Mr And Mrs Chandramohan

Mr And Mrs Chandramohan
Queen Mohini



Saat ini mereka semua dalam perjalanan kembali ke Hotel, selama perjalanan Charlie terlihat menghubungi seseorang.


"Helena, bagaimana persiapan untuk malam ini ?" Tanya Charlie pada seseorang di sebrang sana." Semua nya sudah siap, Tuan. Hanya menunggu waktu nya saja." Jawab Helena dari balik telfon.


"Hmm...aku sudah mentransfer bayaran mu. Terimakasih sudah membantu ku." Ujar Charlie pada Helena sebelum ia mematikan ponsel nya. Mohini yang penasaran siapa yang baru saja dihubungi Charlie tergerak untuk bertanya.


"Siapa Helena ?" Tanya Mohini dengan ketus nya. Charlie tahu bahwa istrinya tengah cemburu dengan nya." Teman ku, apa kau cemburu padaku ?" Balas Charlie semakin membuat istrinya kesal saja." Tidak, untuk apa aku cemburu padamu ?!" Mohini masih berkata ketus pada suaminya itu.


Setelah menempuh kemacetan disepanjang jalan, akhirnya mereka semua tiba di hotel tempat mereka menginap." Honey, nanti malam ada pesta kemenangan. Temani aku, okay ?" Ucap Charlie saat keduanya sudah masuk ke dalam kamar. Mohini hanya mengganggukan kepala nya saja karena ia masih kesal dengan suaminya.


Malam hari nya, Charlie sudah bersiap dengan pakaian serba hitam, ditambah dengan dandanan rambut super macho juga sebuah kalung yang melingkar dileher nya, membuat aura ketampanan nya semakin meningkat saja.


"Kenapa kau cemberut, Sayang ?" Tanya Charlie yang melihat istri nya belum bersiap sedikitpun padahal sebentar lagi pesta nya akan dimulai." Karena kau penyebab nya !" Ujar Mohini sambil mengerucutkan bibir nya." Aku ? What ?" Charlie benar benar pusing dibuatnya malam ini.


"Karena kau terlalu tampan, Tuan Charlie." Balas Mohini penuh penekanan disetiap kalimat nya." Hahahaha...jadi, istriku ini sedang cemburu rupanya ?" Charlie malah semakin menggoda sang istri hingga membuat nya salah tingkah.


"Tentu saja ! Para wanita pasti akan menggodamu nanti, dan kau pasti akan terpedadaya oleh nya." Charlie geleng geleng kepala mendengar tuduhan sang pujaan hati." Dengar, aku lelakimu dan hanya akan menjadi milikmu, kita akan tetap bersama hingga maut memisahkan, tidak akan ada yang bisa memisahkan aku darimu, My Queen." Charlie mengikis jarak keduanya, lalu ia mengecup dan ******* sedikit bibir sang istri.


"Hhppmm...mmpphh.." Mohini bahkan ikut larut dalam ciuman yang memabukan itu." Cepatlah bersiap, acara nya hendak dimulai." Bisik Charlie di telinga istrinya. Mohini segera berlari ke walk in closet dan memakai gaun yang senada dengan sang suami.


"Damn it ! Kau sangat cantik malam ini. Ingin rasanya aku memangsa mu saat ini juga." Ucap Charlie saat melihat penampilan sang istri yang begitu memukau dengan saree hitam membalut tubuh nya. Charlie akhirnya turun dengan menggandeng mesra tangan istrinya menuju ballroom hotel.


Mohini terbelalak saat menyaksikan dekorasi megah nan elegan yang disuguhkan di ballroom tersebut belum lagi kehadiran teman teman sekolah nya dulu, semakin membuat nya heran." Honey, aku ke toilet sebentar." Charlie meninggalkan Mohini yang kebingungab bersama keluarga Malhotra serta anak anak mereka.


Namun tiba tiba lampu padam dan membuat para anggota tim KKR, Mohini, dan tamu undangan lainnya kebingungan. Mohini tampak mencari cari suaminya yang sejak tadi belum keluar dari toilet. Saat tengah mencari keberadaan Charlie, lampu tiba tiba menyala dan menyorot ke arah Charlie yang berdiri diatas sebuah panggung.


"Para hadirin sekalian, selamat datang di pesta malam ini. Pesta ini bukan hanya untuk kalian tim KKR, melainkan juga untuk seseorang yang sangat special bagi ku. Okay, untuk itu izinkan aku membacakan puisi ini untuk mu, My Queen." Charlie tampak mengeluarkan kertas berisi puisi yang sengaja ia tulis sendiri sebelum menghadiri pesta perayaan kemenangan tim nya sekaligus ulang tahun istrinya.


"


teri aankhon ki namkeen mastiyaan


teri hansi ki beparwaah gustakhiyaan


teri zulfon ki lehrati angdaiyaan


nahi bhoolunga main


jab tak hai jaan, jab tak hai jaan


the naughty fun in your eyes,


the carefree forwardness of your eyes,


the wavey stretching of your hair,


I'll not forget, as long as I live..


tera haath se haath chhodna


tera saayon se rukh modna


tera palat ke phir na dekhna


nahin maaf karunga main,


jab tak hai jaan, jab tak hai jaan..


your leaving hand from hands,


your turning away from the shadows (of mine),


your not turning back to see,


I'll not forgive,


as long as I live.


as long as I live..


baarishon mein bedhadak tere naachne se


baat baat pe bewajah tere roothne se,


mohabbat karunga main


Jab tak hai jaan, jab tak hai jaan..


your dancing freely in rains,


your getting angry on small things without reason,


your small, childish mischieves,


I'll love them all,


As long as I live, As long as I live."


Charlie telah selesai membaca puisi yang ditulis oleh nya sendiri, sebuah puisi yang mampu membuat seluruh tamu undangan khusus nya para wanita menangis terharu. Hal yang sama juga terjadi pada Mohini, ia menangis terharu atas apa yang Charlie lakukan malam ini.


Charlie turun dari panggung dengan segenggam bunga mawar merah yang ia sembunyikan dibelakang tubuh nya." Happy Birthday, My Queen." Ucap Charlie seraya berlutut dan mempersembahkan bunga mawar merah kesukaan istrinya tersebut. Mohini menerimanya dengan senang hati meski agak bingung.


"Tapi, ulang tahun ku baru besok." Charlie terkekeh mendengar gumaman sang istri." Kita akan merayakan nya di Dubai besok, hanya kita berdua." Bisik Charlie di telinga sang istri, Charlie bahkan sempat melabuhkan kecupan singkat di pipi sang istri.


"Terimakasih banyak, suami ku. I love you, My Husband." Mohini berbalik mencium sang suami yang telah menemani nya selama ini, berbagi suka duka bersama.


"Prok prok prok prok." Riuh tepuk tangan pengunjung membuat kedua nya tersadar. Kedua nya saling melempar senyum satu sama lain.


"Happy Birthday, Momy. We love you." Jendra dan kedua kakak nya berjalan mendekati momy mereka." Ini dari kami untuk momy, semoga momy suka." Jendra menyerahkan sebuah kotak warna merah lengkap dengan pita besar di tengah nya." Anak anak momy...kemari, momy ingin pelukan." Ketiga nya kompak memeluk Mohini begitu erat." Momy bahagia memiliki kalian berlima, kalian segalanya buat momy dan dady." Mohini mencium satu persatu anak nya penuh kasih sayang.


Para sahabat Mohini tampak memberi ucapan selamat kepada nya, mereka bahkan turut memberi hadiah untuk sahabat nya itu. Keluarga Malhotra juga ikut memberi surprise untuk Mohini, ayah Alona yakni, Ranveer dan istrinya terlihat memberikan hadiah paket liburan ke Maldives kepada pasutri tersebut.


"Mohini, ini dari kami berdua untuk kalian." Ujar Ayesha sembari menyerahkan dua amplop yang berisi satu tiket perjalanan lengkap dengan penginapan di Maldives." Wahh...Tuan Ranveer ini sangat pengertian sekali, tahu saja kalau kita berdua menginginkan honey moon." Jawaban yang diberikan Charlie sontak membuat Mohini mendelik dan mencubit perut suami nya itu." Ahahaha....kalian ini lucu sekali." Timpal Ranveer yang tergelak melihat tingkah pasutri tersebut.


"Aw aw...jangan keras keras, Honey." Charlie pura pura mengaduh kesakitan saat Mohini mencubit perut nya." Hishh !! Siapa suruh bibir nya ga difilter dulu !" Balas nya dengan bersungut sungut.


"Thank you tiketnya, bro." Ucap Charlie menepuk pundak Ranveer." Dad, katanya ada kejutan untuk ku ? Dimana kejutan nya ?" Tanya Jendra yang tiba tiba muncul di samping dady nya." Kejutan ? Kejutan apa ?" Beo Mohini penasaran.


"Lihat siapa yang datang, Boy !" Charlie menunjuk ke arah pintu masuk ballroom hotel. Saat Jendra menoleh kearah tersebut, jantung nya seakan berhenti berdetak.


"Mustahil ! Ini pasti mimpi." Monolog Jendra dalam hatinya. Jendra bahkan mencubit pipi nya sendiri untuk membuktikan bahwa ini nyata bukan mimpi.


"Dad, i-itu..beneran Shahrukh Khan ?" Jendra masih shock dengan kejutan yang dimaksud dady nya ini." Beneran dong, mana pernah dady bohong." Charlie menggendong Jendra, membawanya lebih dekat dengan sang aktor papan atas tersebut.


"Welcome to the party, Mr. Shahrukh Khan !" Charlie menyambut kedatangan sang superstar yang melegenda itu." Anda pasti Chandramohan Charlie, right ?" Charlie mengangguk membenarkan.


"Akhirnya kita bertemu juga, Farah bilang putramu ingin bertemu dengan ku ? Apa dia yang dimaksud ?" Shahrukh Khan bertanya sembari melihat ke arah Jendra yang sangat gugup malam ini." Anda benar, putra saya memang sangat mengidolakan anda, Mr." Jendra semakin salah tingkah saja jadi nya.


"Um..bisakah kau memanggilku Shah saja ? Aku kurang suka jika dipanggil Mr atau Tuan." Ungkap sang superstar rendah hati." Owh okay, Shah." Charlie meralat penggilan nya barusan.


"Hmm...siapa nama mu, anak manis ?" Tanya nya seraya mengalihkan tatapan nya ke arah bocah tampan yang betada dalam gendongan dady nya." Jendra, Rajendra Chandramohan." Jawab nya malu malu sambil menyembunyikan wajah nya di ceruk leher sang dady.


"Ku dengar kau mengidolakan ku ? Benarkah itu ?" Jendra menganggukan kepalanya." Apa kau ingin berfoto dengan uncle, Jendra ?" Jendra melihat ke dady nya, Charlie pun tersenyum seraya mengangguk memperbolehkan.


"Uncle, Jendra boleh peluk ?"


"Kenapa tidak, ayo peluk uncle." Sang superstar itu kini terlihat menggendong Jendra yang usia nya sebaya dengan putra bungsu nya, AbRam Khan.


"Uncle baik sekali, bolehkah aku berkunjung ke rumah uncle ?" Shahrukh dan Charlie saling melempar pandang, keduanya lantas tertawa bersamaan." Apa pun untuk mu, sang ilmuan muda." Shahrukh memberi kecupan hangat di kening bocah tersebut dan membuat nya sangat gembira malam ini.


Charlie juga memperkenalkan istri serta ke empat anak nya pada sang raja bollywood ini. Malam itu adalah malam yang sangat berkesan untuk semua orang, khusus nya Charlie dan keluarga.


VISUAL


Charlie




Mohini