
Kini mereka semua telah sampai dikediaman keluarga Alona. Kedua orang tua dari Alona serta kakek dan nenek nya kompak menyambut kedatangan Manohar serta istrinya.
"Wah wah...ada tamu istimewa rupanya." Ayah Ranveer baru turun sambil menggandeng istrinya mesra." Ayah, Mami..." Alona berlari kearah orang tuanya yang tengah menuruni anak tangga.
"Princess nya ayah...senang main nya ?" Tanya ayah Ranveer pada putri kecil nya." Lona senang, Yah. Jendra ajak Lona ke peternakan juga ke danau yang biasa kita kunjungi." Alona memceritakan kegiatan nya bersama Jendra pagi ini.
"Maaf ya, putri kami jadi merepotkan kalian seperti ini." Ujar mami Yesha pada Manohar dan sang istri." Tidak sama sekali, Lona sudah ku anggap cucu sendiri." Balas kedua nya bersamaan.
"Silahkan duduk, Tuan dan Nyonya Manohar." Kakek Rajesh mempersilahkan mereka semua untuk duduk terlebih dulu.
"Aku sama sekali tak menyangka anda tinggal disini, Tuan." Ucap Rajesh yang tak tahu bahwa Manohar mempunyai mansion disini." Suami ku benar, kami sangat kagum pada anda sekeluarga. Terlebih lagi pada ketiga cucu kalian, mereka benar benar anak jenius." Sambung Kiran, istri dari Rajesh tersebut.
"Anda ini bisa saja, Tuan...?" Manohar bingung harus memanggil siapa lelaki yang mengajak nya bicara ini. Kakek Rajesh yang peka langsung mengenalkan dirinya pada Manohar.
"Rajesh, Rajesh Malhotra." Manohar dengan senang hati menerima uluran tangan dari kakek Rajesh." Yeah, Tuan Rajesh..anda terlalu memuji ku." Ucap nya merendah untuk meninggi.
"Dan ini istriku, Kiran Malhotra." Kakek Rajesh turut memperkenalkan sang istri pada pasangan suami istri tersebut." Senang bertemu dengan anda, Nyonya." Rhea sepertinya langsung akrab dengan Kiran dipertemuan pertama kali ini.
"Eem...uncle, aku boleh minta izin pada mu ?" Tanya Jendra pada Ranveer di tengah tengah obrolan mereka. Ranveer menatap teduh manik coklat Jendra," Katakan saja." Jendra sebenar nya agak ragu mengatakan nya, namun tekad nya sudah bulat ingin mengajak Alona pergi bersama nya hari Rabu nanti.
"Begini uncle, dady ku adalah salah satu pemilik tim criket India...dan hari Rabu nanti tim kami akan bertanding melawan tim Pakistan. Rencana nya aku ingin mengajak Alona ikut menyaksikan pertandingan tersebut, itu pun jika uncle izinkan." Ujar Jendra panjang lebar sambil berharap ayah dari sahabat nya ini mengizinkan nya.
"Tim cricket ? Maksud mu tim KKR ? Kalau itu uncle izinkan, tapi uncle harus ikut menemani Alona disana. Bagaimana, apa kau setuju, anak muda ?" Jendra berpikir sejenak, dilihat nya wajah Alona yang sangat ingin menyaksikan pertandingan criket tersebut." Deal ! Aku akan bicara pada dady nanti !" Tanpa banyak basa basi Jendra langsung setuju dengan permintaan ayah Ranveer barusan.
Ayah Ranveer dapat melihat kesungguhan yang terpancar dari manik anak kecil dihadapan nya ini, tatapan penuh tekad dan tanggung jawab layak nya seorang pemimpin membuat nya tersenyum samar.
Disaat yang bersamaan pula seseorang menelpon Jendra dan langsung terhubung pada jam tangan canggih nya." Yug ? Tumben menelfon ?" Monolog nya dalam hati saat melihat hologram Yug muncul dari jam tangan nya.
Ia pun pamit keluar sebentar untuk mengangkat telfon tersebut." Tumben menelfon, kak ? Apa ada masalah ?" Tanya Jendra begitu telfon nya terangkat. Tampak wajah Yug yang sedikit panik.
"Jendra, bisa kau bantu aku ? Seseorang telah meretas email dady, ia mengirimkan pesan ancaman pada nya juga berhasil mencuri data penting milik nya ! Aku takut, dady ku dalam bahaya." Ucap Yug ketakutan pada Jendra.
Ting
Satu pesan masuk ke laptop tersebut. Yug rupanya langsung mengirim alamat email orang yang telah mengancam sang dady.
"Baiklah, kita bersenang senang lagi." Jendra asik di depan laptop hingga tak menyadari keberadaan Alona di belakang nya. Alona memberanikan diri menepuk pundak Jendra hingga membuat nya terkejut.
"Astaga ! Kau mengagetkan ku saja !" Jendra mengelus dada nya, hampir saja jantung nya serasa ingin copot tadi." Hehehe sorry...kakek mencari mu tadi." Ucap Alona memberitahu bahwa sang kakek mencari nya tadi.
"Owh baiklah...terimakasih sudah diberi tahu." Jendra menutup laptop nya sembari masuk kedalam mansion bersama Alona." Kau dari mana saja ?" Tanya Manohar saat sang cucu muncul dari pintu depan." Kak Yug menelfon tadi." Jawab nya singkat.
Benar saja orang yang baru ia sebutkan namanya kembali menelfon." Apa semua nya sudah beres, Jendra ?" Tanya Yug penasaran." Hmm...itu terlalu mudah bagi ku." Jendra terlihat menunjukan seringai licik nya." Kau memang hebat, Jendra !" Yug memuji kehebatan sahabat nya itu, sementara yang mendapat pujian justru menampilkan raut wajah tak suka.
"Jendra ? Yang benar saja, call me Don !" Ucap nya tanpa senyuman di wajah nya. Manohar yang melihat ekspresi sang cucu menjadi de javu seakan melihat tatapan Charlie yang penuh akan kelicikan juga amarah.
"Dia benar benar duplikat Charlie, tatapan nya seperti putraku, gaya bicara yang khas, serta tekad kuat yang membara." Monolog Manohar dalam hati." Yeah, Don. Tapi, mereka tak akan mencurigai mu atau aku kan ?" Balas Yug sedikit takut dengan aksi mereka berdua ini.
Jendra merentangkan kedua tangan seraya berdiri dari duduk nya,"hahahaha...menangkap Don bukan hanya sulit tetapi juga mustahil !" Jendra mengeluarkan tawa jahat nya yang semakin membuat Manohar seperti melihat masa muda putra semata wayang nya itu.
"Kita bertemu esok, ajak paman Ajay juga bersama mu." Titah Jendra pada Yug sesaat sebelum telfon dimatikan. Mereka pun melanjutkan obrolan yang sempat tertunda tadi.
Sebelum pamit pulang, Jendra menyampaikan sesuatu pada ayah Ranveer tak lupa ia meminta alamat email dari ayah sahabat nya itu." Uncle, tiket nya akan aku kirim via email nanti." Ujar nya sopan pada ayah Ranveer.
Ranveer tersenyum mendengar perkataan Jendra barusan," uncle tunggu tiket nya." Balas nya yang diangguki Jendra. Mereka pun pulang ke mansion setelah mampir ke kedai ice cream.
VISUAL
Jendra & Charlie