
Satu bulan telah berlalu, kini baby Jev dan Ara sudah semakin besar dan imut pastinya.
Dan sepertinya Charlie masih enggan untuk kembali ke kantor. Ia masih berat jika harus berpisah dengan baby Jev dan Ara. Selama sebulan penuh Charlie membantu Mohini dalam mengurus keperluan para twins.
"Hubby, kau belum mau kembali ke kantor ?" Tanya Mohini yang sedang menyusui baby Ara.
"Belum, aku sangat nyaman berada di dekat kalian." Ujar Charlie sambil menggendong baby Jev.
"Besok kau harus kembali ke kantor ya." Ucap Mohini menyuruh suaminya kembali ke kantor.
"Kau yakin ? Kalau kau repot bagaimana ?" Tanya Charlie kembali.
"Iya, kau tenang saja...aku bisa mengurus mereka." Jawab Mohini meyakinkan Charlie.
"Baiklah, besok aku ke kantor...tapi hanya setengah hari." Ucap Charlie menyetujui permintaan istrinya untuk kembali ke kantor.
"Nahh...itu baru suami ku yang rajin." Mohini yang sudah selesai menyusui baby Ara pun memberi ciuman di pipi Charlie.
"Baby Jev sudah tidur, aku ingin latihan sebentar dibawah." Ujar Charlie yang meletakan baby Jev kembali kedalam box nya dengan hati hati.
"Aku ikut boleh ?" Tanya Mohini pada sang suami.
"Boleh, ayo kita ke bawah." Charlie dan Mohini pergi ke ruang bawah tanah tempat ia melatih jurus jurus taekwondo nya.
Charlie terlihat sedang melatih diri nya dengan beberapa jurus taekwondo yang sudah lama tak ia gunakan. Sementara Mohini hanya duduk di pinggir ring sambil melihat suami nya bercucuran keringat, Mohini amat kagum dengan kelincahan juga ketepatan serangan Charlie.
Diumur yang tak lagi muda, Charlie masih memiliki energi layak nya anak muda. Dan itu membuat sang istri semakin kagum dengan nya. Saat tengah fokus berlatih, kedua nya dikejutkan dengan kedatangan dady Pratap bersama seseorang.
Mohini segera berlari kearah orang tersebut dan memeluknya. Charlie juga turut mendekati dady nya setelah memakai jubah nya.
"Paman Akash...kapan paman datang ?" Tanya Mohini kepada orang yang ternyata adalah adik dari ayah nya yang sangat jarang kembali ke Delhi.
"Baru saja datang, Nak." Jawab paman Akash ramah pada keponakan nya.
"Owh..apa dia suami mu ?" Tanya paman Akash saat baru pertamakali melihat Charlie.
"Iya paman, ini Charlie suami ku." Ujar Mohini memperkenalkan Charlie kepada paman nya.
"Kenalkan aku Akash Pratap Singh, paman nya Mohini." Ujar paman Akash sembari mengulurkan tangan nya.
"Chandramohan Charlie, suami nya Mohini." Ujar Charlie yang dengan senang hati menjabat tangan paman Akash.
"Hhmm...bukankah kau petarung legendaris itu ?" Tanya paman Akash yang langsung mengenali Charlie saat ia menyebutkan nama nya.
"Ya..itu dulu, sekarang aku seorang owner tim cricket serta ayah dari 5 anak." Jawab Charlie yang menyunggingkan senyum diwajah nya.
"Wah...sayang sekali paman tak datang di pernikahan kalian." Ujar paman Akash agak menyesal telah melewatkan hari spesial keponakan nya.
"Habis nya paman jarang kembali ke rumah." Ucap Mohini dengan wajah cemberut nya.
"Maaf...paman benar benar sibuk di Singapur." Jawab paman Akash. Paman Akash merupakan pebisnis yang sukses di negara Singapur, ia berhasil membuka banyak hotel mewah disana.
"Tak apa paman...yang penting sekarang paman telah kembali." Jawab Charlie yang mengerti kesibukan seorang bisnisman sejati.
"Oh..kabar bibi Veena dan Ahaan bagaimana ?" Tanya Mohini kembali.
"Mereka baik baik saja." Jawab paman Akash.
"Paman...apakah dulu paman pernah ikut pertandingan Judo saat di Delhi?" Charlie tiba tiba mengajukan pertanyaan pada paman Akash karena ia seperti mengenal paman dari istrinya ini.
"Pernah..saat itu paman masih remaja." Jawab paman Akash yang membuat Charlie terkejut.
"Apa saat itu teman teman paman mengenal paman sebagai Tiger ?" Charlie kembali mengajukan pertanyaan perihal masa lalu paman Akash.
"Ya..itu nama julukan ku dulu. Bagaimana kau tau semua nya ?" Jawab paman Akash yang heran kenapa Charlie bisa mengetahui kisah masa lalu nya.
"Hari itu aku ada disana paman, anak kecil dengan pakaian merah yang selalu meneriakan nama Tiger duduk bersama ayah nya di gelanggang." Ujar Charlie sambil mengingat ingat kejadian yang sudah lama itu.
"Jadi...anak kecil yang meneriakan nama ku itu kau, Charlie ? Yang pernah ku berikan tanda tangan hari itu ?" Tanya paman Akash yang sangat terkejut saat mengetahui fakta bahwa Charlie adalah fans kecil nya dulu.
"Itu aku...sejak hari itu aku bertekad menjadi kuat seperti paman, hingga aku berhasil menjadi petarung legendaris sekarang ini." Ucap Charlie yang ternyata sangat mengidolakan paman Akash sampai menjadikan nya sebagai role model dalam hidup nya.
"Dunia sempit ya...fans kacil ku ternyata menikahi keponakan ku yang cantik ini." Seloroh paman Akash.
"Kakak..dimana Janvi imut ku ?" Tanya paman Akash yang sedari tadi tak melihat keberadaan Janvi dirumah.
"Dia sedang bersama Raj, pacar nya." Jawab dady Pratap.
"Jadi Janvi sudah memiliki pacar...kapan ia akan menyusul kakak nya ?" Tanya paman Akash lagi.
"Secepat nya...Raj sedang meminta restu paman dan bibi nya." Jawab Charlie mewakili dady nya.
"Ayo paman, kita masuk kedalam." Ajak Mohini yang langsung menggandeng tangan paman nya menuju ruang keluarga.
Baru sampai di ruang keluarga, Charlie dan Mohini sudah disambut dengan kedatangan Jendra yang baru saja pulang dari sekolah dengan wajah masam.
"Hei..kenapa wajahnya cemberut hem ?" Tanya Charlie setengah berjongkok didepan putra nya.
"Dady dari mana ? Kenapa tidak ada di rumah ?" Tanya Jendra yang rupanya mengira Charlie sedang pergi keluar.
"Dady dari ruang bawah tanah sayang...Jendra cari dady ya ?" Ucap Charlie lembut pada Jendra.
"Hu'um..Jendra cari dady, tapi dady tidak ada." Jawaab Jendra yang sudah mengerucutkan bibir nya.
"Maaf ya sayang...kemari, dady ingin peluk." Charlie merentangkan tangan nya, Jendra segera masuk kedalam pelukan dady nya.
"Iya Jendra maafkan." Jawab Jendra kurang jelas karena wajah nya yang disembunyikan di dada dady nya.
"Ini putra kalian ?" Tanya paman Akash yang melihat kedekatan Charlie dengan Jendra.
"Benar, dia putra ketiga kami." Jawab Mohini membenarkan.
"Sangat tampan, siapa nama nya ?" Tanya Paman Akash pada Jendra yang masih bergelayut manja dengan Charlie.
"Rajendra...tapi semua orang biasa memanggilku Jendra." Jawab Jendra dengan tatapan terimut nya.
"Jendra...kenalkan ini Opa Akash, adik nya Opa." Kata dady Pratap mengenalkan Jendra pada adik nya.
"Hallo, Opa Akash." Sapa Jendra malu malu.
"Hi sayang...opa boleh peluk Jendra ? " tanya paman Akash yang diangguki oleh bocah kecil itu. Akash bahkan tak sekedar memeluk nya, ia menggendong tubuh Jendra serta menciumi wajah nya.
"Hahahahah...opa stop." Jendra tertawa terbahak bahak saat mendapat ciuman diwajah nya.
"Kau sangat menggemaskan...dimana kedua kakak mu ?" Tanya paman Akash yang masih menggendong Jendra.
"Mereka melanjutkan studi diluar negeri." Jawab Jendra yang sudah kembali duduk di sofa sambil mengutak atik jam tangan nya.
"Apa jam tangan mu rusak ?" Tanya paman Akash yang melihat Jendra sedang mengutak atik jam nya.
"No, aku ingin menelpon kakak lewat jam hologram ini." Jawab Jendra yang membuat paman Akash terkejut saat mendengar nya.
"Jendra punya bakat spesial Akash, jadi dia menambahkan fitur canggih dalam jam tangan ciptaan kakaknya." Ujar dady Pratap yang melihat reaksi keterkejutan adik nya.
"Woahh...jangan bilang kalau yang membuat robot WWR itu Jendra ?" Paman Akash sangat takjub mengetahui kemampuan cucu nya yang masih belia itu.
"Bukan, robot WWR generasi pertama adalah hasil ciptaan Yuvraj kakak nya Jendra." Jawab dady Pratap yang semakin membuat adik nya kagum dengan generasi penerus keluarga kakaknya.
"Jadi Jendra dan Yuvi memiliki kemampuan spesial yang sama ?" Tanya paman Akash yang sangat penasaran dengan kedua cucu nya.
"Rupanya kau memiliki penerus yang hebat kak." Ucap paman Akash seraya tersenyum.
"Ada apa Munchkin ? Apa ada hal yang penting ?" Tanya seseorang yang ternyata adalah Yuvi yang terlihat sedang berkumpul bersama kawan kawan nya.
"Kau tau ? Kita punya opa lagi lho !" Ujar Jendra sambil mengarahkan jam nya ke wajah paman Akash.
"Hai nak, kau pasti Yuvi bukan ?" Paman Akash menyapa cucu pertama nya dengan sangat ramah.
"Hai opa, aku Yuvi...opa adik nya opa Pratap ?" Tanya Yuvi memastikan kebenaran perkataan adik nya.
"Benar, opa adik nya opa Pratap...panggil aku opa Akash ya." Jawab paman Akash yang terus menunjukan raut gembira nya saat mengobrol dengan Yuvi.
"Wahh Jendra ternyata kita punya tiga kakek !" Seru Yuvi pada sang adik.
"Kak Meena pasti senang saat tau kabar ini !" Kata Jendra yang jadi teringat dengan kakak perempuan nya.
"Tapi sayang nya Meena sedang ada kelas saat ini." Jawab Yuvi dengan wajah sendu nya.
"Yaahh..." Jendra kembali cemberut mendengar perkataan Yuvi.
"Eits tenang...nanti sore kakak beritahu kak Meena tentang kabar bahagia ini." Ujar Yuvi yang membuat mood Jendra kembali bersemangat.
"Yuv, apa dia adik mu ?" Tanya salah seorang teman yang memotong pembicaraan Yuvi dan Jendra.
"Yups benar, dia Jendra adik ketiga ku." Ujar Yuvi memperkenalkan Jendra pada teman teman kampus nya.
"Dia imut ya..." ujar Lyla, salah satu sahabat Yuvi di kampus saat melihat wajah adik teman nya itu.
"Sangat menggemaskan, oleh sebab itu aku memanggil nya Munchkin." Jawab Yuvi membeberkan panggilan kesayangan untuk adik nya.
"Jendra, nanti kita bicara lagi okay ? Kakak harus pergi ke kelas saat ini." Ujar Yuvi terpaksa mengakhiri panggilan karena kelas akan segera dimulai.
"Okay kak, bye." Jendra menutup panggilan telpon nya dan duduk dipangkuan dady Pratap.
"Opaa..." panggil Jendra dengan manja.
"Ada apa sayang ?" Tanya dady Pratap yang menatap manik coklat cucu nya dengan penuh perhatian.
"Jendra mau lihat naruto.." Jendra mulai mengeluarkan rengekan maut nya yang membuat siapa pun tak bisa menolak nya.
"Boleh, tapi ganti bajumu dulu." Ujar dady Pratap sambil menciumi kedua pipi Jendra bergantian.
"Baik, opa." Jendra mengangguk patuh pada perintah opa nya.
"Opa Akash ingin lihat kamar ku tidak ?" Tanya Jendra sembari merapikan tas nya.
"Dengan senang hati sayang." Paman Akash akhirnya ikut bersama Jendra ke kamar nya yang terletak di lantai dua rumahnya.
"Honey, aku bersih bersih dulu ya." Pamit Charlie sebelum meninggalkan istrinya diruang keluarga.
"Ikut." Ujar Mohini yang segera berdiri sambil menggandeng lengan kekar suaminya menuju kamar mereka.
Di kamar, Mohini berdiri didekat sofa sambil melihat keluar jendela kamar. Hari itu tampak begitu cerah, ditambah ia bisa melihat ombak pantai yang bekejaran dari balik jendela kamar. Sangat beruntung memang memiliki rumah yang menghadap langsung ke tepi pantai.
Charlie yang telah selesai menyegarkan diri pun mendekati istrinya dari belakang dan melingkarkan tangan nya di perut istrinya.
"Kau sedang apa, honey ?" Tanya Charlie dengan suara yang meneduhkan.
"Sedang lihat ombak disana." Mohini menunjuk kearah yang ia maksudkan. Tampak ombak pantai yang bekejaran ditambah hembusan angin yang semilir.
"Aku merindukan mu." Ucap Charlie setengah berbisik di telinga Mohini.
"Aku pun juga sama." Balas Mohini malu malu.
Charlie tersenyum melihat istrinya yang masih malu kepada nya. Ia mulai memberi ciuman disekitar leher Mohini dan meninggalkan jejak disana.
"Eugh." Mohini leguh saat Charlie memberi tanda dibahu nya.
"Ini masih siang, aahhh...." ujar Mohini bersusah payah saat tangan suami nya tak bisa dikondisikan lagi.
"Maaf, aku tak bisa menahan lebih lama lagi." Ujar Charlie dengan tangan yang masih bergrilya di gunung kembar sang istri.
Charlie terus memberi rangsangan pada tubuh istrinya itu, sampai sampai Mohini sudah pasrah pada kehendak Charlie sepenuhnya.
BRUK
Charlie merebahkan tubuh istrinya yang polos seperti bayi diatas ranjang. Dengan tergesa gesa ia membuka bathrobe yang dipakai nya. Kini kedunya sudah sama sama polos tanpa sehelai benang ditubuh nya.
Jemari Charlie dengan lihai nya meliuk liuk dibawah sana membuat si empunya menggelinjang serta mendesahkan nama nya bagai nyanyian.
"Aahh...nikmat sekali...Charlie..uhh." Mohini terus meracau tak jelas saat menerima kenikmatan tiada tara yang diberikan suaminya.
"Sudah basah...saat nya dia masuk, honey." Ujar Charlie sambil menuntun rudal nya agar menembus tepat sasaran.
Bles
"Ugh." Leguh kedua nya saat si rudal menembus tempat sasaran.
Charlie menggerakan pinggul nya perlahan, membuat rudal nya terasa seperti diurut didalam sana.
"God...kenapa rasa nya tak pernah berubah ?" Tanya Charlie ditengah percintaan panas mereka, dengan nafas memburu serta wajah yang kian memerah, Charlie terus menghujam dengan lembut dibawah sana.
"Karna aku rutin perawatan, agar kau tak jajan diluar....aahh." Jawab Mohini dengan terbata bata karena tak sanggup menahan gempuran suami nya.
"Aku mencintaimu." Ujar Charlie yang langsung ******* bibir Mohini dengan ganas.
"Aku juga mencintaimu." Balas Mohini mengulas senyum menatap manik coklat Charlie.
Charlie menggempur Mohini 2 jam lama nya, dan selama itu pula Mohini sudah mencapai pelepasan lima kali sedangkan Charlie hanya dua kali. Ntah dari mana suami nya itu dapat kekuatan serta keperkasaan dan pasti nya long time.
"Honey.." Charlie mengusap pipi istrinya yang kelelahan.
"Ck..diamlah, aku lelah sekali." Jawab Mohini yang mata nya sudah tertutup sempurna.
"Maaf ya...aku membuat mu kelelahan." Ujaf Charlie turut bergabung dalam hangat nya selimut tebal.
"Hem..iya." jawab Mohini singkat. Charlie tidur sambil memeluk Mohini yang meringkuk di dada nya.
VISUAL
Dady Pratap & Paman Akash
Charlie
Jendra
Baby Jeev & Baby Ara