MERSIA

MERSIA
Tolong Bahagiakan Dia



"Yang Mulia," lirih Serenade memanggil nama tunangannya. Belaian pada surai memanggil kantuk juga hasrat lain. Mereka sepakat untuk tidur bersama malam itu setelah menyantap menu dinner yang sangat enak. Philip menyiapkan cottage berkamar tiga, yang menurutnya paling sederhana yang bisa ditemukan oleh Hans di daerah Skurusundsvagen. Cukup terpencil, hanya ada beberapa rumah di daerah itu dan sepertinya semua sengaja dikosongkan demi privasi sang pewaris tahta.


"My Lady," suara Philip lembut dan parau. Ia masih berjuang melawan naluri primitif seorang manusia.


"Hm," dehaman pendek Serenade bak kenop pintu yang sedang membuka mengundang Philip untuk mendorong dan membuka lebar. Dan biarkan saja mereka berpetualang panjang malam itu.


Ah tidak! otak Philip berperang dengan ribuan musuh yang saling sahut menyahut.Sebagian besar mendukungnya untuk melanjutkan hal yang sangat dikuasainya dan hanya kecil meneriakkan untuk mundur.


Surai keemasan Serenade berkilau dalam cahaya temaram, manik birunya sayu mengundang untuk diselami. Philip mendesah kasar. Ia menarik kepala Serenade ke dalam dadanya.


"Perintahkan aku untuk tidur. My Lady,"


Serenade merasakan dada Philip bertalu cukup keras, gemuruh mengalahkan ombak di laut lepas. Pipi Serenade memanas, ia tahu apa yang melanda keduanya. Ia hanya menunggu, walau sejujurnya tidak tahu harus berbuat apa. Ia tidak pernah tidur dengan pria manapun, ciuman pertamanya dengan Philip. Andai saja ia pernah melakukannya setidaknya sekali, mungkin semua lebih mudah untuk menyelesaikan.


"Kenapa diam?" tanya Philip mengecup surai keemasan Serenade.


"Philip, aku.."


"Ya kekasihku," seketika rasa cinta memenuhi setiap aliran darah di kepala Philip. Dengan lembut ia melepaskan pelukan Serenade. Philip tersenyum lalu mencium kening calon istrinya.


"Apakah kau keberatan jika tidur bersisian sedikit berjarak tapi tetap saling bergenggaman tangan saja, My Lady?" pintanya dengan lembut.


Dalam cahaya lampu di meja yang berada di dekat pintu Philip melihat alis Serenade terangkat, sepertinya kebingungan dengan sikap Philip yang berubah.


"Aku mencintaimu, Serenade itu tidak akan pernah berubah tapi aku juga sangat menghargaimu, menyanjungmu melebihi wanita manapun," Philip mengelus puncak kepala Serenade kemudian memundurkan sedikit bantalnya.


"Kenapa melakukan ini?" tanya Serenade pelan. Bukan kecewa tapi ia berharap bukan ini yang terjadi selanjutnya.


"Kita bercerita sampai kantuk datang dan meredakan.." ucapan Philip terpotong. Ia memandang wajah Serenade yang datar. "Sayang, aku memilih untuk menunggu walau tubuhmu begitu sangat menggoda. Ya?"


Pandangan Serenade sekilas menunduk kemudian ia membalas tatapan Philip. Ia tersenyum lega, mungkin saja mereka merasakan hal yang sama dan membuncah dalam seketika.


"Jelaskan kenapa kau mengambil sikap seperti ini, Yang Mulia?"


Philip membalikkan badan dan menopang kepala dengan tangan. Manik lion melebar, bibirnya tertarik ke atas hanya sebelah. "Pillow talk, baiknya kita melakukan itu sampai tertidur. Kita masih punya banyak waktu, My Lady. Jujur berdekatan denganmu, sama seperti sore tadi membuat akal sehatku hilang. Makanya aku tidak ingin menciummu lagi di tempat tidur. Lihat, napasmu memburu,"


Alis Serenade berkedut merespon perkataan Philip. "Aku?"


Philip memamerkan giginya. "Kalau aku melakukan flirting saat ini juga, kau pasti akan menyerahkan diri. Wanita biasanya seperti itu jika telah jatuh cinta. Apalagi kau tahu jika aku sangat mencintaimu,"


"Menyerahkan tubuhnya?"


Philip mengedutkan alisnya sambil menyeringai. Serenade langsung menepuk dada Philip.


"Karena kau menggodaku! Ciuman saat di laut tadi sore itu sangat panas, kau bahkan meremas bokongku," seru Serenade. Philip tergelak tawa, ia memegang perut telanjangnya. Wajar jika wanita di sampingnya terus memandanginya dengan napas tak beraturan. Siksaan!


"Wajahmu memerah saat kita naik di perahu," kata Philip.


"Semua yang kau lakukan itu hal pertama aku rasakan. Sementara pria yang aku akan kunikahi sangat hebat menggoda wanita," sungut Serenade.


"Kau menyesal?"


"Berkecil hati karena mereka sangat sempurna," jawab Serenade.


Philip menghela napas. "Aku berkencan dengan banyak wanita di usia 20an. Memiliki kekasih saat kuliah, tapi jahatnya diriku.. aku tidak pernah bermaksud untuk menjadikannya seorang pendamping. Aku jatuh cinta kepada Hiver, kau melihat sendiri seperti apa dirinya, bukan?"


"Ya, aku tahu," balas Serenade lemah. Ia mengingat ketenangan dan sifat elegan seorang Princess Hiver. Bagaimana caranya berbincang lemah lembut tapi juga akrab. Wanita berkelas seperti Princess Hiver tidak bisa disandingkan dengan dirinya yang sejak kecil tumbuh dengan hingar bingar dunia selebriti. Ibunya seorang model, daddy pengusaha yang kerap mengadakan pesta untuk relasinya di Hollywood. Cara mendidik kedua orang tua sangat berbeda, tentu tidak sama dengan lahir dan tumbuh besar di dalam lingkungan kerajaan.


"Mungkin karma yang aku dapatkan Sofia. Dia selalu berharap aku melamarnya, berbagai macam sumpah serapah ketika aku memutuskan hubungan dengan menggunakan pengacara,"


"Harus dengan menggunakan cara seperti itu?" tanya Serenade keheranan.


"Huum, harus seperti itu. Tapi tenang saja, Sofia telah menikah, My Lady. Dia telah menemukan pasangan jiwanya, sama seperti diriku menemukan dirimu,"


Serenade menarik napas panjang, Philip membulatkan maniknya. "Harus bereskpresi seperti itu?" protesnya melihat Serenade terlihat melepaskan sebuah beban yang berat.


"Sebelum bertunangan sudah seharusnya aku mengetahui semuanya. Apalagi yang belum aku ketahui?" selidik Serenade sambil menarik-narik ujung jemari Philip. Terlihat mendesak sekaligus bercanda.


Alis hitam dan lebat Philip terangkat. "Sepertinya tidak ada. Setelah perpisahanku dengan Lou, aku tidak memiliki pasangan resmi. Tidak memberikan respon kepada wanita yang dijodohkan Ayahanda. Tidak meladeni pertemuan atau upaya perjodohan apapun. Tidak ada," tegas Philip di keremangan kamar. Rahangnya terpahat kokoh ditumbuhi bulu tipis yang membuat kesan maskulin.


"Terima kasih telah menunggu," kata Serenade.


Philip lalu tersenyum manis. "Ya, aku menunggu bertahun-tahun lamanya hingga Tuhan mempertemukan kita. Seorang wanita sempurna, jauh indah dari yang kuimpikan. Aku sangat bersyukur, My Lady. Aku tahu kau belum sepenuhnya menunjukkan dirimu yang sebenarnya. Kau masih menjaga jarak, anak sulung biasamya terlihat tangguh namun sebenarnya mereka butuh tempat bersandar yang lebih kuat,"


"Kau dukun?" Serenade memicingkan matanya, bibir tipisnya menyunggingkan senyuman.


Philip mengusap surai keemasan Serenade lembut. "Ayo kita tidur, besok sore kita akan melihat sunset tapi sebelum itu kita akan kembali ke Royal House. Aku bukan dukun, My Lady. Aku calon raja dan kau akan jadi permaisuriku. Mutlak, tidak akan ada yang bisa merubah takdir itu,"


...


Antoine mengerling ke arah samping, Hawaii sedang bersandar di mobil sambil memerhatikan pemandangan danau di dekat restoran tempat mereka baru saja makan malam bersama.


"Kalau boleh jujur masakan Tante Jeanne jauh lebih enak dibandingkan makanan tadi," celetuk Antoine.


Hawaii yang cantik menoleh lalu tertawa memamerkan lesung pipinya dan gigi kecilnya yang putih. "Mamo sangat tersanjung jika mendengar itu,"


"Yah, aku berusaha jujur," Antoine ikut bersandar pada badan mobilnya. "Jadi kencan kita berakhir di sini? Kau benar tidak ingin ke kota? Lyon?"


Mendengar tawaran Antoine, Hawaii menggeleng ketika menatap pria di sampingnya. "Hari ini cukup, Anton. Aku punya tugas kuliah yang harus kukerjakan. Bukan berarti makan malam kita tidak menyenangkan. Aku hanya lelah,"


Antoine tersentuh mendengar keluhan Hawaii, ia menatap cemas ke arah gadis belia itu. Surai ikal Hawaii yang indah membuat tangannya gatal ingin membelainya. "Ada yang bisa kubantu?"


Hawaii tersenyum dengan pandangan datar ke depan. Perlahan lampu-lampu jalanan menyala menyambut malam panjang di kota kecil itu. "Aku bisa mengerjakannya, cuma ada hal lain aku pikirkan,"


"Begitu," Antoine menghela napas pendek. Ia masih mencuri pandang melihat wajah cantik Hawaii yang merenungkan sesuatu.


Hawaii terdiam, isi kepalanya berperang walau tubuhnya tak bergerak sedikitpun dari tempatnya. "Bolehkah aku bertanya?" Hawaii tiba-tiba bertanya setelah terdiam.


"Tentu," jawab Antoine cepat. Ia malah terdengar sangat bersemangat mendengar suara Hawaii. Sesal selalu hadir belakangan, dengan sikap antusiasnya Hawaii dengan jelas tahu isi hatinya.


"Eh!" suara kesiap keluar dari bibir Antoine. Ia menghela napas kemudian menggigit bibir sebentar hanya untuk menutupi rasa kecewanya.


"Apakah kau pernah melakukan hal seperti itu? Membuat seorang wanita terombang-ambing menunggu," sambung Hawaii mengeluarkan kesah yang menghimpit dada beberapa hari terakhir.


Antoine memasukkan kedua tangan pada saku celana jeansnya. Ia menatap Serenade lekat-lekat, manik hazel itu menyendu. Sayangnya hati gundah Hawaii bukan karena dirinya. "Sebagai pria, aku tidak pernah melakukan hal itu. Jika memang ingin menyudahi sesuatu aku pasti membicarakan dengan sejelas-jelasnya. Atau ketika aku akan sibuk bekerja, aku pasti mengabarkan terlebih dahulu. Tapi seminggu itu tidak masuk akal jika alasannya hanya sibuk bekerja,"


Hawaii mendesah panjang, kelopak matanya memejam, kedua tangannya mengatup kuat. "Seperti itu?"


Antoine melipat bibir, kepalanya terangguk-angguk samar. "Tapi kondisi orang beda-beda, Hawaii. Kau bisa menjadikan perkataanku sebagai bahan pertimbangan tapi itu tidak mutlak terjadi pada dirimu. Jadi semangatlah!"


Tidak ada yang lebih naif daripada perbuatan Antoine, memberikan semangat kepada wanita yang disukainya yang sedang gundah karena pria lain.


"Terima kasih, Anton. Kau sangat baik," Hawaii memegang lengan keras Antoine. Pria itu terlihat kaget akan perbuatan spontan Hawaii.


"Pulang?" tanya Antoine melihat Hawaii membetulkan posisi tasnya.


"Iya," Hawaii meraih kunci mobilnya. Mereka makan malam bersama namun berangkat dari rumah yang berbeda, Hawaii singgah di restoran yang mereka sepakati sepulang dari kampus.


"Aku boleh mengantarmu?" tanya Antoine mengikuti Hawaii yang berjalan ke arah mobil berwarna biru.


Hawaii membalikkan badan sambil tersenyum. "Tidak perlu, Anton. Terima kasih atas makan malamnya," Hawaii hampir saja memberikan pelukan kepada pria mengenakan hoodie berwarna coklat. Hawaii mengurungkan niatnya walau di Amerika pelukan sesama teman adalah hal yang lumrah. Hawaii sangat berhati-hati, ia tidak ingin ketulusan hatinya dianggap berlebihan oleh Antoine.


"Baiklah, hati-hati di jalan. Sampaikan salamku buat Tante Jeanne," Antoine membukakan pintu untuk Hawaii.


Gadis bersurai ikal mengembang indah itu membuka jendela mobil dan melambaikan tangan untuk Antoine. Hawaii mendesah panjang ketika meninggalkan parkiran restoran.


"Maafkan aku," lirih Hawaii menyesali makan malam yang di sambut Antoine dengan riang dua hari lalu berjalan dengan hambar.


Perasaan susah dijelaskan ketika sudah berlabuh di sebuah dermaga, walau dermaga itu tak berpenghuni.


Selang 20 menit Hawaii tiba di penginapan yang masih dalam proses renovasi. Bangunan-bangunan 60 persen telah berdiri dengan struktur lebih kokoh menjadi pemandangan utama ketika Hawaii memarkirkan kendaraan. Manik hazelnya pun lalu menangkap sosok yang berdiri sebelah di bangku di tepi danau.


Hawaii tergesa keluar dari mobil, menutup keras pintu dan berlari mendekati sosok yang kini menoleh ke arahnya.


Langkahnya terhenti di tengah-tengah. "Siapa kau?" tanya Hawaii ketika melihat jelas wajah pria yang tidak diharapkannya.


Pria bersurai hitam mengenakan jaker parka berwarna coklat berjalan mendekat. "Hawaii Capucine, bukan? Tadi aku sudah bertemu dengan Mama Jeanne. Aku Malcomm Cyrus of Mersia,"


Hawaii tersentak kaget, kedua tangannya membekap mulutnya sendiri. "Itu berarti..." Hawaii terbata-bata.


Cyrus mengulurkan tangannya. "Ya, aku adik bungsu Tuan Alistaire,"


Tangan Hawaii gemetar ketika berjabat tangan dengan Cyrus. "Hawaii,"


Cyrus mengangguk sambil tersenyum tipis. "Aku sudah banyak tahu tentang dirimu, Nona Capucine. Sangat banyak,"


Kepala Hawaii menggeleng masih dalam proses mengatasi rasa kaget, tangannya mencengkeram kemejanya di bagian tengah dada. "Apa kabar Tuan Alistaire? Ah maksud saya Prince Alistaire, Yang Mulia?"


Cyrus terkekeh ringan. "Tidak perlu seformal ini, Nona Capucine. Ya, karena Tuan Alistaire juga aku kesini. Dua hari setelah anak kedua kakakku lahir, Tuan Alistairemu jatuh dari kuda. Kedua tangannya di gips. Jadi karena itu dia tidak membalas emailmu dan dia tidak berinisiatif untuk menelepon, aku sungguh kesal!"


"Kesal? Kenapa?" tanya Hawaii pelan. Kakinya goyah dengan pesona Cyrus yang tampan dan bersahabat.


Cyrus semakin mendekat ke arah Hawaii, bahkan si gadis berambut ikal sempat mundur. Cyrus memegang bahu Hawaii. "Nona Capucine, apakah kau bersedia ke Mersia malam ini juga?"


"Apa?!" manik hazel Hawaii melotot.


Cyrus tertawa menanggapi ekspresi kaget Hawaii. "Ya, kita ke Mersia. Kau harus bertemu dengan kakakku. Berjanjilah kepadaku bahwa kau akan membuatnya bertekuk lutut, buat dia sadar dengan perasaannya,"


"Perasaannya?" lagi-lagi Hawaii gugup menghadapi Cyrus. Pria yang berbanding terbalik dengan Tuan Alistaire yang menjaga segala perkataan dan tindakannya.


"Kau menyukai kakakku, bukan? Dia pun begitu, cuma dia bodoh," bisik Cyrus mencondongkan kepala di telinga Hawaii.


Jantung Hawaii memecah, berhamburan mendengar perkataan Cyrus. Perlahan air mata merebak dari bola matanya.


"Jadi? Mau ikut atau tidak? Hanya ini kesempatanmu untuk mengakhiri semuanya. Jika rindu maka bertemulah. Aku memberikan peluang ini dengan sukarela," tawar Cyrus kini bersedekap di depan Hawaii.


Hawaii yang belia, namun telah melewati berbagai macam ujian hidup. Walau ia akui sedikit lagi ia akan jatuh pingsan dengan kejutan-kejutan yang meletup di dadanya. "Kenapa Anda melakukan ini?" tanya Hawaii.


Cyrus tersenyum. Hawaii terpana, teman barunya sangat terbuka. "Aku melakukan ini karena aku sangat menyayangi kakakku. Aku ingin Tuan Alistaire hidup bahagia. Mari aku temani ke dalam berpamitan dengan Mama Jeanne,"


Hawaii belum menanggapi perkataan Cyrus namun pria itu telah merangkulnya berjalan menuju pintu rumah.


Selangkah mencapai tangga, Cyrus berbisik. "Biarkan aku menjadi orang pertama yang memberikan restu akan hubunganmu dengan pewaris tahta kerajaan kami. Bahagiakan kakakku, tolong,"


###





alo kesayangan💕,


aku sibuk jadi juragan lanting 🤣 [ini karena anak GC semena-mena memesan lanting dari berbagai penjuru kota]


gak ding, minggu lalu ak sdh menulis sebagian dan terhapus. itu yang bkin ak malas menulis ulang.


jadwalku sangat padat, huff...


terpecah2 isi kepala dengan waktu semakin singkat rasanya.


sabar yahh, menunggu update Payung Kemarau.


love,


D😘