Mr And Mrs Chandramohan

Mr And Mrs Chandramohan
Kontrol Ke Dokter



Setelah tidur semalaman Charlie merasa kakinya sudah jauh lebih baik dari semalam. Ia yang bangun duluan melihat Mohini masih setia meringkuk dalam selimut meski mentari telah terbit di ufuk timur.


Charlie tau istrinya pasti lelah semalaman memijat kakinya, oleh karena itu dia pun tak membangunkan nya dan bergegas untuk mandi. Saat ini Charlie memang sudah diperbolehkan oleh dokter untuk mandi dan beraktivitas seperti biasa, hanya saja jangan terlalu diforsir


"HOOAM....jam berapa ini ?" Ucap Mohini yang baru bangun dan langsung mencari handphone nya." Astagaa !! Sudah pukul tujuh !" Dan alangkah terkejutnya ia saat melihat Charlie tak berada disamping nya.


Sementara itu, Charlie yang baru saja selesai mandi tampak keluar dari kamar mandi dengan memakai handuk yang melilit pinggang nya saja." Kau sudah bangun, honey ?" Sapa Charlie saat melihat istrinya tengah duduk di pinggir ranjang. "Maaf ya, aku tidak membantumu mandi pagi ini." Ujar Mohini sambil menunduk.


"Hey, tidak apa. Aku tau kau lelah memijat ku semalam, jadi tadi aku tidak membangunkan mu." Ucap Charlie yang kini sudah duduk disamping nya." Jangan cemberut, kau jelek saat cemberut begini." Charlie mengangkat wajah istrinya yang terus terdunduk tak berani menatapnya.


Perlahan tapi pasti Charlie mendekatkan wajah nya hingga mengikis jarak keduanya. Bahkan sekarang Mohini bisa mencium aroma maskulin suaminya ini.


Cuuppp


Charlie berhasil mencium bibir sang istri bahkan dengan lacang lidah nya turut menyelusup dalam ciuman tersebut.


"Hhmmpp...mmmpphhsss...." tak ayal suara decapan keduanya memenuhi ruang kamar ini. Cukup lama keduanya saling memagut untuk menyalurkan rasa cinta dan kasih yang seolah semakin membuncah disetiap harinya.


Lama kelamaan ciuman itu pun turun ke leher jenjang Mohini, Charlie langsung memberikan stempel cinta nya di leher sang istri. Tak hanya satu melainkan dua stempel merah yang Charlie berikan pada Mohini.


"Aahh.." Mohini bahkan sampai keceplosan mengeluarkan suara laknat nya saat Charlie menghisap leher sangat kuat seperti vampir.


Charlie langsung melepaskan hisapan nya dan melihat stempel merah keunguan berada di leher istrinya." Aku harap dokter segera melepas penyangga lutut ku hari ini." Gumam Charlie yang berusaha menetralkan nafasnya sekaligus menidurkan tombak nya yang sudah on fire dari tadi.


"Aku akan pergi menemui dokter hari ini, apa kau mau ikut bersama ku ?" Tawar Charlie yang langsung diangguki oleh Mohini." Ayo, aku sudah siap." Ujar Mohini yang sudah mandi dan berganti pakaian.


Keduanya turun dari kamar menuju ruang makan." Dady kok bangun siang sih ?" Tanya si kecil Jendra saat melihat dady dan momy nya baru turun dari kamar.


"Maaf boy, dady lelah sekali semalam. Jadi, dady dan momy bangun kesiangan seperti ini." Ujar Charlie menjelaskan pada Jendra.


"Hhmm...lelah atau lelah ?" Goda paman Akash yang tak sengaja melihat tanda merah di leher Mohini saat hendak mengambilkan makanan untuk Charlie." Lelah paman, semalaman aku harus menggendong Jev yang susah tidur." Ucap Charlie yang akan menyantap makanan nya.


"Aku pikir kalian habis membuatkan adik untuk twins." Ujar paman Akash yang langsung mendapat tatapan tajam dari sang kakak dan istrinya. Mohini dan Charlie langsung merona mendengar perkataan paman Akash barusan.


"Hehehehe...kami baru mencicil paman." Charlie tertawa canggung sambil menggaruk pelipis nya. Sontak saja hal ini membuat Mohini melayangkan cubitan kepiting ke suaminya.


"Aww...sakit, honey." Jerit Charlie sambil meringis memegang perutnya yang dicubit Mohini." Oh ya, hari ini jadwal mu kontrol bukan ?" Tanya Manohar pada putranya itu.


"Ayah harap hasil nya bagus untuk hari ini, sehingga kau bisa bebas dari penyangga mu itu." Balas Manohar lagi yang sedang menyuapi Rhea makan.


"Iya nak, Momy juga berharap begitu." Momy Shamita juga turut berharap hasil yang bagus untuk kesembuhan menantunya." Dady, Jendra boleh ikut ?" Tanya Jendra pada dadynya. Tapi, dengan tegas Mohini menggelengkan kepalanya," Jendra dirumah saja ya, jangan ikut dady." Ucap Mohini lembut pada Jendra.


"Kenapa ? Momy juga ikut kan ?" Jendra sepertinya kekeh untuk ikut pergi bersama dady dan momynya pagi ini." Hmm...begini, dady ingin ke rumah sakit...dirumah sakit itu banyak kuman, Momy takut Jendra sakit, sayang." Mohini menjelaskan apa yang ditakutkan nya jika putranya itu tetap ikut bersama.


"Momy benar, sayang. Kalau dady sudah pulang, baru kita pergi bersama. Jendra mau kan ?" Usul Charlie sambil mengelus pucuk kepala anaknya." Mau mau, Jendra dirumah deh kalau gitu." Jendra akhirnya menurut setelah diiming imingi jalan jalan oleh Charlie.


"Dad, mom...Yuvi dan Meena ingin kumpul dengan kak Aryan, Freya, dan wisnu...boleh ?" Tanya Yuvi pada kedua orang tuanya. Rencanya ia dan Meena ingin reuni kecil kecilan dengan teman satu sekolah dulu. Mereka akan melakukan nya dikediaman Wisnu.


"Hmm...boleh, asalkan kalian pergi diantar paman Roy." Ucap Charlie pada anak anak nya." Tapi, Yuvi mau nya diantar paman Gavin." Ujar Yuvi menolak usulan dadynya untuk diantar oleh paman Roy karena biasanya yang selalu mengantanya kemanapun adalah paman Gavin bukan paman Roy." Ya baiklah, kau pergi dengan paman Gavin sementara adik mu biar diantar paman Roy." Charlie pun setuju dengan pendapat putra sulung nya itu.


Setelah selesai makan, Charlie dan Mohini langsung pergi ke rumah sakit untuk menemui dokter tulang." Pagi, dok." Sapa Charlie dengan ramah.


"Pagi, Tuan Charlie...silahkan duduk dulu." Sang dokter pun mempersilahkan Charlie dan istrinya untuk duduk terlebih dahulu.


"Sesuai jadwal, hari ini kita akan observasi kaki anda Tuan. Semoga hasil nya bagus, ya." Ujar dokter tersebut sebelum memulai pemeriksaan nya. Kurang lebih saru jam lamanya Charlie diperika oleh dokter spesialis tulang yang menangani cedera kakinya.


"Bagaimana dokter, apa semuanya bagus ?" Tanya Charlie penasaran setelah kakinya diperiksa oleh dokter." Hasilnya sangat bagus, tulang yang retak sudah kembali pulih. Jadi, hari ini juga saya akan lepas penyangga nya." Jawab si dokter sambil tersenyum kearah Charlie dan Mohini yang selalu mendapingi nya sejak tadi.


"Huh...syukurlah, akhirnya kaki ku sembuh juga." Gumam Charlie yang senang bukan main." Dok, setelah dilepas boleh saya melakukan kegiatan seperti biasanya ?" Tanya Charlie lagi pada sang dokter.


"Tentu, tapi jangan terlalu lamaya Tuan." Pesan dokter tersebut pada Charlie." Umm...termasuk untuk bercinta misalnya ?" Charlie dengan frontal menanyakan hal yang sedari tadi mengganggu pikiran nya pada dokter.


"Asataga....suami ku ini." Batin Mohini sambil menepuk jidatnya sendiri. Sang dokter juga ikut cengo saat mendengar pertanyaan frontal dari pasien nya itu." Kalau untuk itu sudah boleh, hanya saja durasi nya jangan terlalu lama. Dan sebaiknya biarkan istri anda yang mempimpin permainan nya, karena lutut anda belum terlalu kuat untuk menopang badan anda." Jelas si dokter yang membuat Mohini memerah malu mendengar nya.


"Baiklah, kalau begitu cepat lepaskan penyangga sialan ini dokter." Ujar Charlie tak sabaran. Sang dokter mulai melepas alat penyangga yang terpasang dikaki Charlie dengan perlahan." Sudah, kaki anda sudah bebas Tuan." Ucap si dokter setelah berhasil melepas penyangga lutut dari kaki Charlie.


"Terimakasih, dokter." Tak lupa ia mengucapkan terimakasih kepada dokter yang sudah menangani nya selama beberapa minggu ini." Ini sudah saya resepkan obat dan vitamin untuk anda." Ucap dokter tersebut memberikan secarik kertas pada Charlie." Terimakasih banyak dokter, sudah mengobati suami saya." Ucap Mohini dengan tulus.


"Sama sama Tuan, Nyonya." Balas sang dokter dengan senyuman nya. Kedua nya keluar dari ruang periksa menuju lobby utama. Mohini dengan telaten menuntun sang suami yang berjalan pelan pelan.


"Mari Tuan, biar saya bantu." Black pun akhirnya menggantikan Mohini untuk menuntun Charlie masuk kedalam mobil. Setelah didalam mobil dan hendak meninggalkan rumah sakit, Charlie meminta Black untuk mengantarnya ke hotel.