
Sore ini Charlie beserta keluarga besarnya sudah tiba di mansion Pratap. Begitupun dengan Manohar dan Rhea yang juga sudah berada di mansion nya. "Hah, rindu sangat dengan mansion ini." Gumam Yuvi saat pertamakali dirinya kembali menginjakan kaki nya ditempat dirinya dan Meena tumbuh besar bersama.
"Kak, masih ingat dia ?" Tiba tiba Meena datang sambil diikuti oleh seekor anjing disamping nya. "Bukankah itu anjing yang kita selamatkan dulu ?" Rupanya Yuvi masih ingat dengan anak anjing yang mereka selamatkan dari mobil yang ingin melindasnya pada saat dirinya dan Meena masih berusia 15 tahun.
"Kalau tidak salah, kita memberinya nama Kyubi kan ?" Yuvi bahkan masih ingat ketika ia spontan memberikan nama tersebut karena corak nya yang kecoklatan sama seperti sang rubah ekor sembilan legendaris milik Naruto.
Guk guk guk
Kyubi menyahuti perkataan Yuvi dengan gongongan nya, seolah membenarkan bahwa namanya adalah kyubi. "Wah bahkan dia juga masih ingat dengan kita, kak." Ucap Meena sambil mengelus kepala anjing peliharaan mereka.
"Kau mau main Kyubi ?" Meena bertanya pada anjing kesayangan nya sambil mengoyang goyangkan mainan tangkap kesukaan nya. Kyubi menggerakan ekornya ke kanan dan ke kiri, pertanda dirinya sangat antusias untuk bermain bersama tuan nya.
Yuvi dan Meena pun mengajak Kyubi bermain lempar tangkap disore hari yang cerah ini. Tanpa mereka sadari Charlie memperhatikan kedua nya dari jauh dengan pandangan yang tertuju pada Meena. "By, sedang apa disini ?" Tanya Mohini menghampiri sang suami.
"Anak anak sudah besar saja, terutama Meena." Suara Charlie berubah sendu manakala dirinya mengingat putri angkat yang sudah ia anggap seperti putrinya sendiri. "Kau benar, jika suatu saat nanti ada keluarga Meena yang menginkan Meena kembali pada mereka, apa pendapatmu ?" Mohini tau apa yang suaminya rasakan, mereka teramat sayang pada Meena, rasa nya dirinya akan sulit menerima bila Meena diambil oleh keluarga nya sendiri.
"Tidak boleh ! Mereka tak boleh mengambil Meena kita. Dari kecil Meena bahkan ditelantarkan oleh paman dan bibi nya, dirinya dijadikan gembel oleh mereka berdua !" Charlie menahan amarah saat Mohini bertanya hal seperti itu tadi, tangan bahkan terkepal kuat dibawah sana.
"Jangan marah by, aku hanya bertanya tadi." Mohini mengelus lengan Charlie yang sudah terlanjur emosi seperti ini. Charlie menghembuskan nafasnya, kemudian menatap sang istri dengan rasa bersalah karena membentak nya tadi." Maaf ya, aku sudah membentak mu tadi. Aku terlalu terbawa suasana tadi." Charlie tampak menyesali sikap nya yang tak bisa mengontrol emosi nya.
"Iya, aku mengerti. Aku juga ikut merasakan nya, rasa nya tak rela jika Meena diambil suatu saat nanti." Balas Mohini meletakkan kepala nya di bahu sang suami." Kau tenang saja, Meena sudah resmi jadi putri kita. Aku dan Ashok sendiri yang mengurusnya waktu itu, dan aku juga sudah menyisipkan nama depan ku pada anak anak kita. Jadi, mereka takkan bisa mengambil Meena kita." Ujar Charlie menenangkan Mohini sambil membelai pucuk kepala nya. Mohini mengangguk serta memeluk tubuh Charlie dari samping.
"Dad, mom...ada kak Aryan di depan." Ucap Jendra setengah berlari kearah keduanya." Kak Aryan datang sedirian ?" Tanya Charlie saat Jendra sudah ada di hadapan nya, Jendra menggelengkan kepalanya," dia bersama paman Ashok, bibi Laksmi dan kak Vendra." Vendra adalah adik laki laki Aryan yang lahir saat Aryan berusia 10 tahun, saat ini usia nya baru 8 tahun.
Charlie pun segera pergi keruang tamu untuk menemui mereka, sementara Mohini mendatangi kedua anak nya." Yuv, Meena cepatlah mandi dan bersiap." Titah Mohini pada kedua anak nya yang masih bermain dengan Kyubi. "Ada siapa memang nya mom ?" Tanya Meena yang penasaran. "Ada Aryan dan kedua orang tuanya di depan." Ujar Mohini lagi yang membuat Meena merasa senang, gadis itu sepertinya menyukai kakak laki laki dari Vendra Khanna tersebut. Meena tampak senyum senyum sendiri begitu mendengar Aryan datang ke mansion bersama keluarganya.
Mohini dapat menangkap sinyal sinyal cinta dari putrinya yang seolah sangat senang saat Aryan datang berkunjung ke mansion ini. "Baiklah mom, kami siap siap dulu." Yuvi segera bergegas pergi sambil diikuti oleh Kyubi dibelakang nya," kakak tunggu aku !" Meena berlari kecil mengejar kakak nya, namun belum jauh ia berlari Mohini mencekal tangan nya.
"Ya, ada apa mom ?" Tanya Meena saat dirinya sudah berhenti berlari." Jangan lupa tampil cantik." Ucap Mohini setengah berbisik. Meena langsung salting mendengar perkataan momy nya barusan," apaan sih momy....jangan aneh aneh." Ucap Meena malu malu.
"Momy tahu kau pasti tengah jatuh cinta dengan Aryan bukan ? Ayo, mengaku saja." Ucap nya lagi pada Meena. Meena yang tak punya pilihan lain pun mengangguk membenarkan ucapan momy nya.
Saat ini dirinya memang tengah menyukai Aryan yang memiliki kepribadian hangat dan humoris disamping itu, Aryan juga sangat pandai. "Putri momy sudah besar rupanya. Pergi, dan taklukan pangeran mu itu." Ujar nya sambil mengelus pucuk kepala Meena." Iya mom, terimakasih. Jangan beri tahu kakak." Meena tak ingin kakak nya tahu mengenai perasaan nya pada Aryan.
"Baiklah jika itu kenginan mu." Mohini mengiyakan permintaan putrinya sebelum remaja itu pergi dan bersiap dikamarnya. Mohini kembali lagi kedepan menemani sang suami yang sedang mengobrol dengan Ashok dan Laksmi. "Wah kau makin tampan saja Arry." Ujar Mohini yang baru muncul.
"Kau benar, dia bahkan jadi dua kali lebih tampan dariku." Jawab Ashok yang membuat semuanya tertawa. "No ! Akulah yang paling tampan." Nampak nya Vendra juga tak ingin kalah dari kakak nya itu. "Iya, Vendra juga tampan kok." Ucap seseorang yang baru muncul juga." Terimakasih kakak." Sahut Vendra saat dirinya mendapat pujian dari Meena yang baru saja datang bersama sang kakak.
"Main game ? Aku rasa itu lebih baik, aku ikut dengan mu sajalah." Vendra dan Jendra pun menaiki lift untuk ke pergi kamar Jendra. "Bagaimana kuliah kalian ? Ku dengar setelah lulus nanti, kalian akan bekerja di perusahaan kah ?" Tanya Aryan ketika sampai di taman belakang favorit nya ketika berkunjung kemari. "Hemm...begitulah kak Yuvi akan menggantikan dady, dan aku akan mengawal klub cricket yang dady miliki." Meena menjawab mewakili sang kakak yang justru mengajak Kyubi untuk bergabung bersama.
"Wahh...kalian hebat ! Aku bangga pada kalian berdua." Aryan memberi pujian kepada kakak beradik yang cerdas dan berbakat ini. "Oh ya..tahun ini kakak lulus kuliah kan ?" Ucap Meena bertanya yang diangguki Aryan. "Datanglah nanti bersama keluargamu." Ujar Aryan membuat Meena yang disamping nya kini menjadi salting sendiri. "I-iya kak, aku pasti datang di acaramu." Meena bahkan menjawab dengan terbata bata karena harus menetralkan detak jantung nya yang tak karuan.
"Hey kak ! Kau masih ingat dia ?" Suara Yuvi sontak membuat Aryan menoleh kesamping kirinya. "Ini pasti Kyubi kan ?" Aryan menebaknya tepat sasaran,"ternyata kakak masih mengingat nya dengan baik." Ucap Yuvi menimpali tebakan kak Aryan nya. "Ingatan ku ini sangat tajam seperti gajah tau !" Balas Aryan menyombongkan dirinya." Yayayaya....terserah kau sajalah kak." Yuvi memutar bola matanya malas mendengar ucapan Aryan barusan.
"Tuan muda, ini minuman untuk kalian." Ujar bibi Mothi dengan penuh hormat sambil menaruh nampan berisi tiga gelas ice lemon tea dan samosa yang masih hangat lengkap dengan saus nya." Terimakasih bibi Mothi, maaf ya jadi merepotkan." Jawab Yuvi dengan santun pula, di mansion ini semua karyawan diperlakukan sama oleh keluarga ini. Hanya saja mereka tetap memanggil seluruh anggota keluarga dengan panggilan Tuan atau Nyonya meski mereka sudah melarang nya.
Hal itu disebab kan usia mereka jauh lebih tua dari anggota keluarga disini, mereka harusnya sudah pensiun tetapi Dady Pratap menahan nya. Ia tahu bahwa hampir seluruh karyawan nya sudah tak memiliki keluarga, atau bahkan ditinggalkan oleh keluarga mereka akibat kesulitan ekonomi yang mereka rasakan saat itu. Dady Pratap memang sengaja milih orang yang tak punya pekerjaan atau tak memiliki keluarga. Beliau bahkan menyediakan pavilliun untuk pekerja nya yang sudah berkeluarga agar tetap bekerja disini.
Dirinya hanya ingin membantu ekonomi mereka dan membuat mereka tak kesepian lagi. Hal itu terbukti, mereka betah bekerja disini selain karena gaji yang ditawarkan sangat besar, mereka juga kerasan dengan perlakuan keluarga ini yang tak pernah berlaku kasar dan selalu adil dalam mengambil keputusan. Oleh sebab itu, mereka sangat segan terhadap nya dan seluruh keluarganya.
Setelah bibi Mothi pergi Yuvi mempersilahkan Aryan mencicipi hidangan nya,"ayo kak, dimakan samosa nya mumpung masih panas." Ujar Yuvi yang juga mencomot samosa isi sayur kesukaan mereka bertiga sejak kecil. Saat hendak makan samosa Aryan tak sengaja melihat sudut bibir Meena yang belepotan, secara inisiatif ia mengambil tissu didepan nya." Meena, maaf ya." Aryan mengelap sudut bibir nya dengan tissu, Meena yang mendapat perlakuan manis dari Aryan pun terkejut sekaligus malu, bahkan sekarang pipinya sudah memerah seperti tomat.
"Sudah selesai, tadi ada sisa sayur di bibir mu, makanya aku bersihkan." Ucap Aryan sambil memamerkan senyum manis nya yang semakin membuat jantung Meena berdetak sangat cepat. "Terimakasih kak." Hanya jawaban singkat yang dapat diberikan nya, itu pun dengan susah payah diucapkan.
Sebagai seorang kakak, Yuvi dapat mengetahui bahwa adik nya ini diam diam menyukai Aryan dan begitupun sebaliknya. "Kak, lain waktu kami ingin berkunjung ke rumah mu." Ujar Yuvi pada Aryan,"main saja ke rumah, kebetulan minggu besok aku mengadakan pesta di tempat biasa ." Ujar Aryan memberitahu mereka berdua mengenai pesta malam minggu nanti.
"Wah, kami pasti datang kak." Yuvi dan Meena kompak menjawab ajakan Aryan untuk bergabung dalam pesta." Bagus ! Ku tunggu kalian berdua dipesta." Aryan senang keduanya akan datang dipesta nanti.
VISUAL
Aryaan Khanna
Meena Chandramohan Sharma
Yuvraj Chandramohan Sharma