
“Aku…” suara parau Hiver menatap nanar wajah serius milik Philip. Ia menggelengkan kepalanya. “Ini tidak mungkin.” Lirik Hiver melihat River membaca berkas yang direbut paksa dari tangannya.
“Sangat mungkin.” Tegas Philip.
Kaki Hiver goyah namun menolak ketika Philip mengulurkan bantuan. “Aku tidak apa-apa.” Tolaknya berusaha menguasai diri.
“Duduk saja.” cetus River menatap Hiver. Sejenak ia mengalihkan fokusnya dari deretan tulisan yang membuat jantungnya berdenyut kencang.
Hiver mendengarkan perkataan River, ia kembali ke tempat duduknya.
“Bisakah kau memberikan berkas itu untuk ke team dokter yang menangani Orion?” perintah Philip berlagak sebagai seorang putra mahkota di depan CEO Bleutte Corporation. Herannya, River mengangguk.
“Aku akan masuk dulu, kepala team dokter berada di dalam sedang memeriksa Orion.” Pamit River menatap bergantian Philip dan Hiver.
“Riv.” Desah Hiver yang dilema.
Bersamaan dengan team dokter yang tadinya memeriksa Orion keluar dari pintu. “Dok, saya butuh waktunya. Ada hal sangat penting yang hendak saya sampaikan.” Ujar River serius.
Raut wajah Dokter Alain menangkap isyarat River yang terlihat tegang. “Mari kita bicara di kantorku.” Ucapnya sambil menganggukkan kepala kepada Hiver dan Philip sebelum berjalan dengan River.
Kini Philip menggantikan River di kursinya. Keduanya duduk bersisian, Philip terus memerhatikan dari samping wajah Hiver yang sayu. Bukan Hiver yang dikenalnya selama ini, wajah dingin dengan kecantikan menenggelamkan. Pendar semangat Hiver hilang, hanya kalut menyelimuti wajah cantiknya yang pias.
“Bagaimana keadaanmu?” pelan Philip bertanya seraya mengarahkan pandangan kepada pengawalnya yang berdiri tak jauh dari tempatnya duduk.
Hiver mengeluarkan desahan lemah dari bibirnya, ia menolak untuk menoleh dan mendapati wajah Philip yang bisa di tebak sedang menatapnya dengan lekat-lekat. “Seperti yang kau lihat, Prince Philip.” Sahutnya datar tak lupa menyebutkan gelar kebangsawanan si pria bertubuh tegap di sampingnya.
“Terlihat menyedihkan.” Tandas Philip seraya menghela napas berat.
Sejenak tercipta hening di antara mereka. Philip menikmati momen tersebut, hal paling ditunggunya selama berapa bulan terakhir.
“Aku tidak percaya kau akan melakukan ini.” gumam Hiver pelan.
“Kau tidak menolak donorku?” tanya Philip dengan cepat.
Saat itu pula Hiver menoleh dengan wajahnya yang sendu dan menggeleng. “Aku membutuhkannya.” Manik hijau itu berkaca-kaca dengan indahnya. Sang putra mahkota menggeram kuat untuk menguasai diri. Baginya, Hiver tidak memiliki secuil kekurangan bahkan ketika wanita cantik itu tengah dirundung duka.
Philip menghela napas sangat lega, manik lionnya sekilas terpejam kemudian kembali menatap wajah bidadari di sampingnya. “Terima kasih, Tuhan. Setidaknya aku bisa memberikan sebuah harapan untuk wanita yang aku cintai.”
“Aku tidak bisa menampik jika perkataanmu benar, Prince Philip. Kau telah memberikan aku sebuah harapan yang sangat besar, peluang Orion untuk bertahan lebih lama.”
Ingin rasanya Philip memeluk tubuh ringkih Hiver, namun apa daya ia harus meredam semua keinginannya. “Terima kasih.” Singkatnya dibalas gelengan kepala kuat dari Hiver.
“Aku yang seharusnya berterima kasih.” Nada lemah Hiver terdengar sangat tulus.
Hati Philip trenyuh mendengar perkataan lembut Hiver. Sepanjang mereka saling mengenal, ini kali pertama Hiver tidak melontarkan nada sinis atau penolakan yang sopan. Pertemuan terakhir mereka malah Hiver hampir melukai dadanya. “Semuanya cocok, aku memiliki tubuh yang sangat sehat. Aku adalah donor sempurna untuk Orion.” Ulang Philip.
“Kapan kau memeriksakan dirimu? Bagaimana caranya kau melakukan ini semua, mendapatkan informasi tentang kondisi Orion.” Tuntut Hiver yang membutuhkan penjelasan.
“Dokter kerajaan melakukannya secara sembunyi-sembunyi tanpa sepengetahuan King Sigvard. Tidak ada yang tahu kecuali beberapa orang kepercayaanku. Baiknya kita berdoa semoga semuanya berjalan dengan lancar, Princess Hiver.”
“Philip…” panggil Hiver dengan pelan. Banyak kata yang ingin ia keluarkan namun Philip seolah tahu apa isi hatinya, pun pria bertubuh tegap itu menggelengkan kepala.
“Simpan semua perkataanmu, Hiver. Kita akan membicarakan ini lebih lanjut setelah ini selesai. Tapi, aku memiliki satu permintaan.” Sela Philip dengan wajahnya lebih serius dari sebelumnya.
Alis hitam Hiver mengerut. “Apa itu? Kau tidak memintaku untuk menjadi milikmu, bukan? Kau tidak tulus, Prince Philip.”
Sang pewaris tahta itu tertawa pelan sambil menggeleng. “Tentu saja tidak, itu bukan alasanku mendonorkan hati kepada Orion. Aku tidak segila itu walau kau tahu betul bagaimana perasaanku kepadamu. Permintaanku sangat sederhana yakni Orion tidak diberitahukan jika aku-lah yang mendonorkan hati kepadanya, mungkin sebaiknya dia tahu hanya sebatas kalian telah menemukan donor hati yang cocok. Ini bukan operasi kecil, tapi besar dan membutuhkan waktu panjang bagi dirinya untuk penyesuaian dan pemulihan. Kau mengerti?”
Hiver mengangguk lemah. “Jujur, Orion tidak pernah menampakkan jika dirinya sedang sakit. Dia sangat tenang walau aku tahu hal apa saja yang dirasakannya dari team dokter. Orion sangat tabah, dan menginginkan aku menerima jika saja terjadi hal terburuk. Hatiku sakit setiap kali Orion mengatakan itu.” kini Hiver tidak bisa menahan air mata di depan Philip, pria dewasa dengan wangi maskulin itu kemudian menyodorkan sebuah sapu tangan sutra berwarna emas.
“Maafkan aku, Prince Philip.” Erang pelan Hiver menghapus air matanya dengan pelan. Walau dengan tampilan sederhana, Hiver masih tetap bersikap elegan, itu adalah hal yang tidak bisa dilepaskan dari kesehariannya terlebih mereka berada di tempat umum.
Ada satu hal yang aneh terjadi, sejak kedatangan Philip tak ada satupun perawat atau dokter melintas di selasar tersebut, mungkin Philip meminta pihak rumah sakit akses VVIP.
“Semua akan baik-baik saja, Hiver. Kali ini percayalah kepadaku.” Ujar Philip dengan mantap.
Usai mengucapkan perkataannya, pintu ruang rawat Orion terbuka. Adrien muncul dari balik pintu dan sontak manik biru berkabut putih itu membulat.
“Yang Mulia.” Sapanya pelan sambil menutup pintu.
Philip dan Hiver berdiri dari duduknya. “Apa kabar, Mr. Adrien?” kata sang pewaris tahta sopan menjabat tangan Adrien.
“Baik, Yang Mulia. Apakah kau ingin membezuk Orion? Tapi sekarang dia sedang tidur.”
Hiver menyela dengan gelengan kuat. “Daddy, Philip ke sini untuk menjadi pendonor Orion.”
“Huh, apa?” sergah Adrien terperanjat kaget.
…
Orion menatap lekat-lekat wajah Hiver yang sepertinya telah menemukan cahaya, Putri Mersia itu tak hentinya mengumbarkan senyum merekah. Suara Hiver pun terdengar lebih riang penuh semangat, tidak melemah seperti beberapa hari yang lalu.
“Berhentilah membaca, Tuan Bintang Jatuh.” Hiver menarik pelan buku di tangan Orion.
“Marjorie.” Desah Orion sambil memanyunkan bibirnya.
“Tidak, Tuan Filante. Kau harus beristirahat, besok jadwal operasimu.” Titah Hiver menggelengkan kepalanya.
“Ini baru jam 7 malam, Marjorie.” Protes Orion di balas derai tawa Hiver yang indah.
“Tapi jadwal operasimu jam 5 pagi, Mon Epoux. Dokter tidak akan mengganggu kita, jadi biarkan aku
menghabiskan malam bersama dengan kekasihku. Karena setelah operasi, kita tidak akan tidur bersama hingga kau benar-benar menerima cangkok hati si pendonor.” Ujar Marjorie kini berdiri di tepian hospital bed. Orion bergerak ke kiri, memberikan tempat biasanya Hiver selalu tidur ketika malam tiba.
“Bagaimana jika aku tidak berhasil.” Orion bergumam disambut decakan kesal dari Hiver.
“Kemungkinan itu kecil, Orion. Kau ditangani dokter terbaik dan pendonornya sangat cocok denganmu.”
“Kalian merahasiakan informasi pendonor itu dariku.” Lirik Orion ketika Hiver membaringkan kepalanya dengan pelan.
Hiver mendesah sambil mengecup lengan Orion. “Orang itu tidak ingin diketahui identitasnya, tapi
sepengetahuanku jika pendonor tersebut memiliki tubuh yang sangat sehat.” ujarnya beralasan.
“Perkataanmu sama persis dengan ucapan daddy, mom, dan River.”
Hiver tertawa manis untuk menutupi kebohongan yang sangat rapi direncanakan oleh beberapa orang, dirinya pun termasuk di dalam persengkokolan itu. Permintaan Philip ada benarnya, yakni merahasiakan data pendonor kepada Orion. Ada satu hal besar yang menjadi ketakutan Hiver, yaitu andai saja Orion tahu perihal Philip, bisa jadi semangat untuk berjuang suaminya menurun. Sebuah kemungkinan besar Orion akan menyerah di meja operasi karena pria cantik itu akan berpikir Hiver baik-baik saja dengan kehadiran Philip. Hiver memiliki peluang untuk bersama kembali dengan putra mahkota itu.
Beberapa kali Orion mencoba membahas pria tersebut selama di rumah sakit, mencari tahu kabar Philip di ponsel yang dipinjamnya dari Isla, sang mama. Hiver menebak jika Orion menginginkan Philip datang menemuinya dan mungkin saja akan mengucapkan sebuah wasiat. “Aku menitipkan Marjorie”
Hati Hiver berdenyut sakit ketika Orion mengungkit hal tersebut. Bahkan setelah Philip datang menyodorkan bantuan, sedikitpun hati Hiver tidak goyah dalam mencintai Orion.
“Berjuanglah besok, Orion. Ingatlah jika ada aku menunggumu ketika kau sadar, perjuangan ini masih panjang setelah kau menjalani operasi. Aku ingin menemanimu sembuh dan kita bisa kembali ke danau. Itu adalah rumahku, selama kau juga ada di situ. Aku masih ingat pertemuan kita yang membuat segalanya jadi dekat. Ketika aku menjemput Onyx, kau sangat kesal kepadaku. Wajahmu sangat dingin, Tuan Kutub Utara. Walau
saat itu kau membuatku marah karena kata pedismu, namun andai saja bisa mengulang waktu tersebut, aku akan membalas sindiranmu dengan menaiki meja dan mengecup bibirmu di depan River.” Ucap Hiver dengan lantang.
Tubuh Orion bergerak samar dengan suara tawa yang halus. “River seketika itu juga patah hati, dan jika kau melakukan itu, aku akan menikahimu hanya selang beberapa jam kemudian. Oh my dear Princess Marjorie Hiver, betapa susahnya dirimu untuk didapatkan.”
Di remang-remang kamar, manik hijau Hiver memburam. Ia menggigit bibir agar suara isakan tidak keluar.
“Jangan menangis, Marjorie. Apa yang kau tangisi?” tanya Orion sambil mengecup puncak kepala istrinya yang berwangi orange segar.
Hiver memeluk lengan River dengan posesif. “Aku ingin mengulang semuanya dari awal, Orion. Bukan ketika menjemput Onyx, melainkan saat remaja. Aku akan memaksamu memeriksa kesehatan sejak dini. Entah kau suka atau tidak, aku akan tetap menyeretmu ke tempat ini.”
Tangan kanan Orion membelai surai hitam Hiver sambil menghela napas panjang. “Tidak ada yang perlu disesali sekarang, Marjorie. Semua telah berjalan seperti adanya. Waktu tidak bisa dikembalikan, aku hanya menyesali diri tidak mengajakmu bepergian banyak untuk berbulan madu.”
“Kita masih punya kesempatan untuk itu. 6 bulan kemudian kita akan melakukannya, bawa aku kemanapun kau mau, Mon Epoux. Berjanjilah.” Hiver mengecup pipi Orion yang sedikit cekung karena penyakitnya. Ketampanan juga wajah cantiknya kini terkikis.
Orion menolehkan kepala dan menatap wajah istrinya, sebuah ketakutan besar sedang mendera di dasar hati bahwa mungkin saja ini adalah malam terakhir ia melihatnya, wajah kekasih hatinya. “Aku mencintaimu, Marjorie.”
“Tidak. Bukan itu yang aku ingin dengar. Berjanjilah untuk berjuang di alam bawah sadarmu untuk bangun. Aku belum memberikanmu seorang anak, Orion. Aku telah melepaskan pil itu, sebelum pesta ulang tahunku. Aku pikir hari itu adalah momen yang pas untuk kita.”
“Marjorie.” Lirih Orion bersamaan dengan tangannya membeku di kepala Hiver.
“Ya?”
“Peluk aku, Marjorie.” Pinta Orion yang suaranya mendadak parau dan berat.
Hiver pun melaksanakan perintah Orion. Tangannya merengkuh tubuh Orion dengan sangat hati-hati, Hiver tentu tidak mau menambahkan beban berat pada bagian atas tubuh suaminya.
“Apakah aku menyakitimu? Maksudku tanganku berada di atas dadamu, Orion.” kata Hiver meragu.
“Tidak. Aku meminum banyak obat, Marjorie. Termasuk pereda nyeri, aku tidak akan mati hanya dengan satu pelukan.” Sahut Orion kembali mengembuskan napas pendek-pendek, seiring sakit menggerogoti, pun kapasitas oksigen yang dihirupnya tidak bisa sebanyak sebelum ia di vonis sebuah penyakit mematikan.
“Orion Filante, maafkan aku.”
“Aku yang seharusnya minta maaf. Tadi ketika kau mengatakan jika waktunya untuk kita memiliki seorang anak, aku hampir menyerah dengan penyakit ini, Marjorie.”
“Jadi? Sekarang maukah kau berjanji untuk berjuang? Kita berjuang bersama demi masa depan, Bintang Jatuh-ku?”
###
dear kesayangan💕,
aku terlena dengan dunia nyata hingga tidak punya kesempatan untuk menulis..
idenya banyak, namun menyempatkan waktu untuk menulis sangatlah susah.
maafkan aku 🙏🏻
besok nulis apalagi?
Kai atau Jace.
love,
D😘