Mr And Mrs Chandramohan

Mr And Mrs Chandramohan
Twins A



Sore ini Arun datang ke mansion bersama Naina serta kedua putra mereka. Twins A nampak sangat antusias saat sampai di mansion besar itu, mereka sudah tak sabar ingin bermain bersama Jendra dan adik nya.


"Hai bro !" Sapa Charlie yang baru pulang dari kantor bersama dengan Ashok.


"Akhirnya kita bertemu lagi !" Ujar Ashok yang ikut memeluk sahabat lama nya itu. Mereka memang jarang sekali bertemu karena sudah disibukan dengan keluarga masing masing, kecuali Raj.


"Senang rasanya dapat berkumpul kembali." Ucap Arun yang juga merasa senang daoat bertemu sahabat nya lagi.


Disaat mereka melepas rindu tiba tiba....


"Dadyyy !!! " Teriak bocah laki laki yang baru saja mandi dari arah lift.


Hap


Charlie menangkap tubuh bocah itu, melemparkan nya ke udara dan menangkap nya kembali. Jendra tertawa lepas dalam gendongan dady nya. Dia sangat senang bila Charlie ada dirumah, sebab mereka bisa menghabiskan waktu menonton doraemon atau berenang.


"Dad, paman Arun kemari ?" Tanya Jendra yang melihat paman kesayangan nya datang berkunjung.


"Hallo, Jendra sayang." Ujar Arun menyapa Jendra yang semakin tampan menurut nya.


Jendra beranjak dari dady nya dan menghampiri Arun.


"Paman kenapa sekarang jarang kemari ?" Tanya Jendra yang berada dipangkuan Arun. Arun terkekeh sejenak " Maaf ya...paman sibuk sekali habis nya." Ucap Arun jujur.


"Jendra, dimana adik mu ?" Tanya Aghastya.


"Iya kau bilang mereka kembar." Sahut Aditya kembaran nya Aghastya.


"Itu mereka !" Jendra segera menunjuk kearah momy dan bibi Mothi yang menggendong baby Jev dan Ara.


"Wahhh ini dia baby nya." Seru Arun yang segera bangun dari duduk nya.


"Arun, Naina ! Lama kita tak jumpa !" Mohini segera menghampiri sahabat nya.


"Hai ! Wah..sepertinya kau tak mengalami kenaikan berat ya." Ucap Naina saat melihat Mohini yang tak mengalami kenaikan berat badan seperti dirinya setelah melahirkan twins A.


"Kau pun sama." Sahut Mohini yang kini duduk disamping Charlie.


"Biar aku yang menggendong Ara." Ujar Charlie sambil melepas jas nya. Namun saat ia akan mengambil baby Ara dari gendongan nya, Mohini segera mencegah nya." Sebaik nya kau mandi dahulu." Ujar Mohini menyuruh Charlie untuk mandi sebelum ia menyentuh Ara.


"Kau juga Ashok, cuci tanganmu atau mandi saja sekalian." Ucap Mohini sambil melihat kearah Ashok.


"Kalau aku mandi, lalu baju ku bagaimana ?" Balas Ashok yang menaik turunkan alis nya.


"Huh...pakai punya Charlie, ukuran kalian kan sama." Ucap Arun menjawab pertanyaan sahabat nya itu. Ia ingat bahwa Charlie dan Ashok memiliki ukuran baju yang sama.


"Nah betul itu ! Cepat kau mandi sebelum menyentuh Jev." Ujar Mohini lagi. Baik Arun, Raj maupun Ashok seringkali berkunjung bahkan menginap dimansion ini. Selain karena mansion yang terlalu besar, didalam nya juga terdapat banyak kamar yang bisa mereka pilih sendiri.


Ashok menurut dan pergi ke kamar mandi khusus tamu yang berada dilantai satu sebelah dapur. Setelah mandi ia memakai baju milik Charlie yang sudah disiapkan oleh Mohini. Sedangkan Charlie sudah duduk sambil menimang putri bungsu nya.


"Kau mandi Ashok ?" Tanya Charlie yang melihat Ashok keluar dari arah dapur dengan rambut basah.


"Hhm ya....begitulah." Jawab nya singkat.


"Paman, mereka lucu sekali." Ujar Aditya yang merasa gemas terhadap dua bayi imut itu.


"Memang sangat menggemaskan kak." Sahut Aghastya menimpali kakak kembar nya.


Aghastya melihat ke dady dan momy nya "Dady – momy, buatkan adik perempuan untuk kami juga." Seketika kalimat ajaib itu meluncur begitu saja dari bibir Aghastya.


"Astaga...anak ini." Gumam Naina yang mengusap kasar wajah nya.


"Boleh....mau satu atau twins ?" Tanya Arun pada kedua putranya dengan santai.


"Satu saja dad...tapi harus cantik seperti Ara." Usul Aditya yang sangat bersemangat.


"Nanti malam kita buatkan adik yuk untuk mereka." Ujar Arun sedikit berbisik dikuping Naina.


"Buat ?" Aditya yang mendengar bahwa adik nya harus dibuat pun menjadi bingung.


"Maksud nya adik harus dicetak ?" Spontan Aditya dan Aghastya bertanya pada momy dan dady nya.


Byuurrr


Air yang hendak Naina minum mendadak tersembur keluar hingga mengenai celana Ashok dan membuat nya tampak seperti mengompol.


"Astagaa!!" Ashok segera membersihkan celana nya yang terkena semburan Naina.


"Maaf, aku tidak sengaja tadi." Cicit Naina sedikit bersalah telah membasahi celana Ashok.


"Momy jawab...adik nya harus dicetak dahulu ?" Aditya terus mencecar pertanyaan yang sama pada Naina.


"Ehm...a–adik nya...it–itu...harus dicetak dulu." Naina menjawab dengan rasa gugup, ia terpaksa berbohong karena tak mungkin ia ceritakan proses pembuatan anak pada twins yang belum cukup umur.


"Oww begitu ya." Jawab kedua nya seolah mengerti dengan jawaban yang diberikan Naina.


Naina dan Arun merasa lega setelah berhasil menjawab pertanyaan putra mereka yang bikin pusing kepala.


"Kami boleh ikut mencetak adik ?" Baru saja keduanya merasa lega, tiba tiba Aghastya kembali bertanya pada Naina.


"Tidak ! Kalian tidak boleh ikut !" Arun segera menyergah keinginan putra nya dengan nada sedikit kesal.


"Kenapa memang nya ?" Lagi lagi pertanyaan polos terlontar dari bibir keduanya.


"Itu karena kalian masih terlalu kecil, lagipula prosesnya tidak boleh dilihat oleh anak kecil." Jawab Arun memberi alasan yang seidikit masuk akal menurutnya.


"Ya sudahlah apa pun itu...pokok nya kami ingin adik perempuan dady." Akhirnya keduanya dapat menerima penjelasan dari Arun.


"Siap laksakan !" Ujar Arun sambil memberi hormat layaknya pasukan tentara. Sementara Aditya dan kakak nya hanya terkekeh melihat tingkah sang dady.


"Wah sedang ramai rupanya." Ujar seseorang yang taklain ialah dady Pratap dan Ayah Manohar yang baru saja selesai minum teh bersama.


"Paman Manohar, Paman Pratap." Sapa Ashok dan Arun bersamaan.


"Lama kau tak berkunjung kemari." Dady Pratap terlihat merangkul pundak Arun dan Ashok yang sudah dianggap seperti putra nya sendiri.


"Ah itu, belakangan saya sibuk dengan urusan kantor paman." Jawab Arun jujur.


"Kakak, ada telpon untuk mu." Tiba tiba paman Akash datang sambil membawa hp dady Pratap yang masih berdering.


"Paman dia siapa ?" Tanya Arun penasaran.


"Dia adik nya Pratap, nama nya Akash." Jawab ayah Manohar yang langsung menemani ketiga cucu nya bermain bersama. Sementara dady Pratap sibuk mengangkat telpon dari koleganya.


"Aku Akash Pratap Singh adik dari Pratap Singh." Ujar paman Akash memperkenalkan dirinya kepada kawan kawan Charlie.


"Kenalkan aku Ashok Khanna, asisten pribadinya Charlie." Ucap Ashok sambil membalas jabat tangan paman Akash.


"Kalau aku Arun Verma, teman sekaligus kakak dari Raj Verma." Arun juga ikut memperkenalkan nama nya. "Owh yang disana itu istri dan putraku." Tambah Arun lagi.


"Salam kenal paman, aku Naina dan ini putra kami, Aghastya dan Aditya." Ucap Naina sopan.


"Istrimu cantik juga ya." Ucap paman Akash saat pertamakali melihat Naina. Arun hanya tersenyum mendengar pujian dari paman Akash." Putra kalian juga sangat tampan." Tambah paman Akash lagi.


"Tentu ! Siang malam kami membuatnya." Jawab Arun menyombongkan dirinya.


"Momy....nanti malam menginap disini ya." Ujar Aditya dengan mata puppy eyes nya yang menggemaskan.


"Lainkali saja ya sayang." Jawab Naina yang membuat Aditya langsung cemberut. Niat nya untuk bermain bersama Jendra sudah gagal.


"Kalian boleh menginap, tenang saja." Paman Akash mempersilahkan Arun dan keluarganya untuk menginap di mansion.


"Opa Akash memang yang terbaik." Sahut Jendra yang sedang asik bermain lego bersama twins A dan ditemani oleh kakeknya.


"Pastinya!! Opa nya siapa dulu dong ?" Ucap paman Akash sambil mencium kening serta wajah Jendra bergantian.


"Opanya Jendra lah.." kata Jendra yang menarik paksa tangan paman Akash hingga ia ikut duduk bersama ayah Manohar, menemani cucunya bermain lego.


"Woahh...kau buat apa Jendra ?" Tanya Aghastya penasaran apa yang dibuat oleh Jendra dari potongan lego lego itu.


"Inilah robot SABER 606. Robot yang bisa mengendalikan kekuatan nya sendiri tanpa bantuan si pemakai. Kalau kalian melihat film goku, kalian pasti tau kemampuan goku hingga mencapai super saiyan god." Ujar Jendra memamerkan kerangka robot lego nya yang berbentuk manusia dengan topeng diwajahnya.


"Maksudmu dia bisa mengontrol kekuatan nya hingga batas maksimal ?" Tanya Aditya yang teringat anime favoritnya itu.


"Benar, dia juga akan kuberi kecerdasan buatan agar bisa berkomunikasi dengan kita dan juga bisa memiliki perasaan seperti manusia, dia juga ahli dalam beladiri." Jawab Jendra panjang kali lebar.


"Kau hebat Jendra ! Ide mu benar benar luar biasa !!" Paman Akash, Charlie bahkan ayah Manohar memuji ide cemerlang yang diusulkan Jendra.


"Momy bangga padamu boy." Mohini turut memberikan pujian nya kepada putra nya yang kian hari semakin cerdas.


"Keponakan kita ini memang sangat hebat bukan ?" Ujar Ashok yang seolah bertanya pada Arun.


"Kau benar ! Dia memang keturunan Chandramohan. Kecerdasan nya sama seperti dady dan momy nya, gaya melukis yang serupa seperti Meena, dan keberanian nya yang sama seperti Yuvi." Jawab Arun yang juga merasa takjub akan kemampuan bocah lelaki itu.


"Owekk...ooweekk...ooowweekkk." Tangis baby Jev memecahkan suasana heboh diruang keluarga tersebut.


"Uluhuluh....Jev sayang." Mohini berusaha menenangkan Jev yang sepertinya merasa lapar. Benar saja saat ia menemukan sumber makanan nya, dalam sekejap tangisan nya pun berhenti.


Lain hal nya dengan sibungsu Ara yang sangat menikmati hangat nya pelukan dari dadynya. Sesekali Charlie mencium pipi gembul putrinya yang sangat cantik itu.


"Jev rupanya mirip seperti ayah mu ya. Hanya mata nya saja yang persis seperti mu." Ujar Arun saat mengamati wajah Jev yang sedang menyusu.


"Hhm...begitulah, putriku juga hanya mirip momy nya, tidak ada yang mirip denganku." Ucap Charlie pada Arun.


"Ya..kecuali, ketiga anak mu yang lain." Balas Arun lagi.


"Betul ! Mereka bertiga sangat mirip dengan mu, apalagi Yuvi dia seperti duplicat Charlie versi cool nya." Kata Ashok turut menimpali obrolan kedua nya.


"Ah...mereka benar benar malaikat kecil ku yang tampan dan cantik, aku beruntung mendapatkan mereka." Ucap Charlie yang tak henti hentinya bersyukur dengan apa yang ia miliki saat ini.


"Kami tau apa yang kau rasa saat ini, perjuangan mu untuk menyatakan perasaan mu pada Mohini sangatlah sulit. Hingga akhir nya sekarang kau punya keluarga kecilmu sendiri." Ujar Arun yang masih ingat kegengsian sahabat nya ini untuk melamar Mohini.


"Kau terlalu gengsi saat itu, beruntung Mohini masih mau menerima mu." Ucap Ashok ikut menimpali.


"Eits..tapi sekarang dia sudah menjadi suami serta dady yang baik untuk anak anak kami." Ucap Mohini sambil mengenggam telapak tangan Charlie.


"I love you sweetheart." Ucap Charlie penuh kehangatan.


"I love you more hubby." Balas Mohini melabuhkan kecupan dipipi kiri suaminya.


"Maaf dulu aku terlalu mengabaikan mu." Ungkap Charlie penuh penyesalan dihatinya.


"Sudah...yang lalu biarlah berlalu." Jawab Mohini yang menenangkan hati Charlie.


"Aira – Roohi...tolong kalian bawa Jev dan Ara ke kamar nya." Mohini memerintahkan kedua babysitter nya untuk memindahkan twis ke kamar mereka.


"Baik, Nyonya." Jawab kedua nya serempak sambil menggendong baby Jev dan Ara kembali ke kamar nya.


"Momy...lapar." Ucap Jendra setelah puas bermain dengan twins A dan kini mereka merasa lapar.


"Ayo, kita makan malam bersama." Paman Akash mengajak semua nya agar makan malam bersama.


Kini mereka semua sudah ada di ruang makan dan sedang menikmati hidangan makan malam bersama. Terdengar tawa dan canda dari meja makan berukuran besar milik dady Pratap.


Setelah makan dan menyikat gigi, Jendra mengajak twins A bermain dikamar nya. Mereka bermain sampai ketiduran, Mohini yang masuk ke kamar Jendra dibuat terkejut saat melihat putra nya sudah tidur sambil dipeluk twins A.


Charlie dan Arun yang juga melihat pemandangan itu pun segera beraksi memindahkan mereka ke ranjang besar milik Jendra.


Baik Charlie maupun Arun segera pergi ke kamar masing masing, sedangkan Ashok memilih pulang ke rumah nya. Charlie dan Mohini segera masuk ke alam mimpi saat merebahkan tubuh nya diranjang. Sedangkan dikamar sebelah sedang ada adegan asah mengasah pedang antara Arun dan Naina.


VISUAL


Arun Verma



Naina Verma



Aditya & Aghastya Verma



Ashok Khanna




Desain Robot SABER 606