
Orion menepuk tempat di sebelahnya, Hiver semakin gusar dan tak berani memandang lama.
"Marjorie." panggil pria bersurai emas pucat kepada Hiver yang telah berganti pakaian mengenakan piyama berbahan satin.
Hiver masih mematung. Orion bergegas turun dari tempat tidur dan menarik tangan Hiver untuk berbaring bersamanya.
Tempat tidur milik sang putri berukuran besar, hingga bersebelahan dengan Orion terdapat jarak se badan orang dewasa di antara mereka.
"Bukankah kita sudah tidur bersama, Marjorie?" Orion menoleh kepada Hiver yang menatap ke atas, kedua tangannya terlipat di atas dada.
"Iya, tapi saat itu aku tidak sadar hingga pagi datang." sahut Hiver pelan dan cepat. Tangannya menekan jantung yang sedang bergemuruh hebat.
Kemudian sunyi menghampiri keduanya, terdiam namun kantuk juga tak kunjung hadir. Andaikata Hiver dan Orion pasangan pengantin baru pada umumnya yang baru saja menikah tadi pagi, pastinya telah terjadi sesuatu yang panas. Sayang sekali, keduanya bukan itu. Bahkan bisa dikatakan mereka orang yang saling mengenal selama puluhan tahun tapi sangat asing satu sama lain. Dan kini terikat dalam satu janji suci, pernikahan.
"Tidurlah." ucap lembut Orion sembari berbalik ke arah Hiver. Pun keduanya bertatapan singkat sebelum Hiver kembali menatap ke langit-langit kamar.
"Aku tidak bisa tidur."
Helaan napas ringan terdengar dari bibir Orion "Kita harus membiasakan tidur bersama. Karena di danau pun nanti juga seperti itu, Marjorie. Kau akan tidur di kamarku, sama seperti sekarang."
Perkataan Orion mengaduk-aduk isi perut Hiver, dadanya berdebar hingga jangannya kantuk datang, mata untuk memejam semenit saja ia tidak sanggup. Hiver terjaga dengan sepenuhnya.
"Orion. Aku pikir kau sangat membenciku, tapi tadi siang malah justru mengatakan jika sejak lama telah menyukai diriku." Hiver mencurahkan isi hatinya yang tersimpan sejak matahari masih bersinar sendu di tengah badai salju.
Orion mendesah, alis hitam yang melengkung indah terangkat ke atas.
"Apakah karena itu kau menjadi canggung, aku bisa melihat perubahan sikapmu setelah aku mengatakan itu, hingga sekarang, Marjorie."
Hiver tidak menjawab, Orion menebak dengan benar. Di pesta kecil-kecilan di Palace, Hiver tidak bisa berlama-lama berada di dekat Orion. Ia memilih bercengkerama dengan adik-adiknya dan orang lain. Bahkan Hiver berbincang banyak dengan anggota keluarga Orion yang pada umumnya sangat senang dengan pernikahan dadakan mereka.
Jangan tanya bagaimana Isla, mama Orion bersikap kepada Hiver. Wanita cantik berusia hampir sama dengan Summer itu berulangkali memeluk Hiver dan terus mengucapkan kata terima kasih atas kemurahan hati Princess Marjorie Hiver of Mersia telah menerima pinangan Orion.
"Semua berjalan begitu cepat, kau datang kemudian kita menikah. Di hari yang sama kau mengatakan perasaan sukamu. Tuhan, selama 27 tahun hidupku, kau adalah pria terakhir yang ingin kunikahi, Orion. Dan lihatlah kita sekarang, dua orang sama dinginnya berada dalam satu tempat tidur." Hiver mengerang lemah sedetik kemudian menggelengkan kepala.
"Kau terdengar menyesal, Marjorie. Sayangnya tidak ada jalan untuk kembali. Kau adalah milikku sejak melepaskan pangeran itu." mata elang berwarna biru tua benar-benar menatap Hiver.
Sang putri terdiam, suara Orion seringan kapas dan mendayu dalam menuntut hak miliknya. Berbeda ketika Philip mengatakan itu, tegas dan menekan.
Orion bergerak mendekat pada Hiver, pria berwangi maskulin earthy berada tepat di sebelahnya.
"Aku tidak menyesal."
Bersamaan dengan itu, tubuh Hiver direngkuh oleh Orion.
Hiver menegang, tapi tak berdaya.
"Siapa bilang aku dingin, Marjorie. Itu dulu, sekarang aku seperti ini, hanya kepadamu."
Hiver menggagu dengan wajah menyentuh dada polos Orion, hampir mencapai lehernya yang jenjang. Pusat wangi maskulin earthy menguar, mengaburkan akan sehat.
"Katakan sesuatu, Marjorie. Aku tidak ingin mendominasi percakapan di antara kita. Dan bisa dikatakan hari ini aku telah memecahkan rekor berbicara banyak dalam sepanjang hidupku."
Hiver menaikkan kepala, menatap wajah cantik Orion. Pria yang sungguh indah, mengalahkan banyak wanita di luar sana. Manik biru gelap, hidung tinggi bak di pahat dengan hati-hati, alis melengkung, bibirnya pink muda alami, ketika tersenyum gigi taringnya sangat menggemaskan.
"Orion, sadarkah dirimu jika memiliki wajah seperti ini?" tangan Hiver gemetar di depan mata Orion.
"Seperti apa?" suara ringan halus membelai hati Hiver. Orion terdengar tak mengerti akan pertanyaan Hiver.
"Dirimu, lebih cantik dibandingkan diriku." cetus Hiver.
Tawa Orion meledak, namun kedua tangan tetap merengkuh tubuh Hiver. Bahkan lebih erat daripada sebelumnya.
"Aku tidak bercanda." Seru Hiver mencari pegangan selain ke tubuh Orion.
"Ini sangat lucu, Marjorie. Bagaimana mungkin seorang pria dikatakan cantik? Huh?" Orion memamerkan gigi taringnya, sekarang ia nampak vampir yang cantik.
Hiver memejamkan mata, berharap gigi taring Orion menembus lehernya. Hiver menunggu sembari mendengar suara tawa manis Orion yang menggetarkan jiwa.
Bukan gigitan yang didapatkan Hiver melainkan kecupan ringan di keningnya, matanya sontak terbuka. Bibir pink pucat itu tersenyum indah.
"Besok pagi kita akan berdiri di depan cermin, dan saling memerhatikan wajah satu sama lain. Sejak dulu aku telah menyukaimu, Marjorie. Karena kau mirip dengan mamaku, rambut kalian sama. Hitam. Aku suka memainkan rambut mama, sangat unik karena berbeda dengan milikku yang blondie terang. Satu hal yang membuatmu lebih cantik dari mama.." sekilas Orion menatap wajah Hiver.
"Warna bola matamu yang hijau, alasan aku membeli mansion itu karena warna danaunya seperti ini." dua kecupan jatuh di kelopak mata Hiver. Tak terhitung lonjakan jantung sang putri saat itu juga. Dadanya bergemuruh, perutnya bergolak mual dan jutaan kupu-kupu serentak beterbangan.
Hiver mengerang, ia tidak pernah merasakan hal seperti ini sebelumnya. Entah apa namanya, ketika segala kegugupan, kebisuan yang mendadak, panas dan dingin bersamaan hadir menerpa setiap inchi tubuh.
"Maafkan aku, Marjorie. Aku banyak bicara. Harusnya kau tidur, hmm.. atau kita tidur saja. Benar hari ini aku telah memecahkan rekor bicara, tapi itu tidak apa-apa. Karena sudah semestinya seorang suami berbicara banyak kepada istrinya. Ya Marjorie, kau adalah istriku."
...
King Sigvard Bernadotte meletakkan pelan koran ternama di atas meja, seiring manik lion menatap ke arah sampul depan.
Pemilik Bluette Corporation, Orion Filante menikahi Princess Marjorie Hiver of Mersia.
Philip tahu walau tidak perlu membaca dari koran, berita pernikahan mendadak putri buruannya telah ia terima sejak kemarin sore.
"Bagaimana sekarang?" tanya King Sigvard dengan suara bariton rendah.
Philip terdiam, jelas ayahnya sedang marah namun menahannya dengan baik. Jujur, Philip sangat emosi ketika mendengar berita pernikahan Hiver, dan semalaman ia tidak bisa tidur membayangkan kemurnian sang putri akhirnya telah terenggut oleh pria itu.
Kecewa dan sakit hati, Philip sangat merasakan hal itu sekarang.
"Aku tidak tahu, Yang Mulia." jawab Philip dengan sopan.
Sigvard Bernadotte berdeham keras, tubuhnya bersandar pada kursi dengan mata berkilat ke arah Philip.
Philip tersentak kaget, mata kuningnya menajam dan melebar.
"Ayah!" Philip terpekik
Sigvard mendengus dengan rahang yang mengeras.
"Lakukan, nak. Apapun yang bisa menggoyahkan Mersia dan Bluette Corporation. Ayah akan mendukungmu. Andai saja kau bisa mendapatkan kembali putri itu, kau boleh menikahinya dan tempatkan dia bersama dengan wanita-wanitamu yang selama ini kau sembunyikan dari ayah dan rakyat kita."
Philip spontan berdiri, sekilas menatap wajah Sigvard Bernadotte sebelum ia melangkah menuju jendela berbingkai putih ruangan kerja sang raja Swedia.
Sebuah tepukan di bahu Philip hingga ia menoleh kepada ayahnya, pria yang menurunkan manik lion itu kepadanya. Dan sifat segala keras hati, egois dan menyukai wanita bertubuh sensual, semua berasal dari sang raja.
"Ayah sangat tahu jika kau tidak mencintai putri itu."
Tangan Philip mengepal, amarahnya seolah sengaja dipancing naik ke permukaan oleh ayahnya sendiri.
"Aku mencintainya. Tepatnya aku yang jatuh cinta sejak dulu."
Sigvard tertawa sinis seraya merangkul bahu anaknya.
"Sofia Holmberg, kau hanya mencintai wanita itu. Dia yang kau berikan rumah di Visby, dan rutin kau kunjungi dua kali sebulan, anakku. Sayang sekali, dia memiliki kasta yang rendah hingga kau tidak bisa memperjuangkannya. Kau ingin menikahi Putri Mersia sebagai permaisurimu dan menyimpan Sofia sebagai selir. Kau adalah anak ayah, kita memiliki darah dan gairah yang sama."
Philip tidak bisa membantah, ia masih mengingat dengan jelas teriakan dan tangisan Sofia manakala ia mengatakan akan melamar Princess Hiver menjadi pendampingnya. Semua hiasan pecah belah di ruang tengah hancur berkeping-keping. Sebuah serpihan guci berhasil menggores pergelangan tangan Sofia walau tak dalam. Philip hanya perlu memberikan anti biotik dan membalutnya dengan kain kasa.
Sofia Holmberg adalah cinta pertama Philip, mereka saling mengenal di bangku kuliah. Seorang gadis berasal dari Denmark yang memiliki rambut merah dan bermanik biru muda, tubuhnya tidak terlalu tinggi seperti halnya bangsa Viking pada umumnya. Gadis yang sederhana, berkuliah di universitas ternama di Swedia berkat kepintarannya. Philip terpesona dengan isi kepala dan kesederhanaan Sofia. Pun sang putra mahkota berhasil berkencan dengan Sofia setelah mengirimkan selembar surat cinta.
Philip berhasil menamatkan perkuliahan dengan nilai bagus berkat Sofia, mereka memiliki apartemen yang berdampingan walau satunya hanya kosong, karena si wanita berambut merah setiap malam bersama Philip.
Ya, Philip menyembunyikan Sofia dari media, tidak ada satupun yang tahu hubungan mereka. Setidaknya itu pikiran Philip sebelum King Sigvard mengatakan hal itu sesaat yang lalu.
12 tahun, Philip menyimpan Sofia. Dari fasilitas apartemen mewah kemudian mansion yang sangat luas di daerah Visby diberikan untuk memanjakan wanita itu.
Tapi sayangnya, King Sigvard salah menilai. Cinta Philip telah lama berkurang kepada Sofia, pastinya sejak ia melihat Princess Hiver secara langsung. Dan Philip menjadi tergila-gila dengan putri pertama Kerajaan Mersia, ia terus-terusan memburu dan mencari berita terbaru gadis bermanik hijau itu.
"Akan kulakukan, Yang Mulia. Aku akan mendapatkan Hiver, dan demi dirinya semua wanitaku akan kutinggalkan termasuk Sofia. Apapun caranya, Yang Mulia harus menjadi tameng dan orang pertama mengiyakan segala ide gilaku." ujar Philip dengan tegas.
Sigvard menyeringai seraya menganggukkan kepala.
"Like a father like a son." tepuknya di bahu Philip.
...
Suara tawa Orion membius kewarasan Hiver. Lembut, manis, dan mencandu. Bahkan ketika Orion mempermainkan Hiver saat menerbangkan helicopter dari Mersia ke Danau Lac d’Aiguebelette, Perancis Selatan. Orion yang sangat tahu jika Hiver tidak menyukai ide untuk terbang kembali ke Perancis dengan helicopter, pria bersurai emas pucat dan sangat jahil itu beberapa kali menukikkan burung besi berwarna hitam dengan sangat mudah bak sebuah permainan game di ponsel.
Ketika melihat darah di wajah Hiver menghilang, Orion tergelak tawa yang keras. Sungguh, pria itu memiliki selera humor yang aneh.
Syukurnya mereka selamat tiba di Lac d’Aiguebelette sejam yang lalu. Hiver memuntahkan sarapannya tak bersisa, kini ia kembali mengisi perutnya dengan berbagai hidangan enak di meja makan.
Orion tampak tak berdosa, pria tampan sekaligus cantik itu sedang sibuk dengan tablet canggih di sebelah kanan piringnya.
"Marjorie, lihat. Kita ada di mana-mana." Orion menunjukkan tabletnya kepada Hiver.
Sang putri cemberut dan kembali meneruskan makan siangnya dengan khidmat.
"Putri Mersia berteman sejak kecil dengan Orion Filante." Orion membacakan isi berita di layar datar tersebut.
Hiver mendengarkan dengan seksama "Mereka salah, kita tidak pernah berteman. Harusnya mereka menuliskan " Orion Filante bermusuhan sejak lama dengan Putri Mersia". Itu baru benar." Sungut pelan Hiver seraya meneguk air putih di gelas.
Orion tertawa, pria tampan yang sungguh menarik di mata Hiver. Setidaknya selama 2 hari terakhir mereka telah menghabiskan waktu bersama, banyak hal kini ia ketahui tentang Orion. Termasuk sifat jahil pria bermanik biru gelap dan surainya berwarna emas pucat.
"Apa kau ingin menggelar konferensi pers, Marjorie? Agar media mengetahui bagaimana dirimu dan diriku sebelum ini." ucap Orion sambil menyelipkan surai hitam sang putri yang wajahnya sedang bersemu merah.
Hiver menggigit bibirnya kemudian menunduk, tangannya meraih baju Orion dan memegang dengan kuat. Sekuat detakan menghentak di dada.
"Ya, sekalian kalian mengatakan ke media jika Princess Hiver mencintai River Phoenix namun berakhir menikah dengan saudara kembarnya Orion Filante." sebuah suara parau di ambang pintu mengagetkan Orion dan Hiver.
Sosok River berdiri tegak dengan wajah kaku, surai coklat muda yang berantakan, sepasang manik biru terangnya berkabut darah dan amarah.
###
alo kesayangan💕,
bagaimana akhir pekan kalian? pasti pada nungguin Mersia, bukan?
wkwkwk..
Ya, besok mereka juga masih hadir,
semoga aku tidak terlalu sibuk biar bisa menulis.
love,
D😘