
Ya, Akash dan keluarganya sudah menginap selama 3 hari di mansion dady Pratap. Ia memang datang ke Delhi untuk berlibur bersama sang istri dan kedua anak mereka yang sudah lulus kuliah sebulan yang lalu.
Saat ini mereka semua sedang berkumpul di ruang keluarga." Kak, kapan kakak kembali ke kampus ?" Tanya Jendra pada kedua kakak nya. Keduanya tampak berpikir sebelum menjawab pertanyaan sang adik." Hmm...seperti nya Minggu depan kami kembali kesana." Jawab Yuvi dan Meena serempak.
"Yaahhh...kapan kalian akan pulang ke rumah lagi, bermain bersama ku, dan tidur bersama lagi ?" Ucap Jendra seakan tak senang jika kedua kakak nya hendak kembali ke luar negeri untuk berkuliah. Selama sebulan ini, Jendra lebih banyak menghabiskan waktu dengan kedua kakaknya, bahkan mereka suka tidur bersama di kamar Yuvi yang memiliki ranjang super besar.
Dan itulah sebab nya setiap mereka hendak pergi, Jendra akan menangis dan merajuk padanya." Dua tahun lagi kami akan kembali ke rumah, Munchkin." Jawab Meena sambil menatap manik coklat adiknya yang tampak menggemaskan itu.
"Benar ya ? Jangan bohong pada ku." Jendra menyodorkan masing masing jari kelingking nya kepada Yuvi dan Meena." Kalian janji kan ? Ayo janji." Jendra menggoyang goyangkan kelingking nya, meminta keduanya melakukan janji kelingking.
"Kakak janji, adik manis." Meena menautkan jari kelingking nya dengan jari kelingking adik nya." Tuh, kak Meena sudah janji, kakak janji juga dong." Jendra terus memaksa Yuvi yang masih belum melakukan janji kelingking padanya.
Charlie dan semuanya yang melihat adegan manis ini hanya mampu tersenyum melihat hubungan yang erat antara kakak dan adik." Baiklah, kak Yuvi janji." Yuvi akhirnya mengalah pada keinginan adiknya itu.
Puas merengek pada kedua kakaknya, Jendra mulai mendekati dady nya." Dady, Jendra mau sekolah bersama kak Adit dan kak Aghas." Ujar Jendra tiba tiba yang membuat Charlie mengerutkan keningnya.
"Kau serius, boy ?" Charlie masih tak percaya pada ucapan putranya yang sebelumnya menolak untuk loncat ke kelas 1." Iyah, dad. Jendra mau sekolah di Dhirubai Ambani School bareng kak Adit." Jendra tetap pada pendirian nya, ia ingin bersekolah bersama twins A tahun depan nanti.
"Anak momy sudah siap sekolah ?" Tanya Mohini sambil membelai rambut anak nya penuh sayang." Jendra siap, momy. Jendra mau sekolah tahun depan." Ujar nya mantap.
"Baiklah, dady akan urus dokumen mu nanti. Tapi ingat, sekolah yang rajin nanti." Ucap Charlie menasehati putranya itu. Jendra mengangguk mengiyakan perkataan dadynya.
"Beri dady pelukan, Boy." Jendra langsung masuk dalam dekapan Charlie," kalian berdua juga. Dady ingin pelukan besar." Yuvi dan Meena pun ikut memeluk tubuh dady mereka bersamaan.
"Kalian adalah kebahagiaan dady selamanya." Gumam Charlie lirih sambil memeluk ketiga nya sangat erat. Puas memeluk anak anak nya, Charlie beralih menatap manik istrinya.
"Terimakasih sudah selalu ada disisiku, honey. Terimakasih banyak. Aku mencintaimu dulu, sekarang dan nanti." Ucap nya yang membuat kedua mata Mohini mengeluarkan airmata haru saat mendengar perkataan Charlie.
"Aku juga mencintaimu, suamiku." Balas Mohini yang mengelus rahang tegas Charlie yang sudah ditumbuhi bulu bulu halus disekitarnya.
Cuuppp
Charlie mencium bibir sang istri didepan keluarga besar nya dan disaksikan pula oleh anak anak mereka. Yuvi langsung sigap menutup mata Jendra supaya tidak melihat adegan dewasa yang ada didepannya.
"Kakak ada apa sih ?" Jendra berusaha melepaskan tangan kakak nya dari kedua matanya." Shutt...anak kecil tidak boleh melihat adegan ini." Ujar Yuvi berbisik ditelinga Jendra.
"Mmpphh...mmphsss...Charlie ada anak anak." Ucap Mohini yang mendorong dada Charlie saat ciuman itu berubah semakin ganas." Maaf, aku tak bisa menahan nya lagi." Ujarnya sambil menggaruk kepalanya yang tak gatal.
"Kau ini ya ! Selalu saja mencuri kesempatan !" Ujar Dady Pratap sambil geleng geleng kepala melihat adegan yang memancing jiwa laki lakinya.
"Hehehehehe...maaf dad, aku tak tahan lagi." Charlie hanya bisa nyengir kuda dihadapan dady Pratap dan paman Akash.
"Ingat, kaki mu belum sembuh betul. Jadi, kau tak bisa jungkat jungkit dengan keponakan ku ini." Ujar paman Akash tak berfilter." Bee...kau ini ya !" Bibi Veena langsung mencubit perut suaminya yang tak berfilter jika berbicara.
"Kak, main lego yuk." Yuvi kira adiknya akan bertanya hal aneh aneh lagi, tapi ternyata Jendra malah mengajaknya bermain. Jendra mulai mengeluarkan beberapa set lego super langka yang didapat dari dady dan kakek nya.
"Bibi Veera, paman Ahaan ayo ikut juga !" Jendra bahkan ikut mengajak Ahaan dan Veera untuk bermain bersamanya. Mereka mulai menyusun lego lego tersebut menjadi sesuatu.
Sementara itu di kamar
Charlie yang sudah on fire langsung menghimpit tubuh Mohini ke dinding kamar. Charlie terus menyambar bibir sexy istrinya," jangan sekarang by..." Ucap Mohini lirih yang berupaya mengembalikan kesadaran suaminya ini.
"Aku tau itu, makanya aku pinjam tangan mu boleh ?" Mohini menggangguk mengiyakan keinginan Charlie." Tolong jinakan dia, honey...please." Charlie sangat frustasi saat ini, hasrat nya sudah memuncak tapi tak bisa disalurkan akibat kaki yang cedera." Tentu, aku akan membantu mu." Mohini membawa suaminya keatas ranjang, perlahan ia mulai membuka resleting celana suaminya, dengan lembut jemarinya mulai mengurut cacing alaska yang sudah berubah menjadi tongkat baseball.
"Aarrghhh..." erangan panjang pun akhirnya keluar dari mulut Charlie setelah Mohini mengurut tongkatnya selama 3jam nonstop." Terimakasih....terimakasih banyak, honey." Ujar Charlie sembari mengatur deru nafasnya yang masih tersenggal senggal." Sama sama, by." Mohini pun beranjak turun dari ranjang untuk membersihkan tangan nya dari sisa sisa semburan lahar sang suami.
"Kau mau kemana ?" Tanya Charlie yang melihat istrinya hendak keluar kamar." Aku hendak melihat keadan twins disamping." Jawab Mohini perlahan membuka conecting door yang langsung menghubungkan nya ke kamar twins.
Mohini mendekat ke arah box bayi milik Jeevan dan melihatnya sudah terlelap sambil memegang boneka gurita nya, sementara baby Ara tengah menikmati ASI nya yang sudah ditaruh dalam botol dot.
"Mothi, biar aku yang menidurkan nya. Bibi kembali saja ke kamar mu." Ujar Mohini mengambil alih baby Ara dari gendongan bibi Mothi yang sedang berusaha menidurkan nya." Biar saya saja, Nyonya." Sanggah bibi Mothi tak enak hati." Tidak apa, bibi istirahatlah sejenak." Ucap Charlie yang sedari tadi mengikuti dibelakang.
"Baiklah, saya kembali ke kamar." Bibi Mothi akhirnya menurut dan kembali ke kamar milik nya. Mohini menimang baby Ara agar cepat tidur seperti kembaran nya.
"Owekowekkkoweek......" tangis Jeevan akhirnya pecah saat tubuhnya digendong oleh Charlie." Ssttt....cup cup cup....sayang...." Charlie berusaha menenangkan tangisan putranya dengan menepuk nepuk pantatnya pelan.
"Jev lapar sepertinya...." Ucap Charlie yang menuju ke pantry yang disediakan didalam kamar twins. Sambil menggendong jeevan dilengan nya, Charlie mengambil botol susu penuh ASI dari dalam kulkas untuk dihangatkan sebentar.
Setelah dihangatkan dan suhu susu sudah tidak terlalu panas, Charlie langsung memberikan nya pada Jeevan yang terus menangis dalam gendongan nya." Jev sayang....ini susu nya, boy." Jev langsung mengecap dot nya, menghisapnya dengan kuat.
Charlie pun kembali ke tempat sang istri yang masih menimang putri kecil mereka yang sudah terlelap. Saat akan mendudukan bokong nya diatas sofa, baby Jev kembali merengek. Sepertinya Jev kecil ingin digendong dady nya sambil berdiri.
Charlie dengan sabar menunggu sang anak terpejam sambil terus berdiri menggendongnya. Beberapa kali terlihat ia meringis menahan sakit dikakinya yang belum pulih sempurna. Mohini yang juga melihat nya merasa kasihan dengan suaminya.
Ia lantas meletakan baby Ara dalam box nya dan mendekati sang suami." Biar aku saja, kau istirahatlah dulu." Ujar Mohini sambil mengelus pundak Charlie." Tidak apa, Jev sepertinya ingin bermanja dengan dady nya." Ucap Charlie lirih karena baby Jev sepertinya sudah mau terlelap juga.
"Kakimu pasti sakit bukan ? Duduk saja, biar aku yang menggendong nya, by." Tawar Mohini lagi yang tak tega melihat suaminya yang menahan rasa sakit dikakinya." Tidak, kaki ku baik baik saja. Hanya pegal sedikit, bukan masalah bagi ku." Jawab Charlie sambil tersenyum kearah istrinya yang sangat mengkhawatirkan nya.
Tak berselang lama Jev akhirnya tidur pulas dalam gendongan dadynya." Prince kecil dady sudah tidur rupanya. Good night, Jev." Charlie mencium lembut pipi Jev sebelum meletakan nya kembali dalam box tidurnya.
"Sudah, saat nya kita yang tidur." Charlie merangkul pundak istrinya seraya menuntun nya menuju kamar mereka. Charlie yang lelah seketika meringis kesakitan saat tubuh nya mendarat diatas ranjang empuk mereka.
"Sini, biar aku pijat kaki mu." Mohini meluruskan kaki sang suami dan mulai memijatnya perlahan hingga tanpa sadar Charlie sudah terlelap." Good night, hubby." Tak lupa dirinya mengucapkan selamat malam kepada sang suami dan menyelimuti tubuh nya dengan selimut tebal barulah setelah nya ia pun ikut tidur di samping Charlie.