Mr And Mrs Chandramohan

Mr And Mrs Chandramohan
Kunjungan Pertama Jendra & Twins



Pagi ini Manohar terbangun dari tidur nya dengan mood yang sangat bagus, namun kesenangan itu harus terusik manakala ia mendapati sang istri sudah tidak berada disamping nya lagi.


Manohar segera mengenakan bathrobe nya dan mencari Rhea di luar kamar. Ia yakin istrinya pasti berada di dapur, dengan langkah tergesa gesa dirinya menuju dapur. Benar saja, ia melihat sang pujaan hati tengah berkutat di dapur.


Manohar melangkah mendekat kemudian memeluk wanitanya dari belakang, menyembunyikan wajah nya di ceruk leher sang istri." Manu, kau membuatku kaget !" Pekik Rhea tertahan saat merasakan sebuah tangan melingkar tepat di perutnya.


"Morning, Sweetie." Ucap Manohar yang masih belum beranjak dari tempat favoritnya." Morning too, Manu." Rhea mengelus kepala bagian belakang suami nya dengan penuh kasih sayang." Kau sedang buat apa ? Kenapa tidak menyuruh Mitha saja ?" Manohar melontarkan pertanyaan beruntun pada istrinya itu.


"Hanya buat teh saja, tidak perlu bantuan Mitha kan ?" Jawab Rhea seraya mengaduk teh hangat yang sudah ia buat untuk nya dan untuk sang suami. Berdekatan dengan istrinya seperti ini apalagi di waktu pagi nyata nya membuat Manohar hilang kendali.


Manohar mulai mengendusi leher mulus istrinya, dengan lancang nya ia memberikan tanda merah di area favoritnya itu." Aahh...Manu...jangan di gigit." Rhea tak kuasa menahan suara merdunya manakala hisapan itu semakin kuat.


Manohar bisa merasakan area bawah nya kian menyempit karena milik nya sudah terbangun akibat suara laknat istrinya barusan. Secepat kilat ia membuka simpul ikatan pada bathrobe nya." Kau membangunkan nya, Sweetie." Ucap nya seraya menggesekan pangkal paha nya ke area boking istrinya.


Saat asik bercumbu di dapur, tiba tiba paman Vayu muncul tanpa aba aba." Vayu ?!!" Manohar terpaksa menyudahi aksinya akibat terpergok oleh asisten nya sendiri. Paman Vayu juga merasa tak enak hati sudah mengganggu tuan nya, namun kalau bukan karena hal penting ia pun takkan datang kemari.


"Maaf, Tuan. Putra anda telah datang dan menunggu anda di ruang tamu." Ucap paman Vayu yang tak berani menatap wajah atasan nya itu. Manohar menggeram kesal karena niat nya untuk bercumbu terpaksa batal akibat kedatangan Charlie ke mansion nya.


"Kami akan kesana sekarang." Ucap Manohar yang masih mempertahankan posisi nya memeluk Rhea yang pakaian atas nya sudah terbuka. Baru ketika Vayu pergi dirinya cepat cepat membetulkan bathrobe sekaligus membenarkan posisi senjata nya yang siap tempur saat ini.


Juga sama hal nya dengan Rhea, ia cepat cepat mengancing blouse nya yang sempat dibuka oleh suami nya tadi. Mereka cepat cepat keluar dari dapur menuju ruang tamu.


"Kenapa ayah lama sekali sih ?" Ucap Charlie yang sedari tadi menunggu sang ayah yang ia kira belum bangun." Ayah dan mami baru saja minum teh." Jawab Manohar yang mendudukan dirinya diatas kursi sofa ditemani sang istri tercinta.


"Rumah kakek bagus sekali, Jendra suka !" Celoteh Jendra yang ikut bersama kedua orang tua nya, bukan hanya Jendra saja yang ikut baby twins juga turut serta diajak ketempat yang sejuk ini.


"Kakek punya koleksi ikan loh, Jendra mau lihat ?" Tawar Manohar pada sang cucu laki laki." Mana, Kek ? Jendra mau lihat." Ucap nya yang sangat antusias.


Manohar pun memanggil paman Vayu untuk mengantar cucu nya berkeliling ke taman belakang disana ada sebuah kolam ikan yang cukup besar. Jendra segera mengikuti paman Vayu ke belakang, namun langkah nya terhenti saat ia tak sengaja melihat noda merah di leher sang nenek.


"Nenek itu apa yang merah merah di leher ?" Pertanyaan dari bocah kecil itu membuat Manohar dan Rhea salah tingkah dibuatnya." Ini karena nenek digigit nyamuk." Ucap Rhea terlihat sangat gugup, tentu kegugupan keduanya terbaca oleh Charlie yang menyembunyikan tawanya.


"Mari, Tuan kecil." Jendra pun akhirnya bisa dibawa pergi oleh Vayu sebelum ia bertanya macam macam." Nyamuk atau vampir, Mam ?" Goda Charlie pada mami sambung nya yang terlihat merona malu.


"Ayah juga, bahkan nyamuk pun menggigiti leher milik ayah." Semakin gencar saja ia menggoda ayah dan maminya itu." Ck ! Semua ini salah mu tau." Manohar yang kesal melempar bantal sofa kearah Charlie dan mengenai wajah pria itu.


"Hahahaha....apa barusan ayah mencoba nya di dapur ?" Charlie hanya iseng bertanya pada sang ayah," Dan kau mengacaukan segalanya." Ucapan Manohar sukses membuat Charlie geleng geleng kepala sementara Manohar langsung mendapat cubitan dari istrinya.


"Mohini, twins seperti nya mengantuk. Tidurkan saja mereka di kamar atas." Ucap Rhea yang melihat cucu kembarnya mulai mengantuk dalam stroller mereka." Mitha–Saira, tolong bawa cucuku ke kamar." Titah Rhea pada dua maid yang bekerja di mansion ini.


Mitha dan Saira pun satu persatu menggendong Jev dan Ara untuk dibawa ke kamar utama dilantai dua." Kalian sudah makan ?" Tanya Manohar pada Charlie dan menantunya. Keduanya kompak menggeleng, mereka belum sempat sarapan langsung diperintahkan untuk mengantar beberapa manisan kemari.


"Kami langsung disuruh mengantar ini, jadi belum sempat sarapan tadi." Charlie menyodorkan beberapa kotak manisan pada ayahnya. Manohar tentu dengan senang hati menerima manisan manisan kesukaan nya itu.


"Mari kita makan bersama, kebetulan kami juga belum sarapan." Rhea mengajak sang anak dan menantunya untuk ikut makan bersama. Mereka pun akhirnya beranjak ke ruang makan." Momy, kakek punya banyak ikan tau." Ucap Jendra setengah berlari ke arah orang tua nya yang tengah sarapan bersama.


"Oh ya ? Memang ada ikan apa saja, Sayang ?" Sahut Charlie sambil memangku Jendra." Banyak, tapi semua nya ikan koi." Jawab nya yang terus menceritakan beberapa ikan yang memiliki warna cantik.


"Jendra boleh pelihara ikan, Dady ?" Selesai bercerita Jendra mengajukan keinginan nya untuk memelihara seekor ikan di akuarium." Boleh, nanti kita beli ikan nya ya." Charlie mengelus kepala sang anak kemudian ia terlihat menyuapi Jendra dengan beef teriyaki favoritnya.


Setelah sarapan Mohini dan Charlie menyempatkan diri untuk berjalan jalan di area mansion sang ayah, tentunya Jendra juga ikut berkeliling ditemani beberapa anjing kesayangan kakek nya.


Sementara itu, Manohar tampak menemani Rhea jalan jalan pagi tanpa menggunakan alas kaki." Kau lelah ?" Tanya Manohar pada istrinya. Rhea menggeleng, ia sama sekali tak merasa lelah justru dirinya sangat bersemangat menikmati pagi yang cerah ini.


"Mau mengunjungi peternakan ?" Tawar nya pada sang pujaan hati." Boleh, kebetulan aku ingin susu sapi segar." Rhea menyetujui rencana sang suami untuk mengunjungi peternakan sapi milik pribadi.


"Kalian mau ikut ke peternakan ?" Ucap Rhea menawarkan pada keluarga kecil putra sambungnya." Tentu kami ikut." Jawab Charlie yang sangat bersemangat, baginya mengunjungi peternakan adalah waktu yang ia tungu tunggu. Selain bisa menikmati susu segar, ia juga bisa mengenalkan Jendra agar lebih dekat dengan alam sekitar.


Karena jarak peternakan dengan mansion agak jauh, Manohar pun memanggil paman Vayu agar menjemput mereka menggunakan mobil golf. Saat sampai di peternakan, Jendra paling semangat. Ia langsung turun dari mobil serta berlari ke arah peternakan sapi milik kakek nya.


"Selamat pagi, Tuan." Ucap salah seorang pekerja yang mengurusi sapi sapi disini." Pagi, Rio. Bagaimana keadaan sapi sapi ku hari ini ?" Tanya Manohar pada orang kepercayaan nya yang ditugasi untuk memonitor perkembang sapi perah nya.


"Sangat bagus, bahkan produksi susu segar bulan ini cukup meningkat." Ucap Rio yang diangguki oleh Manohar. Rio membukakan pintu kandang sapi sapi ini, begitu pintu di buka mereka disambut oleh para sapi yang sedang di perah susu nya oleh sebuah alat pemerah khusus.


"Woaahhh !!! Ini sangat keren !!" Jendra benar benar terpukau dengan peternakan sapi milik kakek nya ini. Ia langsung mengambil kamera yang dipegang oleh dadynya. Bocah kecil itu mulai asik memotret suasana di peternakan ditemani kedua orang tua nya.


"Sepertinya Jendra suka dunia fotografi." Ucap Rhea pada sang suami ketika melihat cucu nya itu seperti memiliki dunia nya sendiri bersama kamera nya." Bukan hanya itu, Jendra juga bercita cita menjadi fotografer alam liar." Balas Manohar yang masih ingat perkataan cucu nya yang ingin menjadi fotografer saat besar nanti.


"Aku yakin dia bisa melakukan nya." Ucap Rhea lagi," Aku pun begitu." Manohar mengelus lembut kepala sang istri tercinta. Mereka pun akhirnya tiba di pekarangan belakang peternakan yang terdapat beberapa bangku disana.


"Tidak, tidak ada apa apa." Dustanya yang tentu saja tidak di percaya oleh Manohar." Kau mau sesuatu ? Katakan saja, jangan malu malu." Ucap nya pada sang istri. Rhea sebenar nya malu untuk meminta hal ini pada sang suami, lebih tepat nya ia tak enak hati pada Charlie.


"Sebenar nya...aku ingin susu segar yang baru di perah itu." Jawab nya dengan suara lirih yang hanya mampu didengar oleh Manohar." Itu saja ? Baiklah, Rio akan mengambilkan nya untuk mu." Ujar Manohar yang hendak memanggil Rio namun tindakan nya langsung di cegah sang istri.


"Aku tidak ingin Rio yang mengambil nya." Cicit nya yang membuat Manohar berpikir bahwa sang istri ingin dirinya memerah sapi itu dengan kedua tangan nya sendiri." Lalu ? Kau ingin bagaimana ?" Tanya nya penuh waspada.


"Aku ingin Charlie yang memerah sapi itu." Jawab nya sambil menunjuk ke salah satu sapi yang belum di perah susunya." Charlie ! Kemari sebentar." Manohar langsung memanggil sang anak yang tak jauh dari nya." Ya, Ayah ?" Jawab nya ketika sudah berada di depan ayah nya.


"Pergi kesana dan tolong perah sapi itu." Titah nya yang tak menerjma bantahan apa pun dari putranya." Tap–tapi yah....Charlie tidak bisa memerah susu sapi." Ucap Charlie lemas saat tau sang ayah menyuruhnya untuk memerah susu sapi langsung.


"Lakukan saja, ini demi calon adik mu." Tegas Manohar pada anak nya itu. Charlie melihat kearah mami nya yang sudah berkaca kaca karena ia pikir Charlie tak mau menuruti permintaan nya. Charlie menghela nafas panjang, digulung nya lengan kaus panjang nya.


"Baiklah, akan ku lakukan demi mami dan adik ku." Ucap nya sebelum melangkah masuk ke dalam kandang. Manohar dan Rhea pun ikut menyusul untuk melihat pekerjaan Charlie.


Dengan susah payah Charlie harus memerah susu itu penuh kelembutan agar sapi yang ia perah tidak stress. Namun, baru mendapat setengah ember ia harus rela kaus mahal nya terkena air kencing dari sapi yang diperah nya.


"Oh God ! Berani sekali kau mengencingi ku !" Omel nya pada sapi yang tak tau apa apa itu. Manohar dan Rhea yang melihat kejadian itu sampai tertawa terpingkal pingkal melihat anak mereka di kencingi oleh seekor sapi.


"Ayah lihat dia ! Berani betul mengencingi baju bahkan wajah tampan ku ini !" Charlie mengadu pada ayah nya persis seperti anak kecil yang mengadu saat dijahili teman nya." Itu tanda nya kau di suruh mandi lagi." Ucap nya enteng sambil terus menertawakan Charlie yang sudah basah kuyup dan bau pesing.


"Haish ! Kalau bukan karena mami yang mengidam aku tak mau melakukan nya." Monolog nya dalam hati sambil terus melanjutkan memerah susu sapi hingga akhirnya ember pun penuh dengan susu.


"Akhirnya selesai juga." Ucap nya sambil mengelap kringat di dahi nya menggunakan lengan kaus nya." Sesuai pesanan mami, susu segar langsung dari sumbernya." Charlie menerahkan segelas susu murni yang baru saja ia perah dengan sekuat tenaga.


"Terimakasih, nak. Istirahatlah, kau pasti lelah." Rhea meminum susu itu hingga tandas." Anak ayah ingin apa lagi, hem ?" Ucap Manohar yang mengelus lembut perut istrinya." Baby mau di kecup ayah nya." Jawab Rhea menirukan suara anak kecil, Manohar terkekeh mendengar nya. Lelaki itu lantas beringsut kebawah hingga posisi nya terlihat berlutut di kaki sang istri, kemudian ia mendekatkan wajah nya ke perut Rhea yang sedikit menonjol dan mencium nya penuh sayang.


"Sehat sehat di dalam sana, baby. Ayah dan mami menunggu mu di dunia ini." Lirih nya seolah ia tengah berbicara secara langsung dengan calon anak nya." Baby nya sudah, mami nya ingin di kecup juga ?" Manohar sempat sempat nya menggoda sang istri di depan anak dan menantunya itu.


"Ish apa sihhh!" Rhea salah tingkah mendengar ucapan suaminya barusan, namun secepat kilat Manohar mencuri ciuman di bibir sang istri sebelum Jendra melihat aksinya. Bahkan Charlie dan Mohini hanya geleng geleng kepala menyaksikan ayah mereka seperti anak muda yang sedang dimabuk cinta.


"Kalian akan menginap disini kan ?" Tanya Rhea pada anak dan menantunya. Charlie dan Mohini kompak menggangguk, mereka akan menginap semalam di mansion sang ayah." Karena kalian menginap, maka nanti malam kita akan glamping di taman belakang." Ucap Manohar yang tentu nya semakin membuat Jendra merasa senang." Nanti Jendra mau bakar ikan juga mendirikan tenda sendiri." Serunya pada sang kakek," hahahaha....tentu saja boleh." Manohar memang sangat menyayangi ke lima cucu nya, ia tak segan menuruti apa yang mereka inginkan.


Hal itulah yang membuat para cucu nya sangat menghormati serta menyayangi beliau. Apa lagi Jendra, bocah ini selalu bisa membuat sang kakek tertawa dengan tingkah nya yang menggemaskan. Karena sudah hampir siang dan cuaca mulai sedikit panas, Manohar pun mengajak mereka semua kembali ke mansion.


VISUAL


Peternakan Sapi Milik Manohar




Foto Yang Di ambil Oleh Jendra




Bonus Visual


Charlie



Manohar



Rajendra



Jeevan & Kiara