohar yang sangat penasaran pun membuka kado dari anak dan menantunya.
Alangkah terkejutnya dia saat mendapati isi dalam amplop yang ternyata adalah dua tiket honeymoon ke Yunani. "Astaga ! Kenapa bisa pas begini momen nya ?!" Manohar sangat terkejut sekaligus senang mendapat kado tersebut. Hening sejenak sebelum akhirnya Manohar berucap,"Harusnya kau tak usah repot repot, Nak." Ujar Manohar dengan mata berkaca kaca." Shhhtt....jangan menangis ayah, nanti hidung nya merah loh." Perkataan Charlie barusan membuat suasana haru menjadi sebuah lelucon. Bahkan Rhea pun sampai menutupi tawanya,"jangan menertawakan ku, Sweetie." Manohar menggeram kearah istrinya yang masih tertawa, padahal Rhea hanya tersenyum kearah nya." Jangan marah, Charlie hanya bercanda padamu." Rhea mengelus lengan kekar milik suaminya agar bersabar. "Tapi, sebagai imbalan nya cium aku." Manohar terlihat memonyongkan bibir nya. Rhea mendekatkan wajahnya dan....
CUP
"Sudah, jangan marah lagi." Rhea benar benar mengecup bibir tebal suaminya. "Dasar ayah mesum!" Umpat Charlie sambil geleng geleng kepala melihat tingkah ayahnya sendiri. "Biarsaja, kami kan pengantin baru !" Jawab Manohar yang semakin membuat Charlie kesal saja.
"Ayah, kami doakan kalian membawa adik lucu dari Santorini nanti." Ujar Mohini pada ayah dan mami nya. "Terimakasih banyak untuk kadonya, ayah akan berusaha semaksimal mungkin." Balas Manohar. Rencananya Manohar dan Rhea akan disana selama seminggu full. "Kakekk !!!" Saat Manohar sedang mengobrol dengan Charlie, rupanya Jendra juga menyusul dadynya ke restoran. "Cucu ku yang tampan ! Kemari sayang." Manohar ikut berlari menjemput tubuh mungil Jendra dan segera menggendong nya. "Kakek dan nenek darimana saja ?" Tanya Jendra yang sudah mengalungkan tangan nya dileher sang kakek." Kakek tadi pergi jalan jalan, sayang." Jawab Manohar sesekali menciumi pipi Jendra yang gembul.
"Kenapa tidak ajak Jendra ? Tadi Jendra cari kakek dan nenek loh." Jendra benar benar sangat dekat dengan kakeknya, hampir setiap Manohar datang ke acara non formal beliau selalu mengajak Jendra ikut serta. Melihat wajah Jendra yang murung Manohar pun membujuknya, "kakek minta maaf sayang, sebagai permintaan maaf kakek, bagaimana kalau kita pergi ke pusat permainan ?" Tawar Manohar yang tahu betul penawar dari ngambek nya sang cucu kesayangan. "Yeyyy!!! Jendra boleh beli mainan yang banyak kek ?" Manohar tak memberi jawaban langsung melainkan menganggukan kepalanya, Jendra senang dibuatnya. Ia segera menciumi wajah kakeknya dan memeluknya lebih erat.
"Kakek yang terbaik ! Love you kakek, love you nenek." Ujar nya dengan senyum yang tak pudar di wajah manisnya." Love you too cutie pie." Jawab Manohar dan Rhea serempak." Kakek pergi nya malam ini kan ?" Tanya nya sangat antusias. "Tentu, malam ini kita akan bersenang senang." Ucap Manohar lagi,"boleh ajak kak Yuvi dan kak Meena ?" Manohar mengangguk dan menyuruh Jendra agar memberitahu kedua kakaknya rencana pergi malam ini.
"Yah, kalau Jendra minta mainan yang mahal jangan terlalu dituruti." Nasehat Charlie pada sang ayah yang terkadang suka lepas kendali dalam hal menuruti cucu cucunya, apalagi kalau Jendra menggunakan rayuan mautnya. "Tak apa, ayah senang melakukan nya. Mereka adalah kurcaci kecilku." Ungkap Manohar, terlihat senyum teduh dibirnya saat mengatakan betapa ia sangat menyayangi kelima cucunya itu.