MERSIA

MERSIA
Reality



"Jadi.." satu kata dari King Sigvard bak tinju menghantam dada Serenade.


Serenade sendiri, benar-benar tak ada seseorang yang bisa membantunya sekarang. Pun tidak ada kekuatan magis yang bisa menyedot tubuhnya menghilang dalam waktu sedetik dari perpustakaan Kerajaan Swedia.


"Kau adalah wanita kedua yang dibawa anakku ke Royal House," King Sigvard merendahkan suara baritonnya. Tetap saja Serenade tersentak kaget. King Sigvard tidak seperti Philip yang ramah, atau mungkin Serenade yang baru pertama kali bertemu dengan pemimpin Kerajaan Swedia itu. King Sigvard tegas dan sedikit angkuh. Wajar, beliau adalah seorang raja.


Nyali Serenade menciut, ia tidak bisa bersuara terlebih perkataan King Sigvard bukan berupa sebuah pertanyaan yang harus ia jawab.


"Dulu dia mengundang wanita yang hampir menjadi tunangannya," kata King Sigvard membuat Serenade akhirnya bisa menatap lawan bicaranya. Sosok King Sigvard mengenakan suit  berwarna abu muda, wajahnya tegas dengan hidung tinggi sama seperti yang dimiliki oleh Philip, anaknya.


"Sepertinya kau tidak tahu," King Sigvard mengulas senyuman tipis, alisnya naik sebelah.


Serenade melipat bibir, sambil mengutuk dalam hati. Andai saja bukan seorang raja yang sedang berbicara, tentu ia akan mengejar sebuah penjelasan yang sangat rinci hingga ke akar-akarnya.


"Philip usianya menjelang 38 tahun, dan dia masih belum menentukan pilihan. Aku tidak bisa mengatakan dirimu adalah pilihan anakku, karena kami tahu siapa pangeran lainnya yang sedang mendekatimu. Namun dengan mengundangmu ke Swedia, itu berarti Philip sangat serius dan bisa dikatakan dia jatuh cinta. Ya... setelah sekian lama,"


Ucapan King Sigvard bak racun dan madu, dia mengungkit pria selain Philip sekaligus menyakinkan Serenade jika sang putra mahkota telah menjatuhkan hati. Sayangnya perasaan itu tidak bisa Serenade nikmati seutuhnya.


"Aku menemuimu Miss Serenade karena aku ingin memastikan tentang perasaanmu kepada Philip. Terus terang aku tidak menentang wanita yang dicintainya, salah satu alasan menyetujui ini karena kami telah sangat lelah akan banyaknya pesta yang digelar, yang bertujuan hanya untuk mempertemukan pewaris Swedia dengan putri-putri dari keluarga terpandang namun semua itu tidak membuahkan hasil. Aku tidak ingin anak itu mengulangi kesalahannya, berkorban demi perasaan,"


"Berkorban?" cicit Serenade.


King Sigvard dengan posisi duduk sangat tegap kini makin membusungkan dada, menaikkan dagunya kemudian menghela napas panjang. "Ya, putra kami berkorban karena perasaan cintanya. Buktinya dia tidak mendapatkan apapun kecuali pengorbanan sia-sia,"


Serenade terdiam sambil memandang King Sigvard. Pria pemilik kekuasaan tertinggi di Kerajaan Swedia berdeham. Alisnya naik sebelah. "Kau tidak tahu?" pancing King Sigvard melihat Serenade membisu.


"Prince Philip tidak menceritakan secara menyeluruh, putra Anda hanya mengatakan jika mempunyai kenangan indah di rumah kaca dengan seorang wanita, Yang Mulia," jawab Serenade sopan, sedikit lancar berbicara. King Sigvard tidak menyeramkan, hanya saja Serenade tidak pernah menyangka jika ia akan didatangi secara personal seperti sekarang. Ia tidak memiliki persiapan sedikitpun.


"Kau ingin tahu, Miss Serenade?" King Sigvard tertawa ketika Serenade menganggukkan kepalanya dengan cepat. "Jika kau berjodoh dengan Philip sepertinya kita bisa memiliki hubungan yang baik. Memang benar jika orang-orang Amerika lebih terbuka dibandingkan dengan kami,"


"Jika Yang Mulia mengetahui seluk-beluk keluarga kami, saya lahir di Amerika tapi mendapatkan didikan Asia," Serenade berusaha menjelaskan secara singkat.


"Aku tahu, itu kenapa Prince Onyx lebih dekat denganmu. Banyak kesamaan dan ikatan keluarga yang sangat intim. Philip mendekatimu seperti de ja vu bagi kami," kata King Sigvard lalu menghela napas.


"De ja vu?" tanya Serenade dengan pelan, bimbang tapi juga penasaran.


King Sigvard kembali tertawa, bahkan tawa kali ini lebih keras daripada sebelumnya. Suasana yang tadinya tegang semakin mencair seiring waktu. "Kerajaan Swedia dan Kerajaan Mersia, selalu ada ikatan,"


Serenade semakin kebingungan dengan perkataan King Sigvard yang menggantung. "Prince Philip pernah menikah dengan Princess Maryln, Yang Mulia,"


"Pernikahan dibatalkan. Dan pernikahan itu hanyalah satu taktik balas dendam anakku yang berakhir gagal. Kita kembali kepada pengorbanan Philip. Wanita yang pernah diundang ke Royal House saat itu telah menikah. Philip pun telah menikah dengan Lou. Kami memanggil Princess Maryln dengan nama tengahnya," ujar King Sigvard lebih santai dan akrab.


"Yang Mulia!" Serenade terpekik pelan, ia membungkam sendiri bibirnya setelah menaikkan volume suara.


King Sigvard menaikkan kedua alisnya. "Ada apa?"


Serenade meredakan adrenalin yang baru saja menghantamnya, dengan cepat mengambil udara sebanyak-banyaknya lewat hidung dna mulut. "Prince Philip berselingkuh? Apa karena wanita itu... pernikahan dibatalkan?" tanyanya terbata-bata.


"Bukan anakku berselingkuh tapi Lou dengan Jonas. Kau pasti kebingungan," King Sigvard terkekeh. Ia suka melihat ekspresi syok dan penasaran wanita yang disukai anaknya.


"Sebenarnya apa yang terjadi.." Serenade mengerang lirih. Hatinya semakin kacau pun kompak dengan kepalanya.


"Philip menikahi Lou hanya karena ingin membalas dendam kepada kakakmu, Orion Filante. Orion-lah yang membatalkan pesta pertunangan Philip. Sampai di sini kau telah mengerti?" perkataan lugas King Sigvard bak petir di sore hari bagi Serenade. Hatinya seakan diremas sedemikian rupa, sakit di hati merambat hingga sampai ke pangkal otaknya.


"Jadi wanita itu?" Serenade terpekik pelan, dan tiba-tiba saja air mata jatuh ke pipinya. Sebuah spontanitas yang baru saja terjadi sepanjang hidupnya.


"Ya, Princess Marjorie Hiver. Dia adalah wanita yang dicintai anak kami. Dan bukan hanya sampai di situ..." jeda King Sigvard melihat Serenade mengusap air matanya dengan sembunyi-sembunyi. Ia tidak menyangka jika ceritanya akan membuat wanita muda itu menitikkan air mata.


"Bukannya Prince Philip dan kakakku berteman, mereka saling menghubungi," kata Serenade terdengar lirih.


"Tentu mereka berteman.." King Sigvard menanggapi ringan. "Kalian pasti tahu ketika kakakmu sakit parah?"


Serenade menganggukkan kepala sambil memegang tulang selangkanya. "Kami tahu, Yang Mulia,"


King Sigvard tersenyum tipis lalu menghela napas. "Philip pendonor hati Orion Filante. Sebesar itulah cinta anakku kepada Princess Marjorie Hiver. Dia memberikan kesempatan hidup lebih lama kepada pria yang dicintai wanita yang dicintainya. Bahasanya memang rumit, tapi itulah yang terjadi,"


Dan lagi hati dan kepala Serenade di hantam nyeri yang teramat sangat. Ia tersengal disertai bulir air mata berjatuhan bak rintik hujan, meluncur bebas melewati pipinya. "Apa ini?"


"Kenyataan, Miss Serenade," King Sigvard berdiri ketika seorang pria mengenakan setelan hitam yang rapi berjalan lambat menghampirinya. Pria itu hanya mengangguk penuh hormat dan King Sigvard seakan tahu akan arti isyarat tersebut.


Tanpa tenaga Serenade berdiri, ia menahan tubuhnya dengan tangan bertumpu pada atas meja dengan sisa tenaga yang ada. Serenade tidak mempedulikan dengan wajahnya yang merah dan basah. "Maafkan saya, Yang Mulia,"


King Sigvard mengangguk-angguk. "Aku pun tidak bermaksud merusak harimu, Miss Serenade. Aku sangat tahu dengan Philip, anakku. Ia tidak mungkin menceritakan hal tadi kepadamu. Kau juga sedang didekati oleh adik Princess Hiver, cerita ini akan menjadi pertimbangan bagi dirimu. Prince Onyx tidak memiliki masa lalu, sementara putra kami memiliki sesuatu yang besar pernah dikorbannya. Tidak ada yang tahu perasaan Philip sekarang, bibir bisa mengatakan tidak, tapi ya siapa tahu dalamnya hati. Oh ya, selain rumah kaca tempat disukai anakku, ia banyak menghabiskan waktu di Bernadotte Gallery. Tempat di mana ia memajang semua lukisan karya Princess Hiver,"


...


Pintu utara terbuka, satu-satunya akses yang sangat jarang digunakan oleh orang-orang kerajaan. Malam itu, khusus untuk sang pewaris tahta dan wanita yang berjalan di sampingnya menjadi jalan keluar menuju restoran yang berada saru blok di sebelah Royal Palace.


"Ada apa, My Lady?" tanya Philip menoleh. "Sejak tadi kau menatapku seakan aku memiliki utang," sambungnya lalu tertawa ringan.


Kontan Serenade menunduk, berdeham keras karena sedih itu kembali naik dari dada hingga tenggorokan. "Tidak ada apa-apa, Yang Mulia. Oh iya, apakah tidak ada yang mengikuti kita? Mungkin Paparazzi?" Serenade menoleh mencari-cari sesuatu di jalan yang lengang.


"Tidak ada paparazzi di sini. Kami memiliki peraturan, di mana tidak boleh mengambil foto anggota kerajaan secara sembunyi-sembunyi dan mengunggahnya. Peraturan itu baru berjalan sekitar dua tahun terakhir. Dan dendanya tidak main-main," jelas Philip dengan berwibawa.


"Perkataan yang menenangkan hati," sahut Serenade sambil memegang bagian samping gaun merahnya. Andai ia tidak berada di Swedia dan tidak memiliki janji dengan Philip, ia akan memilih untuk mengurung diri di dalam kamar dan meratapi sebuah kisah yang memilukan. Hatinya gundah, selain hancur walau ia bukan pemeran utama dari kisah itu. Sementara pria di sampingnya yang tak berani Serenade sentuh, terlihat sangat baik-baik saja.


"Apa yang menenangkan? Peraturannya? Kau takut di ambil gambarnya?" tanya Philip sambil tersenyum. Mata lionnya terlihat bengkak, banyak hal dikerjakannya di parlemen tadi siang hingga menjelang matahari tenggelam. Ia kekurangan jam istirahat, tapi bertemu dengan Serenade membuat semangatnya berkobar.


"Semuanya, Yang Mulia. Saya tidak ingin diriku yang biasa menjadi sorotan rakyat Swedia," kata Serenade berhenti saat mencapai pertigaan lampu merah yang sama lengangnya dengan kawasan yang mereka lewati tadi, tak ada kendaraan lalu lalang, benar-benar hanya ada mereka berdua di tempat itu.


Philip tertawa sambil menggelengkan kepalanya. "Kawasan ini sengaja ditutup, aku tahu jika ada yang harus kau jaga hatinya, My Lady,"


Serenade mendongak, menatap lekat wajah Philip. Pria itu terlihat bahagia, tapi entahlah.. Mungkin benar kata King Sigvard jika dalamnya hati siapa yang tahu. Mungkin di balik senyuman tulus Philip tersimpan luka mungkin juga perasaan terus tumbuh kepada Princess Marjorie hiver, istri kakaknya.


Serenade memegang bagian depan kemeja hitam Philip tanpa sungkan. Ia menarik napas dan terpaku pada sosok sempurna yang berdiri di depannya. Pria bermanik lion menatapnya dengan teduh, bibirnya mengulas senyuman simpul. "Yang Mulia, bolehkah kita berjalan lebih lama. Saya pun belum terlalu lapar. Udaranya sejuk, seharian saya berada di dalam Royal House," ujar pianis yang menggelung surai emasnya sedang mencari alasan. Ia tidak ingin wajah menahan sedih akan tampak jelas di bawah lampu restoran.


"Baiklah," Philip berinisiatif merangkul pinggang Serenade. Ia bisa merasakan tubuh wanita itu sempat bergetar sesaat namun mereda ketika Serenade menghela napas panjang.


"Malam masih muda, tapi di sini sepi. Lihat perahu-perahu itu hanya bersandar di dermaga," Serenade mengalihkan dengan sebuah basa-basi tak berarah. Sementara pada saat itu hatinya sedang berperang dengan kepala, ia melawan isi kepala ketika merasakan rangkulan tangan Philip membuat kedua tubuh semakin tak berjarak.


"Malam masih muda, berarti kita punya banyak waktu untuk bersama. Gunakan waktumu, My Lady. Restorannya akan menunggu kita, jam berapa pun itu," kata Philip menunjukkan kekuasaannya.


Ketika angin bertiup menerpa tubuh, di saat itu pula mata biru Serenade berkabut. Ia menunduk sekilas lalu memalingkan kepala ke kanan, ia berdeham keras. "Tuhan," erangnya pelan.


Alis Philip naik, ia melepaskan rengkuhan pada pinggang Serenade. "Ada apa, Nada? Kau sakit? Gaunmu terlalu terbuka di bagian bahu walau aku akui malam ini kau sangat cantik,"


"Tidak, Yang Mulia," Serenade menggeleng sambil menggigit bibirnya. "Sungguh saya tidak apa-apa,"


Philip memegang bahu Serenade yang dingin. "Kau kedinginan, Nada. Ayo kita kembali, kita batalkan saja makan malamnya,"


Serenade menahan tangan Philip dan kembali menggelengkan kepala. "Pelukan... Saya hanya butuh pelukan, Yang Mulia," pintanya tak mempedulikan keadaan sekitar dan dirinya yang tak memiliki tata krama.


Tak perlu waktu lama dan pengulangan kata, Philip mendekap tubuh Serenade yang entah mengapa malam itu terasa sangat ringkih, berbeda dengan malam sebelumnya.


"Kau sangat hebat, Yang Mulia," lirih Serenade dalam pelukan Philip. Usapan lembut pada punggungnya memicu air mata mengalir seperti kanal di depannya.


"Sebenarnya ada apa, Nada?" tanya Philip kebingungan, namun enggan melepaskan tubuh Serenade. Ia membiarkan Serenade terisak dalam dekapan.


"Maafkan saya, Yang Mulia.." Serenade menaikkan kepala memandang pria luar biasa yang sedang menautkan alis tebalnya.


"Ada apa sebenarnya?" tanya Philip lalu mengangguk sekali. Ia menanti jawaban yang sesungguhnya dari wanita cantik itu, namun ia juga tidak ingin terkesan memaksa.


Dengan mata berlinang Serenade mengulum kuat bibirnya hingga warna merahnya menjadi pucat. "Bolehkah saya pulang ke New York? Besok?"


Sejenak Philip terdiam. Mata lionnya terpejam lalu menganggukkan kepala dengan lemah. "Seperti aku katakan kemarin, aku sendiri yang akan mengantarmu pulang," ucapnya pelan kemudian menarik tubuh Serenade kembali dalam pelukannya. Kali ini ia memeluk lebih erat daripada sebelumnya.


Sorot lion itu terluka memandang ke depan beberapa saat, lalu menunduk ketika bibirnya mengecup lembut puncak kepala Serenade. "Rupanya kau telah menentukan pilihan, My Lady,"


###




alo kesayangan💕,


ada...kah? 😂


aku telah menulis Mersia lagi, saatnya aku menamatkan dua novel lainnya terlebih dahulu.. so jangan ngejar lanjutan Mersia yah.


dan, berhubung aku sedang baik hati..


pula sedikit galau dengan aplikasi ini yang slowmo dan kadang down..


kalian jika ada yang ingin masuk ke grup WA Laplusbelle bertemu dengan garis depannya aku 🙄. eh maksudnya teman2ku, sahabat layaknya sudah saudara yang aku temukan di Mangatoon..


DM aku di IG, said "invite dong masuk WAGnya D, nih nopeku" [mereka katanya sedang butuh member baru, ben ada teman ghibah] 🤣


wess itu aja..


love,


D😘