Mr And Mrs Chandramohan

Mr And Mrs Chandramohan
Welcome Baby Twins



Pagi pagi buta dimansion keluarga Pratap terjadi keributan lantaran Mohini hendak melahirkan. Tak terasa sudah sembilan bulan lamanya berlalu, dan tiba saat nya para twins terlahir ke dunia.


Charlie yang sudah hafal dengan bawaan ibu melahirkan segera menyiapkan dengan secepat kilat, kemudian ia membawa Mohini ke rumah sakit. Sampai disana, dokter Ansel segera membawa Mohini ke ruangan bersalin yang sudah disiapkan.


Oprasi cessar pun dimulai, dokter Ansel mulai membius otot disekitar perut Mohini kemudian membedahnya.


"Owekk ooweekk owekk." Tangis baby boy menggema disusul dengan tangis sang adik baby girl.


Dokter Ansel segera memberikan kedua baby yang masih merah itu pada Mohini agar bisa melakukan sentuhan kulit sekaligus Mohini dapat memberikan asi pertama nya untuk para twins.


Charlie yang melihat kedua malaikat nya telah lahir pun sangat terharu. Ia langsung mencium kening sang istri yang tampak sangat lelah setelah berjuang melahirkan buah hati nya.


"Terimakasih untuk perjuangan mu, Honey." Ucap Charlie disela sela ciuman nya. Mohini hanya bisa mengangguk sambil tersenyum lemah.


Dirasa cukup mendapat asi, para perawat segera mengambil baby twins guna dibersihkan dari sisa kotoran yang masih menempel ditubuh mereka.


Setelah dibersihkan Charlie meminta agar baby twins ditempatkan satu ruang dengan istrinya. Sementara dirumah, Momy Shamita sangat bersyukur kedua cucunya telah lahir dengan selamat begitu pun dengan dady Pratap dan Ayah Manohar.


Momy Shamita dan dady Pratap bergegas ke rumah sakit sedangkan Ayah Manohar akan menunggu dirumah hingga Jendra terbangun dari tidur nya.


Kini Mohini dan twins sudah dipindah ke ruang perawatan VVIP. Momy Shamita dan dady Pratap juga baru sampai disana. Mereka sangat antusias melihat kedua cucunya yang tampan dan cantik.


"Ternyata cucu kita tak seperti ketiga kakak nya." Ucap Momy Shamita yang heran kedua cucu nya malah seperti bule. Pasal nya baby twins memiliki kulit yang putih dan mulus serta rambut yang sedikit pirang, lain dengan ketiga kakak nya yang berambut hitam.


"Iya juga...mereka seperti anak anak bangsa eropa sana, hanya mata nya saja yang berwarna coklat." Ujar Dady Pratap membenarkan perkataan istrinya.


"Owekk oowweekkk oowekkk." Tangis baby boy kembali terdengar. Charlie dengan sigap segera menggendong si sulung.


"Sshhtt...lapar ya anak dady..?" Bayi itu terlihat tenang dalam gendongan Charlie, namun tak lama kembali menangis.


"Biar aku susui dulu baby nya." Ucap Mohini lembut. Segera Charlie memberikan baby boy nya ke pangkuan sang momy. Dengan rakus ia meminum sumber kehidupan nya langsung dari pabrik nya.


"Jangan habiskan semuanya ya...sisakan sedikit untuk dady." Ujar Charlie pada si baby boy. Sontak saja Mohini segera mencubit perut Charlie sangat kencang. Beruntung nya dady dan momy sedang pergi membeli sarapan untuk mereka.


"Aawww...sakit loh sayang." Jerit Charlie yang langsung mengusap usap perutnya yang dicubit Mohini.


"Um..apa kau sudah ada nama untuk mereka ?" Tanya Mohini penasaran.


"Sudah...untuk baby boy akan kuberi nama Jeevan, sedangkan untuk baby girl nama nya adalah Kiara." Jawab Charlie memberitahukan nama yang ia pilih untuk dua baby nya.


"Nama nya lebih bagus dari yang kemarin. Aku suka yang ini." Mohini memuji nama yang Charlie berikan, ia sangat suka saat pertamakali mendengarnya.


"Bukan aku yang mengusulkan nama itu, karena semua itu atas ide Yuvi dan Meena dan dengan bantuan Jendra pastinya." Ujar Charlie menerangkan bahwa ketiga anak nya yang memiliki ide nama tersebut.


"Mereka pasti sangat antusias hingga menyiapkan nama untuk adik twins." Ujar Mohini yang duduk di ranjang sambil menggendong baby nya yang kembali terlelap.


"Kau benar, kira kira apa reaksi mereka setelah melihat baby twins nya lahir ?" Ucap Charlie sambil menerka nerka, Mohini hanya mengendikan bahunya.


"Hubby, Kiara nya boleh tolong dekatkan kesini." Ujar Mohini yang ingin melihat keadaan putri bungsu nya.


"Tentu...tunggu sebentar ya." Charlie segera menggendong Jeevan dan meletakan nya kembali kedalam box. Kemudian ia beralih ke box nya Kiara, dengan hati hati ia menggendong nya dan menyerahkan nya pada Mohini.


"Dia sangat pulas rupanya....lihat, wajahnya mirip denganku bukan ?" Ujar Mohini yang terus mengembangkan senyum bahagia.


"Iya..sangat cantik dan persis seperti mu." Ujar Charlie yang ikut tersenyum bahagia. Ia sangat bersyukur karena Mohini telah melahirkan buah cinta mereka dengan selamat dan tanpa kurang sedikitpun.


Ceklek


Pintu kamar terbuka, dady Pratap dan istrinya baru saja kembali dari luar. Mereka membawa makanan untuk Charlie dan Mohini untuk sarapan.


"Nak, ini dimakan sarapan nya...dady dan momy sudah belikan untuk kalian." Ujar momy Shamita sambil meletakan paper bag diatas meja.


"Makasih banyak ya mom...maaf kalau Charlie belum bisa jadi menantu yang baik untuk kalian." Ujar Charlie seraya menggenggam hangat tangan sang momy mertua.


"Sama sama, sayang...setiap manusia itu tidak ada yang sempurna, termasuk kita. Dengan kau menyayangi Mohini serta cucu momy, itu sudah lebih dari cukup." Jawab momy Shamita bijaksana.


"Benar, lagipula kau itu kategori menantu idaman lho." Ujar dady Pratap menepuk pundak Charlie.


"Benarkah itu ?" Tanya Charlie yang tak percaya.


"Iya...bahkan ada klien dady yang mengira kau itu belum menikah dan ingin menjodohkan mu dengan putrinya." Ujar dady Pratap lagi.


"Owh...tapi sayang nya dihatiku sudah ada yang bertahta dan ia adalah putri nya dady, ibu dari anak anak ku, yaitu kau...Mohini Pratap Chandramohan." Ujar Charlie yang membuat air mata Mohini keluar, ia sangat terharu dengan perkataan sang suami.


Charlie kembali mendekati Mohini, lalu ia mengecup bibir nya perlahan.


Cup


Bibir mereka saling bertemu, Charlie semakin memperdalam ciuman nya hingga menimbulkan suara decapan. Sepertinya mereka lupa dengan kehadiran kedua orang tua yang berada dibelakang nya.


"Ciumm...." rengek dady Pratap seperti anak kecil yang meminta permen dan jangan lupakan bibir nya yang sudah monyong monyong minta disosor duluan.


"Inget umur dady..." ledek Momy Shamita pada sang suami.


Tapi nama nya juga dady Pratap, kalau belum tercapai belum puas rasanya. Dengan gaya sosoran bebek ia berhasil mencium sang istri dengan paksa, bahkan momy Shamita sangat menikmatinya.


"Eemmmphh...mmpphh." begitulah suara dari pertemuan kedua benda kenyal dari sepasang pasutri tak sadar usia itu.


Momy Shamita segera mendorong dada dady Pratap. Ia sangat membutuhkan oksigen saat ini akibat ciuman panas hang terjadi barusan.


"Kenapa kau melepaskan nya ?" Tanya dady Pratap sembari mengelap bibir istrinya yang sedikit memerah.


"Dilanjut nanti malam saja." Ujar momy Shamita yang tersipu malu.


"Jangan nanti malam, sepulang dari sini kau harus menidurkan nya kembali." Tolak dady Pratap yang tak bisa menunggu lebih lama lagi. Ia justru meraih tangan istrinya kemudian menempelkan nya pada tonjolan dibawah sana.


"Dasar mesum, baru cium saja sudah bangun." Ledek momy Shamita sambil menatap wajah suami nya yang kian memerah.


"Tapi kau suka bukan ? Tiap malam kau mejerit karena nya." Balas dady Pratap dengan menggoda balik istrinya.


"Dady tidak sarapan ?" Tanya Mohini yang sedang makan saat ini.


"Owh itu...dady belum lapar." Jawab dady Pratap.


"Kenapa muka dady jadi memerah seperti itu ?" Tanya Charlie pura pura sok polos.


"Halah...kau itu seperti belum pernah mengalami nya saja." Ujar dady Pratap sambil mengelap keringat di wajah nya.


"Disini toilet nya kedap suara ?" Tanya dady Pratap lagi.


"Seperti nya iya." Jawab Charlie singkat.


Dady Pratap segera masuk ke toilet dan mulai bersolo karir. Jujur ia tak bisa menahan lebih lama, tombak sakti nya sudah ngeces untuk masuk kedalam sarung nya.


"Mau main sabun, sayang." Ujar Charlie sambil senyum senyum sendiri.


Kedua orang tersebut melongo mendengar perkataan Charlie yang tak berfilter tersebut.


Sedangkan Charlie dengan santai nya justrus memakan sarapan nya dengan tenang dan santai diatas kursi sofa yang empuk.


"Ini, kau juga harus makan agar tak lemas." Ujar Charlie yang mendekat dengan membawa papper bag berisi satu porsi nasi goreng seafood favoritnya.


"Iya, terimakasih ya." Ujar Mohini yang menerima papper bag dari tangan suami nya.


"Mau ku suapi ?" Tanya Charlie penuh perhatian.


"Boleh." Charlie dengan senang hati menyuapi sang istri yang tengah mengamati kedua malaikat kecil nya yang tertidur pulas didalam box bayi.


Sedangkan Momy Shamita diam diam ikut menyelinap ke toilet, niat hati hanya ingin mencuci tangan. Namun, saat mencuci tangan nya di wastafel Momy Shamita justru mendengar suara laknat suaminya.


Dengan hati hati ia membuka pintu kamar mandi yang lupa dikunci itu, dan terlihatlah seorang lelaki parubaya yang tengah menyalurkan hasratnya pada sabun cair.


"Oohh...Shamita...ini sangat nikmat." Desah dady Pratap yang terus menyebut nama istrinya itu.


"Mau ku bantu ?" Tanya seseorang yang suara nya begitu dady Pratap hafal, segera ia berbalik badan dan melihat bahwa istrinya memergokinya tengah olahraga lima jari.


"I-itu tidak perlu, ak-aku bisa lakukan sendiri." Ujar dady Pratap terbata bata disetiap kalimat nya.


"Yang benar ? Kalau begini bagaimana ?" Ucap Momy Shamita sembari mengurut tombak suaminya itu.


"Uh...lebih cepat sayang..." dady Pratap mulai mengeluarkan racauan nya saat merasakan belaian didaerah tombak jumbo nya semakin cepat, apalagi saat tangan itu menemukan bola bola favoritnya.


"Kita lakukan sekarang honey, please." Ujar dady Pratap dengan suara berat menandakan ia sudah dikuasai oleh hasrat nya.


"Hanya lima menit jangan lebih." Ucap momy Shamita yang ternyata menginginkan yang lebih.


"Aku janji hanya lima menit." Jawab dady Pratap yang langsung menyambar bibir sang istri dengan rakus.


Dady Pratap menurunkan celana nya hingga batas lutut serta mengangkat dress yang dikenakan istrinya hingga menyingkap sesuatu yang disukainya.


Dengan tergesa gesa ia memposisikan istrinya untuk memunggungi nya dengan kedua tangan bertumpu pada wastafel. Dady Pratap segera memasukan tombak nya kedalam sarung yang ia rindukan. Kedua nya melakukan hal tersebut hingga mencapai pelepasan pertama.


"Aarrgghhh...." dady Pratap mengerang panjang saat mencapai pelepasan nya.


Sementara itu, Ayah Manohar barusaja tiba bersama dengan Jendra. Bocah kecil itu langsung menghampiri momy nya.


"Momy, dimana adik twins Jendra ?" Tanya Jendra dengan wajah berseri seri saat diberitahu kakek nya bahwa sang adik telah lahir.


"Disana, mereka sedang tidur sayang." Jawab Charlie sambil menunjuk kesisi kanan tempat box bayi diletakkan.


Jendra segera menghampiri adik adik nya, ia tampak sangat excited saat melihat wajah imut mereka.


"Woww...baby girl nya sangat cantik seperti princess." Ujar Jendra gang sepertinya sangat senang memiliki adik perempuan.


"Tentu, bukankah momy kita juga sangat cantik ?" Kata Charlie gang berdiri dibelakang putranya.


"Kau benar dad, wajah nya sangat mirip dengan momy." Jawab Jendra membenarkan.


"Dady memberi nama mereka sesuai dengan permintaan kami kan ?" Tanya Jendra memastikan Charlie tak berbohong padanya.


"Iya sayang, dady menamai mereka berdua sesuai dengan kenginginan kalian." Ucap Charlie yang membelai rambut panjang Jendra.


"Memang siapa nama mereka ?" Tanya dady Pratap yang barusaja muncul dari toilet bersama dengan istrinya.


"Nama nya adalah kiara dan Jeevan Chandramohan." Kini giliran Mohini yang menjawab pertanyaan dady nya itu.


"Nama yang bagus." Puji Ayah Manohar saat baru mendengarnya.


"Benar sekali, kami pun suka dengan nama itu." Ujar momy Shamita dengan raut wajah gembira.


"Dady, Jendra telfon kak Yuvi dan kak Meena ya." Ujar Jendra sebelum melakukan sesi telfon dengan kedua kakak nya.


"Halo Jendra sayang." Sapa Meena yang berada disebrang sana.


"Hi Munchkin." Yuvi juga memberi sapaan hangat untuk adik laki lakinya itu.


"Kakak kau tau tidak, adik twins kita telah lahir." Ujar Jendra memberi kabar gembira bagi kedua kakak nya.


"Sungguh ? " Ucap kedua nya bersamaan.


"Iya kak...sekarang kami semua ada di rumah sakit menemani momy." Jawab Jendra sambil mengarahkan jam pintar nya ke sekeliling ruang tersebut.


"Wah ramai ya...hai mom, sehat sehat selalu ya. Maaf kami belum bisa pulang menhambut kedatangan adik twins." Ujar Yuvi saat kamera berhenti di wajah momy nya.


"Iya sayang, momy ngerti....kalian fokus saja belajar nya ya. Nanti kalau liburan, jangan lupa pulang." Ujar Mohini sambil menitikan air mata kerinduan. Bohong jika Mohini mengatakan ia tak merindukan kedua anak nya sebagai ibu, ia sangat rindu dengan ke dua anak nya.


"Jangan nangis momy, nanti Meena jadi sedih." Ucap Meena yang pura pura ingin menangis.


"Dady...kami ingin lihat adik twins, boleh ?" Ujar Meena pada dady nya.


"Boleh." Charlie segera menggendong Jeevan dan memperlihatkan nya pada Yuvi dan Meena.


"Uuuuhhh...tampan sekali Jeevan, mirip seperti kakek." Ujar Meena saat melihat wajah adik nya.


Kemudian Charlie kembali menidurkan Jeevan di box nya dan beralih menggendong Meena.


"Cantik nya adik ku ini." Ujar Meena yang gemas dengan adik perempuan nya yang baru saja lahir.


"Iya...wajah nya sangat persis dengan momy." Tambah Yuvi yang juga dibuat gemas dengan wajah adik nya.


VISUAL


Charlie



Mohini



Jeevan & Kiara