
Pagi harinya, Mohini terbangun dari tidurnya dan menyadari sang suami belum bangun. Ia pun berinisiatif membangunkan nya," by..bangun sudah pagi." Ujar nya seraya mengguncang pelan tubuh Charlie. Namun sia sia, Charlie tak bergeming sedikitpun. "Eemmh...dingin sekali tubuhku." Charlie justru meracau tak jelas saat merasa ada tangan yang membelai wajah nya.
"Tubuh mu panas by ! Kau demam ?!" Mohini terkejut mendapati suaminya yang demam tinggi. "Rasa nya dingin, tolong selimuti aku." Ujar Charlie sambil menggeratakan gigi nya akibat kedinginan. "Aku panggil dokter ya, kau tunggu sini." Mohini segera mengambil hp nya diatas nakas. Dicari nya nomer dokter Vin yang sudah menjadi dokter langganan saat keluarga Pratap Singh jatuh sakit.
"Pagi, Mohini. Ada yang bisa kubantu ?" Sapa dokter Vin ramah.
"Pagi Vin, bisa pagi ini kau kerumah ?"
"Tentu, memang nya siapa yang sakit ?" Ujar dokter Vin balik bertanya. "Charlie, suamiku yang sakit dok."
"Apa yang dikeluhkan oleh nya ?"
"Badan nya sangat panas, kepala pusing, dan badan lemas." Jawab Mohini yang panik, " Kau sebaik nya tenang, lebih baik ambilkan bubur untuk Charlie dan setelah itu minumkan dia paracetamol." Titah dokter Vin memberi sadan agar Mohini bisa sedikit tenang. "Aku segera sampai ke mansion." Pungkas nya menutup saluran telpon.
Mohini tergopoh gopoh ke dapur dan minta dibuatkan bubur oleh Arin. "Arin, tolong buatkan bubur untuk Charlie." Ujar nya memberi perintah,"Ok, kenapa kau sangat panik kak ?" Tanya Arin seorang ART yang sudah dianggap adik sendiri oleh Mohini dan Charlie sebab usia nya yang masih sangat muda diantara yang lain. "Iya, kakak mu itu sedang demam. Dan aku ingin makan bubur, aku sudah panggil dokter Vin kemari." Balas Mohini segera pergi ke kamar nya lagi.
"Nak, kau kenapa panik ? Apa suamimu sedang sakit ? Atau cucuku yang sakit ?" Rentetan pertanyaan dilontarkan Momy Shamita yang berada di ruang keluarga bersama suaminya. "Iya mom, Charlie sepertinya kelelahan dan akibat nya ia menjadi demam." Jawab Mohini lagi. "Charlie terlalu bekerja keras dan ia menjadi sakit, anak itu sangat bertanggung jawab dan disiplin dengan pekerjaan nya. Kau sudah panggil dokter Vin kan ?" Ujar dady Pratap, "sudah dad, sebentar lagi dokter Vin akan sampai." Jawab nya meninggalkan dady dan momy nya.
"Kau memang tak salah memilih Charlie sebagai pengganti mu sayang." Ucap momy Shamita yang juga salut akan kinerja menantunya. "Yeah, aku sudah punya feeling bahwa Charlie mampu menghandle perusahaan dengan baik." Tukas dady Pratap kembali mencomot kripik kentang dan menikmati siaran kriket nya. "Menantu kita ini memang sangat totalitas, apalagi ia juga punya club kriket yang tengah berlaga hari ini." Ucap momy Shamita menyahuti suaminya.
"Honey, kau dari mana ?" Tanya Charlie dengan suara melemah. "Dari dapur by, sebentar lagi dokter Vin tiba."
"Aku tak butuh dokter, aku hanya butuh pelukan sayang." Tiba tiba saja Charlie menarik tangan Mohini hingga membuat nya jatuh dalam pelukan Charlie. "Aku hanya butuh seperti ini." Ujar nya merekatkan pelukan nya. "By...kalau dokter Vin lihat bagaimana ?" Mohini berupaya melepas belitan lengan Charlie yang melingkar diperutnya. Namun usahanya sia sia, Charlie memeluk nya dengan sangat erat. Dan akhirnya Mohini memilih pasrah dipeluk oleh Charlie.
TOK TOK TOK
"Permisi Nyonya, dokter Vin telah sampai." Ujar salah seorang art yang bekerja dimansion. "Tunggu sebentar."
Ntah kenapa dirinya menjadi sangat manja kepada istrinya saat sedang sakit begini. Ada saja permintaan nya agar sang istri selalu ada didekatnya. "Hah...baiklah bayi besar, aku akan menyuruh Vin kemari dan tolong lepas pelukan nya sebentar."
Setelah berhasil lepas dari sang suami, Mohini segera membuka pintu kamarnya. Tampak dokter Vin tengah menunggu dibalik pintu sejak tadi. "Sepertinya anda baru terbebas dari Tuan Charlie." Ujar dokter Vin mengejek Mohini. "Ntahlah...jika sakit dia selalu saja menjadi bayi besar. Cepat sembuhkan dia Vin agar dia tak menjadi bayi besar lagi." Dokter Vin hanya tersenyum tipis mendengar ocehan Mohini.
"Pagi Tuan Charlie, bagaimana kabar anda pagi ini ?" Sapa dokter Vin pada Charlie yang berbaring diranjang king size nya. "Lumayan baik, dan sedikit panas." Jawab nya sambil memasang wajah sayu nya.
"Baiklah, aku akan memeriksa anda." Dokter Vin mendudukan dirinya disamping Charlie, tampak ia mengeluarkan stetoskop dari tas jinjing nya." Ok, tapi aku mau istriku menemaniku disini." Tawar Charlie yang dibalas anggukan oleh dokter Vin. "Anda terlalu lelah Tuan, saya sarankan Tuan istirahat beberapa hari kedepan." Ungkap dokter Vin setelah selesai memeriksa keadaan Charlie. Semuanya aman, hanya saja Charlie memang terlalu lelah." Kau benar, aku terlalu disiplin dalam pekerjaanku sampai membuat waktu istirahatku berkurang. Aku akan ambil cuti beberapa hari ini sesuai dengan saranmu."
"Nah itu baru pasienku yang penurut." Kelakar dokter Vin membuat Charlie tersenyum simpul padanya. "Hisk hisk hisk....dady." Isak tangis anak kecil terdengar diambang pintu kamar. "Hey boy kau kenapa ?" Charlie tampak penasaran sekaligus khawatir dengan putranya yang menangis seperti itu. "Dady jangan sakit, Jendra jadi sedih." Ujar nya dengan hidung yang memerah dan mengeluarkan ingus, Charlie yang gemas mengambil tissue diatas nakas dan membersihkan hidung putranya.
CUP
"Dady baik baik saja boy. Dady kan kuat seperti spiderman." Sanggah Charlie yang tak ingin Jendra sedih melihatnya sedang sakit walaupun itu hanya demam saja. "Tapi, badan dady hot. Jendra mau sama dady." Jawab nya sambil memeluk dady nya berharap suhu tubuh nya segera turun." Iya sayang, badan dady hot karena didalam nya lagi ada perang antara imun dady dan virus jahat." Ujar Charlie menenangkan Jendra yang masih terisak dipelukan nya.
"Ada virus jahat ya didalam badan dady ?" Tanya nya dengan mata berbinar menatap dady nya." Iya sayang, oleh sebab itu dokter Vin memberi obat pada dady." Jawab Charlie seraya menunjukan obat yang telah Vin berikan padanya."Kalau begitu dady harus minum obat supaya imun nya menang." Kata Jendra menyemangati dady nya agar cepat sembuh." Iya prince tampan nya dady." Blas Charlie lembut tak lupa ia memberi usapan diwajah sang anak.
Charlie sangat bersyukur Tuhan memberinya anak serta istri yang sangat sayang padanya, juga keluarga yang selalu ada untuk nya. Taklama, muncul notifikasi dijam tangan Jendra, terlihat ada hologram kedua kakak nya, Yuvi dan Meena menelpon nya.
"Hallo Jendra, apa kabarmu ?" Tanya Yuvi yang sudah sangat merindukan Jendra, namun karena studi nya yang belum selesai dan memang belum ada libur, Yuvi dan Meena belum bisa kembali ke India.
"Aku baik, tapi dady tidak baik." Jawab nya dengan mata yang masih menyisakan airmata. "Dady kenapa Jendra ?" Giliran Meena yang khawatir mendengar dady nya dalam kondisi kurang baik. "Dady sakit kak, tubuh nya panas." Jawab Jendra mengarahkan jam nya ke wajah Charlie yang sedikit pucat. "Astaga dady !! Dady sakit apa ? Sudah minum obat belum ?" Yuvi dan Meena terus mencecar Charlie dengan pertanyaan pertanyaan mereka. Charlie tersenyum dan menjawab pertanyaan mereka satu persatu.
"Dady hanya demam kids, dady juga sudah diperiksa dan diberi obat oleh dokter Vin." Charlie menjawab semua pertanyaan yang Yuvi dan Meena lontarkan padanya." Syukurlah, semoga dady lekas sembuh. We love you dad." Ujar keduanya yang mana membuat Mohini terharu mendengarnya.
"Kalian belajar sungguh sungguh ya. Momy merindukan kalian." Mohini mengungkapkan perasaan rindu yang ia rasakan sejak kedua anak nya pergi melanjutkan studi ke luar negri. "Pasti mom, aku akan belajar dengan baik dan setelah lulus nanti aku yang meneruskan dady menjadi sorang CEO." Ujar Yuvi dengan rasa percaya diri yang tinggi." Meena juga mom, Meena mau bantu dady mengurus tim cricket kita." Meena rupanya juga mau membantu dady nya untuk menghandle tim cricket dady nya. Gadis yang sebentar lagi berusia 21 tahun itu memang menantikan saat dimana ia akan diwisuda, agar bisa cepat kerja tentunya. "Anak anak dady memang bisa diandalkan, dady tak ragu lagi untuk mewariskan tanggung jawab ini pada kalian berdua." Ujar Charlie dengan perasaan bangga nya