
Serenade telah menolak sedemikian rupa agar ia kembali ke New York menggunakan pesawat komersil. Namun Philip yang memiliki lisensi pilot sejak usia 22 tahun, berkeras untuk menepati janjinya. Syukurnya Serenade tidak sendiri di kursi penumpang, ia ditemani dua teman akrab Philip dan beberapa pengawal di ruang belakang. Dua pria bertubuh Viking, tinggi dan besar. Mereka adalah Mikael Molarde dan Rolf Sallert menjadi penghibur Serenade dengan guyonan dan cerita masa kecil Philip Bernadotte. Selama 8 jam penerbangan, Serenade tidak pernah memejamkan mata, rasa kantuk enggan menghampiri karena lelucon Mikael dan Rolf. Kedua pria tampan itu berprofesi sebagai pebisnis ternama dan sukses di Swedia.
Sedikit banyak Serenade jadi tahu jika Philip bersama temannya ke New York bukan hanya bertujuan untuk mengantarnya melainkan sekaligus para pria itu mengadakan sebuah pertemuan bisnis mungkin berujung party untuk kalangan tertentu di sebuah tempat di pusat kota. Terus terang Serenade tidak mendapatkan ajakan untuk bergabung dengan mereka, dia pun keberatan jika diminta menemani ketiga pria itu. Yang Serenade pikirkan adalah suasana nyaman apartemen milik Daddy-nya.
Rolf dan Mikael melambaikan tangan ketika mereka berpisah dengan menggunakan kendaraan yang berbeda, kedua teman Philip terlebih dahulu menuju hotel berbintang lima di kawasan Manhattan. Sementara Philip akan mengantar Serenade, walau nantinya tetap menyusul ke hotel tersebut.
"Kita berangkat, Yang Mulia," kata pengawal yang berada di kursi depan, tubuh tegap dibalut setelan berwarna hitam, rapi tampak menoleh dan mendapatkan jawaban anggukan dari Philip.
Serenade memandang Philip yang menyandarkan tubuh pada kursi mobil. "Lelah?" tanyanya. Philip tersenyum dengan mata terpejam.
"Tidak," sahut Philip. "Aku adalah pilot berpengalaman, Nada. Aku terlatih dalam kondisi apapun," Bukan lelah di tubuh yang dirasakan oleh Philip, melainkan kenyataan yang harus dihadapinya. Perasaan kehilangan, setelah beberapa hari ia terbiasa dengan kehadiran Serenade. Philip harus menerima itu sebentar lagi.
"Maafkan saya, Yang Mulia," Serenade merasa bersalah, entah berapa kali ia mengucapkan kalimat yang sama kepada Philip.
"Tidak ada yang perlu dimaafkan, aku sudah berjanji," Philip menoleh dengan anggukan kepala. Ia mengulum senyuman.
Serenade patuh untuk tidak memperpanjang sesalnya. "Terima kasih," gumam lemah seiring kendaraan berwangi bunga itu semakin mendekatkan diri dengan apartemennya.
20 menit di perjalanan tanpa ada pembicaraan yang berarti, sekadar basa-basi tentang apa yang akan dilakukan Philip dan Serenade. Hingga mobil berwarna hitam itu berhenti di depan bangunan apartemen Serenade, di saat itu pula sang pianis menoleh dengan tatapan penuh makna ke arah Philip.
"Sampai di sini saja, Yang Mulia," Serenade menahan Philip yang sepertinya ingin ikut keluar, sementara pengawal sang putra mahkota terlebih dahulu menurunkan koper.
Philip menggenggam jemari Serenade sembari menatap lekat-lekat. "Istirahatlah, sampai bertemu kembali," ucapnya dengan suara berat. Serenade menggigit bibirnya sambil menganggukkan kepala.
Philip mengecup punggung jemari tangan Serenade, dan selebihnya hanya gerak kepala naik turun dan helaan napas pelan dan berat. "Ya, sampai bertemu kembali, Prince Philip Bernadotte. Terima kasih atas segalanya,"
Serenade menjejakkan kakinya di atas aspal dengan hati bercampur aduk. Ia terus menatap pria bertubuh tegap dibalut kemeja bermotif vertikal. Ketika pengawal Philip menutup pintu mobil, Serenade dikagetkan oleh kenyataan yang menyadarkannya, jika pria yang menemaninya selama lebih 70 jam sebentar lagi akan berlalu. Ia tidak bisa melihat jelas Philip dari luar kecuali sosok buram berwarna putih. Selain anti peluru, kaca mobil itu tidak bisa ditembus dengan mata biasa.
Tak sedikitpun Philip berkeinginan untuk menurunkan jendela kaca mobil, sementara Serenade menantikan kejadian itu sambil menggenggam erat pegangan kopernya. Dan mobil itu berlalu dengan perlahan seiring perih yang ditahan Serenade meledak membentuk tetesan air mata berjatuhan membasahi pipi.
Dengan tergesa Serenade menarik kopernya masuk ke dalam apartemen, tatapan tertunduk dengan bulir air mata setia menemaninya. Serenade tersedu-sedu meratapi luka terbesar di dalam hidupnya. Kehilangan.
...
Dua hari setelah Serenade kembali ke apartemennya, di kota New York yang hingar bingar. Selama itu pula Serenade menghabiskan waktu dari pagi hingga pagi tiba di atas tempat tidur, bahkan makanan yang dipesannya lewat layanan delivery order pun di santapnya di atas tempat tidur. Serenade mengabaikan ponselnya, menonaktifkan benda itu sejak dua hari lalu.
Seperti sekarang ia duduk bersila menatap rinai hujan membasahi kotanya. Mulut Serenade seperti dukun komat-kamit ketika mengunyah pizza, segala makanan yang masuk masih berasa sekam menyakiti tenggorokannya. Tarikan napas bersamaan bunyi hidung berlendir membuat Serenade meletakkan sisa pizza dan menarik dua lembar tissu. Ia mengeluarkan lendir di hidung dan mengakibatkan indera pernapasannya itu semakin memerah.
"Ahhhhhhh," keluh Serenade dan manik birunya kembali bersaing dengan rinai dari balik jendela. Ia menatap remasan-remasan tissu bekas yang menumpuk di lantai berkarpet, kepala menggeleng dan bersamaan ia menarik napas panjang.
Serenade beringsut turun dari tempat tidur lalu memunguti sampah tissu bekas dan beberapa kaleng soda teronggok di atas karpet. Entah dari mana akal sehatnya kembali bekerja, dan kekuatan hebat untuk membersihkan kamar tidur yang berantakan akibat ulahnya. Selang sejam kemudian Serenade telah membersihkan diri, berendam dengan sabun favoritnya, mengeramas surai emasnya dan mengenakan piyama katun yang dibelikan Sky, mamanya. Pianis itu duduk di sofa depan televisi sambil berusaha menyalakan ponselnya.
Notifkasi beruntun tak habis-habis ketika ponselnya mendeteksi sinyal AT&T, Serenade terpaku memandang layar yang terus memunculkan pesan yang masuk. Ia baru saja hendak membuka pesan paling atas, dan bunyi dering khusus membuatnya dengan cepat menerima panggilan suara itu.
Dari mana kau? Serenade Rajendra! Kau ingin membuat mama kena serangan jantung? Daddy-mu sedang berkemas, dia tadinya akan ke New York hanya ingin memastikan keadaanmu. Teriak Sky di telepon, terdengar sangat marah. Serenade masih ingat kapan terakhir Sky marah besar, yaitu ketika ia mencoba menyesap segelas minuman beralkohol bahkan pada saat itu usianya masih di bawah umur. Kejadian itu terjadi ketika pesta di kediaman mereka. Serenade di hukum berat dengan menambah jam privat dan tidak boleh berkumpul dengan teman gengnya selama sebulan.
"Di rumah, apartemen," Serenade menyahut lemah. Susah payah ia bersikap tegar, namun setelah mendengar teriakan Sky, pun kembali mata birunya berkabut.
Apa yang terjadi? Tidak biasanya anak mama menghilang selama dua hari. Sky melunak, walau terdengar jelas dengusan kasar yang membuat Serenade tersenyum pahit. Ia merindukan mamanya, melebihi apapun.
"Tidak ada, Ma. Nada hanya ingin menenangkan diri," sanggahnya sembari mengambil selembar tissu, Serenade melap air mata tanpa ada suara sedikit pun. Ia tidak ingin membuat khawatir wanita yang melahirkannya, wanita yang sangat tangguh yang pernah ia kenal.
Dua hari lalu, saat di Swedia.. sebelum terbang, mama mendengar suaramu yang riang. Sekarang sangat berbeda. Demi Tuhan, anakku.. Katakan siapa yang membuatmu seperti ini?
Serenade menggeleng bahkan ketika kepalanya tenggelam pada bantal sofa miliknya. "Tidak ada, Ma. Kalau pun ada yang berubah, itu Nada biangnya. Bukan orang lain. Jadi, tidak ada yang perlu disalahkan atau dicari orangnya. Maafkan Nada, Ma. Telah membuat khawatir, janji tidak akan terjadi hal serupa di masa depan. Nada baik-baik saja, sedang duduk di sofa baru yang mama belikan. Terima kasih, Ma. Atas semuanya, atas hidup yang lebih baik daripada orang-orang. Nada diberikan kebebasan untuk menentukan masa depan, bahkan bebas ke negara pria-pria itu,"
Kau tidak berniat bunuh diri kan, Sayang? Serenade, dengarkan mama! Apapun yang kamu nikmati sekarang, itu adalah tanggung jawab kami sebagai orang tua. Mama dididik sama halnya kami mendidikmu, tidak ada tekanan dalam hal apapun. Sejak kecil mama melihat kau mewarisi bakat musik papamu, jadi kami, aku dan daddy-mu mewadahi segalanya. Mama juga tidak mempermasalahkan jika kau belum menemukan kekasih, belum menikah, itu bukan hal besar bagi kami. Yang terpenting, kau dan adik-adikmu menikmati hidup, mencari jalan terbaik untuk masa depan kalian. Mama tidak memberikan target kau harus menikahi salah satu pangeran itu, Sayang. Jika mereka tidak memenuhi standarmu, tolaklah mereka.
"Terbalik, Ma. Nada yang tidak memenuhi standar keduanya," Serenade terhibur. Ia tertawa kecil dengan dada yang masih nyeri.
Sky kembali menggerutu menggunakan bahasa ibunya. Walaupun begitu, seorang Serenade Rajendra sangat berarti bagi kami. Walau para pangeran itu mencampakkanmu, Sayang. Kamu masih memiliki kami.
Serenade tidak bisa menahan gelaknya yang keras, ia melengkung di sofa sambil tertawa sampai pinggir kelopak matanya mengeluarkan cairan bening. "Nada sangat mencintai Mama. Terima kasih telah melahirkan Nada,"
Sepertinya terjadi kesalahan komunikasi antara Hollywood dengan New York, Sky salah dalam menanggapi semua perkataan anaknya.
Kak Axel, tolong nasehati anakmu. Ia berbicara tidak jelas, atau kakak terbang saja ke sana dan melihat langsung keadaan Nada. Sky terdengar sangat khawatir, Serenade menegakkan tubuhnya dan memerhatikan ponselnya masih terhubung dengan sang mama.
"Ma, Nada baik-baik saja," Serenade menegaskan.
Halo, Sayang. Sapa suara bariton menyejukkan hati Serenade.
"Daddy," sahut Serenade dengan terbata-bata.
Apa kabarmu, Sayang?..
Nada dengar kata Mama, bukan? Axel berkata penuh kasih sayang berbeda dengan sang Mama yang berubah menjadi induk singa yang melindungi anaknya dari serangan para pemangsa.
"Ya, Daddy," Serenade tersenyum sambil berjalan masuk ke dalam kamar. Ia membuka koper yang baru sejam lalu dikeluarkan isinya, kini ia mengisi kembali dengan berbagai pakaian lebih kasual bukan semi formal dan formal.
Sampai bertemu di Lyon, Sayang. Axel menyudahi panggilan telepon sementara Serenade berlagak anak sekolahan yang akan piknik ke tempat wisata, hatinya penuh riang dan gembira. Ia bahkan lupa hal yang membuatnya bersedih selama dua hari.
...
Sore hari di Lyon, suasana rumah mewah milik Mami Isla bersama Papi Adrien tampak lengang. Orang-orang yang tadinya berkumpul di ruang keluarga kini telah menghuni kamar tidurnya masing-masing. Bayangkan saja, sejak pagi mereka melakukan berbagai kegiatan. Para wanita kecuali Serenade memasak, sementara ia sendiri menikmati nyamannya kolam renang air hangat. Para pria bermain catur di serambi rumah, kopi dan makanan ringan khas Indonesia menemani mereka bersenda gurau.
Serenade memilih untuk tidak tidur, ia duduk di bawah pohon buah-buahan tropis yang rupanya bisa beradaptasi cuaca kota Lyon. Tubuh Serenade bersantai penuh sembari berselonjor di atas dipan kayu jati yang ia asumsikan dikirim langsung dari Girindrawardhana Timberland.
Serenade menghabiskan sore sambil mematutkan pandangan pada ponsel canggih di tangan, beberapa pesan dari Onyx belum juga di balasnya. Pesan terakhir pangeran Mersia itu "Are you ok, Nada?
Serenade menghela napas, memandang pada dedaunan hijau yang rimbun. Tadinya ia berencana mengabaikan kedua pangeran tersebut, hanya saja cuma satu orang yang terus menerus mengirimkan pesan. Sementara Philip sepertinya telah memutuskan sesuatu berdasarkan asumsinya.
"Hai," sebuah sapaan halus membuat Serenade menoleh ke asal suara. Dengan tergesa duduk dengan manik biru juga membeliak akan kehadiran tiba-tiba wanita cantik bersurai arang.
"Yang Mulia," Serenade terduduk dengan tangan saling bertautan di atas paha. Ia tidak menyangka jika Hiver akan tiba lebih cepat ke Lyon setelah kunjungan keluarga mereka di Mersia. Beberapa anggota keluarga sang mama berdatangan dengan menyusul ke Lyon, hanya ia dengan Pamannya dari Berlin yang memilih datang lebih awal.
"Panggil aku Hiver, Nada," Hiver membantah dengan lembut dan ramah. Wanita yang sedang mengandung itu kini duduk di sebelah Serenade.
"Kak Hiver," Serenade mengulang panggilannya. Hiver tersenyum simpul.
"Kami baru tiba, dan mama mengatakan jika kau ada di sini," Hiver memandang Serenade hingga sang pianis mendadak gugup.
Sekilas Serenade menatap binar manik hijau milik Hiver, juga wajahnya yang tenang dan elegan. Walau ini bukan pertama kali mereka bertemu, namun sudut pandang Serenade berubah terhadap Princess Hiver. Kemarin ia masih menganggap Hiver adalah istri kakaknya. Namun kini, ia menilai bahkan membandingkan dirinya dengan Hiver, wanita yang sangat dicintai oleh Prince Philip Bernadotte. Sangat wajar jika pria seperti Philip memilih untuk hidup sendiri dibandingkan menikahi putri yang dijodohkan oleh ayahnya.
Serenade melirik, memerhatikan warna kulit mereka yang hampir sama, namun struktur wajah-lah membedakan dengan kontras. Mencari wanita yang menyerupai Princess Hiver layaknya mencari jarum pada tumpukan jerami. Sementara wanita berambut emas dengan wajah standar seperti Serenade, bisa saja ditemui di banyak tempat. Bukan berkecil hati atau tidak mensyukuri pemberian Tuhan, namun Serenade tidak bisa dibandingkan dengan Princess Marjorie Hiver, putri pertama Kerajaan Mersia. Satu-satunya wanita yang membuat Philip tergila-gila hingga menyerahkan separuh hatinya.
"Nada tiba kemarin siang, bersama dengan Mama dan Daddy, Kak," sahut Serenade pelan. Setelah tahu siapa sebenarnya Princess Hiver, bukan hanya sekadar istri dari Orion dan putri dari Mersia, kini Serenade melihat jelas jembatan yang memisahkan antara dirinya dengan wanita cantik itu.
Serenade mendapatkan tepukan pada punggung tangannya, Hiver tersenyum manis. Bahkan bisa dikatakan senyuman itu adalah senyuman paling indah ia lihat sepanjang mengenal wanita cantik itu. "Aku tidak akan memakanmu, Nada," ujarnya tertawa lembut dan tenang.
"Maafkan saya, Kak," aku Serenade kikuk. Bahkan suara tawa seorang putri terdengar seperti melodi Mozart, indah.
"Saya tahu semuanya, Nada. Dari kakakmu, Kak Orion," ucap Hiver lembut penuh kasih ketika menyebut nama suaminya.
Manik biru laut dipenuhi cahaya senja milik Serenade melebar. "Semuanya," erangnya lirih.
"Kita punya banyak waktu untuk bercerita, apapun yang ingin menjadi pertanyaan di hatimu, kau boleh mengeluarkan semuanya. Tidak ada yang kusembunyikan, Nada," potong Hiver menatap Serenade layaknya seorang kakak perempuan kepada adiknya. "Onyx adalah kehidupan di keluarga kami, tiang dari Mersia. Sementara Philip, orang yang memberikan kehidupan kepadaku,"
Serenade tak kuasa menatap Hiver, ia menunduk sembari mendengarkan tutur kata Hiver yang membuai inderanya.
"Oh ya, Nada.." kata Hiver lebih ceria. Serenade tersenyum ketika menaikkan kepala. "Onyx ikut bersamaku ke sini. Dia sedang ada urusan di kota, kalian akan bertemu saat makan malam,"
###
alo kesayanganπ,
rupanya Mersia yang UP π
maaf aku bener2 sibuk seminggu ini, baru jumat rada selow dan bisa fokus menulis.
oh ya, minta saran dari kalian
aku tuh menulis sudah jadi hobby ketika senggang, jadi aneh rasanya juga jika g menuangkan bakat iniππ di sebuah karya gak jelas..
namun setelah Serenade tamat, kan masih ada satu Prince blom ada ceritanya.. Si Malcomm Cyrus..
karena MT bkin kecewa krn menurunkan level gold kuπ gimana kalau ak menulis cerita Malcomm di WP? sama2 tidak berbayar, bukan?
last but not least, selamat bergabung di WAG Laplusbelle yang penuh makanan dan cerita buat Ms. Panda dan Moka, semoga kalian betah πππ
love,
Dπ