MERSIA

MERSIA
Chasing Movement



Hiver mengerutkan alisnya  dengan pertanyaan-pertanyaan Onyx. Tidak biasanya pewaris tahta tersebut mau tahu banyak tentang keluarga Orion.


“Jadi?” Tanya Onyx berseri-seri.


“Kau tahu jika suamiku jarang bergabung dengan keluarganya. Kami belum pernah ke Berlin saat semua keluarga berkumpul di sana. Marion adalah alasan paling tepat baginya untuk tidak datang.”


“Jadi kau belum bertemu dengan semua keluarga Orion, Marc?” Tanya Onyx.


Hiver menggelengkan kepala sebagai jawaban sekaligus ekspresinya akan sikap penasaran Onyx. “Sebenarnya apa maksud dari semua ini, Prince Alistaire?”


Onyx tersenyum sembari melirik ke arah pintu kamar sang kakak. Beruntung selepas dari Luxembourg, Hiver dan keluarga kecilnya berkunjung ke Mersia.


“Kemana Kutub Utara?” tanya Onyx berbasa-basi. Mereka berada ruang keluarga dan bisa dipastikan Marion sedang bersama dengan ibunda permaisuri. Semua orang mengharapkan kedatangan cucu pertama dari King Edward dari Perancis.


“Sedang berbicara dengan Cyrus. Entah apa yang mereka bicarakan.. mungkin bisnis, aku tidak begitu paham.” Jawab Hiver lalu terkekeh. "Suamiku tidak sedingin kutub utara, Alistaire."


Onyx memegang ponselnya, benda yang sangat jarang ia perlihatkan di muka umum. Sesekali ia melihat layar benda canggih tersebut kemudian menarik napas panjang. Sebenarnya Onyx memiliki nomer ponsel Serenade namun ia tak punya bahan pembicaraan dengan pianis cantik tersebut.


“Sejak transpalantasi hati bisa dikatakan Orion berubah." celetuk Onyx yang sedang mencari cara untuk bertanya lebih lanjut tentang Serenade.


"Ya, kesempatan kedua. Sekarang Orion lebih terbuka ke semua orang. Walau masih terbatas mendatangi suatu tempat." beber Hiver.


Onyx tertawa. "Hanya Mersia dan Perancis. Aku tidak pernah mendengar kabar pertemuan keluarga Orion di Lyon."


"Hanya pertemuan kecil, bukan keluarga besar dari Girindrawardhana." terang Hiver.


Onyx menarik napas panjang dengan hati yang bimbang. "Begini.." jedanya.


"Benar tebakanku. Sepertinya ada yang ingin kau bicarakan, Prince Alistaire Onyx." timpal Hiver cepat.


Senyuman muncul di bibir Onyx, bersamaan dengan ingatan tentang Serenade muncul di kepalanya. Betapa hidupnya malam di Luxembourg, gadis cantik itu memikat hati. Yeah, walaupun malam indah itu harus terbagi dengan kehadiran rival sejatinya yang tak lain Prince Philip Bernadotte.


"Aku bertemu dengan Serenade Rajendra di Luxembourg. Serenade adalah saudara sepupu dari Orion." kata Onyx.


Manik hijau bak danau itu membulat kemudian menyipit.


"Aku tahu Serenade, Adikku. Dan wow! Kau bertemu dengan saudara Orion yang sangat jarang berkunjung di Lyon. Aku bahkan lupa kapan terakhir melihatnya, mungkin ketika aku masih remaja. Satu lagi, seingatku Nada memiliki warna rambut hampir sama dengan Orion, pirang terang."


Onyx mengangguk mengiyakan tebakan sang kakak. "Rambutnya kuning emas, bola mata berwarna biru seperti River. Wajahnya kecil dan senyumannya indah."


Hiver tergelak tawa kencang sambil meninju lengan kokoh adiknya. "Rupanya pangeran Mersia telah menjatuhkan hatinya. Serenade?"


"Ada apa dengan Serenade?" timpal Onyx.


"Tidak apa-apa, Adikku Sayang. Jadi ini maksud 30 menit kau bertanya terus tentang keluarga Orion. Tuhan, sejak kapan kau menjadi tertutup kepada kakakmu sendiri."


"Aku bingung memulainya, Marc." kesah Onyx yang terlihat cemas.


"Sikapmu tadi membuatku bingung, tapi aku bisa menangkap ada hal yang ingin kau ketahui banyak."


Kali ini Onyx menatap lekat wajah Hiver, lalu dengan lembut menggenggam jemari wanita cantik yang terus tersenyum geli.


"Apa yang harus kulakukan, Marc? Aku ingin tahu banyak tentang Serenade sebelum lebih lanjut mendekatinya." katanya kemudian merayu Hiver dengan kecupan di punggung tangan indah itu.


"Kau piawai meluluhkan hati wanita, Prince Onyx. Buktinya aku bisa tersipu." sanjung Hiver sambil menahan tawa mendapati tingkah Onyx yang beda dari biasanya. Onyx lebih romantis, bukan layaknya seorang pewaris tahta yang terlihat serius dengan urusan kerajaan.


"Tidak lucu, Marc. Aku sungguh serius tentang Serenade."


Hiver tidak bisa menahan diri untuk mencubit pipi Onyx. "Kau sungguh lucu, Adikku. Ya, aku tahu kau serius, hanya kau terlihat menggemaskan. Soal Serenade tanyakan langsung ke Orion, walau suamiku terlihat tertutup tapi pastinya sangat akrab dengan saudaranya sendiri. Jika kurang, aku akan memberikan nomer Mami Sky."


Onyx mengangguk cepat. "Mama Serenade? aku mau."


"Dasar! Jangan berbuat tidak masuk akal. Bahkan aku tidak pernah berbicara dengan Mami Sky dan kau tiba-tiba meneleponnya dan mengatakan aku adalah pangeran Mersia yang tergila-gila dengan Serenade. Di keluarga Orion tidak seperti orang di luar sana."


"Berhenti, Marc. Aku bercanda." sergah Onyx seraya berdiri. "Lebih baik aku mencari Orion dibandingkan berbicara tanpa arah denganmu."


Onyx merenggut sambil memasukkan tangannya di saku celana bersamaan ponselnya juga ikut tersimpan.


"Aku ikut." Hiver dengan cepat berdiri kemudian menggamit lengan pewaris tahta bertubuh jangkung itu. "Kau sungguh menggemaskan digoda seperti ini, Prince Alistaire Onyx."


"Tolong rahasiakan ini dari raja dan ibunda ratu." sela Onyx dengan cepat.


Hiver memberi isyarat menarik bibirnya sebagai jawaban atas permintaan Onyx.


"Juga Cyrus." tambah Onyx kembali menatap Hiver serius.


...



Onyx mengangkat tangan dan mengayun pelan, tanda tersebut yang meminta agar para pelayan meninggalkan mereka yang sedang berada di ruangan Blue Room. Ruangan yang umumnya dipakai untuk mendengarkan musik klasik, tadi telah tampil dua pemain violin menghibur sang pewaris tahta beserta suami dari Princess Hiver yang tak lain Orion Filante.


"Sebuah penampilan yang sangat menghibur." ujar Orion sambil tersenyum puas.


"Syukur, kau menyukai musik klasik." sahut Onyx berdiri sekaligus merapikan suitnya.


Orion mencebik samar dan berdiri di samping Onyx. "Dulu tidak, tapi Marjorie mengajarkan banyak hal."


Onyx memandang Orion penuh makna tersirat, ia sedang berpikir keras bagaimana menanyakan hal tentang Serenade.


"Ada apa?" tanya Orion dengan alis berkerut.


Pria muda bersurai hitam itu menggeleng dan panik. "Ah.. aku eh saya." timpalnya gagap.


Orion tertawa halus, lalu tersenyum manis. "Tidak biasanya kau bertingkah seperti ini, Onyx. Apakah kau memerlukan bantuanku juga? Tadi Cyrus memintaku untuk membuatkan sebuah sistem proteksi data yang paling aman untuk perusahaannya." ujarnya lemah lembut.


Onyx membatin, Sungguh wajar jika Hiver tergila-gila kepada pria bersurai emas pucat itu. Di balik keangkuhan yang selalu ditunjukkan ke semua orang, Orion memiliki pesona tersendiri. Yakni, pribadi yang halus dan tenang.


Onyx berdeham pendek. "Minggu lalu saya ke Luxembourg menghadiri pesta pernikahan sahabatku, Prince Henri. Di sana saya bertemu dengan Serenade." ucapnya sopan.


Manik Orion melebar penuh ketertarikan. "Nada? Kau bertemu dengan saudaraku." volume suara Orion naik seperempat oktaf, tidak banyak karena hampir semua orang tahu jika suami dari Princess Hiver bertutur kata yang sangat halus.


"Ya, Nada Rajendra. Bahkan dia yang memperkenalkan diri terlebih dahulu. Aku lupa jika pernah bertemu dengannya ketika kami masih kecil."


Orion tersenyum. "Sudah puluhan tahun berlalu kalian bertemu. Pasti kau lupa, tapi bagi Nada sepertinya momen itu sangat berkesan. Terlebih dirimu akan menjadi seorang pewaris tahta."


"Bukan, tapi karena Nada mengatakan kami adalah keluarga dekat, kakaknya menikah dengan Marc." ralat Onyx mengingat perkataan Serenade malam itu.


Orion semakin tertarik, terbukti manik biru itu menyala. "Nada seorang pemberani." katanya kemudian tertawa kecil.


"Ya, seorang gadis pemberani." imbuh Onyx.


Onyx bingung, ia mendadak amnesia di depan kakak iparnya sendiri. Dua kali banyaknya ia menoleh menghindari tatapan mata Orion.


"Kau menyukai adikku?" duga Orion. Ia pria jenius, dan sekarang hatinya juga ikut selaras dengan kepintarannya.


Onyx mengangguk sangat pelan, ini hal pertama baginya merasakan jatuh cinta. Sebelumnya ia hanya tertarik namun tidak pernah berupaya untuk melakukan hal lebih lanjut.


Sebut saja pengalamannya dengan Julianne, teman sekolahnya saat di bangku sekolah menengah. Onyx hanya mengagumi gadis cantik yang berusia 16 tahun itu. Onyx sejak awal telah paham dengan tugas besar menantinya. Ia tidak akan pernah mudah untuk menjalin sebuah hubungan spesial. Reputasinya sebagai pewaris tahta adalah yang utama, ia tidak ingin mendapatkan predikat buruk di rakyat Mersia.


"Saya ingin tahu banyak tentang Nada." tambah Onyx lebih tenang. Kesan buru-buru semula kini bisa ia redam.


Bibir Orion sejenak mengatup sambil menganggukkan kepalanya. "Baiklah." singkat kemudian menatap lekat-lekat Onyx.


"Sebulan sebelum Nada lahir, dia telah kehilangan sosok papa. Kau pasti bisa mengetahui sejarah papanya. Micah Rajendra adalah seorang musisi besar."


Onyx tertegun mencerna perkataan Orion, walau berita itu ia telah ketahui lewat pencarian lini masa namun tetap saja berbeda ketika mendengarnya secara langsung dari pihak keluarga Serenade. Hati Onyx tersentuh bahkan ingin mengetahui lebih banyak lagi.


"Tapi Nada memiliki daddy yang menggantikan posisi papa yang tidak pernah ia kenal. Axel Yu adalah yang terbaik." kata Orion bijak, terdengar seperti sang raja Mersia.


...


Serenade sedang menikmati momen langka di dalam hidupnya. Apalagi jika bukan bercengkerama dengan pria favoritnya.


"Nada merindukan daddy?" tanya suara bariton lembut itu sambil mengelus surai Serenade.


"Tentu. Dan daddy kenapa harus mendadak ke Asia?" jawab Serenade pelan. Bola matanya tertutup, namun ia tahu seluruh perhatian pria paruh baya itu tercurah kepada ia seorang.


Axel tersenyum dan sedikit suara tawa keluar dari bibirnya. "Pekerjaan, Sayangku." singkatnya.


Serenade gusar kemudian mendudukkan tubuh. Tangannya terlipat di dada, tingkahnya bak remaja usia belasan tahun. Bibirnya mengkerut, hidungnya mengembang bak seekor banteng yang dikuasai amarah.


"Tapi Nada sudah mengabarkan jika akan ke Hollywood. Sebenarnya, mana yang lebih penting pekerjaan daddy ataukah Nada?" tanya Serenade merajuk manja.


Axel mencubit pipi Serenade lalu tertawa keras. Ia baru saja sampai di rumah dan kemanjaan putri pertamanya yang telah berusia 26 tahun hal ia dapati. "Tentu saja Serenade adalah yang paling penting."


Serenade memberenggut dan membalas cubitan yang ia terima tadi. "Nada hanya bercanda, tapi rumah terasa hampa tidak ada daddy."


"Daddy tahu, Sayang. Tapi ada adik-adikmu, bukan?"


Serenade mencibir mengingat kedua adiknya. "Mereka sibuk berpacaran." gerutunya.


Axel kembali tertawa sambil menggelengkan kepala. "Itu berarti Nada juga harus melakukan hal yang sama. Siapa lagi nama pria yang menyukaimu di New York, Sayang?"


Alis Serenade bertaut kemudian mendengus pelan. "Siapa?" kilahnya sengaja pura-pura tidak tahu.


"Daddy pernah bertemu dengannya. Aha! Justin." Axel berseru sengaja menggoda putrinya yang wajahnya memerah.


"Justin Bieber? Bagus, kami sama-sama seorang musisi." timpal Serenade asal.


Axek berderai tawa, ia memegang perutnya karena perkataan Serenade yang sangat lucu.


"Justin yang itu sudah menikah, Sayang. Justin Timberlake juga sudah menikah, mereka semua musisi. Justin-mu seorang pengusaha."


Serenade berdecih. "Dia bukan Justin milikku. He's player. Wanitanya ada di mana-mana. Jangan pernah tergoda bekerja sama dengannya, Dad."


Axel terkekeh dengan wajah memerah, ia sangat menyukai momen-momen ketika mencandai putri cantiknya itu. "Daddy tidak tahu bagaimana ke depannya, tapi tidak menutup kemungkinan menjalin bisnis dengan Justin Perry."


"Lihat, daddy mengingat nama lengkapnya." Serenade meringis.


"Bagaimana daddy bisa melupakan pria itu, seminggu sekali Justin berbasa-basi lewat pesan membahas perkembangan ekonomi dunia yang berakhir dengan bertanya tentang kabarmu. Sangat lucu, mengingat Justin bisa bertanya langsung kepadamu."


"Nada mengabaikannya." sungut si gadis bermanik biru gelap.


"Justin?" Axel mengerling tajam.


"Ya, Justin. Lebih tepatnya Nada tidak pernah peduli dengan kehadiran Justin. Dia berlagak dengan sibuk kesana kemari mengajak teman Nada, mentraktir di restoran mewah. Justin terkenal di kampus, setiap angkatan ia memiliki kekasih semusim. Yeah, semusim. Hanya tiga bulan lamanya Justin mengencani wanita-wanita cantik di New York." Jelas Serenade panjang.


"Siapa Justin?" celetuk suara bariton berat dari depan.


Mata Serenade bisa saja jatuh melihat sosok tinggi besar yang berdiri di samping sang mama.


"Yang Mulia." bulu di tangannya ikut meremang ketika mengucapkan dua kata tersebut. Kaki-kakinya goyah ketika berdiri, jemari tangannya mendadak dingin terlebih ketika mata lion itu berpusat kepada Serenade.


"Yang Mulia?" Axel berbisik pelan sambil mencondongkan tubuhnya ke Serenade.


Serenade mendongak sedikit menatap Axel, kepalanya menggoyang lemah. Ia harus bersuara walau lidahnya terasa sangat kelu. Serenade tidak pernah membayangkan rumah orang tuanya akan kedatangan tamu sehebat itu.


Jangankan Justin Perry, saat ini Serenade bahkan tidak bisa mengingat satu komposisi lagu yang paling sederhana sekalipun karena kedatangan secara tiba-tiba pria yang mengenakan kemeja biru dipadu celana berwarna putih tersebut. Sebuah penampilan yang sungguh berbeda ketika di Luxembourg.


Tunggu dulu, bukankah ia juga berpenampilan rumahan? Serenade membulatkan manik birunya ketika mendapati dirinya hanya mengenakan hot pants denim dengan oversize t-shirt.


Dengan cepat ia bersembunyi di balik tubuh Axel, namun kepalanya mengintip keberadaan tamu tak di undang tersebut. Ia masih di situ, oh tidak! Kini pria bersurai hitam itu berjalan menghampirinya.


Serenade mencengkeram bagian belakang suit milik Axel, tangannya gemetar, dadanya memanas. Wajahnya yang memerah ia sandarkan di punggung Daddy-nya.


"Perkenalkan Tuan Axel Yu, saya Philip Bernadotte dari Swedia."


###





Alo Kesayangan💕,


3 hari aku menulis chapter ini, so many disruption.


aku masih di luar Jawa, dan yeah aku terkendala untuk mengupdate novel. September baru bisa kembali k Jogja, semoga di sana level PPKM-nya juga sudah turun.


Apa kabar kalian? dari penulis yang paling banyak gangguannya ketika mau update novel 😂


love,


D😘



buat yang rindu ma Tuan Yu.