
"Hanya sebentar, biarkan aku menuntaskan nya." Dady Pratap memohon pada istrinya. Karena tak mendapat jawaban dari istrinya, ia pun berinisiatif menggendongnya kembali ke kamar." Hey ! Kau ini!" Momy Shamita terkejut saat suaminya menggendong nya ala bridal style. "Yuvi pasti akan bebas, Honey. Percayalah dengan kemampuan suami mu ini." Ujar Charlie sambil menggenggam jemari istrinya, seolah menyalurkan semangat dan keyakinan padanya.
"Aku percaya itu, kau pasti akan berjuang demi putra kita, demi keluarga kita. Aku hanya takut kau terluka kembali, terakhir kau terluka saat menghentikan Tadashi saat itu." Ujar Mohini yang terlihat terisak dipelukan suaminya." Sssstt...jangan menangis, kalau aku terluka kau akan menjadi obat terbaik yang aku punya. Aku akan kembali padamu dan anak anak, aku janji." Charlie meyakinkan Mohini bahwa ia akan kembali dengan selamat ke mansion ini lagi." Jangan risau, Ayah akan bersama Charlie nanti. Kita akan bersama sama mengahadapi mereka." Ujar Manohar yang juga turut meyakinkan Mohini agar lebih tenang dan rileks.
"Manu benar sayang, kau harus kuat untuk menghadapi masalah ini. Kami selalu ada disamping kalian, jangan takut atau khawatir." Rhea sebagai ibu sambung, berusaha membuat Mohini kuat untuk melewati fase kritis ini dengan tegar." Makasih Mami, Ayah. Aku akan kuat menjalani ini untuk anak anak, mereka tak boleh melihat ku sedih seperti ini." Mohini menyeka air matanya.
"Oh ya, dimana Meena ?" Tanya Manohar yang tak melihat keberadaan cucu kesayangan nya." Meena ada di ruang lukis nya." Ucap Charlie," bagaimana perasaan nya tadi pagi ? Apa masih bersedih ?" Tanya Manohar kembali,"tidak, dia sudah kembali ceria karena sebelum sarapan tadi, Yuvi menelpon kami. Dia bilang dirinya baik baik saja, ia menyuruh kami untuk jangan bersedih dan tetap waspada terhadap musuh yang mengincar kami." Ucap Mohini menjelaskan kondisi putrinya saat ini yang sudah lebih baik setelah Yuvi menelpon tadi.
Manohar mengangguk mendengar penjelasan putrinya." Sweetie, aku sangat mengantuk pagi ini." Manohar terus menguap sejak tadi, agak nya pagi ini ia harus berteman dengan rasa kantuk. "Kalau begitu tidurlah, akan ku pijat kepala mu nanti." Ucap Rhea sambil mengelus rahang suaminya." Ayah dan mami naik dulu ya." Manohar dan Rhea pamit ke kamar mereka duluan." Kau juga harus istirahat. Jangan terlalu memikirkan masalah ini, mengerti ?" Ujar Manohar lagi yang sudah bersiap pergi ke kamarnya.
"Baiklah ayah, nanti aku tidur." Jawab nya patuh. Manohar merangkul Rhea sangat mesra menuju ke lift yang akan membawanya menuju kamar di lantai empat. Sampai dikamar, Manohar langsung melepas kemeja dan celana panjang nya. Dirinya memang terbiasa tidur hanya memakai celana boxer saja." Kemarilah, sweetie." Ujar nya sambil menepuk nepuk bagian kosong disamping nya.
Rhea pun ikut berbaring disamping tubuh suaminya. Manohar tampak memperhatikan wajah istrinya yang sangat cantik tapi, fokusnya berubah kala melihat bibir ranum yang membuatnya ingin menyesapnya lagi dan lagi. Tanpa aba aba, Manohar langsung menyerang Rhea dengan rakusnya.
"Mmhhh...mmphss.."Decapan keduanya terdengar amat merdu ditelinga Manohar. Puas bertukar saliva, Manohar baru menyudahi pagutan nya." Maaf ya, aku tak bisa mengendalikan diriku tadi." Ujar Manohar setelah ******* bibir istrinya dengan rakus seperti tadi." Tidak masalah, aku juga menyukai yang seperti barusan kok." Ucap Rhea yang kembali menarik tengkuk suaminya dan meyesap kembali bibir tebal milik nya. Sesekali tangan nya meraba raba dada bidang sang suami yang sangat berotot tersebut. Manohar sangat menikmati apa yang dilakukan istri cantik nya itu.
"Kau harus tanggung jawab, sweetie." Ujar Manohar dengan suara yang serak serta wajahnya yang berubah menjadi merah padam." Bertanggung jawab untuk ?" Rhea pura pura tak mengerti dengan ucapan suaminya. Manohar membawa tangan Rhea ke bawah selimut. Rhea dapat merasakan tongkat sakti milik suaminya sudah on fire dan membuat celana nya menggembung.
Rhea langsung mengeluarkan tongkat sakti itu dari jeruji kain, kemudia mencengkram dan mengurut nya perlahan. Rhea menyingkap selimut tebal yang menutupi tubuh mereka, dirinya tampak asik memainkan senjata itu dengan lidah nya yang menari nari pada ujung nya.
Rhea menelan cairan itu dengan cepat kemudian menjilati tongkat sakti itu seperti sedang memakan ice cream. "Aku ingin, sweetie. Hanya sepuluh menit, boleh ?" Manohar terlihat sangat menginginkan gua milik istrinya yang sangat sempit dan nikmat. Rhea mengangguk dan memposisikan dirinya berbaring memunggungi suaminya. Manohar segera memberi kecupan kecupan kecil di leher Rhea sambil meremat pepaya gantung nya.
Dengan cepat Manohar melepaskan jeruji kain sang istri dan membuang nya asal, Manohar terlihat memasukan jari tengah nya ke dalam gua tersebut. Semakin lama gerakan nya pun semakin cepat," aahh...ahhh..Manu ak-ku aarghhh...."Rhea terlihat menyemburkan sedikit cairan nya saat sampai pada pelepasan pertamanya.
"Kau sudah basah, sayang." Bisik nya tepat ditelinga Rhea. Manohar memposisikan tongkat nya tepat di mulut gua, perlahan ia memasukan seluruh bagian tongkat milik nya hingga terbenam sempurna di dalam gua kenikmatan surgawi.
Bles
Tongkat sakti itu pun sukses tertanam sempurna didalam gua yang basah dan sempit itu. Manohar mulai menggerakan pinggul nya maju mundur dengan perlahan."aahhss....Manuu oouhh..." Racauan tak jelas mulai terdengar saat Manohar menambah kecepatan nya. Merasa akan mencapai puncak, Manohar semakin memperdalam hujaman hujaman nya." Oghhh god...sedikit lagi..." Manohar terus memacu tubuh nya dengan kecepatan tinggi.
"Aahhh...aku hampir sampaiii....aarrghh..." Keduanya mengerang bersamaan saat tiba dipuncak kenikmatan. Masih diposisi yang sama, Manohar memeluk Rhea sangat erat.
"Terimakasih sayangku." Tak lupa ia mengucapkan terimakasih serta mencium bahu istrinya dengan sangat mesra. Keduanya pun larut dalam mimpi indahnya masing masing. Sementara itu kondisi yang tak kalah berbeda juga terjadi di kamar utama. Terlihat sepasang suami istri sedang berbagi peluh bersama diatas ranjang ukuran king size.
Siapa lagi orang nya kalau bukan Dady Pratap dan Momy Shamita. Shamita bahkan sangat menikmati hujaman hujaman keras yang diberikan oleh suaminya. Berkali kali ia mencapai puncak akibat goyangan super milik Dady Pratap. Pagi ini Dady Pratap, Manohar bahkan Charlie meminta jatah double sebagai penyemangat mereka sebelum bertempur nanti.