
Sore nya Rhea terbangun dan menyadari dirinya tidur sambil dipeluk oleh suaminya." Sayang, bangun sudah sore." Rhea membangunkan sang suami dengan lembut." Eeuughhh...jam berapa ini ?" Manohar terbangun sambil mengucek matanya dan melihat hp nya.
"Kruyukkruyuk..." Tiba tiba perut Rhea berbunyi, pertanda sedang lapar." Kau lapar ?" Tanya Manohar pada nya, Rhea mengangguk membenarkan." Mau makan apa ?" Tanya nya lagi,"mau makan di street food." Jawab Rhea yang memang ingin membeli aneka makanan disana.
"Baiklah, kita ganti baju terlebih dahulu." Manohar bangun dari tidurnya dan turut membantu Rhea untuk bangun. Mereka akan pergi ke sebuah tempat dipinggir kota untuk mencicipi hidangan street food yang terkenal kelezatan nya.
Begitu sampai disana Rhea langsung menuju ke penjual pani puri yang sangat ramai." Duduk disana, biar aku yang mengantri." Ucap Manohar mengatar Rhea ke tempat duduk disekitar tempat itu, setelah nya ia pun mengantri demi membeli pani puri yang diinginkan istrinya.
"Ini, makanlah selagi hangat." Manohar menyodorkan sepiring penuh pani puri ke hadapan Rhea." Wahh...makasih sayang sudah mau antri." Rhea tampak berbinar binar hanya dengan melihat tampilan nya saja. Mereka pun makan sepiring berdua dan sangat menikmati rasa pani puri yang lezat dan hangat.
Saat akan membayar, si penjual sangat terkejut saat Manohar mengeluarkan uang cukup banyak untuk membayar sepiring pani puri yang cukup murah." Tuan, ini terlalu banyak." Si penjual menolak uang pemberian Manohar karena sungkan." Ambil saja, ini hadiah untuk mu karena istriku sedang mengandung saat ini." Ujar Manohar ramah, ia memberikan uang nya dengan jumlah yang fantastis untuk penjual jajanan tersebut.
"Terimakasih banyak tuan, saya doakan semoga anak dan istri tuan selalu selamat dan sehat sampai melahirkan nanti." Si penjual menjabat tangan Manohar dan mencium nya bahkan menyentuh kaki nya untuk meminta berkat dari nya. Puas makan pani puri rupanya Rhea masih ingin membeli sesuatu. Kini keduanya sudah sampai di kedai yang menyajikan aneka lassi yang menyegarkan.
"Manu...mau lassi itu." Rhea menunjuk gambar segelas lassi yang ditaburi irisan pisang dan strawberry diatasnya." Pak, berikan aku dua gelas lassi dengan toping pisang dan strawberry." Manohar segera memesankan apa yang Rhea mau.
Saat akan menikmati lassi yang baru saja tiba, Manohar tertegun mendengar seorang anak kecil yang merengek meminta uang pada ayah nya yang sedang melayani pembeli." Ayah...aku ingin sekolah...pliss." Si anak terus merengek minta sekolah," nak...bukan ayah tak mengijinkan mu bersekolah hanya saja uang ayah belum cukup untuk mengirim mu kesekolah." Jawab si ayah yang merupakan penjual lassi yang mereka beli tadi.
"Kasihan sekali anak itu, pasti ayah nya sudah bekerja keras untuk itu." Ucap Rhea yang juga mendengar rengekan bocah berusia kira kira 7 tahunan itu. Manohar pun tergerak hatinya dan mendekat ke arah keduanya." Kau ingin sekolah ?" Tanya Manohar pada anak kecil itu," iya paman, ayah sudah berjanji akan mengirimku bersekolah tahun ini." Jawab si anak apa adanya.
"Tuan...ketahuilah aku sudah berusaha mengumpulkan uang untuk sekolah anak ku, tapi uang itu belum cukup jumlah nya." Ucap si penjual dengan wajah sedih yang teramat sangat." Begini saja, aku yang akan menanggung biaya sekolah putramu hingga ke perguruan besar nanti, bagaimana ?" Manohar menawarkan idenya pada si penjual lassi.
"Tap-tapi tuan...itu terlalu banyak, bagaimana aku bisa mengganti uangmu nanti ?" Si penjual senang sekaligus bingung dengan tawaran dari orang yang disegani di kota ini." Tak perlu diganti, putramu hanya perlu menjadi anak yang berpestasi dan itu sudah cukup bagi ku." Jawab Manohar lagi." Ayah, terimasaja usulan paman ini..aku janji akan jadi anak pintar nanti." Si anak tampak berusaha membujuk ayah nya untuk menerima tawaran menggiurkan tersebut.
"Baiklah kalau kau sanggup maka ayah akan menerima nya." Si penjual memutuskan menerima bantuan Manohar yang ingin menyekolahkan anaknya hingga kuliah nanti." Siapa nama anak mu ?" Tanya Manohar," nama nya Arjun Patel." Jawab Ayah anak itu." Sekali lagi terimakasih banyak..." Si penjual lassi sampai bersujud di kakinya saking senang nya ia. Kejadian itu membuat orang disekeliling mereka menjadi bingung dengan apa yang terjadi.
Kamudian kawan si penjual lassi ini datang menghampirinya," hey kau ini kenapa ?" Tanya nya yang bingung." Ayah akan mengirimku sekolah paman !" Bukan si penjual yang menjawab melainkan putranya yang menjawab." Bukankah uang ayah mu belum cukup ?" Tanya kawan ayah nya itu.
"Memang, tapi paman itu akan membantu ayah nanti. Dia akan menyekolahkan ku hingga jadi orang sukses nanti." Jelas si anak apa adanya." Astaga Yash !! Kau dan aku sangat beruntung hari ini !" Ujar kawan nya itu yang merupakan pedagang pani puri yang sebelum nya mereka beli.
"Oh..dan ini untuk mu, ambil lah." Manohar terlihat menyodorkan amplop coklat kepada Yash." Astagaa !!! Banyak sekali !!" Yash kaget saat membuka amplop yang berisi uang dengan jumlah yang sangat banyak." Ini hadiah untuk mu." Ucap Manohar yang sudah didampingi sang istri. Yash masih terlihat bingung sekaligus kaget," ambil saja Yash...Tuan ini sedang bahagia." Ujar teman nya pada Yash." Benar sekali, hari ini aku sedang bahagia karena istriku tengah mengandung saat ini." Ucap Manohar sambil memeluk Rhea dari samping.
"Jangan pikirkan apapun, kalian cukup mendoakan kehamilan istriku saja...dan uang ini tidak perlu dikembalikan." Ujar Manohar lagi," Tuan...boleh aku memegang perut istri anda ?" Tanya Yash dengan bibir yang bergetar, Manohar dan Rhea kompak mengangguk bersamaan.
"Nak...semoga dewa selalu merestui jalan mu nanti, kelak tumbuhlah menjadi anak baik dan pintar." Ucap Yash mendoakan sembari mengelus pelan perut Rhea." Amen...terimakasih banyak doa nya, pak." Ucap Rhea pada Yash." Mulai senin depan putramu sudah bisa masuk sekolah." Kata Manohar memberitahu pada Yash," paman...sekolah ku berada dimana ?" Tanya si anak kecil pada Manohar.
"Kau akan bersekolah di tempat Yuvraj pernah bersekolah." Jawab Manohar yang memang sudah mendaftarkan Arjun di sekolah yang sama dengan sekolah Yuvi saat kecil dulu." Maksud paman...Dhirubai Ambani School ? Paman serius ?!" Arjun sangat kaget saat tahu dirinya akan bersekolah di sekolah elit tersebut." Kau benar, paman menyekolahkan mu disana. Besok, ayah mu dan aku akan mengantarmu ke sekolah untuk membeli seragam." Ujar Manohar sambil mengelus kepala Arjun.
"Kalau begitu kami permisi duluan." Manohar berpamitan pada mereka semua sambil menggandeng istrinya. Sepanjang perjalanan menuju mobil banyak para fans yang meminta tanda tangan Manohar dan Rhea. Mereka berdua dengan sabar menandatangani buku maupun kaos yang mereka bawa. Selesai dengan acara meet and great dadakan, kedua nya berencana mengunjungi dokter obygn.
"Kita ke dokter obygn terlebih dahulu, aku ingin melihat calon anak kita." Ucap Manohar pada Rhea yang sedang menyenderkan kepala nya dipundak sang suami." Aku juga penasaran jadinya." Balas Rhea sambil mengelus perutnya.
Begitu tiba di rumah sakit mereka segera mengambil nomor antrian dan duduk di ruang tunggu. Tak membutuhkan waktu lama untuk menunggu kini keduanya sudah berada di dalam ruang tindakan.
Rhea sudah berbaring di ranjang dan perutnya sedang diolesi gel untuk keperluan usg ini." Nah ini, titik ini adalah calon anak kalian." Ujar dokter Lucy sambil menujuk layar monitor disamping nya." Kecil sekali dia..." celetuk Manohar saat melihat janin berusia 3 minggu itu." Wajar...nanti semakin lama semakin besar pertumbuhan nya." Jelas dokter Lucy yang membuat Manohar mengangguk mengerti.
Manohar mendekati istrinya," sebentar lagi kita akan jadi Ayah dan Mami, sweetie." Ujar nya sambil menitikan air mata bahagia nya. Manohar mencium kening Rhea dan melabuhkan ciuman terakhirnya tepat di bibir nya. Dokter Lucy yang melihat nya menjadi salah tingkah sendiri, Rhea yang mengerti cepat cepat mendorong tubuh suaminya menjauh sedikit.
"Maaf dokter..hehehe..." Rhea tertawa untuk menutupi rasa malu nya saat ini." Tidak apa....ini pasti kehamilan yang pertama ya ?" Goda dokter Lucy pada pasien nya ini." Iya dok...ini yang pertama." Jawab Rhea ramah.
"Jadi apa ada keluhan lain nya, Nyonya ?" Tanya dokter Lucy pada Rhea." Tidak ada, hanya mual di pagi hari saja."
"Dokter, saya ingin bertanya sesuatu." Ujar Manohar tiba tiba." Silahkan Tuan."
"Apa boleh kalau saya menjenguk calon anak saya ?" Sungguh Rhea sangat malu mendengar pertanyaan yang penting tapi memalukan itu." Tentu boleh tapi, lakukan dengan pelan dan jangan keluarkan di dalam hingga usia janin memasuki trimester dua." Rhea dan Manohar mendengarkan penjelasan dokter dengan seksama.
Rhea dan Manohar pun keluar dari ruang tindakan sambil membawa foto usg dan resep vitamin dari dokter Lucy." Aku bahagia sekali rasanya, pertama kalinya aku merasakan apa itu hamil." Rhea tak henti hentinya mengucap syukur atas nikmat yang diberikan Tuhan pada nya dan suaminya.
"Iya aku juga sangat bahagai bisa menemani mu sampai melahirkan nanti." Manohar juga sangat bahagia saat melihat hasil foto usg malaikat kecil mereka yang menggemaskan." Kita pulang sekarang, sweetie ?" Manohar bertanya pada Rhea dan dijawab anggukan kepala oleh istrinya itu. Namun tiba tiba Manohar melakukan aksi yang tak diduga sebelum nya, ia menggendong istri nya sangat mesra hingga membuat perhatian tertuju pada mereka berdua.
"Manuuu...turunkan aku..." Rhea menyembunyikan wajah nya di dada sang suami dan tangan nya dikalungkan di leher Manohar." Sssttt...diamlah, aku tidak ingin kau kelelahan." Ujar Manohar membuat hati Rhea berbunga bunga mendengarnya. Sepanjang jalan banyak kasak kusuk yang membicarakan mereka.
"Sepertinya pewaris bisnis Tuan dan Nyonya Manohar akan segera hadir."
"Iya kau benar, lihat saja bagaimana Tuan Manohar memperlakukan istrinya seperti ratu." Tambah yang lain nya.
"Ayah dan anak sama sama romantis." Sahut yang lain. Manohar yang mendengar nya berucap pada Rhea," kau memang ratuku yang paling cantik." Ucapnya lirih sambil tersenyum. Manohar terus menggendong Rhea hingga masuk kedalam mobil. Bahkan saat didalam mobil pun Manohar dengan santai nya mendudukan Rhea dipangkuan nya.
"Manu...jangan seperti ini, malu dilihat Oscar didepan." Rhea terus menghindar saat Manohar ingin mencium nya." Oscar, kau tidak lihat kebelakang kan ?!" Tanya Manohar mengintrogasi supir pribadi nya itu. Oscar yang ditanya oleh bos nya seketika menjadi gugup, "tid-tidak tuan...aku memperhatikan kedepan." Jawab nya dengan tergagap karena sempat melihat sekilas adegan yang menodai matanya itu.
"Lihat ! Dia bahkan tidak menoleh kebelakang." Ucap Manohar yang langsung menyambar bibir istrinya yang sudah menjadi candu baginya. Rhea tak bisa menolak lagi dan menikmati ******* demi ******* yang Manohar berikan.
"Mmpphss...mmphhh..." decapan mereka bahkan terdengar sangat merdu sekali. Seketika suhu mobil berubah menjadi panas sekalipun Oscar sudah menurunkan suhunya." Oscar...bawa kami ke hotel sekarang." Pinta Manohar dengan suara berat nya dan pandangan yang sudah tertutupi kabut gairah membara. Oscar yang mengerti bahwa Tuan nya sudah sangat terangsang langsung tancap gas kesebuah hotel ternama di Delhi.
Hal yang sama juga dirasakan oleh Rhea, ia terus memandangi wajah suaminya yang sangat tampan. Manohar terus menyerang Rhea selama di perjalanan membuat nya blingsatan tak karuan." Manuu...jangan disini...mmphh..." Rhea berusaha menahan ******* nya saat Manohar memberinya banyak tanda merah dileher nya.
Manohar yang sudah tak sanggup menahan nya segera menutup sekat antara supir dan penumpang nya. Dirasa aman, Manohar kembali menyerang istrinya. Ia membuka satu persatu kancing baju milik Rhea dan menurunkan kaca mata power rangers nya.
"Aahhsss...uummpphh...." Rhea tak mampu lagi menahan suara nya ketika sang suami menjamah pepaya gantung nya." Jinakkan dia sayang." Ujar Manohar yang sudah membuka resleting celana nya serta mengeluarkan pedang nya.
Rhea segera menuruti permintaan suaminya, dengan lihai nya ia menjilati pedang itu seperti lolipop." Aakkhh..mmmhhh..." Manohar mendapat sensasi luar biasa dari permainan istrinya ini." Ouughhh...a-aku..aaargghhh...." Manohar tak bisa menahan lahar panas nya lebih lama lagi.
Setelah lahar nya berhasil dikeluarkan, Manohar memasukan kembali pedang nya yang setengah keras itu kedalam celana. Namun aksinya segera dicegah oleh Rhea yang masih ingin bermain dengan pedang sakti suaminya itu.
"Maaf ya..aku tak bisa menahan nya tadi." Ujar Manohar pada Rhea yang kelelahan dipelukan nya." Tak masalah....aku suka itu." Rhea pun memejamkan matanya dipelukan sang suami hingga tiba kembali di mansion." Ayah...mami tidur ?" Tanya Charlie yang melihat maminya digendong oleh ayah nya.
"Iya...dia kelelahan sepertinya." Sahut Manohar lirih. Setelah menidurkan Rhea dikamar, Manohar turut bergabung bersama yang lain nya dibawah." Mami pasti habis ayah unboxing kan ?" Tanya Charlie yang membuat Manohar mendelik dan hampir tersedak ludah nya sendiri.
"Hehehehe...begitulah..." Manohar menjawab nya sambil menggaruk tengkuk nya yang tak gatal." Pantas saja leher mu penuh stempel merah." Cibir Dady Pratap yang tak sengaja melihat leher teman nya penuh dengan tanda cinta." Pasti kau yang meminta nya duluan kan ? Dasar maniak !" Umpat Shamita pada Manohar." Aku tak bisa menahan nya tapi, ku lakukan dengan lembut dan perlahan." Jawab Manohar apa adanya.
"Jangan terlalu sering melakukan nya...anak kalian bisa bahaya nanti." Ujar Shamita menasehati." Iya...kau tenang saja."
"Oh ya...ngomong ngomong yang ayah pegang itu apa ?" Tanya Charlie pada ayahnya." Hasil usg calon adik mu." Jawab Manohar menyerahkan foto usg tadi kepada Charlie.
"Ya ampunn!! Adik ku sangat menggemaskan." Seru Charlie saat melihat foto usg milik maminya itu. Cukup lama Manohar bercengkrama bersama yang lain hingga ia memutuskan untuk ke kamar, menemani istrinya.
"Ayah ke kamar dulu, takut Rhea cariin ayah." Manohar pun meninggalkan ruang keluarga dan pergi ke kamarnya. Saat di dalam kamar Manohar melihat istrinya tertidur pulas memutuskan untuk bergabung bersamanya.
Dipindahkan nya tubuh Rhea masuk dalam pelukan nya dan lengan nya yang dijadikan bantal untuk istrinya.
VISUAL
Lassi
Panipuri Chaat