
"Black, tolong antarkan kami ke hotel." Titah Charlie pada Black." Sesuai perintah, Tuan." Black dengan patuh membawa keduanya menuju hotel mewah disekitar kota Delhi.
"Kenapa ke hotel ? Bukan nya kau janji ingin pergi bersama dengan Jendra ?" Tanya Mohini heran." Sstt...itu nanti saja, karena aku sudah sangat merindukan mu." Bisik Charlie ditelinga sang istri.
"Isshh...kau ini ! Kan bisa dikamar kita, tidak perlu ke hotel." Ucap Mohini yang protes pada suaminya itu." Biar saja, sekali kali ganti suasana." Balas Charlie lagi.
"Tuan, kita sudah sampai." Ujar Black saat mereka sudah sampai di depan lobby hotel." Terimakasih Black, ini untuk mu." Charlie memberikan tip untuk supir sekaligus pengawal nya ini.
Kemudian Charlie dan Mohini masuk kedalam dan menghampiri meja resepsionis." Salamat siang, Tuan dan Nyonya Charlie. Ada yang bisa saya bantu ?" Sapa sang resepsionis ramah.
"Tolong siapkan kamar bulan madu untuk kami berdua." Titah Charlie yang selalu menggandeng tangan istrinya sangat mesra." Ini kuncinya, Tuan. Kamar nomer 109." Ujar resepsionis itu sambil menyodorkan kunci card pada Charlie.
"Ayo, honey. Kita nikmati siang yang panas ini." Ajak Charlie pada sang istri. Bahkan saat berada dalam lift, Charlie sempat sempat nya memberi serangan tepat dibibir sang istri." Hhmmppsss...aaahh.." Mohini tak bisa menahan suaranya saat Charlie menghisap lehernya lagi. Suara Mohini yang mendayu dayu membuat hasrat Charlie semakin memuncak, dirinya turut merasakan pangkal pahanya yang menegang.
"Kau membangunkan Charlie junior." Ucap Charlie dengan suara serak serta wajah yang memerah menahan gairahnya. Dengan watados nya Charlie menarik tangan istrinya untuk membelai keperkasaan nya.
"Apa kau merasakan nya, honey ?" Tanya Charlie menggoda istrinya itu." Aku rasa dia semakin besar." Gumam Mohini yang tentu saja hanya ia katakan dalam hatinya.
Ting
Pintu lift pun terbuka saat mencapai lantai dua puluh, tempat kamar mereka berada. Charlie dan Mohini tampak memasuki kamar mereka berdua. Alangkah terkejutnya Mohini saat melihat desain kamar yang disiapkan sangat romantis.
"Kau tau, ini membuatku seperti mengulang malam pertama kita." Ujar Mohini pada sang suami. Charlie terkekeh melihat reaksi istrinya yang begitu menggemaskan.
"Tentu saja, bukankah aku akan berbuka puasa hari ini ?" Ucap Charlie yang tak memberi kesempatan sang istri untuk menjawab nya karena bibirnya langsung dibungkam oleh ciuman memabukan milik Charlie.
Mohini yang awal nya malu malu kini mulai menunjukan ke agresivan nya. Dia mendorong Charlie hingga terduduk disofa dekat ranjang mereka. Tangan nya terampil dalam membuka kancing kemeja sang suami. Puas membuka seluruh kancing kemejanya, Mohini melanjutkan aksinya dengan membuka ikat pinggang beserta resleting celana milik Charlie.
Perlahan dikeluarkan nya tombak jumbo yang sudah bertegangan tinggi, dicengkram nya tombak tersebut sambil digerakan keatas kebawah membuat empunya mendesah tak karuan.
"Aahhgghh...honey...cepat masukan sayang." Racau Charlie yang merasa miliknya seperti disedot saat Mohini memasukan nya kedalam mulutnya.
Tak pakai lama, Mohini langsung melucuti pakaian nya sendiri. Setelah nya ia duduk diatas pangkuan suaminya, menuntun tombak sakti tersebut untuk memasuki sarung nya." Oughh...astaga !" Mohini menjerit saat tombak itu masuk sepenuhnya.
Charlie khawatir mendengar istrinya berteriak." Sakit yah ?" Tanya nya pada sang istri yang memimpin kali ini. Mohini menggelengkan kepalanya cepat," Milik mu bertambah besar dan panjang." Ucap nya tanpa rasa malu pada Charlie.
"Benarkah, apa kau suka ?" Goda Charlie yang membuat wajah istrinya memerah malu." Sangat suka." Jawab nya sambil bergoyang diatas pangkuan Charlie." Aahh...by...hhmmss...oouhhh..." Mohini terus bergoyang sangat cepat hingga akhirnya ia pun lemas karena sudah mencapai puncak.
Mengetahui istrinya kelelahan, Charlie lantas membalik posisi mereka hingga sekarang Charlie berada diatas tubuh istrinya yang berbaring di sofa. Tusukan serta hujaman dengan ritme cepat dan sedikit kasar yang diberikan Charlie membuat Mohini mencengkram kuat seprei ranjang mereka.
"Ooghhh shiitt...aahhss..uughh.." d****** keduanya memenuhi ruangan kamar ini yang sudah dilengkapi peredam suara. Sedang asik asiknya, ponsel Charlie justru berdering." By...dady telpon." Lirih Mohini yang mengambil ponsel suaminya dari atas meja nakas.
"Nanti saja...tinggal sedikit lagi." Ujar Charlie yang tak ingin diganggu siapapun saat ini. Mohini yang hendak mengembalikan nya ke meja nakas justru tak sengaja menekan tombol menerima panggilan.
Sementara disebrang sana dady Pratap menghubungi menantunya karena Jendra terus beratanya kemana momy dan dady nya pergi." Hallo Charlie, kau dimana nak ?" Tanya dady Pratap saat panggilan nya sudah terhubung.
"Charlie ? Hey Charlie ??!" Dady Pratap terus berteriak memanggil nama menantunya itu. Tak terdengar jawaban dari Charlie justru ia mendengar suara rintihan dari dalam telepon.
"Mmhhss...by...ahh..."
"Astaga !!! Ternyata kalian malah berbuka puasa ! Huh !!" Dady Pratap yang mendengar suara laknat putrinya pun menjadi tau bahwa saat ini keduanya tengah memadu cinta tanpa sepengetahuan Jendra.
"Bagaimana sayang ? Apa bisa dihubungi ?" Tanya momy Shamita lada sang suami." Bisa..hanya saja kondisi nya tidak tepat." Jawab Dady Pratap sedikit mengecilkan suaranya." Tidak tepat bagaimana ?" Ucap Momy Shamita yang penasaran maksud perkataan suaminya barusan.
"Mereka sedang buka puasa, sayang." Kata dady Pratap yang membuat momy Shamita mengerutkan keningnya." Mereka sedang bercinta saat ini." Jelas Dady Pratap lagi." Astagaa !! Mereka ini sempat sempatnya." Momy Shamita menggelengkan kepalanya saat diberitahu oleh suaminya.
"Maklum lah Charlie baru saja sembuh." Ujar dady Pratap pada sang istri tercinta." Kau benar, tapi kita harus bilang apa pada Jendra ?" Tanya momy Shamita yang mulai khawatir jika cucu nya bertanya tentang momy dan dady nya lagi.
"Bilang padanya Charlie masih diperiksa dokter." Saran dady Pratap pada sang istri. Momy Shamita menganggukan kepalanya setuju pada suaminya.
Momy Shamita pun kembali ke ruang keluarga menemui Jendra yang asik menonton tayangan kartun." Cucu oma lagi nonton apa, sayang ?" Tanya Momy Shamita penuh perhatian.
"Nonton kartun oma, duduk sini oma." Jendra menepuk bagian kosong disampingnya." Dady kenapa lama sekali ya ?" Tanya Jendra pada omanya. Momy Shamita tampak kebingungan menjawab pertanyaan cucunya itu.
"Dady masih diperiksa dokter, boy." Jawab dady Pratap yang ikut bergabung dengan cucu dan istrinya menikmati acara kartun kesukaan Jendra.
"Periksa nya lama ya, Opa ?" Jendra menatap opanya dengan tatapan imutnya." Iya sayang, bentar lagi selesai kok." Ujar dady Pratap menenangkan cucunya.
"Jendra mau liat Kurama kalau gitu." Ujar Jendra yang berubah pikiran untuk bermain bersama anjingnya." Baiklah, Opa temankan." Dady Pratap pun setuju dan menemani cucunya pergi ke taman belakang.
"Kurama ayo main." Jendra membuka pintu kandang milik Kurama dan Muku. Keduanya berlarian kesana kemari seakan tahu sang pemilik ingin mengajak nya bermain.
"Muku tangkap ini !" Jendra melempar mainan piringan terbang untuk ditangkap Muku si anjing pintar. Muku dan Kurama berlomba menangkap piringan plastik itu dan membawanya kembali pada si pemilik.
"Opa, Jendra mau bawa Kurama keluar boleh ?" Tanya Jendra yang ingin membawa anjing kesayangan nya berjalan jalan disekitar komplek mansion mereka." Nanti sore ya, sekarang cuacanya sangat terik." Tolak dady Pratap dengan halus.
"Yasudah tidak jadi. Jendra main disini saja Opa." Jendra akhirnya bermain bersama kedua anjing peliharaan nya sendiri. Dady Pratap dan sang istri kompak menemani cucu mereka bermain ditaman belakang, bahkan momy Shamita turut mengajak twins ke taman belakang.
"Uhh...cucu cucu nya Opa makin besar." Dady Pratap menggedong baby Ara yang semakin gembul setiap hari. Baby Ara terlihat tersenyum saat digendong Opanya, Ara memang sangat dekat dengan Opa nya sedangkan Jev dekat dengan Kakeknya.
Baby Ara mulai menarik narik bulu bulu kasar yang tumbuh disekitar rahang milik dady Pratap." Aaww...itu sakit Ara sayang." Ucap dady Pratap saat Ara menarik janggut nya secara paksa.
"Hahahaha...kasian suami ku ini, sepertinya Ara tidak suka dengan janggut mu." Kelakar Momy Shamita yang menertawakan ekspresi kesakitan sang suami." Biar saja, kalau dicukur nanti tidak ada sensasi nya lagi." Jawab Dady Pratap yang langsung membuat momy Shamita salah tingkah karena nya.
"Ish apa sih..." Momy Shamita mencebik kesal dan memukul pelan bahu suaminya. Sementara mereka menikmati waktu santai ditaman belakang, lain halnya dengan kedua anak Akash. Mereka menikmati waktu liburan dengan bermain billyard dimansion ini.
Dady Pratap memiliki arena bermain billyard yang terletak dilantai lima mansion nya. Dia sering bertanding billyard dengan Manohar juga Charlie. Akash dan anak anak nya terlihat menikmati permainan tersebut, sedangkan momy mereka justru duduk santai membaca buku novel favoritnya.