
"Jadi?" tanya King Robert sambil membetulkan dasinya. Ia sekilas melirik anak bungsunya yang sedang berdiri di tepian cermin berbingkai emas yang sangat besar.
"Tuhan, Papa sepertinya semakin tua semakin lambat mencerna," sahut Cyrus.
King Robert membelalakkan manik hijaunya, Cyrus terkekeh. "Papa pikir Onyx menerima usulan Dewan Kerajaan," sahutnya datar.
"Gadis itu sekarang ada di kamarnya," tambah Cyrus menyampaikan informasi langsung to the point.
King Robert lagi-lagi membulatkan matanya. "Di kamar Onyx?" tanyanya dengan suara sedikit naik intonasinya.
"Aku yang menjemputnya di Perancis dan membawanya ke Mersia, Pa,"
King Robert hanya menggelengkan kepala sambil memandang lekat ke arah Cyrus.
"Tugas seorang raja itu berat, Pa. Tidak hanya sekali Onyx mengatakan jika ia tidak ingin menikahi Stephani," Cyrus mengeluarkan pembelaan akan tindakannya sebelum King Robert melayangkan protes.
"Semua orang tahu jika menjadi raja bukan hal yang mudah," King Robert menyetujui perkataan anak bungsunya.
"Dan itu tidak bisa dijalani dengan pasangan seperti Stephani. Ya, walau Luxembourg mendidik Stephani dengan baik tetap saja cerita tidak bagus terdengar sampai di telingaku. Aku mencari informasi tentangnya, Pa. Aku melakukan ini karena memikirkan Onyx dan masa depan Mersia,"
King Robert tertegun. Ia kemudian menarik napas panjang. "Jadi apa yang harus Papa lakukan sekarang?"
Cyrus tidak perlu memikirkan jawaban dari pertanyaan penguasa tertinggi Kerajaan Mersia yang tak lain adalah Papanya sendiri. "Berita tentang Hawaii di kamar Onyx sebentar lagi akan sampai ke Dewan Kerajaan, Cyrus tahu jika Papa akan rapat dengan mereka siang nanti. Papa hanya perlu mengatakan jika Prince Onyx memiliki kekasih yang telah menghabiskan malam bersama. Dan minta staf Papa untuk mengatur pesta perkenalan untuk Hawaii. Mersia harus tahu calon ratu mereka,"
"Demi kakakmu kau memerintah Papa," singkat King Robert lalu tertawa. Sekilas ia mengecek penampilannya di cermin kemudian kembali menatap Cyrus. "Baik, akan Papa lakukan."
"Terima kasih, Pa. Ini sangat berarti untuk Onyx," Cyrus berjalan di sisi King Robert. Sang Raja menepuk lengan Cyrus sambil tersenyum bijak.
"Summer tidak pernah salah dalam mendidik anak-anaknya. Papa sangat berterima kasih kepada Mamamu,"
Cyrus menoleh memerhatikan raut bahagia King Robert bercerita singkat tentang Queen Summer Rindu. Ia menginginkan Onyx memiliki raut yang sama ketika bercerita tentang wanita yang menjadi pendampingnya, bukan wajah murung yang di pajangnya sama seperti ketika Onyx mengetahui Serenade memilih pewaris tahta Kerajaan Swedia. Onyx bisa menyembunyikan kesedihannya di depan banyak orang, tapi tidak ketika bersama dengan Cyrus.
Hawaii adalah gadis yang memberikan angin segar bagi Onyx setelah badai tornado menerjang.
King Robert menoleh sekali menatap penuh arti putra bungsunya, alisnya terangkat. Seolah tahu bahasa tubuh sang raja, Cyrus menggeleng lalu tertawa.
"Baiklah, Papa paham semua anak cukup dewasa untuk memilih jalannya,"
Pernyataan mengambang dari King Robert menyelesaikan permasalahan Cyrus yang belum memikirkan hal lain selain pekerjaannya.
...
Hawaii terpaku memandang pria pujaannya yang sedang menikmati menu sarapan dengan lahap sementara isi piringnya sedikit pun belum tersentuh.
"Hawaii Capucine," panggil Onyx, sebelah alisnya terangkat.
"Yang Mulia," Hawaii tersenyum bodoh,l memamerkan deretan gigi yang putih. Pipinya memerah, tangannya gemetar meraih sendok dan pisau makan.
"Makan dan kau boleh beristirahat, hmm.. makan siang aku akan menjemputmu,"
"Yang Mulia bekerja? Di mana aku beristirahat?" Hawaii berhasil mengiris pie tanpa melihat piringnya, sepasang bola mata tertuju kepada pemandangan terindah di kerajaan tersebut.
Pandangan Onyx menyapu kamar tidurnya yang sangat luas, kemudian kembali kepada sosok berambut ikal di depannya. "Di sini," singkatnya.
"Uhuk!" Hawaii tersedak mendengar perkataan Onyx, spontan ia mengambil gelas berisi jus orange. Manik hazel miliknya melebar dan berair. "Yang Mulia, jangan,"
Onyx tetap tenang walau mendengar penolakan yang disertai dengan pekikan dari Hawaii. "Apalagi yang harus ditutupi?"
Hawaii gugup, ia menggelengkan kepalanya berulangkali. "Cyrus pasti sudah mengurusnya, Yang Mulia,"
Onyx tersenyum simpul, Hawaii semakin serba salah. "Teman barumu itu pasti akan sependapat denganku, Hawaii,"
Bibir kecil Hawaii mengerucut, Onyx tertawa melihatnya. Ia menghela napas pendek kemudian mengulurkan tangan di atas meja. Walau sempat meragu, Hawaii meletakkan jemarinya di atas tangan Onyx.
"Terima kasih," singkat Onyx.
"Untuk apa, Yang Mulia?" tanya Hawaii sembari mengangkat kedua alisnya, bibir bawah yang tergigit, pipi merah merona.
Sejenak Onyx tertunduk kemudian kembali dengan bibir yang menyunggingkan senyuman yang lebih lebar. "Terima kasih mau menerima ajakan Cyrus,"
"Ke Mersia?" tanya Hawaii.
Onyx mengangguk. "Ya,"
Perkataan Onyx bisa saja sesingkat itu, tapi berbeda dengan genggaman tangannya yang semakin mengisi setiap sela jemari Hawaii. Di luar jendela bisa saja masih berkabut namun berbeda dengan perasaan Hawaii yang sedang bersemi indah.
"Rindu," pernyataan singkat Hawaii membuat Onyx tersenyum, bola mata berwarna coklat itu menyipit.
Hawaii menarik napas sebelum melanjutkan perkataannnya. "Saya baru pulang makan malam bersama teman dan melihat pria bertubuh tinggi di tepi danau. Saya pikir itu dirimu, Yang Mulia. Sekilas kalian terlihat mirip dari kejauhan. Dadaku seakan jatuh ketika Cyrus memperkenalkan dirinya. Tapi Cyrus sangat cakap merebut hati orang dalam waktu singkat. Saat itu saya mulai putus asa, Yang Mulia tidak kunjung membalas pesanku,"
"Aku mengerti," potong Onyx.
"Ya, Cyrus adalah satu-satunya caraku untuk bisa melihatmu. Tapi jujur begitu sampai di Mersia kakiku gemetar," Hawaii menunduk sambil tertawa pelan.
"Kau telah melewatinya, Hawaii," Onyx mengelus jemari Hawaii sebelum akhirnya ia lepaskan dengan perlahan.
"Belum," bibir Hawaii kembali mengerucut. "Di luar kamar ini dunia yang sebenarnya sedang menungguku, Yang Mulia. Entah apa yang harus kuhadapi,"
Onyx yang duduk tegap, bahunya yang lebar sejajar dengan pandangan lurus ke depan, ia hanya tersenyum dengan rautnya yang tenang. "Apapun itu, kita hadapi bersama,"
Mata Hawaii mengerjap, kepalanya menggeleng sekali. Ia seakan tidak percaya harinya yang kemarin berubah 180 derajat dengan pagi ini. Siapa sangka jika ia bisa menghabiskan pagi hari dengan pria yang dirindukannya.
"Hawaii, aku akan meninggalkanmu," kata Onyx usai melihat jam di pergelangan tangannya.
"Baiklah," sahut Hawaii pasrah. Ia meletakkan perkakas makannya, melihat itu Onyx pun baru beranjak dari kursinya.
Onyx berdiri di samping Hawaii dan mengulurkan tangan. Hawaii tersenyum menyambut jemari sang pangeran. "Kau harus beristirahat, sebentar lagi akan ada yang membawa segala keperluanmu," ucap Onyx sambil berjalan menuju pintu.
Hawaii mendongak menatap wajah Onyx lekat-lekat, ia memastikan jika semua hal yang dialaminya hari ini bukan sebuah bunga tidur.
Onyx berhenti di depan pintu. Tangan yang semula menggenggam jemari tangan Hawaii kini berpindah menangkup kedua bahu gadis cantik bersurai ikal yang indah. Kedua saling bertatapan tanpa suara, Onyx melangkah ke depan, Hawaii berjalan mundur.
"Kenapa?"
Hawaii melipat bibi dan menggeleng. "Jangan, saya belum mandi. Beda dengan Yang Mulia yang sangat wangi dan rapi. Lihat," Hawaii memerhatikan pakaian Onyx yang mahal dan rapi. Siapa sangka pria yang berpakaian kasual di danau itu adalah seorang pangeran terlebih adalah seorang pewaris tahta.
"Perlu kau tahu jika kau tidak bau sama sekali," kata Onyx lalu tertawa ringan. Ia menundukkan tubuh mendekat di bagian pipi kanan Hawaii. "Lily, itu wangimu."
Wajah Hawaii memanas mendengar perkataan Onyx yang lembut. Darah mudanya berdesir hebat, jantungnya meletup tak berkesudahan. Tapi bukankah ini yang diinginkannya?
Onyx meraih tubuh Hawaii dan membawanya masuk ke dalam pelukan dengan lembut. Tarikan napas lega ketika gadis itu membalas pelukannya.
Hawaii tak menyahut, ia justru menaikkan kepala walau kedua bola matanya berkabut.
Onyx tersenyum. "Seharusnya aku tidak memanggilmu dengan nama,"
Alis Hawaii berkerut, ia berusaha menafsirkan perkataan sang pangeran dalam kepala.
Onyx mengecup lembut kening Hawaii, lembut dan selama 10 detik. Onyx membelai pipi Hawaii. "Karena kau sudah dimiliki. Seharusnya aku memanggilmu dengan panggilan kesayangan,"
"Milik siapa?" tanya Hawaii terdengar seperti racauan.
"Tentu saja milikku," jawab Onyx.
...
Sepasang mata memandang tidak bersahabat ke arah pasangan yang sedang berdansa diiringi musik romantis. Bukan hanya sepasang manusia dimabuk cinta tersebut yang sedang berdansa, melainkan puluhan pasangan lainnya ikut larut dalam kebahagiaan yang sama.
"Inggrid," bisik King Sigvard sambil menajamkan matanya ketika memandang sang permaisuri.
Queen Inggrid dengan secepatnya memalingkan muka. Ia berhenti memerhatikan Philip, putra yang sangat disayanginya.
"Ini yang terakhir kali kau memasang wajahmu seperti itu," kata King Sigvard kemudian beranjak dari kursinya. Ia berjalan meninggalkan ballroom setelah asisten pribadinya mendekati dan mengingatkan akan jadwal tidurnya.
Ketika King Sigvard bersisian dengan Queen Inggrid menyusuri karpet empuk di selasar panjang, ia menoleh dengan alisnya yang tegas. "Semoga di tengah ratusan orang tadi tidak ada yang mengerti dengan isi kepalamu,"
Queen Inggrid mengemertakkan gigi, ia berjalan tanpa sekalipun memandang suaminya. Pria yang harus ia hormati selayaknya seorang istri kebanyakan terlebih Sigvard adalah pria yang memiliki kekuasaan tertinggi di Kerajaan Swedia.
"Aku tahu kau belum merestui anakku dengan Serenade. Tapi itu permasalahanmu. Inggrid. Kali ini kita berseberangan. Aku sangat bahagia dengan pesta pertunangan Philip dengan Serenade. Wanita itu tangguh, ia berhasil melewati ujian yang kuberikan. Philip sangat mencintainya, mereka saling mencintai,"
Inggrid menggeram kesal. Walau perkataan-perkataan Sigvard menusuk hati wanita paruh baya itu, sepatah kata pun tidak trrdengar sebagai balasan.
"Mereka membuatku sadar," celoteh King Sigvard. Ia memerhatikan wanita bergaun panjang berwarna perak itu terlihat tak bergeming. "Selama ini aku terlalu keras kepada Philip, memaksakan banyak hal termasuk keinginan menjodohkannya. Aku pikir ia akan melupakan Princess Hiver dengan wanita-wanita muda yang kuundang itu. Aku tahu kau sangat ingin mendekatkan anak pertama dari Lady Victoire, sayangnya kau terlambat, Sayang. Anak kita telah menemukan wanita pilihannya. Jauh sebelum idemu itu muncul dan kau sepakati dengan Lady Victoire,"
Usai menyelesaikan perkataannya ia pun menghentikan langkah kaki dengan tiba-tiba. Queen Inggrid menabraknya, King Sigvard sontak memegang kedua tangan istrinya agar tidak terjatuh dengan memalukan.
"Lady Serenade, Duchess af Vasterbotten. Dia telah menyandang nama Philip, kelak mereka berdua yang akan menjalankan kerajaan ini. Kau harus banyak bersabar ketika mengajarkan banyak hal kepada Serenade, dia tumbuh besar di Amerika bukan di dalam istana. Kau paham bukan maksud perkataanku?" pertanyaan yang terdengar bernada ancaman bagi yang mendengarnya.
Queen Inggrid Bernadotte hanya menggerakkan kepalanya sedikit. King Sigvard tidak puas dengan jawaban sang istri hanya bisa menghela napas pendek. "Jangan menjadi jahat, itu saja. Mengerti, Sayang?"
...
Philip menggandeng Serenade menuju kursi, perasaan bahagia membuat mereka berdansa sebanyak empat lagu. Seharusnya hanya dua lagu, namun kakinya tidak ingin berhenti apalagi Philip mendekap wanita yang sangat ia cintai. Satu-satunya, hanya Serenade.
"Kau lelah, My Lady?" tanya Philip mengulurkan segelas air putih yang di ambilnya dari nampan pelayan.
"Sedikit, tapi aku senang. Aku kaku, bukan?"
Philip menepuk paha Serenade dengan lembut. "Tidak juga, kau bisa mengimbangiku dengan baik," hiburnya yang tidak berhasil meyakinkan Serenade.
Philip tertawa melihat wajah Serenade tersenyum masam. Sementara itu orang-orang kini menari mengikuti musik yang lebih beat. Para orang tua mulai menyingkir dari lantai dansa sebelum pinggang mereka mengalami salah urat. Orang tua Serenade tentu saja hadir di pesta, mereka telah datang dari Amerika sejak 3 hari yang lalu dan sejak tadi Axel dan Sky terlihat menepi dan berbincang hangat dengan anggota keluarga yang ikut hadir di pesta pertunangan Serenade.
"Yang Mulia, aku sungguh bahagia," ucap Serenade tulus sambil memandang wajah Philip penuh cinta.
"Sama," Philip mengecup punggung jemari Serenade. "Kita merasakan hal yang sama dan pestanya berjalan dengan lancar. Sebentar lagi kita menyelinap meninggalkan tempat ini."
"Ya, kita akan bertemu Mama dan Daddy besok pagi,"
"Tentu saja, My Lady," timpal Philip. Di ujung kata yang melemah melihat Serenade tidak memerhatikannya melainkan sedang memandang pria bertubuh tinggi yang sedang berjalan menghampiri mereka.
Serenade berdiri, Philip pun ikut beranjak. Dalam benaknya sedang bertanya-tanya sembari mengingat di mana ia pernah melihat pria tersebut. Pria yang nampak sangat misterius.
"Paman," Serenade yang terlebih dahulu menyapa pria tersebut.
Philip tersenyum melihat Serenade memeluk pria itu. Pria yang terus menatapnya dengan sorot tajam tak bersahabat.
"Aku lupa mengatakan jika memasukkan Paman di list undangan pada detik terakhir. Pamanku ini sangat sibuk," Serenade memberikan sedikit informasi yang belum bisa menjawab pertanyaan di kepala Philip.
Pria dewasa yang terlihat dingin dan sangat tenang, kini mengulurkan tangannya ke depan Philip. "Perkenalkan saya adalah paman dari Nada, saudara kembar dari mamanya, Kai Navarro,"
Manik lion Philip melebar sempurna, ia menoleh ke arah Serenade mencari jawaban dari pernyataan pria berambut putih dengan tubuhnya yang menjulang tinggi.
Serenade segera menjawab sebelum Philip terlihat semakin kebingungan. "Ada alasan kuat yang membuat Paman Kai menghilangkan namanya dari data keluarga dan data pencarian lini masa,"
Kai Navarro mengangguk menyetujui perkataan Serenade. "Semua orang pasti mengetahui jika Sky hanya memiliki satu kakak. Tidak... itu salah, kami tiga bersaudara,"
"Aku hanya mengetahui yang umum,"
Kai menyeringai, tatapannya masih menusuk dan terlihat menyimpan dendam. Philip bisa membaca itu dengan jelas, menurutnya sejauh ini ia tidak melakukan kesalahan apapun terhadap Serenade. Sekalipun ia tidak pernah menyakiti wanitanya, bahkan berpikiran untuk melakukan hal itu tidak ada sedikit pun.
"Nada, biarkan Paman berbicara sebentar dengan tunanganmu," pinta Kai
"Saya bisa menyapa Daddy dan Mama. Yang Mulia, saya ke sana dulu," pamit Serenade meremas sebentar jemari Philip sebelum berjalan meninggalkan kursi.
Kai duduk tanpa dipersilahkan, ia menempati kursi Serenade. "Yang Mulia Prince Philip Bernadotte, aku akan menceritakan sedikit tentang diriku dan banyak hal yang ingin kusampaikan tentang masa depan Nada dan kalian,"
"Masa depan?" tanya Philip sambil mengerutkan kedua alisnya.
"Ya, tentang masa depan Nada di Swedia,"
###
Alo Kesayangan๐,
Hanya waktu yang membatasi keinginanku untuk menulis, sementara isi kepalaku ingin dikeluarkan. Terlebih dengan cerita Lingga, aku ingin menulisnya. Aku ingin menulis hal sederhana walau berujung drama ๐
Maafkan aku, Guys.. Tidak bisa konsisten,, Jika aku meluangkan waktu menulis, ada pekerjaan menunggu, ini ini itu itu..
Demi Tuhan.. Andai isi kepala bisa dipindah ๐
Love,
D๐