Mr And Mrs Chandramohan

Mr And Mrs Chandramohan
Masuk UGD



Para perawat segera membawa brankar untuk membawa Mohini ke UGD. Charlie terus menggenggam tangan sang istri sambil menggendong Jendra." Honey, bertahanlah...aku mohon demi anak kita sayang." Ujar Charlie sembari terisak melihat Mohini yang sudah terlanjur pingsan.


"Tuan, tunggu di sini dulu ya. Biarkan kami menangani pasien." Ujar salah seorang suster yang membawa Mohini kedalam UGD.


"Kami akan usahakan yang terbaik." Ujar dokter Ansel menenangkan Charlie.


"Tolong usahakan yang terbaik untuk istriku." Ucap Charlie sambil memegang bahu dokter Ansel.


Dokter Ansel segera masuk ke dalam, sementara Charlie menghubungi Ayah Manohar dan Dady Pratap.


"Dad, Mohini masuk UGD." Jelas Charlie di telfon.


"AAPPAA !! Bagaimana bisa terjadi !?" Ujar Dady Pratap yang shock mendengar perkataan menantunya." Dady akan kesana sekarang, kau kirim saja alamat nya." Tambah Dady Pratap lagi.


Tak lama dokter Ansel keluar dari ruang UGD ditemani salah seorang perawat.


"Bagaimana keadaan istri ku, dokter ?" Tanya Charlie was was.


"Istri anda baik baik saja, dia sudah siuman sekarang." Kata dokter Ansel.


"Lalu baby nya bagaimana ? Apa mereka baik baik saja ?" Tanya Charlie lagi yang masih penasaran.


"Baby nya selamat, Tuan. Nonya Mohini hanya mengalami kram perut dan untung nya tidak mengalami pendarahan. Tapi, usahakan ini tidak terlalu sering terjadi...karena bisa mengakibatkan kontraksi dini pada rahim." Jelas dokter Ansel ramah.


"Syukurlah kalau begitu, boleh aku masuk sekarang ?" Ujar Charlie yang ingin bertemu dengan istrinya didalam.


"Oh tentu boleh, silahkan." Ujar dokter Ansel mempersilahkan.


Ceklek


Charlie membuka pintu dan melihat Mohini sedang menangis pilu. Perlahan ia dekati tubuh sang istri, membawa nya dalam dekapan hangat dan mengecup pucuk kepala nya.


"Hubby...maafkan aku yang tak bisa menjaga baby kita." Ujar Mohini yang menangis tersedu sedu di pelukan Charlie.


"Tidak, kau tak salah honey....baby kita selamat, lihat dia masih ada di rahim mu." Ucap Charlie berusaha menenangkan Mohini.


"Tap–tapi aku hampir membuat mereka celaka. Hisk hisk hisk....aku bukan ibu yang baik hubby, maafkan aku." Kata Mohini yang terus menyalahkan dirinya sendiri.


"Husstt....tidak boleh seperti itu honey. Kau tak salah jadi, jangan menyalahkan diri mu sendiri, Kau tau ? Kau adalah ibu yang sangat baik untuk anak anak kita, dan seorang ratu yang cantik dihati ku." Ujar Charlie penuh perhatian, ia berhasil membuat Mohini sedikit lebih tenang.


"Kau tak marah pada ku ?" Tanya Mohini sambil menatap mata Charlie.


"Tidak, tentu aku tidak akan pernah memarahi mu. Lebih tepatnya aku tak bisa marah pada mu, Honey." Ujar Charlie yang berhasil membuat Mohini lebih relax. Sesaat setelah nya Dady Pratap dan istrinya serta Ayah Manohar datang menemui kedua nya.


"Aku tinggal sebentar ya...hanya ingin menemui Dady dan Ayah juga Jendra yang menunggu di depan, okay ?" Pamit Charlie yang hendak meninggalkan Mohini di ruang UGD.


"Hhmm..baiklah, suruh Jendra masuk ya..dia pasti ketakutan tadi, aku hanya ingin memeluk nya." Pinta Mohini saat Charlie sudah diambang pintu.


"Okay, setelah Dady bertemu dengan mu ya...."


"Nak, bagaimana kondisi Mohini ?" Tanya Ayah Manohar yang sudah menggendong Jendra di depan pintu bersama Dady Pratap serta sang istri.


"Mohini sudah membaik, Yah." Ujar Charlie yang masih shock atas kejadian yang baru menimpa istrinya. Momy Shamita yang khawatir segera masuk ke ruang UGD, ia segera memeluk putri sulung nya itu.


"Sayang...apa kau sudah lebih baik ?" Tanya Momy Shamita yang ternyata ikut dengan sang suami. Dady Pratap rupanya tak bisa menutupi kabar ini dari istrinya.


"Hhmm...sepertinya lebih baik, Mom." Ujar Mohini sambil tersenyum lemah.


"Charlie bilang perut mu sakit, apa benar ?"


"Iya mom....tadi aku sempat mengalami kram." Ujar Mohini jujur


"Kau pasti kelelahan dan terlalu lama berdiri, memangnya kau tak pakai kursi roda ?"


"Tid–tidak mom, aku tak memakainya...padahal Charlie sudah mempringati ku untuk memakai kusri roda." Ujar Mohini agak menyesal.


"Hem..kau ini memang keras kepala, lain kali turuti ucapan suami mu, sayang. Dia mengatakan itu demi kalian bertiga." Nasihat Momy Shamita dengan tatapan sayang. Mohini mengganggukan kepala tanda ia mengerti akan nasihat yang Momy Shamita berikan.


"Bagaimana kondisi mu, baby ?" Tanya Dady Pratap dan Charlie yang baru masuk dan langsung medangkul pundak sang istri.


"Sudah cukup baik, Dad." Jawab Mohini


"Hubby, dimana Jendra ?" Tanya Mohini yang tak melihat keberadaan Jendra disamping suaminya.


"Jendra sedang bersama Ayah diluar." Ujar Charlie lembut.


"Hubby, maafkan aku karena tak menuruti ucapan mu untuk pakai kursi roda dan milih berjalan kaki berkeliling mall." Ucap Mohini penuh penyesalan dengan kepala tertunduk.


Mohini yang hendak memeluk Charlie tersadar bahwa perutnya sudah membuncit dan menghalangi nya, akhirnya ia hanya bisa menyandarkan kepala nya di tubuh Charlie.


Ceklek


Pintu kembali terbuka dan menampilkan Ayah Manohar yang menggendong Jendra. Perlahan Ayah Manohar mendekati menantunya yang tengah dipeluk oleh putranya.


"Jendra...kemari sayang." Ucap Mohini yang melambaikan tangan nya kearah Jendra. Jendra yang melihat nya hanya tersenyum tipis, sepertinya ia masih ketakutan setelah melihat momy nya kesakitan.


"Momy...momy sudah baikan ?" Tanya Jendra yang menundukan kepala nya tak berani menatap wajah momy nya.


"Boy...momy sudah sehat, kemarilah...momy ingin peluk Jendra." Ujar Mohini yang sudah merentangkan tangan nya. Namun bukan nya mendekat Jendra malah semakin tak ingin turun dari gendongan kakek nya.


"Sayang...kemari momy ingin bicara sebentar, boleh ?" Pinta Mohini yang tau bahwa anak nya tengah ketakutan.


Jendra melihat ke arah kakek nya, Ayah Manohar mengedipkan mata nya meyakinkan Jendra agar tak perlu ragu mendekati momy nya. Jendra akhir nya mau untuk turun dan menghampiri Mohini.


"Hey...kenapa bersedih sayang ?" Tanya Mohini sambil membelai wajah putra nya.


"Huuuaaaa!!! Momyy....Jendra takut tak bisa bertemu momy lagi, apa lagi momy pingsan di mobil."Tangis Jendra yang sudah tak terbendung lagi. Sedari tadi bocah kecil itu berusaha menahan air mata nya agar tak menetes di pipi nya, ia melakukan itu karena tak ingin menambah kesedihan sang momy.


"Ssshhtt...jangan menangis boy nanti momy juga ikut sedih, momy sudah sehat, lihat momy bahkan sudah duduk dan memeluk mu." Ujar Mohini segera memeluk Jendra.


"Mom...apa mom dan baby twins nya sudah sembuh ?" Tanya Jendra dengan polos nya setelah menyeka air matanya. Mohini hanya tersenyum getir saat mendapat pertanyaan dari anak nya yang sangat peduli pada nya dan calon adik nya.


"Baby twins dan momy sudah sembuh, Son." Jawab Charlie yang berdiri dibelakang Jendra.


Jendra lalu meletakan telapak tangan nya diatas perut sang momy sembari mengelus perut buncit nya" hai baby twins, ini kak Jendra....baby twins jangan sakit lagi ya, kasian Momy....jangan nakal ya." Nasihat Jendra pada calon adik nya yang masih berada dalam perut Mohini.


Baik Charlie ataupun yang lain sangat terharu akan perkataan Jendra. Mereka amat kagum dengan kepedulian dan rasa sayang bocah kecil itu pada kedua calon adik nya. Mohini buru buru menyeka air mata nya sebelum Jendra melihat nya. Ia segera menarik Jendra ke pelukan nya kembali.


"Love you momy." Ujar Jendra yang berada dalam pelukan momy nya.


"Love you more my prince." Ujar Mohini menyahuti perkataan Jendra.


"Ooww...hanya momy saja yang dapat love nya ?" Tanya Charlie yang sengaja menggoda putra nya.


"Love you dady." Ujar Jendra menoleh ke arah dady nya.


"Love you more, Munchkin." Balas Charlie mengecup sekilas pipi gembul milik Jendra.


"Charlie, apa Mohini sudah boleh pulang ?" Tanya Ayah Manohar.


"Sekitar 3 jam lagi sudah boleh pulang, Yah. Dokter Ansel juga sudah memberi vitamin penguat kandungan serta vitamin yang lain nya juga." Jawab Charlie yang sedari tadi memegang kantong berisi vitamin yang diperlukan oleh ibu hamil.


"Syukurlah kalau begitu, Ayah merasa lega sekarang. Putri Ayah akan segera kembali ke rumah nya." Ucap Ayah Manohar yang sangat sayang pada Mohini hingga terkadang melupakan putra nya sendiri.


"Manohar, sebaik nya kau tinggal bersama kami saja." Usul Dady Pratap tiba tiba.


"Benar, kakek bisa bermain bersama ku." Kata Jendra memotong pembicaraan.


"Ya, setidak nya sampai Mohini melahirkan baby twins. Lagi pula rumah kami sangatlah besar jadi, masih banyak kamar yang tersedia." Ucap momy Shamita menimpali.


"Terimakasih banyak atas perhatian kalian, tapi sepertinya aku tak bisa menerima ide tersebut, aku takut anak dan menantu ku tak nyaman dengan kehadiran ku di rumah kalian." Tolak Ayah Manohar secara halus, ia tak ingin mengganggu kebersamaan sang putra dengan keluarga baru nya.


"Tidak sama sekali, aku dan Charlie tak keberatan kalau Ayah tinggal bersama kami. Sebab aku sudah menganggap ayah seperti ayah ku sendiri jadi, mulai hari ini Ayah tinggal di rumah kami." Ujar Mohini membuat hati Ayah Manohar menghangat seketika. Ayah Manohar mendekati Mohini, kemudian dirangkul nya sang menantu dengan kasih sayang.


"Kau memang anak yang sangat baik....aku beruntung memilliki seorang putri yang baik seperti mu, Charlie ku sangat beruntung memiliki pendamping sebaik dirimu, Mohini." Kata Ayah Manohar sembari mengusap kepala Mohini.


"Jadi, kakek akan tinggal bersama bukan ?" Tanya Jendra meminta kepastian sang kakek. Ayah Manohar mengangguk mendengar pertanyaan cucu nya itu.


"Yyeeess!! Kakek tinggal sama Jendrrraaa!!" Sorak Jendra penuh kemenangan yang membuat satu keluarga itu terkekeh melihat tingkah nya.


VISUAL


Charlie sang Owner KKR



Kedekatan Charlie Dengan Para Korban KDRT



Peringatan Hari Anak Bersama Anak Anak korban Perang