
"Maaf mengganggu waktu anda, Nyonya." Aira meminta maaf karena sudah mengganggu waktu istirahat nyonya serta tuan nya.
"Tidak...ada apa memang nya ?" Tanya Mohini ramah dan tak merasa terganggu dengan kedatangan si asisten.
"Nona kecil Ara sepertinya kehausan, Nyonya." Ujar Aira sambil menggendong Ara yang menangis keras, Mohini segera mengambil putri kecil nya dengan lembut.
"Aira, tolong kau bawa Jev kemari ya." Perintah nya lagi, Aira segera menggangguk dan pergi kamar tuan kecil nya itu.
"Ada apa Honey ? Apa Ara menangis lagi ?" Tanya Charlie yang mendengar suara tangis princess kecil nya itu.
"Iya, seperti nya ia kehausan." Jawab Mohini berusaha membuka kancing baju nya, setelah nya terpampang dengan jelas melon yang bulat nan segar didepan mata Charlie.
Glek
Charlie meneguk liur nya saat melihat pemandangan yang sangat menggoda, andai Jendra tak tidur dikamar mereka, pasti Charlie sudah ikut mencicipi seperti baby Ara.
"Jangan melihat nya seperti itu !" Seru Mohini yang melempar bantal sofa kearah suaminya.
"Eh, hanya lihat saja loh." Elak Charlie, tatapan nya masih belum berpindah ke objek yang lain.
"Ish dasar mesum !" Sungut Mohini kesal, memang Charlie hanya melihat nya saja, tapi itu membuat pedang sakti milik suminya ikut terbangun.
"Aku kan hanya lihat, tidak mengganggu mu kan ?" Ujar Charlie dengan entengnya.
"Hanya lihat tapi pedang mu langsung bangun." Balas Mohini sambil menunjuk ke arah celana Chrlie.
"Heheheheh...refleks ini nama nya." Jawab Charlie menutupi nya dengan selimut. Untung nya, Jendra sudah tidur sejak kedatangan Aira ke kamar mereka.
Taklama kemudian, Ara sudah kembali tertidur pulas. Mohini cepat cepat meletakkan Ara ke dalam box bayi yang ada di kamar mereka. Mohini mengecup kedua buah hatinya yang sedang terlelap, kemudian beranjak naik keranjang.
Charlie dengan sigap memindahkan Jendra ke poisisi paling ujung, agar ia bisa memeluk istrinya dan melakukan pijat plus plus pastinya.
"Kenapa Jendra dipindah kesana ?" Tanya Mohini pada Charlie.
"Biar aku bisa memeluk sayang." Jawab Charlie memperlihatkan deretan gigi yang tersusun rapi.
"Alasan saja !" Cebik Mohini mengerucutkan bibir nya.
Akhirnya Mohini pasrah dan ikut berbaring disamping sang suami, sambil membelai wajah anak nya. Awal nya semua baik baik saja Charlie memeluk nya dari belakang, namun tangan Charlie tak bisa diam. Charlie meremat melon segar yang dilihat nya tadi hingga si empunya mendesah tertahan.
"Eempphh....hubby." Mohini berusaha menahan tangan Charlie agar tak memilin bobanya. Sayang nya, Charlie tetap memilin boba nya hingga ia terpaksa menahan ****** nya supaya tak membangunkan Jendra.
"Jangan menahan nya honey." Ucap Charlie dengan sura sensual nya, ditambah ia dengan sengaja mengelus pintu gua istrinya.
"Ah...hubby." Satu ******* berhasil lolos dari bibir Mohini." Jangan sekarang, ada Jendra disini." Mohini berupaya menolak secara halus, ia tak ingin Jendra mendengar suara laknat nya.
"Dia sudah tidur, sekarang tugasmu menidurkan nya." Ujar Charlie sambil menggesekan pedang nya yang sudah keluar dari sarang ke ****** milik istrinya itu.
"Eemhh...tapi hanya sebentar dan jangan bersuara."
"Iya, tenang saja." Charlie segera menurunkan underware milik Mohini, perlahan ia menggesekan pedang nya, lalu memasukan nya dengan lembut kedalam goa yang sudah becek.
"Ah..." Desah mereka berdua saat pedang sakti itu tertanam sempurna didalam. Dengan kecepatan pelan, Charlie menggoyang sang istri dalam posisi menyamping.
Berkali kali suara laknat itu lolos dari bibir mereka berdua, sekuat tenaga mereka mencoba menahan nya tapi rupanya badai kenikmatan menghantamnya berkali kali.
"Aaahh....sedikit lagi." Racau Charlie yang hendak mencapai puncak nya. Suasana dikamar siang ini sangat panas, padahal suhu pendingin ruangan sudah ketitik paling dingin. Dengan nafas tersengal senggal dan penuh peluh Charlie mebenamkam pedang nya lebih dalam.
"Aaarrrgghhh....." erang mereka berdua dengan suara yang sudah dikecilkan sedemikian rupa agar tak terdengar. Kedua nya mencapai finish secara bersamaan.
"Huh huh huh" Nafas kedua nya masih belum teratur, Charlie dengan cepat memasukan si pedang pusaka kembali ke sarang nya serta membetulkan baju istrinya yang terbuka dibagian depan.
"Terimakasih sayang. Muach muach muach." Tak lupa Chrlie mengucapkan terimaksih pada istrinya yang sudah memuaskan nya hari ini.
"Sama sama, hubby." Balas Mohini dengan mata terpejam karena lelah.
Sore nya, Jendra yang sudah bangun dan mandi mendatangi kamar dady dan momy nya.
"Dady, momy bangun." Ujar Jendra seraya menggoyang goyangan kaki mereka berdua.
"Iya, Jendra mau naik jet ski sama dady." Ucap Jendra yang terus menarik narik tangan dady nya agar cepat bangun.
"Baik- baik...dady bangun sekarang." Charlie lekas bangun dan berganti pakaian. Sedangkan dipantai yang jarak nya tak jauh dari rumah, sudah ada dady Pratap yang sedang mondar mandir didekat jet ski nya.
"Ada apa dad ? Apa jet ski nya rusak ?" Tanya Charlie saat meghampiri dady Pratap.
"Sepertinya begitu...dari tadi dady coba nayalakan tetap tidak bisa. Mungkin, karena lama tak terpakai jadi mesin nya drop." Jawab dady Pratap sendu, membuat Jendra berkaca kaca mendengarnya.
"Emm sayang, tidak apakan kalau tidak jadi naik jet ski nya ?" Tanya dady Pratap yang sudah tau bahwa Jendra akan sedih saat mendengar nya.
"Iyah...tidak apa." Jawab Jendra bersedih bahkan air matanya tampak menggenang di pelupuk matanya.
"Uluh uluh...prince nya dady jangan sedih, gimana kalau kita naik ATV saja ?" Jawab Charlie yang seketika diangguki Jendra, ia tak jadi menangis saat mendengar tawaran dadynya.
"Let's go dady !!" Jendra bersorak gembira bahkan sampai loncat loncat diatas pasir pantai.
"Jack ! Tolong bawakan ATV ku kemari !" Titah Charlie pada si pengawal Jack yang masih berusia muda namun berwajah datar dan dingin.
"Baik Tuan, saya akan bawakan." Jawab Jack patuh dan segera kembali ke garasi mansion dady Pratap.
Lima menit kemudian, datang Jack membawakan ATV milik Charlie." Tuan, ini kunci nya." Jack memberikan kunci ATV nya pada Charlie.
"Terimakasih Jack."
"Sama sama, Tuan muda."
Charlie menyalakan ATV nya, dan beruntung mesin nya dalam kondisi prima.
"Apa kau siap boy ?" Tanya Charlie pada Jendra yang terlihat bersemangat.
"Siap dady !!" Jawab Jendra berteriak saking semangat nya. Ia segera naik dan duduk di depan dady nya. Charlie mulai memacu ATV nya perlahan.
"Dady lebih cepat lagi !" Pinta Jendra agar dady nya menambah laju kecepatan ATV.
"Yuhuuuuu!!! Ini keeereennn dadyy!!" Jendra tak hentinya bersorak saat Charlie membawa ATV nya dalam kecepatan penuh.
Sreeettt
Charlie melakukan drift diatas pasir pantai persis seperti difilm action kesukaan Jendra.
"Oh God !" Jendra merasa tubuh nya seperti berputar 180 derajat, membuat adrenalin nya semakin berkobar.
"Kau suka, Son ?" Tanya Charlie usai melakukan aksi gila nya.
"Tentu, lakukan lagi dad !" Ucap Jendra yang tak merasa takut atau ngeri, ia justru meminta dady nya melukan drift lagi.
Charlie mengabulkan permintaan putra, ia melakukan drift kembali. Mohini yang ikut menyusul suaminya menjadi begitu terpana melihat Charlie melakukan drifting.
"Lihat ada momy disana !" Charlie menunjuk ke arah yang dimaksud.
"Kau benar dad, kita ke momy yuk." Ajak Jendra pada dady nya.
Charlie melajukan ATV nya menuju tempat Mohini berdiri melihat mereka." Momy ! I'm coming!!" Jendra segera turun dari ATV dady nya dan berlari menghampiri Mohini.
"Prince momy senang ?" Tanya Mohini membalas pelukan putranya.
Jendra mengangguk, "senang mom, dady seperti pemeran film tembak tembak tadi." Tutur Jendra kesenangan setelah naik ATV tadi.
"Owh ya ? Memang dady lakukan trik apa tadi ?"
"Dady bawa ATV nya nge drift momy ! Itu hebat sekali!" Jendra menjelaskan semua yang terjadi dengan senyum yang tak pernah pudar dibibir nya.
VISUAL
Jendra & Charlie