Mr And Mrs Chandramohan

Mr And Mrs Chandramohan
Cemburu Nya Bumil



Di tempat lain, tepat nya di kantor, Manohar tengah berkutat dengan laptop nya. Sesekali Aryan datang untuk sekedar meminta agar dokumen nya segera ditandatangani.


Seperti yang terjadi beberapa menit yang lalu, Aryan datang dengan setumpuk map penuh berkas yang harus Manohar tanda tangan. Lelah menandatangani berkas tersebut, Manohar kemudian memanggil sang sekertaris untuk membuatkan nya kopi panas.


"Luna ! Cepat ke ruangan saya !" Titah Manohar pada Luna yang baru bekerja disini sebulan yang lalu. Tak sampai semenit, Luna datang dengan dandanan yang sangat menor. Luna ini sangat terobsesi dengan ketampanan atasan nya sendiri, Manohar.


Dia selalu berpakaian sexy meski sudah diperingatkan oleh teman teman nya bahkan Manohar sendiri telah mengancam nya untuk tidak berpakaian sexy di area kantor. Tapi Luna enggan menurut, dia tidak takut dengan ancaman bos nya. Padahal, dirinya baru bergabung sebulan yang lalu.


"Ada apa tuan memanggil saya ?" Tanya Luna begitu sensual, berusaha menggoda sang CEO yang memiliki kharisma tersendiri. Tapi sayang nya Manohar tak menanggapi ulahnya," Buatkan saya kopi sekarang !" Ucap nya tanpa memandang Luna yang berdiri didepan nya. Luna pun pergi dan membuatkan Manohar kopi.


Sementara itu di lobby kantor, Rhea datang membawa makan siang untuk suami tercinta. Dirinya disambut oleh para karyawan yang sudah sangat mengenal dirinya dengan baik.


"Anda pasti ingin bertemu dengan Tuan Manohar ?" Tanya salah satu karyawan dengan ramah." Benar, apa beliau ada di ruangan nya ?" Ucap Rhea membenarkan." Beliau ada di ruangan nya, Nyonya." Jawab si karyawan lagi. Rhea menuju ke ruangan nya yang ditempati oleh suaminya saat ini.


Disaat yang sama, Luna masuk sambil membawa secangkir kopi yang dipesan Manohar tadi. Namun saat sampai di dekat atasan nya itu, dengan sengaja ia menumpahkan sedikit kopi hingga mengenai celana yang Manohar pakai.


"Aarrghh !! Kau ini bagaimana hah !!" Manohar sangat marah saat kopi itu tumpah mengenai celana yang dibelikan sang istri kemarin." Ma-maaf kan saya Tuan, biar saya bersihkan celana nya." Luna mengambil selembar tissu kemudian dengan lancang nya ia mengusap bagian yang terkena cairan kopi tadi.


"Tidak perlu ! Aku bisa melakukan nya sendiri !" Manohar menolak saat Luna ingin membersihkan celana nya." Biarkan saya membersihkan nya, Tuan." Luna tetap memaksa, bahkan dengan lancang nya dia langsung mengusap bagian paha yang terkena kopi tadi tanpa persetujuan Manohar.


Luna sengaja mengusap nya perlahan untuk merangsang si atasan tampan idolanya. Sebagian laki laki normal bisa saja terpancing, namun tidak dengan Manohar. Milik nya tidak beraksi sedikitpun saat Luna terus mengusap paha bagian dalam yang menjadi kelemahan bagi setiap pria. Manohar segera menepis tangan Luna yang hampir menyentuh harta karun nya.


Bertepatan dengan itu, Rhea datang ke ruangan nya. Tanpa basa basi ia langsung membuka pintu ruangan, Rhea sangat terkejut mendapati sang suami tengah berduaan dengan sekertaris nya apa lagi posisi mereka benar benar sangat intim.


"Sweetie tolong jangan marah, ok ? Ini tak seperti yang kau pikirkan." Manohar langsung panik melihat ekspresi istrinya yang tak bisa dijelaskan lagi." Siapa dia, Manu ? Apa dia selingkuhan mu ?!" Tanya Rhea penuh penekanan." Dia sekertaris baru, dan kami tidak ada hubungan apa." Ujar Manohar menjelaskan pada Rhea.


"Kau ini siapa, hah ?!" Tanya Luna ketus pada Rhea. Ia tidak tahu bahwa yang didepan nya ini adalah pemilik perusahaan tempat dirinya bekerja." Rhea Mazumdar Sharma, pemilik perusahaan ini." Ujar Rhea yang menyunggingkan senyum smirk nya. Tubuh Luna langsung menegang saat mendengar nama wanita didepan nya ini, seketika dirinya benar benar ketakutan.


"Dengar baik baik, jangan berani menggoda suamiku atau kau ku pecat hari ini juga !" Rhea langsung memberi ancaman pada Luna." Ma-maafkan saya, Nyonya. Saya tidak akan dekat dekat dengan suami anda, tapi tolong jangan pecat saya." Luna meminta maaf pada Rhea, ia masih membutuhkan uang untuk biaya hidup nya.


"Pergi dan jangan pernah menggoda suamiku lagi !" Rhea mengusir Luna keluar dari ruangan suaminya. Setelah Luna pergi, Rhea yang masih marah hanya diam tanpa bersuara sedikit pun.


"Sweetie, kau marah pada ku ?" Tanya Manohar lembut, tidak ada jawaban yang berarti Rhea sangat marah padanya." Makan ini ! Aku pulang." Rhea menyerahkan kotak makan siang yang dibawanya dari rumah, rencana makan bersama pun akhirnya terpaksa batal akibat kejadian yang merusak mood nya.


"Kemari sebentar, ada yang mau ku jelaskan." Manohar menyuruh sang istri untuk duduk dipangkuan nya, namun Rhea yang terlanjur kecewa memilih tetap pergi. Hingga Manohar terpaksa menarik tangan nya hingga ia jatuh terduduk diatas pangkuan nya.


"Maafkan aku Sweetie, tolong jangan pergi. Kau boleh marah atau apapun itu, tapi setelah mendengar penjelasan ku." Ucap Manohar lembut, Rhea pun mengangguk setuju." Tadi, aku minta dibuatkan kopi oleh Luna. Setelah kopi nya datang, Luna tak sengaja menumpahkan sedikit kopi nya hingga mengenai pahaku. Dia berinisiativ membersihkan nya dengan tissue, tapi sempat ku tolak dan dia terus memaksa. Hingga akhirnya kau masuk dan melihat kami seperti tadi dengan posisi yang sangat intim. Aku mohon, percayalah padaku. Kau bisa mengecek cctv bila meragukan ucapanku ini." Ujar Manohar dengan raut wajah sedih nya.


Rhea menggeleng, dia percaya pada sang suami. Sebenarnya Rhea tahu bahwa suaminya dimodusin oleh si sekertaris centil itu, dan hal itu tidak disadari oleh Manohar." Aku percaya, tapi tetap saja itu menyebalkan." Ujar Rhea yang masih merajuk." Maaf ya, sekali lagi aku minta maaf sudah membuatmu marah seperti ini. Tapi, asal kau tau cinta ku hanya untuk mu seorang. Hanya untuk Nyonya Sharma ku ini." Ucap Manohar sebelum melabuhkan ciuman nya dikening sang istri.


Rasa marah yang sempat menguasai Rhea kini menghilang ntah kemana akibat perkataan Manohar barusan." Hanya kening nya saja ?" Tanya Rhea yang mengulum senyum nya. Manohar dengan cepat menarik tengkuk Rhea hingga kedua benda kenyal itu saling bertemu.


Keduanya saling memagut satu sama lain." Mmpphh..." Bunyi decapan yang sungguh menggoda selera, apalagi lidah Manohar dengan leluasa mengabsen setiap inci mulut milik Rhea. Manohar melepas pagutan nya sesaat.


"Apa yang kau bawa, hem ?" Tanya Manohar saat melihat kotak makan yang istrinya bawa tadi." Chicken tandoori kesukaan mu. Mau makan sekarang ?" Tawar Rhea pada sang suami." Aku mau makan sekarang tapi bukan makan itu." Ucapnya pada Rhea," tidak suka ya ? Kau mau makan apa ? Biar ku pesankan." Jawaban Manohar justru membuat Rhea jadi salah paham mengira ia tak suka dengan makanan yang dibawanya.


"Bukan, bukan begitu. Aku suka masakan mu, tapi aku ingin makan yang lain. Aku ingin memakan mu, Sweetie." Ujar Manohar sambil menggesekan rudalnya yang sudah on fire. Rhea dapat merasakan sesuatu mengganjal tepat dibawahnya." Aku ingin itu, bolehkah ?" Tak lupa Manohar meminta izin terlebih dulu pada Rhea sebelum menjalankan aksinya.


Rhea mengangguk malu malu, tujuan sebenarnya ia datang ke kantor selain untuk mengantar makanan juga untuk melepas rindunya pada sang suami." Aku kunci dulu pintunya supaya tidak ada yang mengintip." Rhea tahu Luna masih ada di depan pintu ruangan, sepertinya ia sedang mengintip kegiagan bos nya bersama dengan istrinya ini." Ayo sayang...sudah sesak ini." Rengek Manohar seperti anak kecil yang tak boleh beli mainan.


"Sudah, pintunya sudah terkunci." Rhea kembali duduk dipangkuan sang suami, keduanya saling berhadap hadapan.


Manohar tak menyia nyiakan kesempatan itu, dia langsung ******* bibir ranum milik sang istri. Tangan juga sudah bergrilya kemana mana pastinya." Mmhh...Manu...aakhh..." Rhea mendesah kala bibir Manohar mulai menyusuri gunung kembarnya.


Sementara tangan kanan nya sibuk menurunkan cd sang istri, maka tangan kirinya bertugas membuka resleting celana." Aku ingin, sweetie.." Suara Manohar semakin berat, pandangan matanya semakin sayu akibat gairah nya yang sudah membara.


Manohar mulai menaik turunkan roti burger milik sang istri dengan gerakan pelan." Aahhss...oougghh..." Rhea mendesah tak karuan saat mendapat hujaman lembut di intinya.


Sedangkan diluar ruangan ada Aryan bersama Charlie. Charlie sengaja datang mengunjungi ayah nya, dia ingin mengajak sang ayah untuk makan siang bersama. Sedangkan Aryan, ia berinisiatif mengantar paman nya ke ruangan sang kakek. Begitu sampai di depan pintu ruangan, Charlie berniat mengetuk pintu sebelum akhirnya niat itu ia urungkan.


"Kenapa tidak jadi, paman ?" Tanya Aryan penasaran." Hehehe...tidak apa, sebaiknya kita makan dibawah saja." Jawab Charlie sambil menggaruk tengkuk nya, tak mungkin ia mengatakan bahwa dirinya mendengar sayup sayup suara erangan mami dan ayahnya di dalam.


"Tap-tapi paman..." Charlie segera menggandeng tangan Aryan untuk segera meninggalkan ruangan yang membuatnya salah tingkah sendiri. Keduanya pun berakhir di kantin kantor, menikmati hidangan sederhana yang disuguhkan para pedagang.


Setengah jam kemudian, pasutri tersebut sudah menyelesaikan ritual asah pedang nya. Manohar terus menggempur istrinya tiga ronde tanpa jeda, dirinya seakan lupa bahwa Rhea tengah mengandung benih nya.


"Maaf sudah membuat mu kelelahan seperti ini." Sesal Manohar disamping sang istri yang tertidur di ranjang kamar rahasia yang tersembunyi dibalik rak buku." Kita melakukan nya bersama, jadi tidak masalah." Ujar Rhea sambil mengelus rambut suaminya yang mulai memutih.


"Sebelum tidur kita mandi dulu, ok ?" Ucap Manohar membopong Rhea menuju bath up yang sudah terisi air hangat. Mereka mandi bersama hanya mandi tidak lebih." Tidurlah, kau pasti lelah." Setelah mandi dan berganti pakaian Rhea yang sudah mengantuk langsung terlelap begitu saja.


"Sweet dream, Mine." Tak lupa Manohar meninggalkan kecupan di bibir sang istri sebelum keluar dari kamar rahasia mereka. Begitu keluar, rupanya Charlie sudah menunggu nya sambil bermain handphone.


"Charlie ? Sudah lama ?" Sapa Manohar dengan rambut yang setengah kering." Baru, Yah. Aryan bilang mami kesini ?" Ucap Charlie pada sang ayah.


"Iya, mami tidur didalam." Charlie menganggukan kepalanya," pasti habis ayah unboxing kan ?" Tanya nya lagi yang membuat Manohar salah tingkah dibuatnya.


"Hehehehe....biasalah, ayah butuh cas tenaga tadi." Kilah Manohar menutupi rasa malunya pada sang anak." Jangan lama lama nge cas nya, kasian adik ku nanti." Protes Charlie pada ayah nya." Kau sudah makan ?" Tanya Manohar pada Charlie.


"Sudah, bersama Aryan tadi. Ayah sudah makan ?" Tanya Charlie balik, Manohar menggelengkan kepalanya." Kenapa tidak makan, Yah ? Kan sudah waktunya makan siang." Ucap Charlie mengingatkan sang ayah.


"Biarlah, Ayah nanti makan nya tunggu mami bangun." Jawab Manohar yang ingin makan bersama dengan istrinya. Sedang asik berbicara, keduanya dikejutkan dengan kemunculan Rhea yang baru bangun tidur.


"Sweetie, kenapa bangun ?" Tanya Manohar sambil merengkuh pinggang istrinya untuk duduk disampingnya." Perutku lapar, Manu..." Ucap Rhea dengan manjanya." Anak ayah lapar ternyata." Manohar mengelus perut istrinya yang sudah sedikit menonjol. Dia pun beranjak mengambil bekal makan siang yang Rhea bawa tadi.


"Aku suapi ya ? Aakk..." Manohar mulai menyuapi sang istri dengan telaten, hal itu juga tak luput dari pengamatan Charlie." Charlie, kau tidak makan ?" Tanya Rhea pada putra nya." Sudah makan, Mami." Jawab Charlie lembut, Rhea mengangguk dan kembali menikmati suapan demi suapan yang Manohar berikan." Aku sudah kenyang." Ucap Rhea yang menolak saat Manohar hendak menyuapi nya lagi.


"Ini, minumlah jus mangga favorit mu." Manohar menyodorkan segelas jus mangga yang dibelikan oleh Aryan tadi." Terimakasih, Sayang." Rhea meminum nya perlahan dan menyisakan nya setengah gelas.


"Sekarang giliran ayah nya yang makan, mau ku suapi ?" Tawar Rhea pada sang suami." Tentu saja mau." Manohar bahkan telah membuka mulutnya lebar lebar." Bagaimana, rasa nya enak ?" Tanya Rhea saat melihat Manohar makan dengan lahap nya." Sangat lezat tapi, lain kali jangan memasak lagi." Ucap Manohar membuat Rhea mengerutkan dahinya.


"Aku tak ingin kau kelelahan, kasihan baby kalau sampai maminya lelah." Jawab Manohar yang penuh perhatian pada istrinya." Iya, aku tidak mengerjakan hal berat lagi." Rhea menuruti perintah sang suami, bagaimana pun ini adalah kehamilan pertama nya yang sangat berarti.


"Hahhh...jadi obat nyamuk deh." Gumam Charlie yang masih kedangaran oleh ayahnya." Biarsaja, kau juga seperti ini saat bersama Mohini." Jawab Manohar tak mau kalah." Ingat umur, Yah..." Sindir Charlie sambil tergelak melihat ekspresi kesal ayahnya." Kau lihat ! Anak ini sudah berani menertawakan ayahnya." Manohar hendak menjitak kepala Charlie sebelum aksinya ditahan sang istri.


"Kalian ini selalu saja bertengkar ! Tidak bisakah kalian akur ?" Tanya Rhea saat berhasil memisahkan suaminya dari Charlie." Iya, maaf." Keduanya meminta maaf secara bersamaan, meski sering bertengkar namun pasangan ayah dan anak ini sejatinya saling menyayangi.


"Nah kan enak kalau kalian akur." Ucap Rhea yang menikmati sisa jus mangganya tadi." Mami, Charlie pamit ke kantor lagi ya." Ucap Charlie yang ingin cepat cepat kembali ke kantor setelah mendapat email dari Ashok bahwa satu jam lagi meeting akan dimulai." Hati hati, Nak." Pesan Rhea pada putra tirinya itu penuh perhatian." Yah, Charlie berangkat dulu." Tak lupa ia juga berpamitan pada sang ayah.


"Hati hati, jangan ngebut bawa mobilnya." Pesan Manohar pada anak tercintanya." Siap, Yah. Charlie berangkat dulu." Charlie bergegas pergi dari kantor maminya menuju kantor TIGER GROUP.


VISUAL


Manohar Sharma



Rhea Mazumdar Sharma