
"Jangan panik, Sayang," pinta Onyx merespon kegelisahan Hawai yang tidak kunjung mereda malah justru menjadi ketika mereka mendarat di bandara milik keluarga Orion Filante yang tak lain adalah kakak iparnya yang memiliki kekayaan lebih dibandingkan Kerajaan Mersia.
Hawaii mendesah sambil mengeluarkan udara dari bibirnya yang berwarna plum. Tunangan Onyx masih muda dan memiliki kecantikan yang alami, Hawaii yang terburu-buru mendesak sang putra mahkota untuk terbang ke Perancis pada saat itu juga hingga ia tidak sempat membenahi riasannya, pun beberapa jam berikutnya masih memancarkan aura kecantikan tanpa tandingan.
"Aku takut Mama disakiti, menurutku Papa sepertinya memiliki penyakit kejiwaan,"
"Hawaii," nada Onyx memanjang mengingatkan. agar kekasihnya tidak mengeluarkan kata-kata yang akan disesalinya.
"Ya itu benar, Yang Mulia. Awalnya Papa terlihat baik dan tenang, tak lama kemudian melemparkan segala sesuatu yang berada di dekatnya, entah itu buku atau piring,"
"Apakah Papa pernah menyakitimu?" selidik Onyx dengan perasaan khawatir.
"Tidak pernah," pendek Hawaii. Manik hazelnya menerawang mengingat ke masa lalu. Benjamin Murphy tidak berlaku kasar kepada Hawaii seperti yang dialami Jeanne, sang mama. Tapi Hawaii menyaksikan bagaimana kemarahan Benjamin, melempar, membentak dan kata-kata kasar keluar dari mulutnya. Entah apa yang terjadi ketika Hawaii berada di luar rumah, Hawaii yakin jika Jeanne pernah mendapatkan siksaan dari Benjamin. Beberapa kali Hawaii menemukan memar membiru di bagian tubuh mamanya. Tentu saja Jeanne memberikan berbagai alasan yang masuk akal untuk menenangkan Hawaii.
"Aku benar-benar tidak layak untuk jadi pendampingmu, Prince Onyx," suara parau Hawaii menyentak pria di sampingnya.
"Hawaii Capucine, kenapa perkataan seperti ini yang keluar di bibirmu?" ekspresi kaget Onyx dibalas dengan perkataan yang sopan dan formal.
"Maafkan aku," Hawaii menggenggam jemari tangan Onyx. "Tapi... Makin ke sini semua hal buruk tentang diriku muncul satu persatu. Keluargaku yang sangat problematic dan suatu hari Rakyat Mersia akan tahu semua ini. Nama baik Prince Alistaire Onyx juga ikut tercemar,"
Onyx menggeleng seraya menghela napas. "Aku memilihmu, Hawaii Capucine. Itu berarti semua hal tentang dirimu aku telah terima, termasuk masa lalu, keluarga, dan kamu yang menakjubkan seperti ini," manik coklat Onyx menelusuri dari atas ke bawah tubuh Hawaii. Wanita belia yang membuatnya lupa tentang luka di masa lalu.
Wajah Hawaii yang semula menyiratkan kekalutan mendadak bersemu merah dan tersipu. Ia bahkan mengulum senyum yang malu-malu. Betul.. cinta sangat memabukkan.
"Kita tidak bisa memilih orang tua kita sendiri, kita tidak bisa merubah masa lalu, kita tidak bisa merubah sifat seseorang kecuali orang itu sendiri yang ingin berubah. Banyak hal di hidup ini berada di jalurnya, entah itu baik atau buruk di mata kita. Ada hal yang bisa diusahakan, pula ada hanya bisa menerima," Onyx menghentikan perkataannya dan menoleh menatap Hawaii yang mendengarkan sambil mengangguk pelan. Hawaii masih muda, seiring waktu ia akan mengembangkan diri.
"Seperti Papamu.. kita tidak tahu, apakah dia masih sama seperti sebelum Mama meninggalkannya. Temperamen dan..."
"Suka mabuk-mabukan, suka berjudi," Hawaii menambahkan dengan memotong perkataan Onyx.
"Hmm... Ya, perilaku buruk seperti kamu bilang. Kita belum tahu, bukan?"
"Entahlah, Yang Mulia. Aku meragukan Papa berubah dalam waktu singkat,"
"Seperti yang aku katakan, kita berupaya terlebih dahulu. Sambil mempelajari maksud di balik kedatangan Papa," bujuk Onyx.
Hawaii menegakkan tubuh melihat ke depan mobil yang mengarah ke tempat dikenalnya. "Kita tidak ke La Caravelle?" tanyanya menyebut penginapan yang dirindukannya.
Jemari tangan kokoh Onyx menggenggam tangan Hawaii. "Tidak, kita di rumah Tuan Filante. Mama, Grandpa dan Grandma menunggu kita di sana,"
Mata Hawaii membelalak. "Yang benar saja?"
Onyx tersenyum. "Ya, aku meminta pengawal menjemput mereka dan itu tanpa sepengetahuan Papamu. Pastinya Mr. Murphy sekarang sedang kebingungan mencari semua orang di penginapan,"
"Terima kasih, Tuan Alistaire!" seru Hawaii memeluk erat walau sebentar pria di sampingnya.
"Sekarang sudah lebih tenang, bukan?"
Hawaii mengangguk riang, surai ikalnya bergoyang-goyang. "Aku tidak sabar memperkenalkan Tuan Alistaire ke Mamo, Grandpa dan Grandma. Mereka pasti akan menyukaimu di bawah besaran sukaku kepadamu," ucapnya lalu terkekeh.
Onyx tersenyum sambil melipat bibirnya. Ia melihat sosok Hawaii yang sama dengan awal pertemuan mereka, ceria dan polos. Berbeda ketika beberapa hari terakhir di Mersia, Hawaii tampak tertekan, wanita muda itu sangat hati-hati dalam bersikap dan berbicara.
"Yang Mulia, kalau begitu malam ini aku akan tidur dengan Mamo, berjanjilah akan memberikanku pelukan yang sebelum tidur. Aku pasti akan merindukanmu ketika sedang bermimpi,"
Onyx tertawa pelan namun kemudian menyanggupi permintaan Hawaii lewat sebuah anggukan.
"Terima kasih, Tuan Alistaire. Di sini aku akan memanggilmu dengan panggilan itu," imbuh Hawaii ketika melihat pos penjagaan sebelum memasuki area mansion milik Tuan Orion Filante.
"Aku akan sangat senang jika kau memanggilku seterusnya dengan panggilan kesayangan itu, Nona Muda," canda Onyx mengacak surai tunangannya.
"Akan kupikirkan," Hawaii menurunkan kaca mobil dan melambaikan tangan kepada para penjaga dengan riangnya.
...
Sang putra mahkota Kerajaan Mersia memperhatikan keceriaan Hawaii yang berlari dari halaman hingga mencapai pintu kediaman Orion Filante. Kekasih sekaligus tunangannya sepertinya hendak memekik riang ketika mendapatkan Jeanne dan Grandpa Grandma yang sedang menunggu kehadiran mereka namun diurungkannya karena para pelayan rumah juga sedang berada di ruangan tersebut.
"Mamo, Grandpa, Grandma," wajah Hawaii memerah menahan ekspresi bahagianya. Mereka berpelukan bergantian, banyak kecupan di pipi diberikan Hawaii kepada ketiga orang yang dicintainya sepenuh hati. Ya, seolah-olah mereka tidak bertemu dalam waktu yang lama.
Jeanne berjalan menghampiri Onyx dengan senyuman lebar. "Terima kasih atas semuanya, Yang Mulia," ucapnya sambil menyalami Onyx.
"Alistaire Onyx, senang bertemu dengan Mamo,"
Raut Jeanne semakin berseri ketika mendengar panggilan kesayangan Hawaii diucapkan oleh Onyx. "Saya sungguh tersanjung,"
"Maafkan saya baru bertemu dengan Mamo, Grandpa dan Grandma,"
"Oh tidak, kami tahu jika Yang Mulia sangat sibuk. Semoga anak kami tidak menyusahkan selama di Mersia" ujar Jeanne sembari menemani pergerakan Onyx yang menghampiri kedua orang tuanya.
"Ini Tuan Alistaire," suara Hawaii memperkenalkan tunangannya. Ia menggamit lengan kiri Onyx.
Jeanne menggeleng kecil namun tidak bisa menyembunyikan kebahagiaannya melihat putri satu-satunya mendapatkan pria yang sungguh sempurna.
Usai perkenalan singkat, mereka masuk ke dalam percakapan inti yaitu membahas tentang Benjamin Murphy. Onyx menjadi pendengar setia, ada empat orang yang mengungkapkan perilaku Benjamin dari sudut pandang masing-masing. Onyx punya kesimpulan sendiri dan tahu apa yang harus dilakukannya.
...
Hawaii menguap lebar di balik bantal, matanya tidak bisa berkompromi lagi setelah ia masuk ke dalam selimut. Justru Jeanne, sang mama penuh semangat menanyakan ini dan itu kepada Hawaii. Rupanya Jeanne kurang puas dengan perkenalan singkatnya dengan Onyx. Ya, mereka telah berbincang selama sejam setelah Hawaii dan Onyx tiba di kediaman Orion.
Sebuah perkenalan yang akrab dan lebih banyak membahas Benjamin Murphy. Jeanne memaparkan semua perilaku pria yang telah menjadi masa lalunya. Mereka sempat bersitegang kemudian Ben berusaha merayu Jeanne agar mereka bisa berbaikan demi Hawaii. Jeanne menolak, ia berpikir jika itu hanyalah sebuah muslihat agar Ben dapat mendapatkan keuntungan dari calon suami putri tunggal mereka.
"Mama tidak bisa mengungkapkan dengan kata-kata tentang Prince Alistaire Onyx, Sayang. Dia benar-benar sempurna dalam segala hal. Mama selalu mendoakan kebahagiaan anakku, agar tidak mengulang kesalahan Mama. Rupanya Tuhan itu benar ada dan mengabulkan doa jauh lebih dari keinginan Mama,"
"Mamoo... Hawaii kadang tidak habis pikir, kenapa pada hari itu bisa bertemu dengannya," Hawaii bersuara dengan parau. Tangannya melingkar di perut dan kepala di cerukan leher Jeanne.
"Tuhan mengasihimu, Sayang. Mengasihi kita sekeluarga, setelah susahnya kehidupan kita sebelum ini. Tapi papamu, selalu saja datang di saat yang tepat. Seolah-olah radarnya terpasang agar kita tidak bisa hidup dengan tenang," ucap Jeanne mengeluarkan keluhan yang tertahan. Ia tidak menyampaikan perkataan seperti itu di depan Onyx.
"Mamo... Kata Tuan Alistaire, bagaimana pun itu Papa Hawaii Capucine,"
"Hm.. Mamo menikahlah,"
"Apa?" Jeanne tersentak mendengar perkataan Hawaii.
"Mamo selama ini tidak pernah bahagia, hidup dengan Papa,"
Jeanne menggeleng lemah di dalam keremangan kamar tidur tamu milik keluarga Orion Filante. "Itu bukan jalan keluar dan bukan cita-cita Mama. Sayang, sebentar lagi kau akan menikahi putra mahkota Kerajaan Mersia. Sudah seharusnya kita menjaga nama baik keluarga dengan tidak membuat percikan cerita entah itu baik atau buruk di mata publik. Tapi sebaiknya kita harus menghindarinya,"
"Tapi Mamo harus bahagia,"
"Mon amour, Mama bahagia apalagi melihat anakku menemukan cinta sejatinya. Prince Onyx akan melindungimu, menemanimu sampai akhir hayat. Itulah definisi kebahagiaan Mama sekarang,"
"Tidurlah, besok ada hari berat yang perlu dilewati," Jeanne mengingatkan anaknya, di saat ia merasakan pergerakan tubuh Hawaii yang hendak bangun. Jeanne sangat tahu Hawaii.
...
Sementara itu di kota Manhattan, Prince Philip Bernadotte sedang termenung menatap daun pintu yang tertutup di depannya.
"Masuklah, Yang Mulia," ucap Kaluna Rose, pengawal tunangannya, Serenade.
Philip mengerling ke arah gadis belia di samping. Ia menghela napas panjang. "Nada mendiamiku," keluhnya.
Kaluna tersenyum miring lalu menunduk. "Yang Mulia bercanda melewati batas. Seharusnya tidak mengatakan jika Yang Mulia memiliki anak,"
"Aku hanya merindukannya,"
"Apa susahnya mengatakan itu, Yang Mulia. Tidak perlu menambah berita simpang siur di Swedia. Yang Mulia sendiri memintaku agar Lady Serenade tidak menyentuh ponselnya,"
"Aku tahu aku salah," manik Lion itu menyendu. Ia tidak tahu dari dampak perkataannya di taman kota membuat Serenade diam dan tidak mengajaknya berbicara bahkan ia telah berusaha menjelaskan semuanya di mobil. Dan sikap diam Serenade bertahan hingga malam menjemput, Philip ketakutan Serenade berubah setelah ini bahkan memutuskan hubungan mereka.
"Yang penting itu hanya selentingan kabar yang tidak benar. Berusahalah lagi, Yang Mulia," Kaluna berusaha menyakinkan pangeran yang mewarisi tahta Kerajaan terbesar di Eropa.
"Aku takut Serenade berubah..."
Kaluna menggeleng sembari menarik tipis bibirnya ke atas. "Kakakku sangat mencintaimu, Yang Mulia dan setahuku cinta tidak semudah itu luntur. Kakakku hanya merajuk... Dia pun merindukan, Yang Mulia,"
Alis Philip terangkat. Maniknya melebar.
"Dengar, Lady Bernadotte sedang memainkan lagu cinta,"
Senyum Philip tiba-tiba saja hadir, Kaluna mengerutkan kening.
"Kau bisa main musik?" tanya Philip.
"Aku bisa merobohkan 5 pria sebesar Yang Mulia dalam hitungan detik,"
Philip tertawa. "Kalian memang berbeda,"
Kaluna menghampiri pintu dan menarik kenopnya turun. Alunan piano yang dimainkan Serenade spontan mengisi indera bahkan hati dua orang yang berada di ambang pintu.
"Danke," Philip mengucapkan terima kasih menggunakan bahasa asal Kaluna.
Kaluna hanya mengangkat kedua alisnya kemudian kembali menutup pintu.
Philip sejenak berdiri tanpa bergerak, ia melihat punggung kekasihnya, wanita yang berada tidak jauh namun membuatnya rindu setengah mati.
Tak lama kemudian ia berjalan menghampiri Serenade, seolah tahu kehadiran Philip, wanita bersurai emas itu menggeser tubuhnya ke kiri dan memberikan tempat duduknya sebagian.
Hati Philip berbunga-bunga, segala kekhawatirannya terbang dibawa oleh nada-nada indah yang dihasilkan tarian jemari Serenade di atas grand pianobberwarna hitam.
Howl's Moving Castle symphonybyang dimainkan Serenade, pun Philip tahu akan musik itu. Ia memainkan nada lebih tinggi. Sebuah alunan musik indah mengisi apartemen, membuai telinga para pendengarnya.
Serenade menoleh ketika symphony indah itu berakhir. Manik birunya basah.
"Maafkan aku, My Lady," ucap tulus Philip.
"Aku yang egois, tidak seharusnya aku bersikap kekanakan,"
"Aku juga bercanda melewati batas,"
"Dan aku menunggumu memasuki ruangan ini," Serenade menyandarkan kepalanya di lengan kokoh milik Philip.
Kedua saling menatap lalu tertawa kecil, Serenade sambil menjatuhkan air mata ditahannya. Philip mengecup kening si gadis berwangi menenangkan.
"Aku mencintaimu," ucap keduanya bersamaan.
Philip dan Serenade kembali tertawa, kali ini lebih lepas. Piano hadiah ulang tahun Serenade yang ke 16 dari Axel Yu menjadi saksi cintanya 10 tahun kemudian.
Saat Serenade menerima piano itu 10 tahun yang lalu, tidak pernah sekalipun ia berpikir bahwa akan ada seorang pangeran pewaris tahta mencintainya sepenuh jiwa dan ketika ia kesal, sang pangeran duduk di sampingnya dan ikut memainkan sebuah symphony klasik. Ia tidak pernah bermimpi setinggi itu.
Sepertinya itulah Tuhan bekerja dengan kuasa-Nya, bahkan orang terakhir dalam pikiranmu bisa menjadi teman hidup selamanya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
alo kesayangan😁,
maaf lahir dan batin yah, maaf baru bisa muncul di sini.
D🙏🏻