Mr And Mrs Chandramohan

Mr And Mrs Chandramohan
Sakit Malarindu



Berbeda dengan sang adik yang tengah bersenang senang dengan kakek nenek nya, Yuvi saat ini justru sedang galau.


Di kamar apartemen nya, Yuvi berguling guling di atas ranjang tempat tidur nya sambil sesekali melihat handphone nya. Yuvi dan Meena sudah harus kembali ke dunia perkuliahan mereka seminggu yang lalu.


TING


Suara notifikasi dari aplikasi chat membuat Yuvi bersemangat membuka hp nya.


On Chat


"Sorry, Yuv baru balas chat nya."


"No problem."


"Kau sedang apa di sana ?"


"Sedang merindukan mu, Nona cantik."


"Kau bisa saja."


"Freya, ada sesuatu yang ingin ku sampaikan."


"Apa itu ? Kau membuatku penasaran, Yuv."


"Aku menyukaimu. Mau kah kau menjadi kekasih ku ?"


"WHAT ? Are you nut ?"


"No, ini serius. Aku benar benar menyukaimu, Freya."


"Okay, lantas apa yang membuatmu suka pada ku ?"


"Semua nya. Aku menyukai senyum manis mu, rambut indah mu, dan aku suka saat kau tertawa lepas. Kau sangat cantik, Freya."


"Hmm..bagaimana yaa ?"


"Tolong jangan tolak aku, Freya. Percaya atau tidak, aku menyukaimu sejak kita sekolah menengah pertama."


"Seriously ? Kau pasti bohong."


"Ck ! Aku serius Freya."


"Aku juga menyukaimu."


"Sungguh ? Benarkah itu ?"


"Yeah, aku menyukaimu sejak pertamakali kita bertemu saat itu."


"Hmm..maksud mu saat aku ribut dengan Sanjay ?"


"Tepat sekali !"


"Jadi, apa artinya kita pacaran ?"


"Tentu saja iya."


"Aarrrghhh !!! Freya I Love You."


"Love you too, Yuvi. Apa kedua orang tua kita perlu tahu tentang ini ?"


"Jangan dulu, aku ingin melamar mu secara resmi saat kita wisuda nanti. Bagaimana ?"


"Baiklah, aku setuju. Tapi ingat, jangan macam macam dengan wanita lain !"


"As you wish, Darling."


"Sudah dulu ya, dosen ku sudah masuk kelas. Bye."


"Bye, Darling."


Kamar apartemen


Yuvi berteriak gembira bahkan sampai loncat loncat di atas ranjang nya. Ia seperti seekor monyet saja sekarang.


"Freya, aku ingin kau yang menjadi istri ku." Gumam nya sebelum ia bersiap siap mengikuti kelas siang nya hari ini.


Hal yang sama juga terjadi pada sang adik perempuan, Meena. Saat ini ia juga tengah merindukan seseorang yang tak lain adalah sahabat masa kecil nya, Aryan.


On Chat


"Hai, Meena. Ku dengar kau sudah kembali ke London ? Maaf ya, aku tak sempat mengantar mu ke bandara kemarin."


"It's okay, kak. Meena paham kalau kakak sedang sibuk saat ini."


"Oh...Meena, bisakah kau mempercepat kuliah mu ?"


"Memang nya kenapa ?"


"Karena aku tak sabar ingin menjadikan mu istri bagi ku."


"Hahahaha...Jangan bercanda kak."


"No, aku serius tentang ucapan ku tadi."


"Tapi aku ini hanya anak adopsi di keluarga Sharma ? Tak pantas rasanya jika aku bersanding dengan kakak."


"Hey, aku tak mempermasalahkan nya. Lagi pula keluargaku juga bersedia menerima mu apa adanya."


"Hah ? Kakak sudah bicara pada uncle dan aunty ?"


"Sudah, mereka sudah memberi restu pada kita."


"Kak, sudah dulu ya...kelas sudah mau dimulai."


Ruang kelas Meena


"Astaga...apa ini mimpi ?" Monolog Meena yang masih tak menyangka Aryaan akan melamar nya begitu ia lulus kuliah.


Perkataan Aryaan di voice note tadi membuat nya menjadi tak fokus pada materi yang diterangkan. Beruntung, teman sebangku Meena menepuk pundak nya hingga remaja itu tersadar dari lamunan nya


"Meena, jangan melamun !" Bisik Laura yang merupakan sahabat baik Meena selama berada di London.


"Ah, iya iya..."


"Sepertinya kau senang sekali, ada kabar gembira apa Meena ?" Tanya Laura yang penasaran apa yang membuat sahabat nya itu terus tersenyum sejak tadi.


"Laura benar, sejak tadi kau senyum senyum sendiri." Timpal Grace yang juga mengamati gerak gerik Meena yang tak biasanya.


"Apa jangan jangan pria yang kau suka melamar mu, ya ?" Tebak Molly secara asal.


"Hey...dari mana kau tahu ? Aku bahkan belum menceritakan nya pada kalian ?!"


"WHATT ??? Jadi, dia benar benar melamar mu ?!"


Meena mengganggukan kepala nya, ketiga sahabat nya terlihat sangat terkejut dengan kabar yang mereka terima.


"Yap, kak Aryaan baru saja melamar ku tadi pagi."


"Aawww...kakak Aryaan mu itu memang sangat gentle man !"


"Bukan itu saja, dia bahkan sangat gagah dan tampan."


"Apa kau sudah menceritakan ini pada dady mu ?"


"Nanti aku akan menceritakan nya."


"Sekarang pasti kau tengah merindukan nya bukan ?"


"Hhmm..iya, aku rindu kak Aryaan."


"Kalau begitu, telfon saja dia."


"Iya, Grace benar...ayo cepat telfon dia."


Meena memberanikan diri untuk menelfon Aryaan, benar saja pada dering ke tiga akhirnya telfon pun diangkat oleh Aryaan.


"Hallo, Baby ?"


"Ha-hai...kak, maaf mengganggu waktunya."


"Ah...its okay, Baby. Aku senang kalau kau yang menelfon, apa kau merindukan ku ?"


"Ti-tidak siapa juga yang rindu kakak." Meena tergagap menyangkal perkataan Aryan yang membuat nya salah tingkah.


"Jangan berbohong, kau itu tak pandai berbohong."


"Huh...kalau iya memang nya kenapa ?"


"Aarrghh...kau semakin membuatku rindu pada mu."


"Kakak memang nya tidak kerja ? Nanti aku lapor pada kakek loh."


"Eits jangan dong...kakak lagi luang waktu saat ini, Baby."


"Kakak sudah makan siang ?"


"Belum, memang kau sudah ?"


"Ini lagi makan siang bersama teman teman ku."


"Teman ? Perempuan kan ?"


"Yeah, mana mungkin aku berteman dengan anak laki laki."


"Baguslah...karena kau hanya milik ku seorang, Meena."


"Love you, Kak."


"Hah ? Kau mengatakan apa tadi ?"


"Tidak ada."


"Hahaha...jangan marah sayang ku. Love you too, Baby."


"Cieeee...Meena mukanya sampai merah...hihihihi..."


"Apa mereka teman teman mu ?" Tanya Aryaan yang tak sengaja mendengar tawa teman teman Meena di sana."


"Iya kak, tadi itu Grace teman ku."


"Owh okay. Sudah dulu ya, masih ada dokumen yang harus ku antar ke kakek."


"Iya kak, semangat kerjanya."


"Thank you, Baby. Love you."


"Love you too, Kak."


Telfon pun dimatikan, Meena sangat bahagia bisa mendengar suara kekasih baru nya itu.


"Wahh Meena...sepertinya dia serius pada mu." Ujar Laura pada Meena


"Sangat langka tipe pria seperti itu, kau beruntung kawan." Timpal Molly sambil asik menikmati ayam goreng nya.


"Jangan lupa undang kami ke pernikahan mu, okay ?"


"Tentu saja tidak."


VISUAL


Aryaan Khanna



Meena Chandramohan



Yuvraj Chandramohan



Freya Rathore