
"Wanginya enak," sorak Hawaii ketika masuk ke dalam dapur. Jeanne Moreau, wanita paruh baya menoleh dan tersenyum.
"Croziflette, Mon Tresor," katanya lalu terpekik ketika Hawaii memeluknya dari belakang. "Kau tidur sangat lama,"
Hawaii tertawa kecil sambil merebahkan kepala di bahu mamanya. "Aku lelah, Mamo. Bagaimana dengan urusan bank?"
Ketika Hawaii nekat membawa perahu tua milik Grandpa, semua orang sedang ke kota. Jeanne bersama Grandpa dan Grandma berusaha mendapatkan pinjaman dana dari bank untuk merenovasi penginapan tua tempat mereka tinggal.
Penginapan itu sudah terlalu tidak mendapatkan perawatan, bisa dikatakan sejak Jeanne meninggalkan Perancis sekitar 25 tahun lalu. Kini usia wanita paruh baya itu menginjak 46 tahun.
Negara Amerika adalah tujuannya, 25 tahun lalu ia berpikir negara itu bisa mengabulkan semua impiannya. Jeanne muda yang memiliki paras cantik dan tubuh mempesona nekat meninggalkan kota kelahirannya, namun sayangnya impiannya kandas dan ia pun harus bekerja sebagai pegawai swalayan di Washington DC. Setelah tiga tahun ia memutuskan untuk pindah ke Hawai. Di sana pula ia bertemu dengan ayah dari anak tunggalnya, Benjamin Murphy. Pria tampan, menggoda namun membawa lebih banyak permasalahan selama mereka bersama.
"Mereka masih memeriksa dokumen pengajuan, semoga kita bisa mendapatkan pinjaman. Mama butuh itu, kita semua butuh. Untuk sekolahmu dan renovasi penginapan ini," Jeanne mengecup surai keriting anaknya.
Hawaii menghela napas sangat pelan. Matanya memburam, ia hendak menangis mendengarkan perkataan Jeanne. "Aku bisa bekerja, Mamo. Di kota Lyon nanti sambil menabung sedikit demi sedikit hingga bisa membayar uang kuliah,"
"Sayang, Anakku. Mama tidak mungkin membuatmu bekerja di kafe seperti Mama dulu ketika muda. Maafkan Mama tidak seperti orang tua lainnya yang bisa mencukupi kebutuhan anaknya. Bahkan kita sedang kekurangan sekarang, jadi Mama minta kau bersabar sebentar untuk melanjutkan pendidikanmu," bujuk Jeanne.
Mau tidak mau Hawaii mengangguk patuh. Ia sangat tahu dengan kondisi Jeanne, bahkan untuk kembali ke Perancis, mereka mendapatkan sumbangan dari teman-teman mamanya. Bisa dikatakan selama di Hawai, orang tuanya tidak pernah hidup berlebih. Mungkin karena pertengkaran yang tak ada habis mengakibatkan toko souvenir sebagai satu-satunya mata pencaharian keluarga mereka berangsur-ansur sepi.
"Oh ya, Mamo. Tadi pagi aku bertemu Dewa," tiba-tiba Hawaii berseru, ia teramat lelah dengan pembahasan yang sama. Keterpurukan keluarganya.
Alis Jeanne terangkat. "Dalam mimpi?" tanya lalu tertawa. Ia kemudian melanjutkan kegiatan memasaknya.
Hawaii duduk di kursi kayu sambil bersender pada meja. Ia menyilangkan tangan di dada, bibirnya mengerucut. Memang ketika ia kembali orang rumahnya belum pulang dari kota, pun tidak ada yang tahu jika ia melarikan perahu tua itu. Dan syukurnya perahu itu bisa diperbaiki.
"Mamo, tadi aku membawa perahu Grandpa. Dan mogok di dekat istana yang berada 3 kilometer dari sini," tutur Hawaii.
"Apa!" Jeanne terpekik spontan membalikkan tubuhnya. Wajahnya tegang menghampiri anak tunggalnya. "Tuhan! Hawaii Capucine! Perahu itu telah lama menganggur, Grandpamu sendiri mengatakan jika perahu itu tidak bisa dipakai jauh,"
"Aku tidak apa-apa, Mamo. Karena perahu Grandpa rusak aku bisa bertemu dengan Tuan Alistaire. Istana yang luas itu adalah milik adiknya, mereka sangat kaya. Jika Mamo lihat, pasti tidak percaya jika di danau ini ada orang sekaya itu menetap. Serius, Mamo," kata Hawaii berapi-api. Kepalanya terangguk-angguk untuk meyakinkan Jeanne.
"Hawaii, danau itu sangat dalam dan luas. Mama hanya punya kamu, jadi tolong menjauhlah dari perahu Grandpamu. Hanya sekali ini saja Mama maafkan, lain kali Mama akan menguncimu di kamar jika kau mengulanginya," ancam Jeanne.
"Iya, aku berjanji. Tapi Mamo, Tuan Alistaire seperti dewa. Dia tinggi, sangat tinggi. Kulitnya putih, rambutnya hitam. Sangat tampan dan wanginya sangat enak. Berbeda dengan Papa, bau alkohol tercium sepanjang waktu. Tuan Alistaire dari Skotlandia, dia memiliki aksen yang enak di dengar. Oh ya, Mamo. Bolehkah aku memberikan satu porsi croziflette kepada Tuan Alistaire," pinta Hawaii kembali mendekat, memeluk Jeanne dari belakang.
"Dengan apa kau akan membawa makanannya? Kau belum memiliki SIM, Mon Tresur," sahut Jeanne tidak tergerak akan bujukan anaknya. Lagi pula mobil milik Grandpa Hawaii bukan keluaran terbaru. Malah terbilang antik.
"Sepeda itu, Mamo. Aku sering menggunakannya. Aku berjanji akan hati-hati sepanjang jalan. Ada jalan kecil menuju ke sana, tidak ada kendaraan yang melewatinya kecuali orang yang berjalan kaki. Ya?"
Jeanne terdiam sambil memikirkan keselamatan anak tunggalnya. Ia sangat tahu jika Hawaii bisa menjaga diri, namun Ia tidak mengenal pria yang disebutnya berulangkali itu.
"Please, Mamo. Tuan Alistaire sangat baik kepadaku. Dia mengantarku pulang dan memperbaiki perahu Grandpa. Aku ingin membalasnya dengan croziflette buatan Mamo yang terkenal sangat enak," puji Hawaii sekaligus masih membujuk Jeanne.
Jeanne mendesah panjang dan takluk akan usaha Hawaii. "Berjanjilah akan berhati-hati. Dan jaga dirimu, kau belum tahu pria itu dengan baik. Bisa saja dia orang yang jahat,"
Hawaii tertawa. "Tuan Alistaire adalah Dewa, Mamo. Yang jahat itu Papa. Aku bisa membedakan pria baik dan jahat. Baiklah aku mandi dulu, biar tidak pulang malam nantinya,"
"Hmmm..." Jeanne menyiapkan Croziflette yang akan dibawa Hawaii, sementara anaknya terdengar menyanyi riang menapaki tangga berderit ribut menuju lantai atas.
...
Onyx sedang membaca buku yang diambil dari rak buku di ruang tengah. Ia sepenuhnya menikmati liburannya dengan bersantai, mengalihkan pikiran dari Serenade dan tugas yang menantinya ketika kembali ke Mersia.
"Permisi, Yang Mulia," kata Paul pelan dan sopan.
Onyx menutup buku bacaannya, menyelipkan jemari di bagian buku terakhir di bacanya. "Ada apa, Paul?"
"Nona Hawaii datang, dia menunggu di halaman, Yang Mulia" Paul menginformasikan.
"Apa? Kenapa anak itu ke sini?" Onyx beranjak dari sofa. Ia berjalan menuju pintu depan dan benar saja Hawaii berdiri sambil memegang stang sepedanya.
"Tuan Alistaire," panggil Hawaii melambaikan tangan kemudian tergesa menurunkan standar sepedanya. Tak lupa ia mengambil bungkusan berisi croziflette di keranjang depan sepedanya. "Selamat sore, Tuan Alistaire," sapanya riang berlari tanpa takut jatuh di depan pria penolongnya.
"Tuhan," desah Onyx melihat Hawaii menghampirinya. "Bagaimana lututmu, kau bisa berlari seperti ini,"
Hawaii terkekeh lalu menyodorkan bungkusan berwarna coklat ke Onyx. "Tuan Alistaire harus mencoba masakan mamaku. Ini adalah croziflette terenak di dunia. Dan ini tanda balas budi karena telah menolongku tadi pagi. Kebetulan Mama memasak ini, dan saya bersepeda untuk sampai di sini. Semoga Tuan menyukainya. Jika Tuan suka, saya akan meminta Mama memasakkannya lagi," celotehnya riang. Hawaii melangkah mundur sambil menengadah menatap wajah Onyx yang menyunggingkan senyuman tipis.
Onyx menunduk memandang bungkusan di tangannya. "Kau tidak perlu melakukan ini, Hawaii. Tapi terima kasih, sampaikan juga terima kasihku untuk Mamamu,"
Hawaii mengulum senyuman sambil mengangguk berulang kali. "Iya, akan saya sampaikan,"
Onyx berdeham pendek dan berat. Ia memerhatikan bulir keringat timbul di pelipis Hawaii. "Apakah kau ingin masuk? Aku akan meminta pelayan membuatkanmu jus,"
Senyuman Hawaii mengembang sangat indah. "Jus strawberry, Tuan Alistaire," katanya tanpa rasa sungkan.
Onyx tertawa kecil. Ia menoleh ke arah Paul, dan pria paruh baya itu mengangguk sopan mengiyakan. "Bawakan juga sendok untuk ini," ucapnya memperlihatkan bungkusan yang di bawa Hawaii.
"Ini benar-benar istana, Tuan Alistaire," kata Hawaii ketika melewati ambang pintu. Sorot mata hazelnya berpijar melihat isi mansion milik Orion.
"Ini rumah yang besar, Hawaii," jelas singkat Onyx.
Hawaii sendiri berhati-hati melangkah, ia menahan diri untuk tidak melompat senang kesana dan kemari dengan kemegahan yang baru saja dijumpainya. "Tapi ini sangat megah, mewah. Untuk mencapai bangunan istana ini dari gerbang pagar, saya harus mengayuh sejauh 1 kilometer masuk ke dalam. Adik Anda sangat kaya, Tuan Alistaire,"
"Oh iya, kakak Anda. Jika memiliki rumah seperti ini, pastinya hidup akan lebih mudah, Tuan,"
Onyx menunjuk ke arah sofa, tempatnya tadi duduk. "Duduklah, Hawaii," pintanya.
Hawaii memamerkan gigi kecil miliknya yang berbaris rapi. "Terima kasih sudah mengajakku masuk, Tuan Alistaire. Saya akan menceritakan ini nanti ke Mama. Ah sangat empuk," serunya lagi ketika mendudukkan bokongnya yang dibalut celana jeans berwarna hitam.
Onyx tak hentinya tersenyum dengan segala tingkah Hawaii. Kini gadis belia itu menekan-nekan sofa yang didudukinya.
"Ini bahkan lebih empuk dari tempat tidurku," paparnya polos.
Tak lama kemudian pelayan membawakan secangkir teh untuk Onyx dan jus strawberry pesanan Hawaii. Pelayan meletakkan peralatan makan di atas meja. "Silahkan, Tuan,"
Onyx mendengus geli karena para pelayan otomatis berubah ke mode seperti tadi pagi. Yakni menghilangkan panggilan "Yang Mulia".
Onyx melirik Hawaii telah mengaduk jusnya dengan sedotan terbuat dari perak. Ia tidak ingin memberitahu gadis belia itu tentang bahan baku alat minumnya. Pasti Hawaii akan berseru lebih ramai dan takjub.
"Hm.. sangat enak dan menyegarkan. Ini pasti strawberry kualitas terbaik," sanjung Hawaii sambil mengacungkan jempolnya usai menyicip jus strawberry-nya.
Kemudian Hawaii terdiam ketika melihat Onyx mulai menyendok croziflette. Harap-harap cemas ia menunggu penilaian Onyx atas masakan Mamanya.
"Ya, kau benar. Ini sangat enak, Hawaii," kata Onyx jujur. Walau bisa dikatakan ia baru dua kali menyantap croziflette sepanjang usianya. Namun masakan Mama Hawaii kualitas rasa setara dengan chef di kediaman Orion.
"Saya juga bilang apa. Croziflette terenak di dunia," sahut Hawaii lalu tertawa. Bibirnya semakin memerah karena jus strawberry kesukaannya.
"Ya, ini enak. Tapi nanti aku habiskan setelah makan malam," Onyx meletakkan alat makannya.
"Yang penting Tuan Alistaire sudah mencobanya," Hawaii melanjutkan menyesap isi gelasnya hingga habis. "Ahh.. saya sudah memiliki tenaga untuk mengayuh sepeda," ucap menatap ke arah Onyx.
"Kau tidak tinggal makan malam?" tanya Onyx melihat Hawaii melap tangannya pada bagian paha celana dipakainya. Sungguh sembrono sekaligus menggemaskan.
Hawaii menggeleng, bibirnya terlipat. "Saya sudah berjanji ke Mama untuk pulang ke rumah sebelum petang. Maafkan saya, Tuan Alistaire. Mama memang sangat over protektif terkait jam malam. Bagaimana jika besok pagi saya temani sarapan? Jam yang sama dengan tadi pagi?"
Onyx menangkup bibirnya yang tersenyum. Ia kemudian mengangguk. "Ya, besok pagi pada jam yang sama,"
...
Serenade menimang-nimang ponselnya. Ia baru saja menerima panggilan suara dari Vanessa. Teman dari sekolah musik yang sama, hanya saja Vanessa merupakan yuniornya. Lewat panggilan suara, Vanessa membujuk Serenade untuk tampil di kafe miliknya.
Tentu saja Serenade tidak langsung menerima, pula tidak menolaknya. Ia meminta waktu untuk mempertimbangkan kesempatan itu. Kafe milik Vanessa bukan kafe biasa melainkan terbaik di Kota Manhattan. Tiga hari sejak kepulangannya di New York berbagai kesempatan mengalir dan menggoda Serenade. Beberapa telah ia tolak, karena tawaran tersebut sangat menyita waktu. Tapi di sisi lain ia menginginkan sebuah kegiatan bermanfaat yang bisa menjauhkannya dari pemakaian ponsel secara berlebihan.
Serenade bolak-balik seperti arah mata angin yang berhembus tak menentu. "Ahh, aku sungguh bingung," keluhnya.
Tawaran bermain di kafe itu hanya dua malam selama seminggu. Tidaklah berat, setidaknya Serenade memiliki kesibukan termasuk memikirkan aransemen yang akan dibawakannya. Ia akan sibuk berlatih, lagu-lagu top billboard dan lagu kesukaan orang banyak. Akan sangat membosankan jika ia akan membawakan lagu klasik selama 2 jam.
Ponselnya bergetar membuatnya berhenti bergerak hilir mudik.
Kerajaan Swedia mengunggah foto baru.
Dengan kecepatan pesawat tempur, Serenade menekan layar ponselnya.
"Philip," lirihnya langsung bersimpuh di atas lantai. Ia memandang unggahan terbaru memperlihatkan Philip sedang berbincang dengan anak-anak berkebutuhan khusus. Stockholm Charity Event, acara yang dihadiri pewaris tahta itu.
"Tidak, semua harus berakhir," Serenade berdiri dan berdeham. Ia memantapkan diri setelah menghela napas sangat panjang.
Ia kemudian mengetikkan pesan kepada Vanessa.
Hai Vanessa, sepertinya membawa berita tidak bagus. Aku harus menolak tawaranmu. Hari ini juga aku akan berkemas dan mencari tiket menuju Swedia. Semoga kau mendapatkan orang lain yang capable. Terima kasih atas tawarannya. Good luck.
###
Mamo : Mama [temanku org France memanggil ibunya dengan sebutan Mamo]
Mon Tresur : Harta Karunku
alo kesayangan💕,
aku benar-benar selow hingga bisa mengupdate novel secara beruntun.. it's been long time aku melakukan ini.
semoga tetap konsisten yah..
love,
D😘