
"Ya!" Hawaii terpekik sambil ikut berjongkok di hadapan Onyx, ia memegang jemari tangan pewaris tahta itu dengan kuat-kuat. Gadis belia bersurai ikal tampak sesunggukkan. "Ya, aku mau menjadi wanitamu," ucap Hawaii di sela tangis bahagianya.
Seorang Alistaire Onyx tidak bisa menahan rasa haru dan bahagia, manik coklatnya berkaca-kaca. Ia meggigit bibirnya yang mengulas senyuman merespon jawaban Hawaii Capucine, wanita pilihannya. "Terima kasih, Cintaku," lirih Onyx menunduk sambil menjatuhkan air mata yang ditahannya.
Hawaii melihat Onyx menangis membuatnya semakin percaya jika pria di depannya adalah pria yang sangat mencintainya, tak ada keraguan sedikit pun tentang itu. "Aku yang berterima kasih, memilihku," sambungnya.
Perkataan Hawaii membuat Onyx mengangkat kepala, ia berdeham pendek. Air matanya telah kering di pipi hanya sedikit tersisa menggenang di sudut mata. Onyx memandang lekat Hawaii yang sedang berusaha mengusap wajahnya namun mengabaikan suria ikalnya yang acak-acakan akibat angin.
Terlebih dahulu Onyx mengecup jemari tangan Hawaii yang gemetar. Lambat-lambat kemudian ia memasangkan cincin berlian peninggalan nenek buyutnya. Sebuah tradisi di Mersia, wanita yang menjadi pilihan putra mahkota akan mengenakan cincin tunangan dari permaisuri sebelumnya. Cincin bermodel victorian, dari era 1890.
"Aku tidak tahu harus mengatakan sesuatu yang romantis ketika melakukan ini," jujur Onyx usai cincin vintage itu terpasang. Ia menarik napas lega sementara Hawaii terlihat masih di antara tidak percaya dan tidak, pun ia takjub menatap cincinnya.
"Ini sangat indah," tutur Hawaii kemudian menangkup pipi Onyx lalu mengecup bibir pria itu dalam-dalam dan penuh cinta. Lagi, ia menitikkan air mata. "Tidak perlu berkata-kata, Sayang. Apa yang kau berikan ini melebihi dari semua impianku. Aku mendapatkan seorang pangeran,"
Onyx tertawa, ia tahu jika tunangannya bercanda. "Calon raja, Cintaku. Tambahkan itu,"
Hawaii ikut tertawa. "Iya, My Future King," katanya diikuti dentuman keras di dalam dada. Jiwa mudanya spontan diketuk masa depan yang abu-abu. "Cintai aku selamanya," tuntutnya.
"Segenap jiwa," sambung Onyx sambil membimbing Hawaii untuk berdiri bersama. Mereka kemudian berpelukan erat.
Keduanya terdiam menikmati aroma parfum masing-masing yang bercampur dengan udara laut. "My Love," pelan suara Onyx membuai telinga Hawaii.
"Ya," manik hazel melebar, memandang penuh cinta pria yang akan menjadi teman hidupnya.
Onyx tersenyum lebar menampakkan gigi taringnya yang manis, menurut Hawaii. Ya, Hawaii menyukai segala dari Tuan Alistairenya. Bahkan sifat Onyx yang tidak peka, tidak bisa menampakkan isi kepala dan perasaan kepada orang sekitar.
"Sepertinya aku bisa menyanyikan lagu yang romantis,"
"Tuhan, aku mau mendengarnya," seru Hawaii. Ia menarik tubuhnya ke belakang. Hawaii semringah menunggu, wajah cantiknya berbinar. Onyx mengambil ancang-ancang, tatapannya lurus ke satu titik, wanitanya. Ia pun mengeluarkan suara yang selama ini disimpannya sendiri.
Love me tender, love me sweet
Never let me go
You have made my life complete
And I love you so
Love me tender, love me true
All my dreams fulfilled
For my darling I love you
And I always will....
[Love Me Tender - Elvis Presley]
...
New York di pagi hari, Serenade pasrah ditarik paksa oleh Kaluna untuk jogging di Central Park. Berbagai alasan dikeluarkan Serenade tidak mempan di telinga Kaluna. Pengawal pribadi sekaligus adik sepupunya itu memiliki hati yang teguh walau usianya masih tergolong sangat muda.
"Suasana seperti ini akan kau rindukan, Lady Bernadotte," celoteh Kaluna sambil berlari-lari kecil di samping Serenade.
"Iya, benar katamu," timpal Serenade kemudian mengarahkan pandangan ke sekeliling. Suasana dan orang-orang morning person, manusia yang terbiasa bangun pagi dan berolahraga sama seperti ia dan Kaluna lakukan.
"Seorang istri seorang pewaris tahta harus memiliki tubuh yang indah, Kak. Dari pada pihak Royal Palace memaksamu untuk diet ketat, lebih baik membiasakan diri untuk berolahraga. Prince Philip memiliki tubuh yang sangat bagus, kekar," tambah Kaluna penuh semangat diakhiri dengan menelan salivanya.
Serenade melihat gerak-gerik Kaluna tersebut lalu meninju lengan adik sepupunya. "Dasar!"
Kaluna terbahak tanpa tersengal karena tempo larinya lebih cepat dari sebelumnya sementara Serenade sudah mulai bersimbah peluh dengan wajahnya memerah. "Tunangan Anda sangat mempesona, My Lady," goda si gadis muda bersurai hitam lalu berlari kencang.
"HEI!!" Serenade mengejar Kaluna. Sebuah usaha yang sia-sia dan jantungnya sedikit lagi meledak. Serenade menyerah setelah mengerahkan segala tenaganya, ia berhenti. Serenade yang mengikat surai keemasannya menunduk memegang kedua lututnya yang goyah dengan napas satu-satu.
"Dasar," umpatnya menengadah ke depan, sosok Kaluna menghilang. Entah kemana perginya wanita muda itu meninggalkan Serenade yang telah mencapai Bow Bridge Central Park, spot favoritnya. Dari semua musim Serenade pernah lewati di kota New York dan musim gugur adalah kesukaannya. Sama seperti sekarang, dedaunan telah menguning sebagian ada yang merah warnanya, sangat indah.
Serenade memutuskan untuk berjalan menuju jembatan sambil menurunkan pacu jantungnya. Ia berharap Kaluna tidak meninggalkannya sendirian di Central Park, walau Serenade hapal jalan pulang ke apartemen.
Serenade bersandar pada badan jembatan yang kokoh. Ia melayangkan pandangan ke arah danau di berada di tengah Central Park. Sepagi itu, sebanyak tiga perahu telah terisi penumpang dan mereka mendayung dalam gerakan slow motion.
Serenade mendesah berat, seketika ia merasakan iri kepada pasangan yang dimabuk asmara tersebut. Suara-suara tawa mereka nyaring terdengar hingga ke tempatnya berdiri. Serenade menoleh, ia memutuskan untuk berhenti memandang ke danau. Kini manik birunya terpaku pada pemandangan yang sangat indah.
Matanya memicing, degup jantungnya kembali meningkat. Ia beranjak dengan langkah kaki yang hati-hati.
"Pria itu," batinnya berteriak. Perasaan bahagia membuncah di hati Serenade setelah ia sangat yakin jika pria yang mengenakan pakaian berbeda dengan orang di seputar Central Park adalah pria yang sangat ia rindukan.
Ya, pria mengenakan suit berwarna coklat dengan kemeja biru berjalan dengan penuh percaya diri adalah Prince Philip Bernadotte, pewaris Kerajaan Swedia.
"Hai," sapa Philip sambil mengulurkan botol air mineral.
"Hai," Serenade membalas dengan kikuk. Ia bertingkah seperti baru mengenal pria tampan bertubuh tinggi besar itu. Serenade terpesona dan jatuh cinta.
"Kau pasti haus, My Lady," tutur Philip lembut sekaligus meminta Serenade membasahi kerongkongannya yang kering.
"Baiklah," Serenade membalikkan badan ke samping kemudian ia menghabiskan separuh isi botol. Setelah itu ia kembali menatap lurus Philip. Hatinya bersorak bahagia bahkan tak kalah bahagia dengan para pasangan se-antero Central Park.
"Kenapa?.. Kenapa Yang Mulia ke New York?" tanya Serenade. Ia ingin memeluk Philip namun terpaksa mengurungkan niatnya. Mereka berada di ruang umum.
Philip menyematkan senyuman yang teramat indah, Serenade bisa saja pingsan dengan kejutan pagi hari itu.
"Rindu, aku sangat merindukanmu, My Lady," Philip melangkah sekaligus menarik tubuh Serenade ke dalam pelukannya.
"Aku juga, Yang Mulia," suara Serenade terdengar serak dan teredam dalam dekapan hangat. "Aku bau, tolong jangan cium kepalaku," larangnya ketika Philip memberikannya kecupan di puncak kepala.
Philip terkekeh, ia mendengar perkataan Serenade. Pelukan singkat mereka terurai namun tangan Philip menggenggam jemari tunangannya.
"Baiklah, kita berjalan ke mobil atau kau masih melanjutkan olahragamu yang tadi?" kata Philip sembari melirik Serenade.
"Yang Mulia melihat kejadian memalukan itu?"
"Tentu saja," Philip tertawa lalu merangkul bahu tunangannya. "Semua berawal dari nol bahkan dalam berlari,"
"Aku jago berenang dan menyelam," tukas Serenade, ia memberenggut.
"Hah?" mata Serenade melebar.
"Tidak aku bercanda," Philip tertawa.
Serenade mendengus pelan, alisnya kemudian bertaut. "Apa benar Yang Mulia hanya karena persoalan rindu hingga meninggalkan banyak pekerjaan di Swedia?"
"Rindu adalah perkara besar, My Lady. Hmm.. Sebenarnya ada hal lain," raut Philip dalam sekilas satu kalimat berubah dari mode jenaka lalu serius.
"Hal lain? Aku mengingat jadwal pekerjaanmu sebulan ke depan, Yang Mulia. New York tidak termasuk ke dalam agenda yang aku baca,"
Philip mengarahkan langkah mereka ke arah kursi taman.
"Di Swedia beredar rumor besar," Ucap Philip. Perkataannya yang singkat membuat Serenade kehilangan kesabaran.
"Rumor apa?" tuntutnya, sorot mata birunya menajam.
Philip menghela napas. "Rumor yang mengatakan bahwa aku memiliki seorang anak di luar nikah,"
Tubuh Serenade mundur ke belakang, menegang. "Yang Mulia," suaranya melirih.
Pewaris tahta itu menarik jemari tangan Serenade dan mengecupnya. Ia menatap dalam-dalam wanita cantik tanpa riasan wajah. "Bagaimana jika aku memiliki seorang anak, My Lady? Apakah kau masih bisa menerimaku? Masih mau melanjutkan rencana pernikahan kita?"
Serenade terhenyak, mata birunya memerah perih. Ia tidak memiliki jawaban, benar-benar tidak ada jawaban atas semua pertanyaan Prince Philip Bernadotte, tunangannya.
...
"Bagaimana dengan hidangan makan malam tadi?" tanya Onyx setelah ia dan Hawaii berjalan menuju parkiran mobil. Mereka baru saja bersantap makan malam di sebuah restoran kecil di pinggir kota. Jalanannya kecil dan menanjak untuk mencapai parkiran mereka harus berjalan kaki sejauh 200 meter.
"Enak! Sangat enak!" seru Hawaii riang. Ia menggamit lengan Onyx dengan erat.
"Kita butuh suasana yang lain dari biasanya, bukan? Aku takut Palace membuatmu bosan,"
"Sama sekali tidak, aku menyukainya. Aku sedang beradaptasi dengan lingkungan Palace yang akan menjadi tempat tinggalku seterusnya. Aku tidak boleh bosan," ucap Hawaii beralasan sesuai isi hatinya. Ia mencintai Onyx dan Mersia.
Onyx tersenyum, ia mengakui semangat Hawaii tidak pernah surut, malah semakin antusias dengna segala macam pekerjaan yang perlahan diberikan kepadanya. Dan tak lupa Hawaii menjalani kelas kepribadian di Palace. Wanita muda itu benar-benar dipersiapkan untuk menjadi pendamping Onyx.
"Kami, Marc, aku, Lou dan Cyrus. Suka melakukan hal seperti ini. Raja dan Ratu mengajarkan kami sejak dini untuk belajar banyak hal dari luar Palace. Menganalisa kehidupan di sekitar dengan berbaur," terang Onyx dengan lemah lembut menceritakan masa lalunya.
"Kita akan meneruskannya," polos Hawaii.
Alis Onyx terangkat. "Hmm?"
Hawaii menunduk malu, ia tahu jika Onyx menangkap maksud dari perkataannya. Ia beruntung kali ini, bunyi telepon dari dalam handbag-nya membuat Hawaii lolos.
"Boleh aku terima ini? Mama menelepon," Hawaii memperlihatkan nama penelepon ke Onyx. Ia tidak memiliki banyak teman yang tahu nomer teleponnya, untuk sang mama sengaja Hawaii mengatur nada dering yang rendah ketika berada di luar Palace.
"Silahkan," sopan Onyx mempersilahkan Hawaii. Ia membiarkan kekasihnya menepi, memberikan jarak di antara mereka.
"Halo, Mamo. Kami sedang di luar, baru saja bersantap malam bersama," cerocos Hawaii bahagia bercerita.
Ada jeda diam di seberang panggilan. Hawaii memerhatikan layar ponselnya, panggilan masih tersambung. "Mamo? Halo?"
Onyx mendekat dan menyentuh pundak Hawaii. "Ada apa?"
Hawaii menoleh. "Tidak ada suara," jawabnya.
"Coba lagi," saran Onyx.
Dada Hawaii berdebar kencang, tidak biasanya Jeanne menelepon tidak berteriak riang memanggilnya.
"Halo.. Mamo," pangggil Hawaii lirih. "Mamo, apakah di sana baik-baik saja?"
Tak lama kemudian terdengar helaan napas berat di seberang. Spontan bulu di tangan Hawaii meremang, jantungnya berdetak sangat perih.
"Halo, Anakku Sayang. Hawaii Capucine, anakku satu-satunya. Ini dengan papamu. Ya, aku sekarang di Perancis, di danau yang indah ini. Aku tahu semuanya, Sayang. Itu kenapa Papa ke sini, membujuk Jeanne. Kau tidak melupakan Papamu, bukan?"
Ponsel di tangan Hawaii jatuh ke bawah. Benda buatan Amerika itu tidak tahan akan benturan, layarnya pecah dan mesinnya terbagi menjadi beberapa bagian.
"Hawaii, ada apa?" Onyx menangkap tubuh Hawaii yang hampir ikut jatuh ke jalanan.
Hawaii menangis ketakutan, suranya tidak besar namun terdengar sangat pilu. Onyx harus memapah kekasihnya hingga mencapai mobil mereka. "Ada apa, Sayang?" tanya Onyx kembali setelah mendudukkan Hawaii di kursi mobil.
"Papa di danau.. Dia pasti sudah melukai Mamo... Aku harus kembali ke Perancis, Yang Mulia,"
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Alo Kesayangan🖤,
Kita jumpa lagi setelah berbulan-bulan.. Aku tidak lupa dengan menulis hanya tidak punya waktu untuk itu. Sungguh 🙏🏻
Maaf yah, Ladies.
Dan aku tidak pindah aplikasi, kalau itu aku lakukan pasti mengabari kalian.
Aku berniat untuk memisah cerita Mersia.. Cerita Hiver dan Onyx akan terpisah. Begitupun dengan novel lainnya.
Aku tidak mau berjanji akan menulis tiap hari namun tidak juga 2 bulan sekali 😅.
Selembar sunset dari Pulau Dewata.
Love,
D😘