
"Kalian belajar sungguh sungguh ya. Momy merindukan kalian." Mohini mengungkapkan perasaan rindu yang ia rasakan sejak kedua anak nya pergi melanjutkan studi ke luar negri. "Pasti mom, aku akan belajar dengan baik dan setelah lulus nanti aku yang meneruskan dady menjadi sorang CEO." Ujar Yuvi dengan rasa percaya diri yang tinggi." Meena juga mom, Meena mau bantu dady mengurus tim cricket kita." Meena rupanya juga mau membantu dady nya untuk menghandle tim cricket dady nya. Gadis yang sebentar lagi berusia 21 tahun itu memang menantikan saat dimana ia akan diwisuda, agar bisa cepat kerja tentunya. "Anak anak dady memang bisa diandalkan, dady tak ragu lagi untuk mewariskan tanggung jawab ini pada kalian berdua." Ujar Charlie dengan perasaan bangga nya.
"Jendra juga ingin seperti kak Yuvi dad." Jendra merengek pada dady nya karena ia juga ingin membantu sang dady seperti kedua kakak nya." Iya boy, nanti ada saat nya Jendra dan adik ikut bantu dady. Sekarang yang Jendra lakukan adalah belajar sungguh sungguh dan jadi anak baik untuk dady dan momy. Jendra paham kan ?" Ujar Mohini memberi pengertian bagi putranya yang akan berumur 4 tahun.
"Paham momy, Jendra akan sungguh sungguh belajar dan jadi orang hebat seperti dady." Jawab bocah yang mengidolakan sosok dady nya itu. Tak lupa ia memberikan kecupan basah di pipi dan bibir dady nya. "Love you dady." Bisik nya ditelinga Charlie." Love you too my cutie pie." Setelah sesi telpon berakhir, Jendra berjalan kearah momy nya yang duduk disofa panjang tak jauh dari dadynya.
"Mom, Jendra ke kamar oppa dulu ya...mau main game bareng oppa." Pamit nya pada Mohini." Daahh...dokter Vin." Jendra juga memberi lambaian tangan untuk dokter Vin. "Bye Jendra." Dokter Vin turut membalas lambaian tangan bocah kecil yang tampan itu." Jangan lari lari." Kata Mohini sebelum putranya menghilang dibalik pintu." Baiklah, aku juga harus pamit sekarang. Ada pasien yang menungguku di rumah sakit." Dokter Vin pun pamit undur diri. "Terimakasih sudah datang Vin." Tak lupa Charlie berterimakasih padanya. "Sama sama."
"Honey, kemarilah." Ujar nya menepuk bagian disebelah nya. Mohini mendekat dan duduk disamping suaminya. Sambil menggenggam tangan istrinya Charlie mengungkapkan perasaan nya dalam menjalani rumah tangga ini." Maafkan aku karena dulu sering membuatmu kecewa, aku selalu menjauhi mu, bahkan menghinamu didepan teman teman sekolah. Dan terimakasih sangat sudah mau menerima pria brengsek ini kembali, aku bahagia menikah dengan mu. Setiap hari nya, aku dapat merasakan cinta ku ini semakin bertambah pada mu. Aku bahagia memiliki mu, sangat bahagia sekali. Love you so much my Queen." Ungkapan cinta yang dilontarkan Charlie mampu membuat meneteskan air mata. Bukan air mata kesedihan, namun air mata bahagia karena ia merasa beruntung sekali diperlakukan bagai ratu oleh Charlie. Ia kira Charlie sama sekali tak menyukai nya dan ternyata itu salah, Charlie diam diam menyukai nya dan bahkan ia melamarnya saat mereka ada di Dubai. "Jangan menangis...aku tak suka melihat mu sedih." Charlie mengelap air mata yang menggenang di pelupuk mata istrinya.
"Aku menangis bukan karena sedih, tapi aku bahagia. Aku bahagia kau menjadi suamiku, suami yang baik dan bijaksana. Dan aku mencintaimu apa adanya. Love you more My King." Mohini juga ikut mengungkapkan isi hatinya yang sangat bahagia hidup bersama Charlie dan kelima anak mereka. Charlie segera memeluk wanitanya, menghujami wajah nya dengan kecupan kecupan. Yang terakhir Charlie melabuhkan ciuman nya yang memabukan di bibir Mohini. Charlie menyesapnya perlahan. Ciuman yang awal nya biasa saja menjadi lebih menuntut. Kalaulah Charlie tak ingat dirinya sedang sakit maka dipastikan sudah Mohini ada dalam kungkungan nya.
Charlie melepas tautan bibir mereka sebelum ia berubah pikiran untuk menerkam istrinya. Mohini merasa kaget Charlie melepas ciuman mereka tiba tiba, padahal biasa nya dia yang melepaskan nya duluan. "Maaf, aku takut tak bisa menahan gairah ku." Ujar Charlie dengan wajah yang sudah merah padam, belum lagi bagian bawah nya sudah tegak sempurna.
"Tapi kau hanya demam saja, by. Tak apa jika ingin itu." Ucap Mohini, Charlie tersenyum cerah mendengarnya. Setidak nya hanya kepala atas nya saja yang merasa pusing. "Benarkah, aku boleh melakukan nya?" Tanya Charlie membuat Mohini memerah malu. "He em...tapi kunci pintu nya dulu." Kata Mohini lagi. Segera Charlie bangun dan mengunci kamar mereka.
Charlie membuka kain yang membungkus tubuh nya hingga menyisakan boxer nya saja. Ia merebahkan Mohini dan menindihnya. Dengan rakus ia mengecup bibir istrinya, membuat wanita itu kesulitan mengimbangi ******* nya. Charlie memusatkan kukubird nya tepat sasaran, dengan sekali hentakan kukubird itu tertanam sempurna disarang nya.
Charlie mulai bergoyang maju mundur dengan kecepatan sedang. "Oughh...yess...love you Mohini." Tak hentinya Charlie membisikan kalimat cintanya ditelinga sang istri. Mohini bergerak sangat pelan, ia begitu menikmati permainan nya dengan Charlie. Charlie pun demikian, namun gerakan Mohini yang pelan membuatnya tak bisa menahan lahar panas nya lebih lama.
"Honey...arrghh...shitt." Charlie meremat pepaya gantung yang sedari tadi bergerak gerak diatasnya. Tubuh Charlie bergetar saat ia mencapai puncak. Untungnya mereka sudah memasang peredam suara, kalau tidak sudah pasti suara itu tembus keluar sana.
"Hosh hosh hosh." Kedua nya berusaha mengontrol nafas mereka yang terngah engah akibat permainan panas mereka barusan. "Terimakasih banyak." Charlie melabuhkan kecupan diwajah istrinya yang sudah berada disamping nya. "Sama sama by." Jawab nya menganggukan kepala." Apa kau puas dengan permainan kita barusan ?" Tanya Charlie dengan wajah tengil nya. "Sangat, aku suka permainan mu." Jawab nya malu malu.
Mohini yang malu menyembunyikan wajah nya didada sang suami. Charlie tertawa melihat istrinya yang masih malu malu padanya. Selang beberapa menit, Charlie merasa ada sentuhan didada nya yang membuat dirinya menelan kasar ludahnya. Rupanya Mohini mencoba membangunkan singa yang tertidur dengan ulah nya yang membuat pola abstrak didada Charlie.
Dan ya, ronde kedua dan ronde ronde selanjut nya pun terjadi. Hingga keduanya merasa lemas akibat panas nya percintaan mereka barusan. "Percaya atau tidak, kau sudah membuatku terjebak akan pesona dan rasa cintamu itu. Jangan pernah tinggalkan aku honey, aku tak bisa jauh darimu." Ujar Charlie mencium kening istrinya sebelum mereka pergi tidur. "Tenang saja, aku takkan pergi kecuali kau dan anak anak yang meminta nya." Jawab Mohini mengecup pipi sang suami.
Sore harinya, mereka terbangun dengan perut keroncongan. Setelah melawatkan makan siang, mereka akhirnya turun dari kamar setelah membersihkan diri dari sisa pertempuran siang tadi.
Charlie mengangkat tubuh mungil istrinya vertikal. "Byy...malu kalau dilihat orang." Rengek Mohini saat berada di lift rumahnya, ia takut kepergok oleh para art atau yang lebih parah bertemu dengan kedua orang tuanya. "Diamlah ! Aku tidak menerima penolakan." Ujar Charlie meletakan jari telunjuk nya dibibir Mohini agar ia tak cerewet.
Sesampai nya mereka berdua didapur, dugaan Mohini tepat sasaran Momy Shamita sedang membuatkan minum untuk dady Pratap. "Kenapa Charlie yang menggendong mu ? Bukan nya sedang sakit ?" Tanya momy Shamita yang keheranan melihat menantunya yang tampak baik baik saja.
"Iya mom, tadi memang sakit...tapi sekarang sudah sehat." Jawab Charlie sambil tersenyum." Cepat sekali ??" Momy Shamita bahkan sampai tercengang mendengar jawaban Charlie. Biasanya orang demam akan sembuh dalam beberapa hari, namun Charlie sembuh dalam waktu kurang dari sehari.
"Benar sekali, itu semua berkat Mohini yang merawatku." Ujar Charlie memandangi wajah Mohini yang sudah memerah karena teringat pertempuran lanas mereka." Memang ada obat yang dapat menyembuhkan secepat kilat ?" Tanya momy Shamita yang sepertinya belum konek dengan apa yang Charlie bicarakan.
"Obat yang penuh kehangatan dan dapat menghilangkan pusing kepala atas bawah." Jawab Charlie yang segera mendapat jitakan dikepala nya. "Aaww sakit mom !" Charlie mengaduh kesakitan berharap mendapat pembelaan dari istrinya, tapi sepertinya Mohini sendiri ikut tertawa melihat suaminya yang kesakitan."Ya sudah, kalian makan dan setelah itu kita nonton bersama dibioskop atas." Ujar momy Shamita sebelum pergi meninggalkan keduanya dengan secangkir cappucino ditangan kanan nya.
"Beres mom." Jawab mereka serempak. Charlie menurunkan Mohini dari gendongan dan mempersilahkan nya duduk dikursi yang sudah ia siapkan. Keduanya makan dengan tenang dan lahap.