
"Afrika?" King Robert mengulang perkataan anak perempuannya.
Lou mengangguk ragu. Ia kemudian melirik sang mama yang duduk dengan anggunnya. Sejak kepulangannya dari Swedia, Lou tidak mendapatkan kasih sayang selayaknya ketika ia masih gadis. Seolah-olah pernikahannya yang kandas dengan Philip membuat Lou dewasa dalam seketika.
Ibu permaisuri, tak lain Queen Summer lebih banyak memberikan nasehat dibandingkan pelukan dan perhatian seperti yang sudah-sudah. Untungnya Lou masih memiliki Cyrus, sahabat sejati sekaligus saudara kembarnya yang jahil. Lou terhibur akan semua candaan Cyrus, satu-satunya bisa meluangkan waktu di Kerajaan Mersia untuknya selama 7 hari belakangan.
Pembatalan pernikahan Lou dan Philip telah selesai dan berjalan dengan sangat cepat. Hanya lima hari berselang usai Philip berbicara di media, setelah itu Lou menandatangani kertas yang menegaskan dirinya bukan lagi bagian dari Kerajaan Swedia.
"Maryln Lou, papa tanya sekali lagi. Kau ingin pergi ke Afrika? Ada apa di sana? Ini bukan dirimu, darling." Suara bijak King Robert menyentakkan khayalan Lou akan Philip yang sama sekali tidak menemuinya hingga ia dijemput oleh Onyx untuk kembali ke Mersia.
"Ingin menenangkan diri, pa. Lou tidak bisa terus-terusan mendapatkan simpati yang berlebihan dari orang-orang." dalih Lou menatap gurat wajah King Robert yang berdiri dua langkah dari tempatnya duduk.
"Tapi kau bisa ke Dundas, kastil kakakmu. Di sana juga sangat menenangkan, papa bisa meminta pengurangan pelayan jika ingin membutuhkan privasi."
Lou berdiri kemudian bergerak memeluk ayahnya. Ia merajuk, hal terakhir yang bisa meluluhkan hati sang raja. "Tempat itu terlalu besar, pa. Jika pelayannya dikurangi malah justru menyeramkan. Lou tidak mungkin mengajak Cyrus ke Dundas, dia sangat sibuk dengan pekerjaannya. Lou ingin menepi dari Mersia, sebuah rumah berkamar satu di atas bukit." ujarnya sambil menerawang membayangkan surga ciptaannya.
“Dan itu di Afrika? Harus di sana, Darling?” tanya King Robert dengan lembut. Ia memandang wajah memelas Lou yang sangat kekanakan, khas putrinya sebelum menikah.
“Ya, pa. Biarkan Lou belajar mandiri, bebas dari Mersia. Jika papa tidak tenang Lou di sana, papa bisa menempatkan pengawal walau itu sangat tidak menyenangkan.” Lou terus melancarkan serangan mautnya kepada King Robert.
Pria paruh baya yang mengeluarkan aura pemimpin yang bijaksana dan penuh integritas tinggi itu memandang lekat-lekat anak perempuannya. King Robert sedang berpikir atas permintaan Lou yang tidak lazim. Tapi kembali memikirkan hal yang baru dilalui Lou, ia harus memikirkan kondisi hati anaknya. Mungkin juga psikologis Lou.
“Bagaimana?” King Robert menoleh kepada istrinya. Wanita cantik itu mengedikkan bahu sambil menaikkan kedua alis.
“Kembali kepadamu, Yang Mulia. Aku pikir Lou sudah dewasa dalam menentukan pilihan hidup. Kita tidak bisa menekannya, kemarin telah memaksanya untuk menikah dengan Philip dan berakhir seperti ini.” Summer memberikan masukan yang sepenuhnya berada di pihak sang putri.
King Robert menarik napas pendek dan kembali pada Lou yang masih berada dalam pelukannya. “Baiklah, Darling. Jika itu kau inginkan, papa akan menyiapkan tempat tinggal untukmu selama di sana. Papa juga akan menempatkan orang-orang untuk menjamin keselamatanmu di sana. Tapi tenang, mereka sama sekali tidak akan mengganggu.”
Lou terpekik senang seraya memeluk erat-erat ayahnya. “Terima kasih, papa yang sangat kucintai. Tidak ada pria seperti papa di dunia, hanya ada satu.”
King Robert terkekeh mengecup puncak kepala Lou sambil melirik istrinya yang ikut tertawa. “Baiklah, Darling. Papa pikir semua sudah jelas, kau bisa ke Afrika minggu depan setelah semuanya disiapkan. Ya, mungkin lebih
baik untuk sementara waktu menjauh dari anggota Dewan Kerajaan. Mereka sangat menyebalkan.” Gerutunya seraya mengecup pipi Lou dan mengurai pelukan.
“Terima kasih, pa.” suara Lou masih dilingkupi oleh rasa bahagia yang berlebihan. Segala hal yang ia khawatirkan tidak terjadi, bahkan berjalan mulus.
“Papa akan menemui utusan dari Monaco.” King Robert bergantian memandang Summer dan Lou sambil tersenyum tipis.
“Selamat bekerja, pa.” ucap Lou.
“Pergilah, Yang Mulia.” Ujar Summer kini berdiri di samping Lou. Ia menggamit lengan putrinya.
“Sampai bertemu saat makan malam, Ladies.” King Robert berbalik dan melangkah tegap keluar dari ruang keluarga.
Summer menunggu sampai suaminya pergi kemudian menarik tangan Lou untuk kembali duduk di kursi beledu merah. Ada jeda hening ketika kedua wanita cantik saling berpandangan, Lou serba salah hingga bergerak gelisah.
“Siapa pria itu, sayang?” suara Summer memecah hening sekaligus meledakkan dada Lou. Desahan keras dan tiba-tiba keluar dari bibirnya.
“Ma.” Lou mengerang sambil menggelengkan kepalanya dengan kuat-kuat.
Summer menangkup pipi Lou sambil tersenyum dengan wajahnya yang teduh. “Naluri seorang ibu tidak pernah bisa salah, sayang. Mama melihat itu sejak kepulanganmu dari Swedia.”
“Ma.” Rajuk Lou mengerucutkan bibirnya.
Summer terkekeh ringan. “Sayang, mama tidak ingin menghakimimu. Hanya ingin tahu, siapa pria itu. Dia pastinya seorang yang hebat melebihi pesona Prince Philip hingga putri mama ini menjatuhkan hatinya. Mau bercerita?” bujuknya penuh kasih sayang.
Lou tersenyum kemudian berdiri meraih ponselnya dari meja. Ia tersipu ketika Summer melemparkan sebuah senyuman yang lebih merekah.
“Duke Jonas Sandeberg. Kakak sepupu dari Prince Philip.” Lou mengigit bibirnya sambil memamerkan foto pria mengenakan blazer merah dipadu polo shirt berwana putih gading.
“Wow. Dia sangat tampan, sayang. Terlihat lebih dewasa dibandingkan mantan suamimu.” Puji Summer memerhatikan foto Jonas. Ia kembali menatap wajah Lou yang bersemu merah.
“Jadi ini alasan kalian berpisah? Philip mengetahui hubungan kalian.”
Lou menunduk kemudian mengangguk pelan. “Iya, Philip tahu. Tapi semua terjadi karena Philip yang memberikan kesempatan kepada Jonas untuk mendekatiku, ma. Philip sadar jika dia tidak bisa membahagiakanku. Jadi, Philip membatalkan pernikahan kami. Inilah alasan sebenarnya.” Tuturnya dengan lambat-lambat ketika di ujung kalimat, hati Lou sangat melega.
Summer menangkup bibirnya, ia memejamkan mata sejenak sambil menarik napas panjang. Manik hitam itu kembali menatap Lou. “Mama tidak bisa membayangkan perasaan Philip sekarang, sayang. Semua orang membencinya atas perpisahan kalian. Kini kau akan ke Afrika menepi, mungkin Jonas menunggumu di sana. Benar tidak?”
Kembali wanita muda bersurai ikal itu menganggukkan kepala. “Ya, Jonas menunggu Lou, ma.” Sahutnya dengan jujur.
Summer mengembuskan napas lewat mulut, tangannya meraba dada yang nyeri. Kelebatan Jason tiba-tiba saja hadir di kepalanya, nasib pria itu hampir sama dengan Philip. Pria-pria yang penuh cinta besar dan memilih menjauh.
“Apakah kau pernah bicara dengan kakakmu Hiver?” tanya Summer seraya berdiri dengan gelisah. Dadanya sesak, juga berdebar kencang.
“Lou takut, ma. Dan Princess Hiver belum pernah menelepon. Lou tidak tahu harus berbicara apa dengannya.”
Summer terdiam, menelaah. “Mama pikir mereka masih ada di Bali. Tapi tidak juga ingin menelepon ke Mersia, Hiver pasti sangat membenci Philip. Ini tidak boleh terjadi, sayang. Perasaan benci berlebihan bisa saja berubah menjadi sebaliknya.”
…
Hiver menyusuri jalanan bebatuan menuju dermaga, tanpa ditemani Orion. Pria bersurai emas pucat itu sedang beristirahat siang. Hiver memilih menghabiskan sore menuju tempat favorit suaminya.
Usai menemui Philip di Swedia, Hiver pun meminta kepada suaminya untuk kembali ke Perancis, kediaman mereka tanpa memberitahu pertemuannya dengan Prince Philip kepada siapapun.
Ah, pria itu. Sejak perpisahan mereka di Chateu beberapa waktu yang lalu, Hiver terus menerus memikirkan Philip. Harusnya ia tidak peduli lagi, ia telah meluapkan semua kemarahannya, kecuali melukai Philip. Mungkin hal ini pula yang membuatnya dibayang-bayangi olej perasaan tak selesai. Hiver sedetik saja mendorong lebih dalam belati di dada Philip. Pria itu selayaknya tak melihat matahari, menghirup udara, terlebih memimpin sebuah kerajaan.
Philip yang arogan, hanya mementingkan perasaan sebelah pihaknya kepada Hiver berujung kepada proses pembatalan pernikahan. Hiver tidak tahu harus mengatakan apa kepada adiknya, yang pasti ia sangat bersalah, karena perasaan Philip juga -lah yang tidak lepas dan beranjak dari Hiver membuat pria itu memutuskan untuk berpisah dengan Lou.
Hiver menggeram pelan ketika mendudukkan kaki di bangku kayu tepi dermaga. Ia sangat tahu jika Orion sengaja meletakkan tempat duduk ini hanya untuk dirinya. Kekasihnya itu sedang tertidur nyenyak, mereka menikmati
masa bulan madu lanjutan yang berakhir dengan terpaksa karena Philip.
Kembali lagi kepada pria tersebut, sepertinya semua kebahagiaan Hiver selalu saja dihalangi oleh Philip Bernadotte.
Sudahlah, lupakan… Hiver memerintahkan diri dan alam bawah sadarnya. Ia seakan terhipnotis oleh riak permukaan danau yang mengikuti arah angin. Tenang dan udaranya yang sejuk.
“Selamat sore, Hiv.” Suara berat menyapa Hiver membuat ia menarik napas lebih panjang dan dalam.
Dasar pengganggu! Gerutu Hiver tanpa mau membalikkan badan. Aroma wangi maskulin telah merajai inderanya, ia sangat hapal parfum mahal River.
Hiver.
“Sepertinya suamiku tidak mengundangmu.” Hiver sekilas menoleh memerhatikan penampilan temannya yang juga saudara kembar Orion.
River tergelak tawa pendek kemudian mengembuskan napas lega. “Kami bersaudara, Hiv. Seorang saudara tidak perlu saling mengundang untuk bertemu. Aku hanya ingin menemui kalian, terlebih dirimu. Kau sama sekali tidak pernah memberikan kabar, bulan madu kalian berjalan lancar rupanya. Apakah sebentar lagi kami akan mendapatkan tambahan anggota keluarga?” sindirnya dengan hati bak lava yang memanas.
Hiver mendengus sambil menggelengkan kepala. “Tuhan. Harusnya aku yang menanyakan itu, Riv. Bukannya kalian yang terlebih dahulu menikah. Jika kau menyinggung bulan madu kami di Bali, ya benar sangat berjalan dengan romantis. Aku sangat mencintai saudaramu, jika ingin lebih jelas.”
River menatap Hiver dengan aneh, mimik dan alisnya mengerut tak percaya. “Kau hanya ingin membuatku panas, Hiv. Tidak perlu, sejak kau memutuskan menikah dengan Orion hatiku tidak pernah lagi tenang.”
Hiver mendesah pelan. Sepertinya harinya tidak pernah cukup dengan satu pengganggu. Kini ditambahkan oleh kedatangan River secara tiba-tiba.
“Jadi untuk apa kau datang kesini, Riv?”
River menoleh sedikit dan menatap Hiver yang enggan beradu tatapan mata lebih lama dari tiga detik. Tingkah Hiver sangat kaku, tegang.
“Oh itu. Kalian diminta oleh daddy dan mom untuk ke kota demi membahas pernikahan Autumm. Tadi aku habis makan siang bersama di rumah, dan daddy membahas rencana pernikahan Autumm. Aku jadi ingat, Hiv. Bagaimana kondisi Lou? Lou yang kasihan, harus bercerai di usia semuda itu.” kesah River yang terdengar khawatir.
“Tidak ada yang perlu dikhawatirkan, Riv. Lou baik-baik saja, sekarang telah kembali di Mersia. Lou tidak layak bersama dengan pria itu.”
Manik biru terang River berkedip-kedip menangkap amarah dari penuturan Hiver. “Kau terdengar sangat membenci pangeran itu, Hiv. Apakah dia menikahi Lou hanya ingin balas dendam terhadap Mersia?” tanyanya mencari tahu.
Hiver menyugar surai hitamnya ke belakang, manik hijaunya menggelap bercampur warna danau yang perlahan mulai memerah oleh pantulan sinar matahari tenggelam. “Kepadaku. Mungkin.” Singkatnya.
“Hei, Hiv. Jika kau butuh orang yang bisa menghabisi pangeran itu, kenapa kau tidak menghubungiku sejak kemarin. Mereka sangat gampang untuk dihancurkan, Hiv.” River bersemangat, wajahnya riang gembira.
Hiver cemberut dan menggelengkan kepala. “Tidak perlu. Pria seperti itu akan mendapatkan karmanya sendiri. Tidak perlu bersusah payah, aku juga masih memiliki suami yang hebat. Jadi tidak perlu meminta bantuanmu.”
“Kau sangat keras kepala dan juga dingin, Princess Hiver. Inilah dirimu, yang selalu terpaku pada satu pria ketika membuka hati. Dulu aku jamin jika hanya ada diriku di hatimu, tapi sekarang…”
“Sekarang berbeda, River Phoenix. Itu dulu kita tanpa ada perjanjian di depan Tuhan. Itu dulu ketika kita semua masih muda, belum tahu arti sebuah pernikahan dan cinta sejati.” Sahut Hiver seraya berdiri. Ia sangat tahu jika di belakang sana ada sepasang mata biru gelap yang memandangi mereka. Hiver memiliki ikatan batin yang sangat kuat dengan Orion, ia tidak pernah bisa salah.
“Jadi Orion adalah cinta sejatimu? Kau yakin itu, Hiv?” tuntut River kemudian memegang jemari tangan Hiver.
Wanita cantik dengan gaun panjangnya mengangguk sekali kemudian mengacak surai River dengan lembut. “Ya. Dia adalah orang, Riv. Temui Orion dan bicaralah tentang pesan daddy.”
River menggeleng lemah, kemudian melepaskan jemari tangan Hiver. Ia kemudian menatap ke arah danau. “Biarkan aku sendiri di sini, Hiv. Nanti aku akan menyusul, katakan kepada Orion jika aku akan tinggal untuk makan malam bersama.”
“Baiklah jika itu maumu, Riv.” Hiver hanya mengulas senyuman simpul kepada River walau pria tampan itu terlihat mengacuhkannya. Hiver tidak peduli, ia memilih untuk bergegas menghampiri Orion. Pria satunya yang sedang menunggu dengan sorot mata merindu dan sedikit kesal kepada River.
“River menyampaikan pesan daddy, kita diminta untuk ke kota dan River juga akan tinggal untuk makan malam di sini.” Terang Hiver sebelum Orion melayangkan pertanyaan akan kehadiran saudara kembarnya.
“Kau sangat suka ke danau tanpa membangunkanku, Marjorie.” Usap Orion melayangkan kecupan ringan di pipi istrinya.
“Maafkan aku, Bintang Jatuh. Aku lebih suka melihatmu tidur lebih lama ketika siang hari. Tidak ada pekerjaan yang menyita waktumu, mungkin aku juga perlu mulai melukis lagi. Apakah kau ingin aku melukismu ketika tidur?” tanya riang Hiver bergayut manja di lengan suaminya.
Orion tersenyum menampakkan gigi taringnya yang menggemaskan. “Nanti aku memesankan peralatan lukis untukmu. Atau kita mencari sendiri saat ke kota.”
“Kau belum menjawab pertanyaanku.” Sergah Hiver.
Orion tertawa sambil menatap ke arah River yang sedang asyik dengan pemandangan matahari tenggelam di danau. "Tentu saja kau bisa melukisku, Marjorie.”
“Ada apa?” tanya Hiver ketika Orion terdiam memandang River.
“Aku hanya berpikir, Marjorie. Bagaimana perasaanku ketika melihatmu bahagia dengan pria lain. Seperti River di sana, tapi dia sangat kuat. Jika aku berada di posisinya pastinya aku akan sangat hancur dan mungkin saja berakhir gila.”
“Kau mengasihi River karena dia adalah saudaramu. Untuk Philip tidak perlu, Orion. Mungkin sekarang ia gila dan aku tidak peduli. Philip memiliki kesempatan untuk memberikan perasaannya kepada Lou. Aku sangat membencinya. Amat sangat membencinya.”
~~
Chateu di atas bukit, sesosok pria menembus dinginnya pagi, berlari dengan kencang-kencang hingga dadanya memanas, peluhnya terus berjatuhan membasahi tiap inchi tubuh.
Philip terus berlari, seakan pagi esok tak akan tiba. Di pikirannya penuh harap jika hari yang dijalaninya adalah hari terakhir dunia berputar kemudian berhenti untuk selamanya. Sayangnya, Philip adalah seorang pendosa besar. Doa-doanya hanya seringan debu yang terbang di muka Tuhan. Mungkin belum, tapi suatu hari keinginannya pasti akan dijawab oleh Sang Pencipta.
Ketika sampai di chateu, para pelayan setianya menunggu dengan berbagai kebutuhan Philip. Ada yang menyiapkan minuman dan juga handuk. Satu pelayan mengulurkan ponsel canggihnya, hal terakhir yang ia butuhkan.
“Jika dari King Sigvard katakan saja jika aku sudah mati.” Tolak Philip sambil menyeka keringatnya dengan handuk bersih.
“Yang Mulia, anda diminta untuk menghubungi Queen Summer.” Kata pelayannya sambil menunduk.
Philip tertegun. Sedetik kemudian ia mengambil ponselnya dengan jantung berdegup lebih kencang.
Ada apa ? Hati Philip diselimuti berbagai tanya dan harapan.
###
Alo kesayangan💕,
Aku belun sempat merevisinya, sekarang jam 23.39 dan mataku sudah sangat redup.
besok aku revisi lagi..
love,
D😘