MERSIA

MERSIA
True Colors



Lou tersenyum ketika merasakan kecupan ringan Philip di pipi, helaan napas pria itu berat menyapu punggungnya. Agak lama Philip memandangi Lou, sebelum beranjak turun dari tempat tidur. Lou menghela napas panjang ketika mendengar pintu menuju kamar mandi tertutup dengan pelan. Sang putri itu berbalik memandang ke arah tempat suaminya menghilang, walau tidak terdengar suara gemericik air dari dalam sana, Lou sangat yakin jika Philip sedang membersihkan diri.


Tepat hari kelima Lou dan Philip di kastil, dan sejak kemarin malam mereka “tidur”. Sikap Philip semakin membaik kepada Lou, sementara Lou sendiri belum bisa menyapa suaminya ketika pagi tiba. Bahkan ia telah terbangun sejam sebelum pewaris tahta itu membuka mata.


Setelah fokus Lou kembali sepenuhnya, ia bergegas turun dari tempat tidur dan memakai pakaian beserta jubah berbahan sutra terbaik. Mengingat Philip masih membersihkan diri, Lou berjalan menuju meja berukir tempat ia


menaruh ponselnya. Sembari menunggu ponselnya menyala, sekilas Lou melirik ke arah pintu berwarna shaffron, sedikit paham jika Philip tipikal pria yang lama di kamar mandi. Di dalam ruangan tersebut terdapat walking closet, hingga baik Lou dan Philip telah rapi ketika keluar dari tempat itu.


Seutas senyum tersunggung di bibir Lou ketika melihat notifikasi pesan dari kakaknya.


Bagaimana bulan madu kalian? Berbahagialah, Princess Maryln Lou adikku.


Tanpa pikir panjang Lou menekan dial ke nomer kakaknya. Sambil menunggu tersambung ia bergerak ke arah kursi berukir dan duduk dengan perlahan.


“Halo, Big Sis.” Sapa Lou dengan riang


Suara tawa pelan dan akrab terdengar di telinga Lou. Sebuah tawa yang menandakan jika ia benar-benar sedang berbicara dengan kakak tertuanya. Hiver bukanlah tipe wanita yang suka tergelak tawa besar, pembawaannya tenang bahkan orang-orang mendefinisikan jika sang putri pertama adalah wujud Mersia sebenarnya.


Baru bangun ? Tanya Hiver masih dengan suara tawanya yang pelan.


Lou mengangguk seraya menggumam “Ya, kami baru bangun.” Jawabnya dengan tersipu.


Ini sudah jam 10 pagi di Lyon, Princess Lou. Tapi kalian sepertinya sedang menikmati bulan madu dengan baik. Aku sangat senang mendengarnya, sayang.


Semburat kemerahan muncul di pipi Lou, ia pun berdeham pelan.


“Big Sis sedang melakukan apa sepagi ini?” tanya Lou mengalihkan topik pembicaraan.


Terdengar Hiver menghela napasnya.


Oh, kami sedang berenang. Orion maksudnya, aku sedang bersantai di kursi setelah berenang sebanyak 5 lap. Di sini matahari sudah hangat, bagaimana di Halland ?


Mendengar pertanyaan Hiver, Lou beranjak dari kursi dan bergerak menuju jendela besar bermodel custom shape yang klasik berwarna putih tulang.


“Masih berkabut, Princess Hiver. Matahari belum belum nampak. Sepertinya hujan akan turun.” Jawab Lou sambil memandang keluar. Selama mereka berada di Halland, ruang lingkup jalan-jalan Lou hanya di sekitar kastil. Philip sepertinya belum bisa meninggalkan pekerjaannya yang menumpuk. Atau mungkin saja ada alasan lainnya.


Itu mengapa kalian masih betah di tempat tidur. Berbeda dengan Orion, dia tipe pria yang cepat bangun. Orion seperti papa. Bangun pagi dan berolahraga atau mengurus kebunnya. Ternyata kebiasaan berkebun Orion, dimulai dari rumah papa dan mama.


Lou tersenyum simpul mendengar penjelasan Hiver. Suara kakaknya seperti burung berkicau riang di pagi hari. Terdengar indah dan ceria.


“Kau mencintainya, Big Sis.” Gumam Lou dengan pandangan menerawang menembus kabut di balik jendela.


Iya. Aku mencintainya, Lou. Cinta tumbuh seiring dengan lamanya waktu kami bersama. Well, siapa sangka jika dulu kami menikah tanpa ada perasaan itu. Aku pikir keputusanku salah karena memilih pria berhati kutub utara. Orion sungguh


sangat berbeda.


Lou menunduk sambil tersenyum manis.


“Waktu kami ke mansion, aku sudah melihatnya. Cara Princess Hiver menatap seorang Orion Filante. Itu mengapa aku berani menerima lamaran Philip. Walau awalnya dia hanya menganggapku sebagai teman untuk bercerita


tentang dirimu, Big Sis.” Ujarnya.


Kembali terdengar helaan napas Hiver yang pendek.


Tapi sekarang sudah berubah, bukan?


Lou mengarahkan pandangan ke arah pintu yang tadi, ia tersentak kaget ketika melihat sosok tinggi besar sedang berdiri menatapnya.


“Oh!” pekiknya pendek. Lou menutup bibirnya karena kaget akan kehadiran Philip yang seharusnya ia sadar oleh wangi maskulin bercampur kesegaran sabun mandi pria tampan berbadan tinggi besar tersebut.


Kenapa? Tanya Hiver di telepon yang ikut kaget.


Philip terdiam sejenak kemudian berdeham dengan suara beratnya.


“Apakah kau sedang berbicara dengan Princess Hiver?” tanyanya sembari berjalan mendekat ke arah Lou.


“Iya. Apakah kau tidak ingin menyapanya, Yang Mulia?” tanya Lou menyodorkan ponsel canggihnya ke depan.


Pandangan mata Philip terlihat menyala sesaat kemudian justru meredup.


“Aku akan menunggu di luar, tidak usah terburu-buru. Gunakan waktumu untuk berbicara dengan Princess Hiver.” kata Philip disertai anggukan dan tanpa menunggu jawaban Lou, Philip berjalan meninggalkan kamar tidur.


Lou mengiringi kepergian Philip dengan tatapan mata yang tak rela berpisah. Di sisi lain, ia belum membersihkan tubuh dan kakaknya sedang menunggu di ujung telepon.


“Maafkan aku, Big Sis. Prince Philip baru saja keluar dari kamar mandi dan kini sudah pergi. Aku menawarkan untuk berbicara denganmu, tapi dia tidak menjawab. Apa ada sesuatu terjadi di antara kalian?” tanya Lou sedikit khawatir dengan perubahan sikap suaminya. Ia bisa menangkap ada yang tidak beres dari mimik Philip.


Apa yang terjadi di antara kami, Princess Lou? Tidak ada, sayang.


Hiver menjawab bersamaan dengan rasa ingin tahu Lou semakin membesar. Ia pun menarik napas panjang seraya berpikir cepat.


“Big Sis, aku berpikir tentang perubahan sikap Philip setelah kedatanganmu ke Swedia. Dia menjadi lebih perhatian dan sekarang kami berbulan madu. Dia tidak banyak bicara kecuali perkataan yang menginginkan pewaris tahta dari kandunganku. Biasanya, Philip berseri dan bahkan memulai pembicaraan tentang dirimu. Tadi aku melihatnya sangat acuh, bahkan seolah tidak mengenal dirimu, Princess Hiver.” kata Hiver dengan hati-hati.


Hening sejenak di ujung panggilan, helaan napas pendek-pendek dari Hiver terdengar jelas di telinga Lou. Sungguh benar dugaannya, jika ada yang terjadi di antara Philip dan Hiver.


Tidak ada, sayang. Jangan berpikir yang tidak-tidak. Perubahan Philip patutnya kau syukuri, itu berarti dia serius menjalani pernikahan kalian. Aku berdoa kalian secepatnya bisa mendapatkan keturunan, dan hubungan kau dan Philip semakin mesra.


Terdengar tulus, perkataan Hiver. Walau tetap saja ada yang mengganjal di hati Lou. Ada sesuatu yang tersembunyi, dan tersirat. Tidak biasanya Hiver melemah, dan tidak biasanya Philip menolak tanpa mengatakan sepatah katapun.


~~


Philip menaikkan tangannya agar pelayan-pelayan kastil tidak bergerak mendekat ke arahnya. Orang-orang berseragam tersebut patuh akan perintah sang pewaris tahta.


Philip berdiri tepat di depan daun pintu, penuh harap bisa mendengar percakapan Lou dengan Hiver. Sayup-sayup Ia mendengar Lou menyebut namanya, menanyakan perubahan sikap Philip kepada Hiver. Sang pewaris tahta tersebut mengulum bibir sambil menghela napas berat.


Ya, Lou. Ini demi dirimu, kami membuat sebuah perjanjian.



Terdengar sebuah ketukan halus di pintu kantor Orion, penghuni satu-satunya tempat itu menengadah. Hiver hanya menggeleng dengan manik hijau memutar malas ketika melihat River berjalan masuk dengan dua gelas


kopi di tangannya.


“Hai, Hiv.” Sapanya dengan riang. Pria bersurai coklat terang meletakkan gelas plastik di meja sembari duduk di depan Hiver.


“Selamat siang, Riv.” Sahut Hiver menaruh ipad-nya di samping. Ia baru saja membalas email-email penting yang ditujukan kepadanya. Bahkan dengan keberadaan Hiver di Perancis, tidak membuat ia lepas dari tanggung jawabnya sebagai putri Mersia.


“Kau tidak bekerja?” tanya Hiver sambil mengambil gelas kopinya. Ia memandang ke arah River yang memasang wajah semringahnya.


“Sudah ada Orion. Saatnya dia mengambil alih orang-orang itu, aku di sana hanya patung yang dihargai namun tidak dibutuhkan. Mereka hanya melihat Orion, otak dari Bluette Corporation.” Jawab River. Ia membuka kancing


jasnya kemudian bersandar dengan santai.


“Baiklah jika begitu.” Kata Hiver pasrah. Berapa hari terakhir menemani Orion ke kantor, dan ini kali kedua River memilih untuk menghabiskan waktu bersama, bukannya bekerja. Pemimpin perusahaan internasional, pada waktu siang seharusnya sedang produktif dengan berbagai macam pekerjaan penting lainnya. Bukan mengobrol tentang masa lalu, di ulang-ulang hingga Hiver terkadang bosan mendengarkan.


“Ada bagusnya Orion menikah.” Ucap singkat River memancing Hiver.


Manik hijau Hiver melebar “Akhirnya kau merestui pernikahan kami.” Celoteh Hiver dibalas tatapan tajam dari River.


“Tidak, bukan itu maksudku. Tapi ini adalah rekor Orion datang ke kantor lebih dari 3 hari berturut-turut. Andai tidak menikah, ia pasti akan terus berada di mansionnya. Aku berkata seperti ini bukan berarti menyerah kepadamu, Princess Hiver. Tidak, aku belum ada terpikirkan untuk menyerah begitu saja.”


Hiver menghela napas panjang “Aku tidak tahu berkata apalagi kepadamu, Riv. Tidakkah kau melihat posisi kita berdua, kau sudah memiliki Carol dan aku punya Orion.”


River berusaha tetap santai, ia mengedikkan bahunya dengan manik biru terang dilebarkan.


“Kau hanya terbiasa berada di dekat Orion. Aku sangat mengenalmu, Princess Hiver. Kau tidak memiliki teman pria, selain aku. Kau tidak pernah menjalin hubungan percintaan, hingga dekat dengan seorang pria sangat gampang membuatmu terlena. Orion membuatmu terlena, bukan?”


Hiver tersenyum disertai dengusan lemah “Terserah, Riv. Aku tidak bisa menyangkal apapun tentang tebakanmu. Karena apapun yang aku katakan tak lebih sebuah angin lalu bagimu. Semua tidak berarti, karena kau tidak mencernanya dengan baik. Walau aku mengatakan jika kami sedang menikmati perasaan cinta yang tumbuh dengan perlahan, semua itu tak berarti bagimu, Riv.” Tandasnya lagi.


“Yeah.” River mengangkat bahunya, “Itu karena aku tidak percaya akan cinta hadir secepat itu, Hiv. Kau bukan tipe wanita yang gampang jatuh cinta, terlebih kepada Orion. Dia adalah kutub utara, dan aku adalah matahari. Kalian akan saling menghancurkan.”


“Tuhan. Dari mana kau kau mendapatkan analisa seperti itu, Riv? Tidak bisakah kau memberikan waktu untuk kami, dan lihat sejauh apa pernikahan ini bertahan. Aku sudah melepaskan diri dari kejaran Prince Philip. Sementara duri sesungguhnya berada di dalam keluarga yang sama. Sahabatku sendiri, teman kecilku hingga dewasa.” Kata Hiver terdengar dingin dan datar.


River yang paham dengan perubahan nada suara Hiver, malah justru membuatnya tertawa ringan. Ia kemudian menegakkan tubuh dan menatap lekat-lekat ke arah depan, tepat pada wajah cantik sang putri.


“Seharusnya kau menikah denganku, Princess Hiver. Menungguku, sebentar lagi.” tepat perkataan River selesai, pintu terbuka dengan keras. Baik River dan Hiver sontak menoleh dengan kaget ke arah suara yang mengiterupsi


perdebatan kecil mereka.


“Kalian!” pekik Carole berjalan dengan wajah memerah. Kulit putihnya menghilang karena amarah yang memuncak.


Hiver berdiri, sementara River acuh dengan kedatangan istrinya. Tentu saja ia telah lelah dengan drama wanita itu.


“Carole.” Gumam Hiver yang mungkin bertujuan untuk sekaligus menyapa istri dari adik suaminya.


“Ya itu aku, Tuan Putri. Jika kau lupa, aku adalah istri River Phoenix.” Tantang Carole disertai pekikan. River hanya menggeleng melihat tingkah laku wanita berpakaian formal dan rapi demi ke kantornya.


Hiver tersenyum simpul sambil menganggukkan kepala “Aku tahu, Carole. Jika kau adalah istri pria yang duduk itu.” ucapnya menoleh sedikit ke kiri, River memasang seringaian melihat mereka yang saling berbincang. Semoga saja bukan rasa bangga menyelinap di hati River dengan dua wanita yang seakan memperebutkannya.


Carole mendengus kasar “Jika kau tahu River sudah memiliki istri, kenapa kau masih mengajaknya berbicara dan berdua-duaan di tempat ini.”


“Carole, diamlah.” Tegur River.


Mendengar perkataan singkat River, Carole menjadi terdiam dengan wajah memerah seperti tomat. Ia sedang menahan amarahnya.


“Nyonya Phoenix, coba lihat di sekelilingmu. Ruangan ini milik siapa, tentu saja bukan milik suamimu. Pria yang sedang duduk inilah yang masuk ke sini, aku tidak mengundangnya. River datang dengan sukarela. Jika kau lupa, kami berteman jauh sebelum kau menjadi kekasihnya. Jadi tidak ada salahnya jika kami meluangkan waktu untuk berbicara, adik ipar. Dan aku berharap ke depannya, kau lebih bisa menjaga sikap. Walau kau lebih dahulu menikah dengan River, tetapi sejak bayi papa dan mama mengenalku, baik River, Orion, Autumm dan Kaia pastinya akan berada di belakangku jika kau ingin mengadu kekuatan. Tapi itu tidak baik, Carole. Aku tidak ingin keluarga yang terkenal harmonis sejak dulu terpecah hanya oleh perasaan cemburu membabi buta oleh satu orang. Jika kau memiliki masalah dengan River, silahkan pecahkan berdua. Jangan libatkan aku dalam rumah tangga kalian, karena akupun sendiri sedang menjalani hidup bahagia dengan Orion. Permasalahan River memiliki perasaan atau tidak kepadaku, itu kembali kepadanya. Aku sudah mengatakan untuk menerima pernikahan kalian, tapi dia masih berusaha mendekati. Itu perasaan River, bukan perasaanku. Jadi tanyakan saja kepadanya, kemana sesungguhnya arah pernikahan kalian. Aku hanya berdoa kalian bisa menemukan jalan keluar, dan River tolong lihatlah Carole.” Kata Hiver panjang lebar, kemudian ia meraih tasnya.


“Princess Hiver.” River berdiri dan berupa menahan Hiver dengan maksud hati memegang tangan sang putri.


“River, jangan sentuh istriku.” Tegur keras dari pria yang berdiri di dekat ambang pintu.


Hiver tersenyum melihat kehadiran prianya. Pun ia bergegas menghampiri Orion.


“Marjorie.” Erang Orion ketika Hiver memeluk tubuhnya dengan erat.


River mendengus kasar sementara Carole kehilangan kata-kata melihat kemesraan sejoli yang tidak mempedulikan tempat dan orang di luar ruangan yang menjadi penonton cuma-cuma.


“Hari ini terakhir, Orion. Bukan aku lelah menemanimu, tapi melihat River. Sekarang ditambah dengan istrinya.” Hiver berbisik sepelan mungkin.


Orion tertawa manis seperti madu sambil mengusap punggung istrinya. Tak lama kemudian ia kemudian menatap Carole dan River secara bergantian.


“Tugasku di sini sudah selesai, Tuan CEO. Aku sudah melakukan semua permintaanmu, membereskan segala hal hingga akhir tahun. Dan Carole, aku mendengar semua perkataan istriku. Ya, Marjorie bukan hal yang perlu kau pikirkan dalam rumah tangga kalian, tapi suamimu. Wanita cantik yang berada di pelukanku memiliki penjanjian hidup semati, tidak ada kekuatan yang bisa memisahkan kami bahkan itu dari adikku sendiri. Oh ya, sekadar informasi untuk kalian, hari ini kami akan terbang meninggalkan Perancis dan berbulan madu. Jadi, selamat tinggal.” Kata Orion sambil tersenyum.


Hiver mendongak dengan tatapan penuh cinta. Pun ia ikut tersenyum dan kembali merebahkan kepala di tempat ternyamannya. Sebuah dada bidang yang tak perlu berotot namun selalu membuatnya tidak bisa melepaskan diri.


“Orion.” Gumam rendah Hiver.


Orion mengecup kening Hiver dengan lembut.


“Marjorie, kita lepaskan segalanya di tempat itu. Titelmu sebagai seorang putri dari Kerajaan Mersia, dan aku yang memiliki ketakutan akan dunia luar. Di sana, kita hanya sepasang kekasih yang menikmati liburan bersama.” giliran Orion berbisik di telinga Hiver. Sekarang ia menjadi orang yang sangat pelit kepada orang lain, terlebih ada dua pasang telinga memasang antena tinggi-tinggi. Orion tidak mau rencana liburannya diketahui oleh River yang masih memendam perasaan kepada sang putri.


Hiver tersenyum dan menghadiahi kecupan di pipi Orion “Aku sudah tidak sabar.”


Orion hanya melambaikan tangan kepada River dan Carole, kemudian pria bersurai emas pucat merangkul istrinya keluar dari ruangan kantor yang menyita segala perhatiannya selama 5 hari terakhir.


“Aku juga tidak sabaran melihatmu mengenakan bikini.” Canda Orion seraya tertawa.


“Bukannya tadi pagi aku berbikini di kolam.” Sungut Hiver merajuk. Kini ia harus puas berada dalam genggaman tangan Orion sambil melewati pegawai-pegawai perusahaan.


“Berbeda, Marjorie. Aku ingin melihatmu lebih hidup dan lebih berwarna dengan semua macam ronamu. Aku ingin melihat dirimu yang sesungguhnya.”


###







alo kesayangan💕,


godaan serial Netflix lebih nyata dan menggoda hingga aku libur sangat lama.


aku melupakan kalian yang mungkin saja menanti lanjutan salah satu novel, maaf🙏🏻


btw tetap menjaga kesehatan, hindari bepergian tak penting.


love,


D😘