Mr And Mrs Chandramohan

Mr And Mrs Chandramohan
Dua Orang yang Berbahagia



Jendra yang mendapat lampu hijau dari dady nya begitu gembira, belum lagi saat Charlie benar benar mengirimkan tiket digital ke emai peribadi nya.


Jendra segera mengirim tiket itu ke alamat email ayah Ranveer yang sudah disimpan nya. Setelah nya ia menelpon ayah sahabat nya itu." Hallo uncle." Ucap Jendra sopan ketika telfon nya diangkat oleh ayah Ranveer.


"Hai, bocah manis. Apa kau sudah mendapat izin dari dady mu ?" Tanya ayah Ranveer hanya untuk menggoda bocah kecil ini. Sebenar nya kalaupun Jendra tak mengajak nya juga tak masalah, ia tahu putrinya akan aman bersama keluarga Chandramohan.


"Tentu, dady bahkan sudah mengirimi ku tiket nya. Tadi, Jendra sudah kirim tiket nya ke email uncle." Ujar nya yang sangat bersemangat. Ranveer terkejut mendengar nya, ia pikir Jendra hanya main main saja. Ternyata dirinya salah, bocah kecil ini sangat bertanggung jawab pada keputusan nya.


"Oh ya uncle, nanti kita bertemu di bandara Delhi saja." Ucap Jendra pada ayah Ranveer." Okay, kita bertemu disana." Ayah Ranveer menyepakati keputusan tersebut. Setelah telfon ditutup, Ayesha terlihat mendekat ke arah sang suami.


"Siapa yang menelfon, Yah ?" Tanya nya penasaran." Jendra yang menelfon tadi, dia bilang tiket nya sudah dikirim ke email ku." Ujar ayah Ranveer sambil mengecek email nya, benar saja lima tiket kelas VVIP sudah masuk ke email nya.


"Yah, ini Jendra benar benar kirim tiket nya ?!" Ucap Ayesha yang terkejut saat tahu Jendra menepati ucapan nya. Apa lagi dirinya juga tahu bahwa satu tiket kelas VVIP itu harga nya sangat tinggi. Ayah Ranveer tersenyum ke arah istrinya.


"Memang sesuai dengan namanya, Rajendra yang artinya seorang Raja. Anak itu juga tumbuh seperti seorang raja yang dihormati juga selalu menepati ucapan nya." Ranveer bisa mengamati hal itu ketika pertamakali Jendra datang ke mansion nya.


Aura dari bocah itu memang sedikit berbeda, seperti memiliki kharisma nya sendiri." Kedua orang tuanya berhasil mendidik Jendra hingga tumbuh menjadi pria kecil yang mandiri juga jenius." Ayesha pun turut bangga pada bocah kecil ini. Memang pantas jika Jendra dinobatkan sebagai ilmuan muda India.


"Kau benar, Alona pasti senang mendapat kabar ini." Ayesha dan Ranveer lekas memberitahu putri mereka." Ayah kenapa senyum senyum sendiri ?" Tanya Alona yang melihat kedatangan ayah dan mami nya ke ruang bermain.


"Sayang, Jendra sudah memberikan tiket nonton nya pada ayah. Kita akan pergi bersama nanti." Ujar ayah Ranveer memulai pembicaraan. Alona sangat terkejut sekaligus bahagia, keinginan nya akan terwujud sebentar lagi.


"Sungguh ? Yeeyyy !! Lona bisa liat tim cricket kita !!" Seru Alona kegirangan yang langsung memeluk kedua orang tuanya." Ayah, boleh aku menelfon Jendra ? Alona ingin berterimakasih padanya." Tanya Alona segera saja ayah Ranveer mengangguk.


"Hai, Alona ! Apa kau suka hadiah nya ?" Tanya Jendra saat melihat wajah Alona muncul di jam nya." Hai, Jendra ! Aku sangat senang dengan hadiah mu. Terimakasih banyak untuk tiket nya, sampaikan juga terimakasih ku pada dady mu." Jawab Alona dengan raut wajah yang terus memancarkan kebahagiaan begitu pula dengan Jendra, kedua bocah tersebut sangat riang hari ini.


Selesai bertelfon ria dengan sang sahabat, Alona pun diajak kedua orang tua nya pergi ke pusat perbelanjaan. Semetara Jendra lebih memilih menonton film bersama kakek dan nenek nya di bioskop mini mereka.


"Oh ya, tadi Yug menelfon mu ada apa ?" Tanya Manohar pada cucu nya." Seseorang telah meretas akun milik paman Ajay, kemudian aku membantu nya." Jawab Jendra menjelaskan.


Manohar mengangguk angguk mengerti." Besok kalian jadi bertemu ?" Tanya nya lagi," yap..besok aku akan memasangkan sistem keamanan yang baru di laptop paman Ajay." Ujar Jendra sambil memakan kripik jagung di depan nya.


"Nenek, kalau adik bayi nya lahir...Jendra harus panggil nya uncle, ya ?" Tanya Jendra sambil menatap wajah nenek nya. Rhea tersenyum mengusap wajah Jendra," iya..nanti kalau adik nya lahir, Jendra panggil nya uncle." Ucap Rhea sambil mencolek hidung milik Jendra.


"Kalau adik bayi yang di perut Oma lahir, juga panggil uncle ?" Tanya nya yang penuh rasa ingin tahu." Benar sayang, adik yang di perut Oma dipanggil uncle karena adik bayi itu adik nya momy. Kalau yang diperut nenek, adik nya dady...Jendra mengerti kan sekarang ?" Ucap Rhea yang langsung diangguki oleh Jendra.


"Mengerti nenek, dady dan momy juga pernah mengatakan hal yang sama." Rhea tersenyum dan kembali mengusap wajah serta rambut cucunya penuh sayang." Cucu kakek ini memang sangat pintar. Kakek dan nenek menyangimu, Prince." Manohar ikut mencium kedua pipi Jendra yang gembul itu.


"Hehehe...Jendra kan anak nya dady, sudah pasti pintar dong." Manohar dan Rhea terkekeh mendengar celoteh cucu mereka yang sangat menggemaskan ini.


"Malam ini kau ingin makan di mana, Sweetie ?" Tanya Manohar pada sang istri tercinta." Mau makan masakan mu, boleh ?" Ucap Rhea sambil menoleh ke arah suaminya." As you wish, Sweetie." Jawab Manohar lembut


"Kakek mau masak ?" Manohar mengangguk dengan wajah teduh nya." Kalau begitu, Jendra mau dibuatkan sup kepiting !" Ujar nya sambil membayangkan betapa lezat sup kepiting buatan kakek nya. Setelah berdiskusi mengenai makan malam, ketiga nya lantas meneruskan acara film yang sempat terjeda tadi.


⭐⭐⭐⭐⭐⭐⭐⭐⭐⭐


Sementara itu, Charlie terlihat sedang bermain bersama twins yang sudah berusia 4 bulan. Kedua bayi itu kini sudah bisa duduk dengan sedikit bantuan.


Baby Ara tampak memainkan boneka kelinci di depan nya, sedangkan baby Jev memainkan boneka teddy bear milik nya. Namun itu tak berlangsung lama, baby Jev terlihat mendekati kembaran nya. Agak nya Jev lebih tertarik pada boneka kelinci milik saudari kembar nya.


Baby Ara pun sukses dibuat menangis oleh kakak kembar nya. Charlie yang melihat hal itu berusaha menenangkan putri kecil nya. Usaha nya pun berhasil, Ara akhirnya berhenti menangis setelah Charlie menggendong nya.


Jev menatap sang dady, perhalan ia mendekati Ara yang tengah duduk dipangkuan Charlie. Rupanya Jev hendak mengembalikan boneka kelinci milik Ara, Jev juga terlihat mencium pipi gembil milik saudari kembarnya itu.


Interaksi hangat keduanya membuat Charlie langsung membawa Jev ke pangkuan nya juga." Kalian manis sekali, dady sayang kalian." Charlie menciumi wajah kedua anak nya yang terlahir kembar identik itu.


Kedua bayi itupun tertawa saat wajah nya diciumi oleh dady mereka. Charlie lantas membawa keduanya menuju ruang perpustakaan yang berada dilantai 5 mansion tersebut.


Terlihat Charlie duduk di kursi sofa sambil memangku kedua anak nya, di tangan nya terdapat sebuah buku cerita khusus untuk bayi. Charlie mulai membacakan kedua nya buku yang berisi gambar anggota keluarga.


Jev tampak antusias bahkan sampai menunjuk nunjuk gambar di buku tersebut." Ini, da-dy !" Ujar Charlie pada kedua anak nya yang sangat antusias ini. Di umur yang sudah menginjak 4 bulan, selain sudah bisa duduk, mereka berdua juga sedang memasuki fase babbling.


Oleh sebab itu, Charlie dan Mohini berupaya menstimulasi keduanya agar dapat berbicara jelas." Kalau ini, Momy !" Charlie kembali bersuara saat tangan Jev menunjuk pada gambar orang dibuku nya.


"A-mih ! Da-da !" Jev spontan mengikuti ucapan sang dady dan itu membuat Charlie kaget bukan main." Dada ! Dada !" Tak mau kalah dari kembaran nya, baby Ara juga ikut ikutan memanggil Charlie dengan sebutan "Dada".


"Good boy ! Good girl !" Charlie langsung menggendong kedua nya ke ruang keluarga. "Honey ! Kau tau kedua anak kita sangat jenius !" Ujar nya setengah berteriak membuat dady Pratap juga sang istri ikut menoleh ke arah Charlie.


"Tentu saja, itu karena dady nya juga sangat jenius." Timpal Mohini yang berniat mengambil baby Jev dari gendongan suaminya.


"Amih..he eh.." Jev seolah memanggil Mohini saat tubuh nya digendong." Jev ?! Astaga !!" Mohini langsung mendekap erat putranya yang baru berhasil menyebut kata momy meski belum begitu sempurna.


"Dada !" Baby Ara memekik keras sambil memeluk erat tubuh Charlie." Ara juga ?! God ! Kalian memang sangat pandai !" Mohini ikut menciumi wajah putrinya yang sangat menggemaskan itu.


"Cucu cucu Opa memang sangat pintar." Dady Pratap segera mengambil keduanya dan menggendong nya." Cucu Oma juga dong." Mom Shamita mencium pipi keduanya penuh sayang.


"Pa...ma..." Celoteh kedua nya lagi, mom Shamita dan dady Pratap kompak menoleh." Mine..Jev dan Ara kian jelas bicaranya." Ujar nya pada sang istri.


"Iya by...mereka sudah mempunyai empat panggilan yang sudah dikuasi meski belum sempurna." Balas mom Shamita yang sangat takjub dengan kedua bayi didepan nya ini. Ingin rasanya ia menggendong sang cucu, tapi apa daya dirinya sendiri pun tengah menggendong seorang malaikat kecil diperut nya.


"Honey....mereka pintar yah, terimakasih sudah mendidik anak anak kita." Ucap Charlie membuat kedua netra istrinya berkaca kaca." Bukan aku saja yang mendidik mereka, hubby pun ikut pegang kendali atas perkembangan putra putri kita." Jawab nya sambil menggenggam jemari sang suami.


"Semoga kita terus membersamai mereka ya, Honey." Balas Charlie mengusap pucuk kepala istrinya. Mom Shamita begitu bahagia melihat kehangatan keluarga kecil dari putri pertamanya yang begitu harmonis.


"Amih...num." Suara celoteh baby Jev memecah suasana haru yang tenfah terjadi." Jev haus ? Mau minum susu ?" Jev girang saat Mohini menyebutkan kata susu, bahkan tangan kecil nya ikut bertepuk tangan.


"Hubby, sebentar yah.." Mohini membawa Jev dan Ara ke kamar nya untuk menyusui kedua nya.


VISUAL


Charlie



Mohini



Baby Ara & Jev