Mr And Mrs Chandramohan

Mr And Mrs Chandramohan
Rhea Kepikiran



Jam sudah menunjukan waktu hampir larut malam namun Rhea masih terjaga. Dirinya justru melamun menyandarkan punggung nya disandaran ranjang. Manohar yang baru selesai mandi melihat sang istri tengah melamun pun mendekatinya.


"Memikirkan apa, Sweetie ?" Tanya Manohar yang sudah duduk disamping nya." Tidak ada." Jawab Rhea berbohong dan jelas Manohar tahu hal itu." Katakan saja, apa kau masih kepikiran yang tadi siang ?" Ucap Manohar pada sang istri.


"Hmm...sedikit." Rhea akhirnya mengaku bahwa ia masih kepikiran dengan kejadian tadi siang dikantornya." Ada apa ?" Manohar semakin dibuat penasaran dengan tingkah istrinya." Apa kau tidak merasa terpancing saat Luna menyentuh mu seperti itu ? Aku kira semua pria pasti merasa terpancing jika berada diposisi seperti itu." Tanya Rhea langsung pada intinya.


Manohar tersenyum mendapat pertanyaan seperti itu, digenggam nya telapak tangan wanita kesayangan nya itu penuh cinta." Dengarkan aku, meski banyak wanita yang mendekat pada ku, bahkan rela menyerahkan tubuhnya padaku tapi, hati ini sudah terlanjur milikmu seorang. Kau sudah mengendalikan semuanya, bukan hanya hati dan pikiran ku saja, kekuatan ku juga sudah kau kendalikan." Jawab Manohar yang membuat wajah Rhea memerah malu mendengarnya.


"Bohong, kau bohong kan ?" Rhea pura pura tak percaya pada omongan suaminya, dia hanya ingin mengetes suaminya saja." No, aku tidak pernah berbohong. Kalu kau tak percaya, coba rasakan ini." Manohar malah menuntun tangan istrinya ketempat pedang berada. Rhea dapat merasakan celana suaminya menggelembung.


"Isshh ! Kau ini parah sekali !" Rhea langsung menyikut perut Manohar dengan sikunya." Aaww...sakit !" Erang Manohar yang pura pura kesakitan. Rhea yang mengira suaminya benar benar kesakitan langsung membaringkan nya ke ranjang. Dibukanya kaus yang menutupi area perut suaminya." Maaf, mana yang sakit ?" Rhea mengusap usap perut suaminya secara perlahan.


"Aahhkk..." Manohar malah mengeluarkan nyanyian saat Rhea sedang mengusap perutnya." Ihh !! Dasar menyebalkan !" Gerutu Rhea sambil mengerucutkan bibirnya. Manohar yang melihat nya menjadi gemas dan membuat nya ingin mencaplok bibir mungil itu segera.


Cuuppp


Sedetik kemudian Manohar mengecup bibir mungil itu dan sesekali memberinya hisapan panjang." Hhmmphh..." Rhea juga terlihat menikmati caplokan panas tersebut hingga tak menyadari kegiatan tersebut terus turun hingga mencapai leher mulus nya.


"Aahhkk...Manuu..." Rhea mengeluarkan suara merdunya saat Manohar menghisap leher seperti vampir." Manu..." Rhea memanggil nama suaminya dengan nada yang begitu manja." Yes, baby." Jawab Manohar ditengah tengah aksinya." Kita mulai sekarang...uumph." Tanpa malu Rhea memintanya duluan, hasratnya sudah memuncak dia ingin lebih dari sekedar ciuman." As you wish, Sweetie." Manohar mendorong cepat tubuh Rhea hingga terbaring diatas ranjang, dengan cepat tubuh kekarnya itu mengngungkung tubuh kecil istrinya.


"Arrrgghhhhh...." Jerit mereka berdua kala mencapai puncak nirwana bersama. Manohar langsung ambruk di samping Rhea." Terimakasih, Sweetie. Love you." Manohar mengecup kening Rhea setelah menuntaskan permainan ini." Love you more, Manu." Rhea membalas perkataan cinta yang suaminya katakan barusan. Manohar sigap menarik tubuh Rhea masuk kedalam pelukan nya.


Tangan nya sesekali mengusap lembut perut sang istri." Baby, kami tak sabar ingin bertemu dengan mu di dunia. Cepat besar sayang, ayah dan mami menyayangimu." Manohar beringsut mensejajarkan wajah nya dengan perut Rhea, ia melabuhkan kecupan diperut istrinya itu.


Rhea yang melihat kelakuan suaminya tersenyum haru," Baby pasti senang memiliki ayah penyayang seperti mu." Ucap Rhea seraya membelai rambut sang suami." Dia juga akan bahagia memiliki mami berhati malaikat seperti mu." Manohar kembali ke posisi semula, ia semakin mengeratkan pelukan nya pada Rhea.


"Aku sangat mencintaimu, Rhea. Kau adalah wanita terakhir dalam hidupku." Ucapan Manohar tadi membuat Rhea menjadi menangis di pelukan suaminya." Sstt...jangan menangis, Sweetie." Manohar menghapus air mata sang istri yang membanjiri di pelupuk matanya.


"Aku sangat bahagia dengan pernikahan ini, semoga kita selamanya." Rhea memberi kecupan hangat tepat dibibir Manohar." Sweet dream, honey." Manohar dan Rhea pun akhirnya tertidur lelap hingga fajar menyingsing.


Paginya, Manohar bangun lebih dulu setelahnya nge gym selama satu jam dilantai atas. Dia hari ini berencana untuk membuatkan Rhea sarapan yang dimasaknya sendiri. Begitu masuk area dapur ia sudah disambut para chef yang bertugas disana." Tuan, apa anda ingin dibuatkan sesuatu ?" Tanya Ravi selaku kepala chef yang bertugas di mansion ini.


"No, lebih tepatnya aku ingin memasak untuk istriku." Jawab Manohar membuat para chef yang bertugas didapur mengulum senyum dibibir masing masing." Memang anda ingin memasak apa, Tuan ?" Tanya Ravi lagi pada Manohar yang terlihat berpikir sejenak." Kori gassi, bagaimana menurutmu ?" Ucap Manohar meminta pendapat si kepala chef tersebut.


"Ide bagus, tapi bukankah itu masakan daerah Mangalore ? Apa tuan bisa memasaknya sendiri ?" Jawab Ravi yang kurang yakin dengan kemampuan memasak Manohar yang sebenarnya cukup handal.


"Wait and see, Ravi." Manohar mulai mencuci ayam, menyiapkan santan yang akan ia pakai nantinya, meracik rempah rempah terbaik yang mereka miliki. Sementara itu, Ravi bertugas membuat hidangan penutup. Kali ini chef Ravi ingin membuat mango mastani. Mango mastani memiliki tekstur yang mirip dengan milk shake hanya saja ini jauh lebih tebal, biasanya ditambah toping irisan buah atau kacang kacangan dan whipped cream. Minuman ini berasal dari Pune, sebuah daerah di kota Maharashtra India.


Cukup lama mereka berkutat di dapur hingga akhirnya hidangan utama yang Manohar masak siap disajikan. Chef Ravi yang melihat tampilan masakan atasan nya menjadi terpukau, ia tak menyangka bahwa tuan nya ini jago masak." Wow, ini lezat. Tuan pandai masak rupanya." Ravi memuji masakan Manohar yang rasanya benar benar nikmat.


"Tentu, kau bahkan belum mencicipi masakan yang putraku buat." Ujar Manohar sampai membuat Ravi mengernyitkan kening nya." Charlie juga pandai masak, hanya saja setelahnya dapur mu akan seperti kapal pecah." Manohar bercerita bahwa sang anak juga mahir dalam memasak, tetapi setelahnya ia membuat dapur seperti kapal pecah. Itu karena Charlie sulit menemukan alat yang pas untuk digunakan nya memasak. Ravi tersenyum menggelengkan kepala nya saat mendengar cerita tentang tuan mudanya yang pandai memasak.


Kecupan kecupan disekitar wajahnya membuat Rhea merasa terganggu dan akhirnya terbangun dari tidurnya. Begitu bangun pemandangan pertamanya adalah wajah sang suami yang begitu tampan dan rupawan." Morning, Sweetie." Tak lupa Manohar memberikan morning kiss pada istrinya.


"Morning too, hubby." Rhea mendudukan dirinya ditepi ranjang, berusaha mengumpulkan nyawanya yang tercecer saat ini." Kruyukkruyuk..." tiba tiba terdengar suara perut Rhea yang keroncongan." Setelah ini kita sarapan, aku sudah memasak sesuatu untuk mu." Ujar Manohar sambil mengambilkan segelas air untuk Rhea.


"Sungguh ? Kau benar benar memasak ?" Rhea sangat antusias untuk mencoba masakan suaminya." Baiklah, aku mandi dahulu setelah itu kita sarapan." Rhea langsung beranjak dari ranjangnya menuju kamar mandi.


Disinilah mereka berkumpul saat ini, dihapan mereka ada aneka menu masakan telah tersaji." Hmm..kori gassi, sepertinya lezat." Ujar Dady Pratap berbarengan dengan sang adik yang juga terlihat lapar setelah melihat tampilan kori gassi yang begitu menggoda.


Satu persatu para anggota keluarga mengambil kori gassi yang akan mereka santap dengan nasi." Aku tahu, ini ayah yang masak." Ucap Charlie saat mencicipi kori gassi dipiring nya. Ucapan Charlie tentu membuat pandangan tertuju pada Manohar yang baru sampai diruang makan bersama Rhea." Aku benarkan, ayah ?" Tanya Charlie pada sang ayah.


"Bagaimana kau tau kalau ayah yang masak ?" Tanya Manohar penasaran, dia lupa bahwa selama ini dirinya lah yang selalu memasak untuk sang anak." Ayolah...ayah selalu memasak untuk ku, apalagi saat aku masih kecil...ayah selalu membuatkan ku bekal makan siang." Ujar Charlie sambil memakan masakan ayahnya begitu lahap.


"Jadi, kau yang masak ini ?" Tanya Rhea yang terpukau dengan kemampuan memasak suaminya ini." Kalian benar, ini semua aku yang masak." Jawab Manohar membuat Dady Pratap dan adiknya tak percaya.


"Kau bercanda kan ? Pasti Ravi yang membuatnya." Sanggah dady Pratap yang tak percaya pada perkataan sahabat nya ini." Tidak, Tuan. Semua ini memang Tuan Manohar yang membuatnya." Ujar Ravi saat kembali membawa pesanan Jendra. Bocah kecil itu minta diambilkan susu coklat kesukaan nya.


"Terimakasih, Paman Ravi." Ujar Jendra saat Ravi menyuguhkan susu coklat pesanan nya." Sama sama, Tuan kecil." Jawab Ravi dengan ramah kemudian kembali menuju dapur.


"Tak ku sangka kau hebat dalam memasak." Dady Pratap memuji talenta tersembunyi sahabat sekaligus besan nya itu." Iya kakak benar, masakan mu benar benar lezat." Akash menimpali ucapan sang kakak barusan. Manohar yang mendengar semua pujian itu hanya bisa tersenyum sembari menyuapi sang istri makan.


"Apa kau suka makanan nya, Sweetie ?" Tanya Manohar penuh perhatian pada sang istri." Suami ku memang pandai memasak, love you Manu." Ujar Rhea pada suaminya itu. Hati Manohar bagai dipenuhi kupu kupu saat sang istri memanggilnya dengan panggilan sayang nya." Love you more, Sweetie. Cup." Manohar spontan mengecup bibir sang istri didepan anggota keluarga Pratap Singh. Charlie langsung mentup mata Jendra menggunakan telapak tangan nya.


Bocah kecil itu berusaha melepaskan tangan dadynya dari wajah kecilnya itu." Dadyyy!! Jendra tidak bisa melihatt !!" Geram Jendra pada dadynya." Sstt...nanti dady belikan ice cream okay ?" Charlie terus menutup mata sang anak hingga ayahnya selesai mengecup mami nya sangat mesra.


Wajah Rhea merona saat suaminya secara terang terangan mencium nya seperti ini." Dasar mesum !" Shamita langsung melempar apel kearah Manohar dan mengenai kepalanya." Aww...kau melukai kepalaku !" Ucap nya sambil meraba raba bagian kepalanya yang terkena lemparan apel tadi." Biar saja, dasar kakek kakek mesum !" Tukas Shamita tanpa rasa bersalah sedikitpun.


"Hey ingat ! Suami mu juga kakek kakek....hahahaha." Manohar balik mengejek Pratap yang tak terima dikatai kakek kakek oleh besan nya itu." Sudahlah...lebih baik kita lanjutkan sarapan." Akhirnya Mohini pun angkat bicara untuk menyudahi aksi saling ejek antara dady nya dan ayah mertuanya." Kau benar Mochi sayang, kita makan saja duluan." Balas paman Akash yang menyuruh lain nya untuk makan dan meninggalkan mereka berdua." Baik–baik kami berhenti." Manohar memilih mengalah dan lanjut makan, dady Pratap pun juga sama.


VISUAL


Kori Gassi



Mango Mastani