MERSIA

MERSIA
I Love You's



Hiver berdiri di apit Onyx dan Cyrus, sekalipun kedua pengawal tampannya itu tidak beranjak dari sisinya. Di sinilah Hiver berdiri tegap di venue pesta pernikahan River, ia menolak untuk menghadiri prosesi pengikatan janji


sehidup semati temannya yang dihelat siang hari tadi. Hiver bimbang dan kedua adiknya -lah yang mengingatkan untuk memilih absen pada acara yang sebenarnya harus diikutinya.


Onyx dan Cyrus berpendapat dari sisi pria, jika River memiliki perasaan yang sama dengan Hiver, hanya temannya itu tidak mempunyai


keberanian untuk mengucapkan perkataan cinta. Hiver tentu saja menyangkal, dan tidak ingin semakin terluka dengan analisa kedua adiknya.


Usai malam ketika Hiver mendapatkan kabar jika


River akan menikah, pria itu menghubungi berkali-kali sampai Hiver harus menyerahkan ponsel pribadinya ke tangan asisten. Princess Hiver sejak saat itu juga tidak memiliki ponsel, ia


merasa tidak membutuhkan benda canggih tersebut itu lagi karena ada asisten yang bekerja untuk menyortir pesan atau panggilan suara yang ditujukan kepadanya.


Tepat 2 bulan kemudian, River benar-benar telah meninggalkan Hiver. Pria tampan mengenakan tuksedo berwarna navy menggamit sang mempelai wanita bergaun putih yang sangat indah di halaman Hotel Carro Bluette. Tempat pesta pernikahan River dan Carole. Hotel berbintang 5 yang juga merupakan milik keluarga Bluette tersebut berada tak jauh dari mansion


Orion. Hiver mendengar kabar jika saudara kembar River memberikan syarat agar


pesta pernikahan dihelat di hotel keluarga.


Semua orang yang mengenal Orion pasti sangat paham, bahwasanya pria itu tidak bisa berada jauh dari mansion pribadinya. Mungkin dikecualikan ketika pria aneh itu kembali ke kediaman orang tuanya.


Kembali kepada gadis cantik yang menatap River dengan tegar, mengukuhkan hati bahwa River sudah menjadi milik Carole. Ya, Hiver telah berlatih selama 2 bulan untuk hari ini. Tapi tetap tidak bisa, hatinya tercabik setiap kali


melihat River tertawa lepas kepada para tamu undangan. Sungguh terbalik dengan kondisi hati Hiver.


Pria diciptakan tidak memiliki perasaan, hanya otot dan otak. Sekarang benci mencubit hati Hiver, memikirkan rutukan yang baru saja ia teriakkan di dalam benaknya.


Sekalipun River tidak pernah mengarahkan pandangan kepada Hiver, seakan sosok bergaun hitam yang di apit dua pria berbadan tinggi dan tampan itu tidak ada. Kehadiran Hiver tidak di anggap oleh River.


Apakah pria itu marah karena Hiver menolak semua panggilan dan pesannya? Atau karena Hiver tidak hadir di prosesi penyatuan River?


Apakah River tidak tahu untuk berdiri di pesta semarak dan sangat mewah ini Hiver harus melewati 10 malam penuh dengan air mata? Kala pagi menjelang ia kembali menguatkan hati bahwa hidup akan kembali berjalan seperti


biasanya. Setiap manusia memiliki duka yang besar yang harus dilalui, kemudian seseorang akan menjadi lebih kuat. Tiap hari Hiver menanamkan hal itu di kepalanya yang sama sekali tidak bisa berkonsentrasi melakukan apapun


Dan lihatlah Hiver sekarang, semua luka itu kembali menyergap perasaannya.


“Kau harus mendekat, Marc.” Onyx menoleh menatap kakaknya yang mengenakan gaun hitam di pesta pernikahan. Hanya Hiver satu-satunya wanita yang berpakaian seperti itu.


Hiver menggeleng “Tidak, cukup dari sini.” Tolaknya dengan suara serak dan pilu.


Ada nyeri menggumpal di tenggorokan Hiver. Dada ngilu, hati meradang tatkala gerakan langkah kaki River yang semakin mendekat.


“Big sis, kau harus menyapanya. Berikan selamat kepada River. Dan kita bisa pulang ke hotel. Aku tidak suka menjadi pusat perhatian orang-orang. Terlebih ini bukan pesta kerajaan, lihat para tamu itu dengan sembunyi dan bebas mengambil fotoku.” Tutur Cyrus lalu mengembuskan napas


kasar.


Adik bungsu Hiver itu tidak terlalu suka diliput terlebih ketika seseorang mengambil gambarnya tanpa permisi.


Onyx terlihat menoleh menatap Cyrus. Si bungsu bermanik hijau mengangguk dan lalu bergerak terlebih dulu.


“Biar kami saja yang bertemu dengan River.” Onyx merangkul Hiver sejenak sebelum mengikuti Cyrus menghampiri sang mempelai pria.


Dari jarak kurang dari 20 meter, Hiver melihat kedua adiknya berseloroh dan tertawa bersama River. Onyx dan Cyrus memiliki bakat akting yang


luar biasa, buktinya kedua pangeran Mersia tersebut tampaknya melupakan air mata Hiver yang mereka hapus selama 2 bulan terakhir.


Hiver memalingkan muka, mencari keberadaan kedua orang tuanya. Dan Lou, adiknya selalu melengket dengan Summer, mamanya.


Di antara ratusan tamu undangan, Hiver tidak menemukan keberadaan keluarganya. Pun kedua orang tua mempelai pria. Ia bisa menebak jika


para orang tua berada di dalam hotel dan saling berbincang tanpa di ganggu oleh orang lain.


Hiver tidak berdaya, berdiri mematung di tengah keramaian pesta dengan hati kelabu sekaligus hancur.


Jantung Hiver seakan copot tatkala Onyx dan Cyrus membawa River menuju ke arahnya. Kedua wajah mereka menegang, manik hijau dan biru itu


mengental saling menatap dan sangat canggung.


“Kami tinggal dulu, Marc. Sayang jika tidak menyantap makanan enak di pesta se mewah ini.” Onyx mengedipkan mata lalu merangkul paksa


Cyrus untuk menjauh.


Tinggallah Hiver bersisian dengan jarak 2 meter dengan River.


Lagu cinta mengalun indah di telinga membuat beberapa pasangan berdansa mesra sementara itu pula merobek hati Hiver dalam irisan yang


sangat tipis.


Hiver gelisah karena River tidak mengucapkan sepatah kata pun. Benci, ia seketika membenci pria yang menjadi temannya selama 27 tahun


itu. Kemana semua pembicaraan hangat saling menyambung di antara mereka. Kemana gelak tawa ketika bercanda pada sesuatu yang lucu? Kemana perginya River yang dikenal Hiver itu?


Sebenarnya River berada di sampingnya, berdiri bak pohon tinggi besar tak bergerak bahkan oleh angin kencang meniupnya.


“Husband.” Panggil Carole yang melambaikan tangan kepada River. Wanita cantik bergaun putih itu tersenyum hanya kepada River, sekaligus


menunjukkan bahwa dia –lah pemilik si mempelai pria.


“Istrimu memanggil, Riv.” Akhirnya Hiver bersuara tanpa menoleh, bahkan raut wajahnya tetap datar dan dingin.


River  bergerak sedikit, dan menatap Hiver. Ia menganggukkan kepala dengan bibir terlipat,


tangan kanannya naik ke depan tubuh.


“Terima kasih sudah hadir, Princess Marjorie Hiver.”


Hiver menggelengkan kepala tidak percaya, ia pun mendengus geli sekaligus nyeri menyambut uluran tangan River.


“Pestamu sungguh luar biasa, Riv. Dan ya, selamat atas pernikahanmu dengan Carole. Bahagia sampai tua.” Ucapnya terus menatap


kedalaman manik biru River.


“Terima kasih, Hiv.” River dengan datar mengurai jabat tangan canggung di antara mereka.


River berbalik, tangan Hiver spontan menarik ujung suit pria itu.


Hati Hiver sepenuhnya belum siap berpisah dengan River. Tuhan, tidak! Hatinya justru semakin kacau karena River hanya berdiri tanpa bersuara.


Hiver mengembuskan napas lambat-lambat dan melangkah maju, ia tidak mempedulikan Carole di belakang sana, tidak peduli apapun saat itu.


Sebuah pelukan erat Hiver berikan kepada River, sebagaimana ribuan pelukan yang mereka bagi selama puluhan tahun.


Wangi khas River, mahogany dan kayu manis menguar di indera Hiver. Ia mengesapnya dalam-dalam, menyimpannya sebagai tanda perpisahan mereka.


“River Phoenix, aku mencintaimu.” Ucap Hiver gagap dalam bisikan halus di telinga temannya, mengakhiri pelukan dengan sebuah kecupan di


pipi River. Tanpa mempedulikan respon River, Hiver melerai pelukan dengan cepat. Berjalan tergesa menembus gerombolan tamu, dan ketika mencapai jalanan sepi Hiver berlari melepas sepatunya dan terus berlari dengan kaki telanjang.


Hiver tidak mempedulikan berapa banyak kerikil tajam menembus telapak kaki, hatinya lebih sakit dibandingkan bagian tubuhnya yang terluka.


Grep !


Tangan Hiver di tangkap seseorang dari belakang, tubuhnya spontan berhenti dengan napas yang tersengal karena paru-paru seolah meledak di dalam sana. Jantungnya terbakar, kakinya goyah namun dengan sisa keberanian dan kekuatan yang tersisa, Hiver menoleh.


Penuh harap River –lah yang mengejarnya. Terkaannya salah.


Sosok bersuit hitam dengan kemeja tanpa dasi, wajah datar dengan rambut emas pucat memegang erat tangan Hiver.


“Kau.” Ucapnya kaget dengan hati tidak percaya pada pandangan matanya sendiri.


“Ikut aku.” Suara halus sekaligus memerintah membalikkan tubuh tanpa melepaskan genggaman tangan. Hiver tidak mengajukan protes malah patuh dan mengekori Orion. Rasa sedih menggumpal bak darah beku di dalam dada


seketika hilang akan kehadiran Orion.


Entah kemana pria bersurai emas pucat dengan tubuh tinggi dan ceking itu membawanya. Pastinya rute yang di pilih sangat nyaman di telapak kaki Hiver. Rumput tebal dan berembun karena suhu yang dingin dan lembab sedikit


memberikan rasa nyaman di bawah sana.


Berapa menit kemudian mereka sampai di bagian belakang hotel Carro. Orion pun melepaskan genggaman tangannya.


“Marjorie, apakah kau ingin ke mansionku?” tanya Orion sambil menunjuk pada satu mobil mewah yang terparkir.


Tanpa berpikir panjang, Hiver mengangguk dan berjalan dengan kaki tertatih-tatih menghampiri mobil mewah tersebut.


Orion membukakan pintu untuk Hiver kemudian berjalan santai mengitari mobil dan duduk di belakang kemudi. Tanpa perlu basa-basi, Orion


menginjak pedal gas dengan dalam.


Hiver terdiam, tangannya saling menangkup gelisah. Sungguh, ia tidak tahu harus bersikap atau mengeluarkan sepatah kata kepada Orion. Pria aneh yang tidak banyak bebicara.


Jarak antara Hotel Carro dan mansion Orion tidak begitu jauh, hanya berkendara sekitar 10 menit dan Hiver sudah berada di depan di depan hunian si sopir yang tidak mengeluarkan sepatah katapun selama dalam perjalanan.


Kini luka di kakinya semakin terasa sakit dan perih, pun Hiver tidak berani mengeluh kepada Orion. Tentu saja ia tidak mengharapkan sebuah pertolongan dari pria datar dan dingin itu.


Hiver salah, ketika mobil berhenti dan sedang mengumpulkan kekuatan untuk berdiri, di saat itu juga Orion dengan cepat membopong tubuhnya keluar dari mobil.


“Taman.” Gumam Hiver lirih ketika tangannya mengalung lemah pada leher Orion. Hatinya perlahan kembali sendu, entah apakah karena River ataukah perlakuan Orion yang sangat lain dari


biasanya.


“Kau ingin aku membawamu ke taman?” kali ini kalimat diucapkan Orion lebih panjang dari sebelumnya.


Hiver menganggukkan kepala namun tak berani menatap wajah pria tanpa ekspresi tersebut.


Pria terlihat ceking rupanya memiliki kekuatan yang besar, buktinya Orion kuat membawa Hiver dari halaman mansion yang luas, selasar panjang hingga mencapai taman tanpa ada helaan napas yang berat.


“Tunggu aku di situ.” Perintah Orion usai meletakkan tubuh Hiver di kursi dengan pelan.


“Iya.” Hiver mengangguk dan Orion membalas hal serupa dengan samar.


Tak lama kemudian Orion kembali dengan membawa dua pelayannya masing-masing membawa hal yang berbeda.


“Letakkan di situ.” Pinta Orion dengan lembut kepada pelayannya.


Baskom kuningan kini berada di sebelah kaki Hiver. Pelayan satunya membawa kotak P3K dan sandal besar namun bersih.


Mata hijau Hiver melebar ketika Orion berjongkok di depannya lalu tanpa permisi memasukkan kaki lukanya ke dalam baskom berisi dengan cairan putih pekat dan hangat.


Tanpa bersuara Orion menyelesaikan pekerjaan sebagai tenaga medis cekatan yang tidak memiliki ijazah kedokteran. Kini kedua kaki Hiver


terbalut rapi dengan kain kasa.


“Terima kasih.” Ujar Hiver ketika Orion meminta pelayan menbawa masuk segala peralatan yang sesaat lalu ia gunakan.


Orion menatap Hiver lalu menarik napas dalam.


“Biarkan kakimu menggantung, dan minum obat ini. Penghilang rasa nyeri sekaligus anti biotik.” Pria bersurai emas dengan manik biru gelap itu


menyodorkan gelas berisi air putih dan obat.


Tanpa banyak tanya, Hiver langsung menelan pil berwarna putih dan sekaligus membasahi tenggorokannya yang sangat kering karena berlari di halaman luas Hotel Carro Bluette.


“Aku sudah memberitahu Onyx jika kau ada di sini. Dan katanya besok pagi akan menjemputmu di sini.” Tutur Orion tanpa menoleh hanya berbicara


datar seolah tidak ada kejadian Hiver berlari dengan kaki terseok-seok membawa luka hatinya.


Hiver menoleh menatap wajah datar dan dingin Orion.


“Terima kasih sudah membawaku kesini, Orion,” ucap Hiver dengan tulus.


Apa yang kau harapkan dari pria yang tidak memiliki hati. Balasan terima kasih pun tidak di gubris oleh Orion, pria itu hanya terdiam dan sedikit gerakan tubuh.


Desember harusnya sudah sangat dingin seperti winter di Mersia, salju tebal menyelimuti seluruh penjuru negeri. Berbanding terbalik dengan Perancis bagian selatan. Bisa Hiver katakan, musim dingin di tempatnya sekarang berada adalah suhu musim semi di Mersia.


Namun keduanya tetap terdiam menikmati malam berangin sepoi-sepoi dengan desahan kecewa dari bibir Hiver.


Beberapa menit berlalu, kantuk mulai menguasai kesadaran Hiver. Ia menoleh ragu ke arah Orion.


“Aku sangat mengantuk, bolehkah aku tidur di bahumu?” pinta Hiver dengan manik memerah.


Sejenak Orion berpikir lalu merapatkan tubuh dan menepuk bahunya. Tak perlu lama, Hiver menjatuhkan kepala pada bahu Orion yang nyaman.


“Selamat tidur, Marjorie.” Lirih, ringan dan halus suara Orion menghantarkan Hiver hingga ke alam mimpi. Ketika Orion tahu jika Hiver sepenuhnya telah jatuh tertidur karena obat yang diberikannya memiliki zat penenang, ia pun kembali membopong Hiver untuk beristirahat dengan nyaman di dalam kamar.


Dengan pelan-pelan Orion meletakkan tubuh putri tidurnya di atas ranjang. Ia pun lalu menarikkan selimut tebal untuk menutupi tubuh Hiver.


Sekilas ia memandang wajah cantik dengan lekat , matanya sembab karena tangisan. Orion menolak sekuat hati dan segala kewarasan untuk tidak menyentuh wajah Hiver. Berikutnya Orion melepaskan jasnya dan bergabung terbaring di sebelah sang putri.


Tak lama kemudian, keduanya jatuh tertidur dengan mimpi buruk yang berbeda.


###





alo kesayangan💕,


aku telat mengupdate chapter ini..


Happy Friday, Y'all..


aku sepertinya harus kembali k Axel sebelum lupa😎


love,


D😘