MERSIA

MERSIA
Marjorie



“Husband, sekarang sudah jam berapa dan kau masih merokok di situ.” Tegur Carole yang tidak membuat River bergeming dari tempatnya berdiri


di balkon president suite. Pilihan tertinggi hunian sementara di Carro Hotel, yang harusnya


menjadi saksi bisu malam pertama River dan Carole sebagai suami dan istri. Jangan tanyakan kemana gairah itu pergi, beberapa jam yang lalu gadis yang dicintai selama bertahun-tahun menyatakan perasaan. Walau bisa dikatakan gairah River terhadap Carole tak sebesar dulu lagi, mungkin ini dikarenakan rasa cintanya juga telah memudar sejak pertengkaran mereka beberapa bulan yang lalu. Dan malam ini,


semuanya semakin berantakan di dalam hati River.


“Jangan tunggu aku, Carole. Tidurlah terlebih dahulu, kau pasti sangat lelah.” River menyahut tetap dengan posisi memunggungi pintu tempat Carole berdiri.


River mendengar desahan kasar Carole dan suara angin yang diakibatkan oleh tubuh istrinya yang berbalik meninggalkannya.


Sial ! Kenapa harus sekarang, ia mendengar perkataan cinta dari Hiver setelah cincin emas melingkar di jemari kirinya. River sangat yakin


jika Hiver bersungguh-sungguh dengan perkataannya. Putri Mersia itu bukan gadis


yang sesumbar mengucapkan kata cinta dengan suara yang bergetar dengan isakan tangis yang tertahan.


Ya, Princess Marjorie Hiver of Mersia mencintainya, sekelebat perasaan bangga ketika menggumamkan kalimat itu di dalam hati, di saat yang bersamaan menyakiti dirinya teramat dalam.


Oh Hiver, apa yang kau lakukan kepadaku? Apa yang harus aku lakukan sekarang? Di dalam kamar tidurku ada wanita yang menjadi penghalang untuk membalas perasaanmu. Ada keluargaku yang tidak bisa ditundukkan, papa dan


mama kemudian semua anggota keluarga yang memegang prinsip monogami dan menikah hanya sekali seumur hidup.


Tidak! kakek dan nenek buyutnya menikah lebih dari sekali.


River mengesap dalam-dalam rokoknya, sungguh sekarang ia tidak peduli lagi jika nikotin itu tidak bisa membuatnya hidup lebih dari usia 40 tahun.


Sial ! itu berarti 10 tahun lagi! Hiver akan hidup seperti apa tanpa dirinya ketika itu terjadi? Dadanya kembali bergemuruh hebat, walau


tidak seperti beberapa jam yang lalu. Di mana River hampir saja terkena serangan jantung saat mendengar bisikan Hiver tepat di telinganya.


Waktu seakan membeku saat itu juga, hening hanya napas menderu keluar dari hidung River. Dan Carole datang memegang tangannya, menariknya dengan paksa kembali ke Bumi yang penuh dengan gelimang dosa.


River menjatuhkan rokoknya ke lantai dan spontan menginjaknya hingga padam tak menyisakan sedikitpun asap.


Walau hidup setelah hari ini akan beratus-ratus kali lipat beratnya, River akan bertahan dan berupaya untuk hidup lebih lama. Dan ia akan mencari jalan untuk kembali ke sisi wanita yang mencintainya dan juga dicintainya dengan dalam.


Sial! Rutuknya lagi.


Tangannya menggenggam erat tembok balkon, mata birunya menerawang pada kegelapan yang tersamar.


“Baby Hiver, apakah kau sudah tidur? Kau pasti tidak bisa tidur setelah mengucapkan kata itu. Kau pasti terluka, melihatku bersama dengan Carole. Tuhan, Hiver maafkan aku. Aku –lah yang bersalah di sini, aku –lah yang meninggalkanmu. Hiv, aku tidak bisa tidur.” Lirih River meraih ponselnya.


Pemilik surai coklat terang itu menggelengkan kepala dengan kuat, mengingat jika Hiver tidak memiliki ponsel. River lelah berhadapan dengan


asisten sang putri yang sangat hapal dengan dirinya.


Kami hanya bisa menitipkan pesan penting kepada Yang Mulia, jika berbicara langsung untuk sementara kesempatan itu tidak ada. Yang Mulia sangat sibuk dengan urusan kerajaan, beliau tidak bisa diganggu.


River mendengus melapalkan dalam kepala perkataan asisten Hiver.


Tuhan, bagaimana mengurai keadaan ini ?


Dengan hati bimbang, River menekan nomor telepon pria yang mengetahui segala tentang Hiver.


Agak lama panggilan suara tersambung, dan bunyi musik yang sangat bising ketika mendengar teriakan di ujung telepon.


“Onyx.” Ucapnya pelan agar tidak terdengar oleh Carole.


Sekilas ia melirik kamar tidur yang menyisakan lampu kecil yang menyala dengan redup.


Ya, ada apa ? Teriak Onyx kencang yang bisa menulikan indera River. Pun pengantin baru itu langsung memilih untuk memutuskan panggilan suara, sebelum Carole bangun walau sebenarnya ia tidak peduli jika itu terjadi.


Ponselnya bergetar menandakan ada pesan yang masuk, buru-buru River mengusap layar datar di genggaman tangan.


Hai Kak River, maaf kami sedang berpesta. Aku, Cyrus dan Hiver. Selamat berbulan madu dari kami.


River meremas kuat-kuat ponselnya dengan rahang mengeras.


Rupanya kau berpesta, Princess Hiver. Merayakan pernikahanku.


River geram kembali menatap ke depan. Andai ia bisa berpindah tempat secepat kilat, tentu saja River sudah berada di tempat Hiver berada. Membalas pelukan singkat Hiver dengan pelukan jauh erat yang tidak akan pernah ia lepaskan


seumur hidup. Hiver adalah miliknya, sungguh membahagiakan jika hal itu menjadi kenyataan.


Sayang, Bumi berputar ke depan tidak berjalan mundur. Tidak ada kekuatan yang bisa merubah statusnya sekarang, akankah takdir berbaik hati


mempertemukan dirinya dengan Hiver lagi?


Pria macam apa dirimu, River? Istrimu sedang menunggu di dalam sementara kau sekarang sedang mengharapkan sebuah bulan purnama yang langka dan juga sangat indah.


“Aku merindukanmu, Baby Hiver.” ucap River lirih dengan mata berkabut.



Secercah sinar matahari membangunkan Hiver.


“Eh!” pekiknya tertahan menutup bibirnya, manik hijaunya melebar menatap sosok pria yang ia temani tidur. Sontak matanya mengembara di


sekeliling ruangan itu, bukan kamar yang selalu ditempatinya menginap ketika mengunjungi mansion tersebut, tebaknya jika ini adalah kamar tidur Orion.


Ingatannya kembali ke kejadian semalam. Manik hijau itu semakin melebar mengingat ia sempat meminjam bahu, Orion. Sungguh lancang, tapi


perasaan kantuk menyerang sedemikian hebatnya. Orion seakan tahu jika ia tidak bisa


tidur semalam dengan hati patah, memberinya dosis obat yang pas untuk lukanya.


Hei Hiver, pria yang menemanimu tidur berotak genius, tentu saja ia bisa mengetahui apa yang kau butuhkan. Orion genius dan pula sangat


cantik sekaligus tampan. Lihat, surai emas pucatnya sehalus sutra, beberapa helai jatuh pipi mulusnya.


Tangan Hiver terulur hendak merapikan surai yang terjatuh.


Hap ! Tangan Hiver dengan cepat di tangkap oleh Orion.


Sepasang manik biru gelap terbuka, alisnya berkerut.


“Apa yang ingin kau lakukan, Marjorie?” biasanya suara Orion lembut dan ringan, pagi itu parau dan dalam. Terdengar sangat seksi.


Gelalapan Hiver mencoba menarik tangannya, justru cengkeraman Orion semakin mengeras.


“Aku hanya ingin menaikkan rambutmu yang jatuh di pipi.” Hiver mengungkap alasan yang kini ia sesali.


Orion tidak menjawab, malah menatap Hiver dengan lekat. Tak lama kemudian genggaman tangan pria itu mengendur namun tidak juga lepas.


“Lakukan saja.” Orion mengulas sebuah senyuman tipis sebelum kembali memejamkan mata.


Dada Hiver memanas mendengar permintaan Orion. Sontak tangannya bergetar dengan samar, manik biru itu terbuka.


“Apa yang kau tunggu, Marjorie?” perkataan Orion seolah perintah yang harus dipatuhi bukan lagi berdasarkan atas keinginan hati Hiver.


“Engg..” igau Hiver, hatinya meragu.


Manik biru itu mengerjap, pemiliknya mendengus geli.


“Padahal cuma sisa diselipin saja.” Orion menuntun jemari tangan Hiver, membiarkan putri cantik itu melakukan keinginan hatinya dengan


separuh terpaksa.


“Sudah?” Orion memamerkan gigi taringnya yang lucu. Bukan hanya sesosok malaikat namun di sisi lain pria tampan itu terlihat seperti vampir yang sangat menggemaskan.


Hiver mengangguk dan menggigit bibirnya. Wajahnya memerah, dan tangannya masih berada dalam genggaman tangan Orion.


“Sekarang, bolehkah aku meminjam tanganmu, Marjorie?”


Tubuh Hiver kaku mendengar permintaan Orion.


Pria bersurai emas pucat itu mengikis jarak, bergerak mendekat ke arah Hiver.


“Hanya seperti ini, Marjorie.” Orion selain genius juga tidak suka mendengarkan orang lain. Tetap acuh dan membawa jemari tangan Hiver yang di genggam ke dalam dada. Memeluk tangan Hiver.


Waktu melambat bagi Hiver, matanya terus menatap pria bersurai emas menikmati tangan yang di rengkuh dengan posesif.


Ini sungguh tidak baik untuk jantung !


Belum pula Hiver menanyakan tentang keberadaannya di kamar Orion, sekarang tangannya sedang di rengkuh pria itu.


“Terima kasih, Marjorie.” Ucap lembut Orion. Akhirnya tangannya terlepas dan kembali dengan keadaan ditumbuhi ribuan bunga di musim semi.


Hiver melonjak duduk dari posisi baringnya. Perlahan semua kewarasannya kembali, pun otaknya bekerja maksimal. Ia bukan gadis sembarangan, melainkan seorang putri tertua dari Kerajaan Mersia. Hanya dalam semalam semua


berubah, image -nya sebagai wanita terhormat yang tidak pernah menghabiskan malam di tempat tidur dengan seorang pria dewasa selain saudara laki-lakinya. Kini ia langgar.


“Orion, kenapa aku tidur bersamamu?” tanyanya kepada pria yang beringsut menegakkan tubuhnya.


Orion mengulum senyuman lalu mengembuskan napas panjang.


“Karena aku mau. Oh yah, bagaimana dengan kakimu? Apa kau ingin ke toilet? Kau ingin aku bantu, Marjorie?” Orion menyingkap selimut yang


membungkus tubuh Hiver. Dengan seksama pria itu memerhatikan kaki yang terbalut kain kasa yang sangat rapi.


Manik biru gelap itu kembali menatap Hiver, menanti jawaban.


“Aku ingin ke toilet.” Hiver mendadak amnesia, melupakan pertanyaannya. Kembali hati dan pikirannya terfokus pada dua jemari kokoh


membelai lembut telapak kakinya.


“Nyeri?” wajah cantik itu menanti jawab Hiver.


“Sedikit.”


Orion menggangguk lalu bergerak turun dari tempat tidur. Tangannya meraih kedua tungkai Hiver, tangan satunya memeluk punggung sang putri. Mengerti perbuatan Orion, kedua tangan Hiver mengalung di leher pria cantik itu. Bobot


Hiver seolah tak berarti bagi Orion, dengan gampangnya ia berpindah dari kamar tidur ke kamar mandi.


“Silahkan gunakan sesukamu, Marjorie. Mandilah, nanti setelah ini aku akan mengganti perbanmu. Mungkin lukamu perih karena sabun tapi kau harus bertahan.” Ucap Orion berdiri berhadapan dengan Hiver di tengah kamar mandi yang lumayan luas dan sangat nyaman untuk berendam sembari melihat pemandangan indah ke arah danau dari balik kaca.


“Aku tidak punya baju ganti.” Hiver sadar jika Orion


memerhatikan pakaiannya.


Tangan kanan Orion naik ke bahu Hiver, memegang dengan lembut “Aku siapkan baju


ganti di atas tempat tidur. Sepertinya kau bisa mengenakan pakaianku.” Ucapnya tersenyum


manis sebelum berlalu keluar. Hiver melongo melihat kepergian Orion. Dari puluhan ribu kekakuan dan jarak di antara mereka sebelum kejadian semalam, kini mencair layaknya es di Kutub Utara yang meleleh karena climate change.



“Marjorie, aku hampir lupa jika Onyx mengabarkan lewat pesan jika dia akan terlambat menjemputmu. Dia dan Cyrus berpesta hingga dini hari.” Ujar Orion sambil kembali membalut kaki Hiver dengan kain kasa yang sebelumnya luka-luka itu dibersihkannya dengan cairan


anti biotik.


Hiver mengangguk seraya meneruskan sarapannya di atas tempat tidur. Pelayan Orion membawakan senampan menu sarapan dan meja kecil yang membuat dirinya sangat dimanjakan di mansion tersebut. Bahkan di Palace, Hiver tidak pernah diperlakukan seperti itu. Sungguh berbeda, perasaan yang menyelimuti hati.


“Tidak masalah, aku bisa menunggu.” Orion menaikkan kepala dan mengarahkan pandangan kepada Hiver. Seutas senyuman tersungging di


bibirnya.


“Aku ingin mengajakmu menaiki kapal, tapi sayang kakimu sedang luka.” Sekarang Orion telah menyelesaikan pekerjaannya, pun juga sudah


lebih segar karena menyempatkan untuk membersihkan tubuh ketika Hiver terlalu


asyik berendam di bathup.


“Bawa aku.” Pinta Hiver semakin menipiskan kekakuan di antara mereka.


“Baiklah, aku akan menggendongmu hingga ke dermaga. Apakah itu tidak masalah?” tanya Orion sopan.


Hiver sejenak berpikir, digendong untuk ketiga kalinya?


“Maafkan aku, tapi aku sangat ingin melihat danau ini di setiap sudutnya.”


Hiver bisa melihat senyuman para pelayan Orion ketika pria bersurai emas pucat itu membopongnya dari lantai dua menuju dermaga kayu yang letaknya sangat berjauhan dari bangunan mansion. Sungguh ia tidak berdaya, tapi


tawaran Orion sangat menggiurkan. Kapan lagi ia akan mendapatkan tawaran dari pria-yang-dulunya-aneh-sekarang-berubah-sangat-perhatian itu, jika bukan sekarang.


Dengan pelan Orion menurunkan Hiver pada kursi empuk yang terletak tidak jauh dari kemudi kapal mewahnya itu. Hiver melihat 2 pelayan yang sigap melepaskan tali pengikat kapal sekaligus menaikkan jangkar. Setelah kapal menyala, kedua pria itu turun dan meninggalkan Hiver berdua dengan majikan mereka.


Keduanya memakai jenis pakaian yang sama hanya warnanya saja yang berbeda, Hiver mengenakan hoodie abu sepasang dengan celana sportnya sementara Orion mengenakan pakaian berwarna hitam.


“Aku akan menjalankan kapal dengan pelan.” Orion berbalik dan mengukir sebuah senyuman yang memperlihatkan sepasang gigi taringnya.


Kemana saja, tuan vampir. Selama kau tidak menggigitku di tengah danau. Sahut Hiver dalam hati yang kemudian menikmati semilir angin


membelai wajahnya dengan lembut dan matanya dimanjakan pemandangan indah Danau


Lac d’Aiguebelette, Perancis Selatan.


Selama sejam lebih Orion membawa Hiver berkeliling danau dengan kapal yang melaju di atas air dengan sangat tenang. Sama persis si pengemudi kapal itu, pembawaannya tidak beriak banyak, pun kini Hiver lebih banyak mendengarkan kalimat yang terucap dari bibir Orion.


Di tengah danau, Orion mematikan mesin kapal seusai menurunkan jangkar. Pria yang membiarkan surai emas pucatnya di gerai bergerak turun ke bawah, ke bagian dek dan kembali membawa serta dua kaleng minuman bersoda.


“Aku suka melakukan ini, Marjorie.” Ucap Orion menyodorkan satu kaleng soda yang sudah dibukanya terlebih dahulu. Pria berwajah cantik itu berbagi tempat duduk dengan Hiver.


Segala pertanyaan muncul di kepala Hiver, namun ia enggan untuk memulai. Hiver tidak mau salah dalam berkata kepada Orion, takutnya mereka akan kembali saling menjauh. Saling memusuhi.


Keduanya kemudian memilih terdiam menikmati soda dan goyangan kapal oleh riak danau.


Seketika ingatan Hiver kembali pada saat ia mengungkapkan perasaannya kepada River. Pria itu tidak ada kabar, dan mungkin sedang menikmati tubuh istrinya tanpa rasa bosan. Apa jadinya jika River tahu kalau Hiver tidur bersama dengan saudara kembarnya.


Ah, itu hanya kekhawatirannya saja. Buktinya River sudah menjauh, tidak mempedulikan perjuangan Hiver dalam mengungkapkan perasaan.


“Orion.” Gumam Hiver menoleh ke arah pria di sebelahnya yang berwangi maskulin earthy.


Manik biru gelap itu menatapnya dalam.


“Marjorie.” Hiver sangat menyukai ketika Orion menyahut dan menyebut namanya. Suara pria itu lembut, halus dan ringan melantunkan namanya dengan indah.


“River mengatakan jika kita bisa berteman.” Hiver menyimpulkan kedekatan mereka sudah jauh lebih baik daripada sebelumnya.


Orion menggeleng dengan senyuman simpul di bibirnya, tangan kanannya terulur menyelipkan surai hitam Hiver ke belakang telinga lalu menangkup pipi merah merona sang putri.


“Tidak, aku tidak ingin berteman denganmu, Marjorie.” Ujar Orion lembut lalu menggerakkan badannya sedikit dan mengecup pipi kanan Hiver.


###





alo kesayangan💕,


jadwal Up novelku sekarang pindah yah


sukanya pas pagi kalian sudah bisa baca..


i hope so.


biar lama muncul notif tanda merah "UP" nya..


Jogja sudah hujan..


semoga saja benar, musim hujan kembali menyapa kita..


love,


D😘