
Kening Jendra sukses mencium lantai kamar, seketika matanya berkaca kaca ingin menangis.
"Huaaa!! Huaaa sakit dady!!" Jendra menangis memegangi kening nya yang sedikit benjol.
"Sshhh...cupcupcup, dady tiup ya HUFT ! nah dah sembuh." Charlie meniup kening putra nya agar rasa sakit nya sedikit berkurang. Dan ajaib nya Jendra langsung berhenti menangis, seolah rasa sakit nya sudah pergi.
"Kan momy sudah sering ingatkan Jendra jangan jump jump diatas ranjang." Mohini sudah sering menasehati anak nya namun, seperti yang kita tau ga semua anak langsung nurut kalo dinasehatin harus ada kejadian dulu baru mereka nurut.
"Iya momy, sorry ya." Ucap Jendra tertunduk lesu.
"Iya momy maafin, sekarang Jendra up tembok dulu boleh ?" Tanya Mohini selembut mungkin pada putra nya itu.
"Iya momy." Jawab Jendra lagi sambil berdiri ditembok ditemani Charlie yang duduk menemani nya.
"Momy tanya, gunanya ranjang buat apa ?"
"......"
"Tidur." Jendra menjawab pertanyaan momy nya sambil menggoyang goyangkan tangan nya.
"Bisa berdiri yang baik ?" Mendengar pertanyaan dari sang momy, Jendra membetulkan posisi tangan nya menjadi bersedekap.
"Jendra sudah tau fungsi ranjang untuk tidur...kenapa masih jump jump tadi ?"
"Rasa nya seperti astronot yang terbang diangkasa momy." Jawab Jendra dengan polos nya yang membuat Mohini menghela nafas panjang.
"Lain kali bisa jangan jump jump diranjang ? Kalau mau jump bisa ditrampolin ya sayang." Ujar Mohini kembali pada Jendra.
"Sorry....jangan marah ya sayang ku." Jendra mulai mengelurkan rayuan maut nya saat sedang disuruh up tembok.
"Momy bukan marah, momy cuma takut Jendra terluka." Jawab Mohini sambil mengelus kepala anak nya.
"Kan bisa pakai plaster mom." Jendra menjawab dengan sangat polos, ia mengira semua luka bisa diatasi dengan plaster.
"Kalau kepala nya bocor gimana ? Kan harus ke hospital sayang." Mohini menerangkan dampak yang ditimbulkan kalau Jendra masih jump jump diatas ranjang.
"Nanti momy yang antar Jendra ke hospital ?" Bocah kecil nan lucu itu sepertinya belum mengerti apa itu hospital dan mengira tempat itu adalah taman bermain. Kedua orang tua nya pun hanya bisa beradu pandang.
Yang sabar ya mom...kadang emang ada aja omongan random nya. Nama juga bocah
"Iya...tapi lain kali Jendra bisa jangan jump jump diatas ranjang kan ?"
"Iya sayang...come here!" Mohini merentangkan tangan nya dan langsung disambut pelukan kecil dari putranya.
Setelah permasalahan tadi, ketiga nya justru asik berbaring diatas ranjang sambil mendengarkan cerita dari anak mereka.
"Mom, dad...kalian masih sayang sama Jendra ?" Tanya Jendra yang entah mengapa tiba tiba bertanya seperti itu pada keduanya.
"Kami selalu sayang Jendra." Jawab Charlie yang mencium pipi gembul Jendra.
"Walaupun Jendra sudah punya adik ?"
"...."
"Iya, momy dan dady selalu sayang Jendra sampai kapanpun." Ujar Mohini sembari mendekap Jendra dan mengelus lembut punggung nya.
"Memang nya kenapa prince nya dady tanya seperti itu ?" Tanya Charlie penasaran kenapa Jendra tiba tiba bertanya apa ia dan Mohini masih menyanyangi nya walau sudah punya adik.
"Jendra takut kalian lebih sayang adik daripada Jendra." Jawab Jendra lirih." Sebab teman Jendra ada yang seperti itu, dady dan momy nya lebih sayang adiknya." Ujar nya kembali bersedih.
"Jendra tak perlu takut, dady selalu ada untuk mu...kau lihat kak Yuvi bukan ? Setiap dia pulang dady selalu bermain bola dan menghabiskan waktu bersamanya kan? Padahal, dia adalah kakak tertua kalian, tapi dady selalu menganggap nya prince kecil dady." Kata Charlie seolah mengingatkan bahwa ia sangat menyayangi kelima anak nya.
"Iyah...bahkan kak Yuvi sering menonton bola sama dady hingga larut, dan kak Meena sering ke salon sama momy." Jawab Jendra yang selalu ikut kakak nya ke salon untuk menikmati spa atau hanya memotong rambut nya saja.
"Bukan itu saja, mereka berdua juga sering bercerita tentang kehidupan nya dinegara lain, tentang kesulitan yang mereka alami, bahkan tentang yang lain. Dady atau momy akan selalu mendengar cerita kalian ." Ucap Charlie panjang lebar menjelaskan bahwa ia selalu berusaha ada ketika anak anak nya butuh figur seorang ayah, selalu jadi bestie untuk kelima anak nya.
"Karena terkadang kita tidak butuh nasihat, tatapi hanya ingin orang mendengar kisah kita. Satu hal yang harus Jendra mengerti....setiap orang tua pasti menyayangi anak nya, hanya cara nya saja yang berbeda untuk menyalurkan rasa sayang itu nak." Tambah Mohini yang membuat rasa khawatir yang Jendra rasakan menghilang.
"Jendra mengerti mom. I love you dady, momy." Jendra mendapat pelukan dari kedua orang tuanya karena posisi nya yang berada ditengah Charlie dan Mohini.
Tok Tok Tok
Pintu kamar diketuk oleh sesorang diluar sana, Mohini membukakan pintu yang ternyata diketuk oleh baby sitter Jev dan Ara.
VISUAL