
Manohar yang baru sampai di mansion langsung membuka laptopnya dan duduk di kursi kantor ruang kerja anaknya." Sepertinya aku butuh asisten untuk membantu pekerjaan ku." Gumam Manohar yang kewalahan saat mengecek laporan yang masuk ke emailnya." Ayah kenapa terlihat kebingungan ?" Tanya Charlie yang kebetulan hendak mengambil salah satu berkasnya.
"Sepertinya ayah butuh asisten pribadi, pekerjaan ayah terlalu banyak untuk saat ini." Keluh Manohar yang masih berkutat di depan laptopnya." Itu benar, apa lagi ayah harus menjaga mami dan calon adik ku. Dan belum lagi ayah harus menggantikan mami menjadi CEO di kantornya." Tambah Charlie membuat Manohar menganggukan kepalanya.
"Apa kau punya rekomendasi asisten yang pas untuk ayah ?" Tanya Manohar pada Charlie." Hmm..bagaimana kalau Aryan yang menjadi asisten ayah ?" Usul Charlie yang langsung teringat pada anak sahabatnya itu.
"Aryan ? Tidak buruk, dia sangat bertanggung jawab dan jujur." Manohar sepertinya menyetujui usulan Charlie untuk mempekerjakan Aryan di kantornya.
"Baiklah, nanti malam aku akan mengundang Aryan makan malam di rumah." Ucap Charlie sebelum meninggalkan ayahnya di ruang kerja.
Malam nya Charlie benar benar mengundang Aryan ke mansion." Malam, paman." Sapa Aryan saat baru sampai dikediaman Pratap." Malam juga, Arry. Mari masuk." Jawab Charlie ramah.
"Aryan, paman sepertinya butuh bantuanmu." Ucap Charlie pada Aryan," bantuan apa paman ?" Aryan menjadi penasaran mendengarnya.
"Paman butuh asisten pribadi untuk saat ini." Jawab Charlie langsung," bukan kah Ayah sudah menjadi asisten paman ya ?"
"Kau benar, tapi paman butuh asisten untuk ayah paman."
"Kakek Manohar butuh asisten ?" Charlie mengangguk membenarkan.
"Apa kau tertarik untuk bekerja dengan nya, Arry ?"
"Aku tidak yakin paman, aku talut mengecewakan kakek."
"Kakek percaya pada kemampuan mu, anak muda." Tiba tiba saja Manohar muncul dari arah ruang kerja." Kakek serius ? Perusahaan Mazumdar Group sangat besar, Aryan tak terlalu yakin bisa sehebat ayah." Ujar Aryan merasa pesimis dengan kemampuan nya.
"Lagi pada ngobrolin apa sih ?" Tanya Rhea yang baru muncul dari kamar nya." Malam, nek..." Ujar Aryan sopan sambil mencihm punggung tangan Rhea dengan hormat." Duduk sini, sweetie." Manohar menepuk bagian sofa disampingnya." Seperti yang aku katakan sore tadi, aku membutuhkan asisten pribadi untuk membantu pekerjaan ku." Ujar Manohar pada istrinya, Rhea mengangguk membenarkan.
"Kau boleh punya asisten, tapi jangan yang perempuan." Ucap Rhea mengultimatum suaminya itu." Memangnya kenapa, apa kau cemburu ?" Goda Manohar yang membuatnya terkena cubitan panas dari Rhea." Tenang, aku sudah punya kandidat yang pas." Ucap Manohar meyakinkan Rhea.
"Siapa kandidat nya ?"
"Aryan yang menjadi kandidat nya. Bagaimana ?"
"Kau bersedia kan, nak ?" Tanya Rhea yang tak ingin memaksa Aryan jika tak ingin." Baiklah, karena kalian yakin dengan kemampuan ku...maka aku bersedia menerima tawaran ini." Aryan akhirnya bersedia menerima tawaran kakek Manohar.
"Mulailah bekerja lusa." Ujar Manohar lagi." Oh ya, hari ini sidang Yuvi digelar besok kah ?" Tanya Aryan pada semuanya." Iya, sidang digelar besok pagi." Jawab Charlie menjelaskan.
"Semoga Yuvi segera bebas ya, paman. Jujur aku merasa bersalah dengan mengajak Yuvi ke pesta ku." Ucap Aryan yang diliputi rasa bersalah pada keluarga ini." Bukan salahmu, jangan menyalahkan dirimu Arry." Ujar Charlie mengingatkan." Itu benar, Yuvi pasti sudah diincar sebelumnya." Tambah Manohar.
Setelahnya mereka pun berbincang santai, namun Aryan terlihat mencari sesuatu. Sedari tadi pandangan nya tertuju pada lift, Rhea yang melihat nya pun paham bahwa Aryan mencari Meena yang berada di kamarnya.
Rhea menyikut lengan sang suami," kau cari siapa Aryan ?" Tanya Manohar mengagetkan Aryan." Eh, tidak kek...tidak cari siapa siapa." Elak Aryan yang tergagap menjawab nya." Ah, jangan bohong...kau pasti mencari Meena kan ?" Manohar terus menggoda Aryan habis habisan didepan Charlie. Tampak nya hari ini dewi fortuna berpihak pada Aryan, Meena tampak keluar dari lift lantai empat.
"Meena kemari sayang, ada yang mencari mu sejak tadi." Ujar Manohar menyuruh Meena mendekat padanya. Meena yang melihat Aryan pun jadi salah tingkah apa lagi sang kakek memintanya untuk duduk didekat pria idaman nya itu.
"Hai, apa kabar Meena ?" Tanya Aryan untuk menutupi rasa malunya sejak tadi." Eh, baik kok ka. Kakak sendiri bagaimana ?" Ucap Meena yang sedang menetralkan jantung nya yang deg degan.
"Seperti yang kau lihat saat ini." Meena mengangguk mengerti." Maaf untuk kakak mu Yuvi, kalau kalian tak datang waktu itu maka kasus ini tidak terjadi." Ujar Aryan meminta maaf pada Meena yang sempat bersedih karena sang kakak ditangkap malam itu.
"Jangan menyalahkan diri sendiri, kak Yuvi pasti akan dibebaskan dipersidangan nanti. Lagi pula kau sudah membantu dady ku untuk membebaskan pelayan itu." Ujar Meena berbesar hati. Ia sama sekali tak memendam amarah pada Aryan akibat peristiwa itu. Aryan pun tersenyum mendengar perkataan Meena yang sangat dewasa.
"Kau sudah dewasa dan semakin bijak sekarang. Aku salut padamu, terimakasih telah memaafkan ku." Ucap Aryan yang membuat jantung Meena kembali berdetak dua kali lebih cepat dari biasanya. Charlie bisa melihat dengan jelas benih benih asmara antara putrinya dan Aryan.
VISUAL
Manohar Sharma
Aryan Khanna