
Sudah lima hari lamanya mereka berada di Hotel Atlantis, dan hari ini Alona akan kembali ke Indonesia bersama Ayah Ranveer dan Mami Ayesha. Tentu hal itu membuat pangeran ketiga keluarga Chandramohan bersedih. Charlie tahu putranya sedih karena akan ditinggal sababat baik nya.
"Munchkin, kenapa kau bersedih ?" Tanya Yuvi pada sang adik." Ia pasti sedih karena hari ini Alona akan kembali, kak." Sahut Meena yang muncul dari connecting door kamar adik nya tersebut.
"Sudah, jangan bersedih...lagi pula dady kan sudah janji kalau kau ulang tahun, pesta nya akan diadakan di Indonesia bukan ?" Charlie memang menjanjikan hal ini pada putranya, selain tak ingin melihat putra nya bersedih, ia juga penasaran dengan keindahan yang ada di negara tersebut.
"Kakak benar, ulang tahun ku hanya tinggal menghitung bulan. Itu artinya, aku dan Alona bisa bertemu kembali." Ucapan kakak nya barusan membuat kesedihan Jendra sedikit berkurang.
"Lebih baik sekarang kita sarapan bersama di bawah." Ajak Yuvi yang diangguki oleh kedua adik nya. Mereka bertiga pun turun ke bawah menuju restoran.
Sampai dibawah, mereka hanya disambut oleh keluarga Malhotra yang sudah turun terlebih dahulu. Tentu Yuvi sedikit bingung biasa nya dady dan momy nya sudah turun dari kamar, namun pagi ini kedua nya terlambat datang.
"Bibi Mothi, dimana dady dan momy ?" Tanya Jendra yang juga tak melihat keberadaan orang tua nya." Sebentar lagi Tuan akan datang, kalian disuruh makan duluan tadi." Jawab bibi Mothi menjelaskan perintah atasan nya tadi.
Sedangkan di kamar, pasutri ini terlihat sibuk menggapai nirwana bersama." Aahh...by...mmphhh..." Mohini terus mengeluarkan suara sexy nya saat Charlie mengguncang tubuh nya dengan kecepatan tinggi.
"Ougghhh shiitt...kau nikmat sekali." Racau Charlie disela sela kegiatan nya menggoyang sang istri dalam kungkungan nya.
"By...a-aku ingin..."
"Bersama honey...aaarrghhhh !!!" Erangan kedua nya menandai bahwa kedua nya telah mencapai puncak bersama.
"Hosh..hosh.. hosh...terimakasih, Honey. Cup." Charlie mencium kening serta bibir sang istri yang tampak kelelahan akibat digempur dua jam lama nya.
Mereka langsung bergegas membersihkan diri karena tahu bahwa anak anak pasti sudah menunggu dibawah.
"Kaki ku lemas gara gara kau !" Ucap Mohini bersungut sungut saat merasakan kaki nya begitu lemas hingga tak mampu ia gunakan untuk berdiri apalagi berjalan.
"Maaf...maafkan aku yang terlalu bersamangat tadi." Charlie menyesal membuat sang istri lelah tetapi juga ia menikmati kegiatan panas tadi.
"Ayo, aku akan menggendong mu." Charlie mengangkat tubuh istrinya secara horizontal." By...kalau anak anak lihat bagaimana ?" Cicit nya ketika mereka berada dalam lift menuju restoran." Tenang saja, tidak perlu khawatir tentang itu." Ucap Charlie dengan percaya dirinya.
Begitu tiba di restoran, benar saja ketiga anak mereka sudah menunggu sambil melahap sarapan didepan nya." Dady ? Momy kenapa digendong ?" Tanya Meena yang takut momy nya kenapa napa.
"Momy kakinya kram ya, dady ?" Ucap Jendra yang teringat bahwa saat kaki nya kram, dady nya pasti juga akan menggendong nya seperti itu. Charlie dan Mohini kelabakan mencari jawaban yang pas untuk pertanyaan kedua anak nya ini. Lain hal nya dengan kedua adik nya yang heboh bertanya pada dady mereka, Yuvi justru geleng geleng kepala melihat kelakuan kedua orang tua nya itu.
Yuvi tahu bahwa kedua nya baru saja melakukan ritual dikamar mereka, hanya saja kedua adik nya itu masih sangat polos terutama si kecil Jendra." Ah iya, kaki momy kram tadi. Makanya dady gendong seperti ini." Tentu itu tadi jawaban bohong yang Charlie berikan untuk kedua anak nya.
Keluarga Malhotra yang melihat reaksi lucu dari seorang mantan petarung tersebut hanya bisa mengulum senyuman di bibir mereka masing masing.
Akhirnya, Charlie bisa makan dengan tenang setelah menjawab pertanyaan kedua kurcaci nya itu. Namun ketenangan itu tak berlangsung lama sebab, Jendra justru bertanya hal yang membuat Charlie tersedak karena nya.
"Dad, kenapa leher dady merah merah ? Dady sakit yah ?"
"Uhuk..uhuk...uhuk...ekhemm !" Charlie langsung tersedak makanan begitu Jendra mengeluarkan pertanyaan yang membuatnya malu saat ini. Hal yang sama juga terjadi pada Mohini, wajahnya berubah menjadi merah seperti kepiting rebus mendengar pertanyaan yang meluncur dari mulut putranya.
"I-itu...itu karena alergi dady kambuh, Son." Untuk kesekian kalinya Charlie kembali berbohong pada anak nya." Alergi ? Memang dady punya alergi apa ?" Jendra agak nya belum puas dengan jawaban yang diberikan Charlie hingga ia kembali menanyakan hal lain pada sang dady.
"Dady itu alergi panas matahari, benarkan dady ?" Yuvi menatap dady nya, ia seperti memberi kode agar dady nya itu mengangguk saja." Benar sekali, dady memang alergi panas matahari." Jendra sepertinya sudah puas dengan jawaban tadi, ia pun kembali melanjutkan makan nya.
Rencana nya keluarga Alona akan pergi pada pukul sembilan pagi. Oleh sebab itu, Jendra sudah menyiapkan sesuatu untuk sahabat nya." Lona, setelah ini ikut aku ke kolam renang." Ucap Jendra sambil memandang ke arah Alona yang kurang berselera untuk sarapan pagi ini.
Alona mengangguk samar ke arah Jendra. Jauh dalam hatinya bocah kecil itu sangat sedih harus berpisah dengan sahabat baru nya selama di India.
"Karena kau akan kembali ke negara mu, aku ingin memberikan ini." Ucap Jendra seraya memberikan sebuah cincin dengan hiasan hello kitty diatas nya.
"Cincin untuk ku ?" Alona kebingungan saat Jendra menyematkan cincin itu di jari manis nya." Ya, aku ingin kau selalu mengingat ku selamanya. Beberapa bulan lagi kita akan bertemu kembali." Alona menggangguk sembari menyeka air matanya yang mulai berjatuhan dari manik indah nya.
"Jangan lupa kirim surat untuk ku, yah. Aku pasti datang di acara ulang tahun mu nanti." Balas Alona yang langsung memeluk tubuh Jendra.
"Sayang, momy dari tadi cari kalian loh." Ujar seseorang yang muncul dari arah belakang Alona." Eh, momy...Jendra ajak Alona kesini." Jendra mendekati momy nya serta memeluk nya." Ya sudah..kita kembali kedalam, yuk." Mohini menggandeng kedua bocah itu kembali kedalam hotel.
"Kalian dari mana saja ?" Tanya Ayah Ranveer pada kedua bocah menggemaskan itu." Kita dari kolam renang, Yah. Oh, tadi Jendra memberiku ini ?" Alona menunjukan cincin yang tersemat di jari manis nya." Cincin ?" Ranveer juga istrinya mengernyit heran sembari menatap cincin yang dipakai putri mereka.
"Uncle kalau Jendra sudah besar, Jendra boleh menikahi Alona ?" Belum selesai dengan keheranan mereka akan cincin, Jendra justru membuat semua nya terkejut dengan pertanyaan nya barusan.
"Menikah ? Memang Jendra tahu artinya menikah itu apa ?" Charlie yang sedari tadi diam akhirnya angkat bicara." Menikah itu pesta terus makan makan deh, benarkan dady ?" Sungguh polos sekali pemikiran bocah dengan IQ superior ini.
"Jadi uncle, Jendra bolehkan nikah sama Alona ?" Ayah Ranveer mendudukan Jendra dipangkuan nya." Boleh, tapi Jendra harus buat Alona bahagia jangan membuat nya bersedih atau menangis." Jendra mengangguk mendengar nya," Jendra janji uncle." Jendra meletakkan telapak tangan nya diatas telapak tangan ayah Ranveer.
"Uncle, Jendra boleh ajak Lona ke mall ? Pergi nya bareng kak Meena juga ?" Ranveer menatap ke arah sang istri sejenak.
"Jangan lama lama ya." Ucap Ayesha lembut mengelus rambut Jendra." Baiklah, Aunty." Jendra turun dari pangkuan Ranveer dan beranjak ke tempat duduk kakak perempuan nya itu.
"Kakak...mau temani Jendra dan Alona tidak ? Please..." Meena yang melihat adik nya memohon apalagi menunjukan puppy eyes nya langsung mengiyakan ajakan adik nya." Tentu, ayo kita mall. Kakak yang traktir kalian." Meena menggandeng dua bocah itu meninggalkan orang tua mereka menuju mall di kota Dubai.
"Maafkan perkataan putraku barusan, aku sendiri juga tak tahu kenapa dia bisa berfikir ke sana." Ujar Charlie yang tak ebak hati atas perkataan Jendra barusan. Ayah Ranveer justru tertawa mendengar nya," Tak masalah, kami juga senang jika memiliki menantu yang baik seperti putra mu itu." Ucap nya pada Charlie.
"Itu benar, bagaimana kalau kita jodohkan saja mereka ?" Ayesha melihat ke arah Mohini." Ide bagus, tapi hasil akhirnya tetap berada pada anak anak kita." Mohini pun tampak setuju dengan ide Ayesha ini, namun tetap saja sekeras apa pun usaha mereka, jika kedua tidak berjodoh mau bagaimana lagi.
"Tentu, kita lihat saja nanti saat mereka sudah dewasa."
Jendra, Meena dan Alona sudah sampai di salah satu pusat perbelanjaan yang berada di Kota Dubai. Begitu akan memasuki area mall, mereka bertiga sudah dihadang oleh paparazzi yang ingin minta foto atau wawancara singkat.
Beruntung Jack dan Black ada bersama mereka, kedua pengawal yang memang ditugaskan Charlie untuk menjaga anak anak nya pun langsung beraksi. Jack menggendong Jendra, sementara Black menggendong Alona. Sedangkan Meena lebih memilih menutupi wajah nya dengan tote bag milik nya.
Meski sudah begitu, nyata nya mereka berhasil mendapatkan beberapa foto wajah ketiga anak anak tersebut. Berita pun cepat menyebar bahwa kedua anak mantan petarung legendaris sedang mengunjungi pusat perbelanjaan bersama seorang gadis kecil.
"Maaf ya, Lona...kau jadi ikut dikerubungi paparazzi tadi." Ujar Jendra yang tak enak hati pada sahabat nya. Lona menggeleng perlahan," Tidak apa..justru menurutku itu seru. Karena aku bisa merasakan rasanya jadi artis terkenal." Jawab Alona sambil tertawa manis.
Jendra, Alona, dan Meena bersenang senang pagi ini. Mereka bermain di wahana permainan, mencoba semua makanan yang dijual di sini, hingga akhir nya Jendra membelikan Alona sebuah gaun pesta yang sangat cantik.
Jendra bilang bahwa gaun itu harus dipakai saat datang diacara ulang tahun nya nanti. Selesai berbelanja, Jendra menyempatkan diri untuk membelikan kakak serta Alona ice cream dari kedai paling enak di mall ini.
"Ini, kau suka rasa strawberry kan ?" Jendra menyodorkan ice cream contong rasa strawberry pada Alona." Kenapa bisa tau rasa kesukaan ku ?" Ucap nya seraya menerima ice cream tersebut dari tangan Jendra.
"Hehehehe...aku tau semua tentang dirimu." Jendra terkekeh dibuat nya, sangat mudah ia mengetahui kesukaan sahabat nya dari apa yang biasa ia minum. Yeah, Alona hampir setiap hari minum susu dingin rasa strawberry dan itu juga disaksikan oleh Jendra. Makanya, Jendra bisa tau rasa kesukaan nya Alona.
"Dan ini untuk kakak, rasa choco mint." Meena menerima ice cream contong tersebut lalu mengajak Alona untuk duduk memakan ice cream nya.
"Jendra, kau pesan rasa apa ?" Tanya Alona yang penasaran dengan rasa ice cream yang dipesan nya itu." Hmm..biar kakak tebak, kau pasti pesan rasa matcha bukan ?" Jendra mengangguk membenarkan.
"Matcha ? Jadi kau suka rasa matcha yang pahit itu ?"
"Hey...ini tidak terlalu pahit tau, hanya sedikit pahit saja."
"Hahaha...Lona, Jendra itu sama seperti dady yang suka rasa matcha."
"Uncle Charlie juga suka rasa matcha, kak ?"
"Sangat suka, dady bahkan bisa menghabiskan dua ice cream matcha dalam sekali makan."
"Kalau dady mu suka ice cream rasa apa, Lona ?"
"Ayah suka rasa cappucino, kalau mami suka nya rasa kacang pistachio." Jawab Alona yang memang sering mendapati Mami nya kerap memakan ice cream rasa pistachio.
Ketiganya terlihat sangat menikmati waktu kebersamaan yang singkat tersebut dengan mengobrol sembari menikmati dingin nya ice cream.
VISUAL
Jendra