MERSIA

MERSIA
It Takes Time



Philip merutuki diri dalam hati, namun berbanding terbalik dengan apa yang ditampakkan bibirnya yang  tetap tersenyum menyapa para tamu ayahandanya. Secara terpaksa Philip hadir di pesta kerajaan, tentu saja ini bukan pesta yang di gelar dua bulan lalu. Ia masih cukup waras untuk menolak undangan King Sigvard dan memilih bertahan di


Chateu –nya.


Philip menunggu segala sesuatunya mereda, rakyat sendiri –lah yang memulai mencari-cari keberadaan sang putra mahkota. Pesta malam itu merupakan penampilan perdana Philip di Royal House. Di tempat sama pula dominasi wanita-wanita cantik dari kalangan atas memenuhi ballroom tersebut. Sangat jelas maksud King Sigvard mengadakan sebuah malam perjamuan, yang tak lain agar putra pewarisnya bisa menentukan pilihan kepada salah satu gadis beraga sempurna, pun dari keluarga terbaik.


Tidak ada yang menarik. Semua tersenyum lebar memandang dengan wajah menggoda ke arah Philip. Semua berharap ditegur dan diajak berbincang. Gadis-gadis dengan belahan gaun yang tidak terlalu rendah, namun tidak menutupi sisi liar mereka dalam melakukan perburuan terhadap sang putra mahkota.


Tidak ada satupun yang mirip dengan Princess Marjorie Hiver. Putri Mersia yang terkenal dengan wajah dingin dan semburan amarahnya. Semakin didekati, Hiver semakin menjauh. Bahkan di pesta pertunangan Hiver memilih pria lainnya, bukan sang pangeran.


“Yang Mulia, Princess Anne-Marie dari Kerajaan Denmark ingin berbincang.” Bisik Johan, asistennya yang setia mengekor kemanapun Philip membelah ballroom.


Philip sekilas menoleh sambil memicingkan manik lionnya. Johan yang berada di dalam Royal House spontan menundukkan kepala dengan hormat. “Gadis yang mengenakan gaun berwarna teal, Yang Mulia.” Terang Johan pelan.


Philip mengarahkan pandangan pada putri yang dimaksud Johan.



“Cantik.” Gumam Philip. Princess Anne-Marie sangat anggun dengan gaun indah yang memamerkan bahunya seputih susu. Surainya coklat kemerahan di sanggul, sepasang anting indah menghiasi telinganya. Gadis cantik itu tersenyum tipis ketika Philip mendekat, tak lupa Anne-Marie menyodorkan gelas wine –nya kepada pria yang berprofesi seperti Johan.


“Tuan Putri Anne-Marie, sungguh sebuah kehormatan menjamu anda di Swedia.” Sapa Philip sambil mengecup punggung jemari tangan putri cantik tersebut.


Anne-Marie tersenyum memamerkan barisan gigi layaknya mutiara yang berkilauan. “Terima kasih telah mengundang kami, Yang Mulia.” Balasnya tak kalah sopan dan ramah.


Philip menegakkan tubuh dengan poker face –nya yang tersenyum. “Bagaimana dengan pestanya, Princess Marie?” tanyanya menyebutkan nama panggilan gadis cantik itu. Philip sangat pintar, terlebih dalam mengingat putri-putri dari kerajaan di dunia. Princess Anne-Marie pernah menjadi pilihan Swedia untuknya, namun Philip menolak. Di hati Philip tidak ada putri selain Princess Hiver, begitupun hingga sekarang.


“Sangat meriah dan menyenangkan. Saya memiliki banyak saingan di sini, Yang Mulia. Untungnya saya bisa membujuk orang kepercayaan Yang Mulia.” Ujar Anne-Marie dengan lembut.


Philip mengangguk pelan dengan sorot mata yang bijak. “Hans Jacobsson, namanya.”


“Ya benar Mr. Jacobsson.” Imbuh Anne-Marie sambil menatap penuh kagum kepada lawan bicaranya yang sangat tampan dan badan tegapnya dibalut dengan suit terbaik.


Philip menghela napas dan di saat itu pula aroma tahitian vanilla dan hint mawar menyeruak di inderanya. Anne-Marie memiliki wangi sama dengan mantan kekasihnya, Sofia Holmberg. Sang putra mahkota melangkah mundur, ia yang tadinya sedikit memiliki minat untuk sekadar berbincang mendadak kehilangan gairah.


“Yang Mulia.” Anne-Marie paham akan pergerakan tubuh Philip kembali meminta perhatian agar jerat umpan pancingnya tidak lepas.


“Ya, Princess Marie. Jika membutuhkan sesuatu silahkan berbicara dengan Hans. Dia adalah salah satu orang kepercayaanku.” Ucap Philip sambil melirik pria berbadan ringkih di belakan Anne-Marie. Hans mengangguk kemudian menundukkan pandangan.


“Tunggu, Yang Mulia. Saya belum selesai berbicara.” Kata gadis cantik yang berupaya menahan lebih lama Prince Philip Bernadotte.


“Ya?” manik lion Philip melebar dengan seringaian tipis di bibirnya. Melihat Anne-Marie yang menyanjungnya membuat Philip semakin kehilangan minat. Terlebih putri cantik itu memiliki wangi parfum yang sama dengan Sofia. Sebuah wangi yang sangat mahal bagi Sofia agar bisa menyamai kelas Philip. Sayang, itu adalah sebuah asumsi yang salah. Jenjang kelas di Swedia tidak ditentukan oleh aroma parfum mahal, melainkan apa yang dibawa satu manusia sejak menghirup udara di dunia, ya strata. Wanita seperti Sofia tak lebih dari gundik-gundik Philip, hanya saja wanita itu lebuh beruntung menemaninya sejak mengenyam ilmu di bangku kuliah.


Anne-Marie bergerak agresif, putri kedua Kerajaan Denmark tersebut langsung menggamit lengan kokoh Philip. “Saya tidak ingin kedatangan ke Swedia berakhir sia-sia, Yang Mulia. Semua wanita di sini memiliki misi yang sama denganku. Dan sepanjang pesta berlangsung, hanya saya yang memiliki kesempatan istimewa ini. Apakah Yang Mulia memiliki ketertarikan terhadap Denmark? Kita adalah dua kerajaan yang besar, bayangkan jika bersatu dalam sebuah ikatan pernikahan. Dua kerajaan akan menguasai Eropa Utara.” Tawarnya tak mempedulikan citra seorang putri yang diharuskan untuk menjaga tingkah laku sopan di tengah sebuah pesta.


Philip menunduk menatap wajah cantik Anne-Marie. “Aku baru saja berpisah, Princess Marie. Aku belum memikirkan sebuah pernikahan, terlebih sebuah pernikahan dengan konsep perjodohan. Jika tak salah usiamu sekarang telah menginjak 27 tahun, bukan? Kau pasti tidak ingin menungguku 5 hingga 10 tahun ke depan, Princess Marie. Tidak baik, seorang putri terlambat menikah.”


Wajah Anne-Marie menegang, manik coklatnya membulat dan bibirnya terbuka. “Apa maksud, Yang Mulia?” tanyanya dengan susah payah mengulas sebuah senyuman.


Andai saja Philip masih orang yang sama dengan beberapa tahun lalu, Anne-Marie pasti akan berakhir di tempat tidurnya. Syukurnya ia telah berubah banyak. “Seperti yang kau dengar tadi, Princess Marie. Sebenarnya pesta ini diadakan oleh King Sigvard agar aku menemukan pengganti Princess Lou. Tapi sayangnya aku tidak menemukan putri yang kucintai di pesta ini. Dia tidak ada di sini.” Ujar putra mahkota itu dengan suara bergetar.


“Siapa?” tanya Anne-Marie impulsif.


Philip tersenyum manis kepada Anne-Marie. “Lain kali jika kau bertemu dengan seorang pangeran, jangan gunakan pembahasan tentang penyatuan dua kerajaan, gadis cantik. Terlebih kepada Swedia yang jelas-jelas besarnya tiga kali lipat dibandingkan Denmark.” Katanya sambil melepaskan gamitan tangan Anne-Marie dengan sangat pelan dan sopan.


“Yang Mulia, kau belum menyebutkan putri itu. Siapa dia? Apakah dia lebih cantik dari seorang Anne-Marie?”


Philip mencondongkan kepala hingga mencapai telinga yang sangat kuat memancarkan aroma parfum Anne-Marie. “Mungkin kau lebih cantik, Princess Marie. Tapi yang kurasakan melewati banyak batasan, termasuk status.”


Anne-Marie menoleh hingga pipinya menabrak rahang Philip. Ia tersentak kaget. “Yang Mulia.” Erangnya dengan jantung tertalu kencang.


Philip menepuk pelan lengan Anne-Marie. “Semoga kau mendapatkan pangeranmu, Princess Marie. Maafkan pertemuan kita berakhir sampai di sini dan silahkan nikmatilah pestanya.” Katanya sambil mengukir senyuman.


Anne-Marie tidak berani menahan lebih lama sang putra mahkota yang telah menarik diri sangat jauh dari genggaman tangannya.


“Kita pulang ke Chateu sekarang juga.” Philip melangkah meninggalkan pesta diikuti dua orang kepercayaannya. Ia tidak peduli banyak wanita cantik yang menyaksikan kepergiannya dengan desahan kecewa.



Hiver meremas jemari tangan adiknya, Cyrus ketika baru saja mendengarkan penjelasan panjang pria muda itu.


“Big sis.” Tegus Cyrus menggoyangkan tubuh Hiver yang kaku.


Raut wajah Hiver terlihat sendu dengan maniknya yang berkaca-kaca. “Kenapa aku tidak diberi tahu? Kenapa kalian membiarkan aku orang terakhir yang tahu jika Lou memiliki hubungan istimewa dengan kakak sepupunya Philip? Kenapa?” tuntut Hiver dengan pertanyaan yang ia semburkan kepada adiknya.


“Big Sis, kita berada di pesta Kak Autumm.” Cyrus mengingatkan Hiver yang mendadak gelisah di dalam balutan gaun indah berwarna peach.


Cyrus mewakili Mersia untuk menghadiri pesta pernikahan Autumm dan Hiro di Mallorca, Spanyol. Kedua orang tuanya tidak bisa datang, pun Alastaire Onyx yang semakin sibuk dengan urusan kerajaan. Cyrus –lah satu-satunya orang di Mersis yang memiliki jadwal longgar.


“Aku tahu, Cyrus. Tapi ini membuatku sangat syok. Aku pikir Philip -lah yang melukai hati Lou.” Hiver kemudian menyesali sikapnya di pertemuan terakhir dengan Philip. Ia bahkan hampir membunuh putra mahkota Kerajaan Swedia karena amarah.


“Tidak perlu dipikirkan terlalu dalam, Princess Hiver kakakku. Yang terpenting sekarang adalah Lou telah bebas dari Philip. Lou telah mendapatkan kebahagiaannya dengan memilih tinggal di Afrika dengan Duke Jonas. Papa sudah mengetahui hal ini, sepertinya pihak kerajaan tak lama lagi akan menikahkan Lou dan Jonas. Ya, tentu saja secara sembunyi-sembunyi. Mersia tidak ingin aib perselingkuhan Lou dan Jonas muncul di media, dan kita semua akan membiarkan pasangan itu jauh dari sorot pencari berita. Aku pikir papa dan Onyx telah memikirkan tentang hal tersebut dengan baik-baik.”


Hiver mendongak memandang manik hijau yang sama dengan miliknya. “Apakah Lou dan Jonas tidur bersama?” tanya dengan was-was.


Cyrus mendengus lalu tertawa kecil. “Dari sudut pandangku pastinya mereka tidur bersama. Dua orang yang tinggal di alam liar, pemikiran pun ikut terpengaruh, Big Sis. Bukan meremehkan Lou, tapi dua orang yang dikuasai gelora cinta dan nafsu dalam waktu bersamaan sangat rentan melakukan hal tersebut. Mungkin Lou tak lama lagi akan mengandung anaknya, seorang anak yang tidak akan mendapatkan pengakuan sebagai keturunan Mersia. Tapi Lou sangat tahu dengan apa yang dilakukannya termasuk melepaskan kehidupan Mersia yang mengakar kuat di dalam darah. Sebenarnya aku menyayangkan keputusan Lou, namun papa sendiri –lah yang membiarkan Lou ke sana. Tak ada yang bisa kita lakukan selain mendoakan hal terbaik bagi Lou.” tandasnya sambil mengulum bibir.


“Aku belum bisa menerima ini, Cyrus. Berikan aku waktu untuk bisa memaklumi keputusan nekat Lou.” Hiver bergerak memeluk adik bungsunya.


Cyrus mendesah panjang dan menepuk punggung Hiver. “Ya, semua orang butuh waktu untuk beranjak dan menerima. Kau sendiri bagaimana dengan Orion, Big Sis? Apakah kalian masih menunda untuk memiliki anak? Pernikahan kalian harmonis, bukan? Mengingat kalian berdua adalah orang yang tidak saling mencintai sebelum ini. Harusnya kau menikah dengan River bukan Orion.” Katanya lugas sambil melayangkan pandangan di ujung kanan di tepi pantai di mana dua pria mengenakan suit hitam berdiri bersisian menatap lautan yang biru.


Orion membiarkan anak-anak rambutnya yang tidak terikat ditiup angin, sementara River memberikan jel pada rambutnya hingga tetap pada bentuk semula. Rapi dan tertata baik.


“Kenapa kau tidak pernah mau datang ke danau? Bukan sekali aku mengundangmu untuk makan malam atau makan siang bersama. Dan aku melihat kau terlihat menghindariku hingga hari ini di pesta Autumm. River, kau terlihat pucat.” Tegur Orion kepada River, saudara kembarnya.


“Aku tidak bisa tidur.” Sahut River sambil memijat tengkuknya yang pegal. “Carole sangat manja dan banyak permintaan, aku hanya bisa tidur beberapa menit dan dia kembali meminta ini dan itu.”


“Jadi?” selidik Orion sambil mengerutkan alisnya.


River membalikkan tubuh dan menghadap kepada Orion. “Carole benar-benar hamil. Aku pikir kemarin itu hanya sandiwaranya untuk mendapatkan perhatian di depan daddy dan mom. Carole mengandung anak kami dan menginjak bulan ketiga.”


“Kau tidak terdengar bahagia.” Celetuk Orion melihat raut wajah saudaranya rapuh dengan lingkaran hitam di bawah mata.


River mendengkus pendek lalu tersenyum getir. “Aku tidak bahagia, karena kebahagiaanku telah kau ambil, saudaraku.”


Orion tertawa sambil menggelengkan kepala. “Sebenarnya ini juga yang ingin kukatakan kepadamu, River.”


Manik biru terang River sontak melebar. “Apakah kau ingin melepaskan Hiver?”


“Hei, jaga perkataanmu. Itu tidak akan pernah terjadi, River. Kami tidak akan saling meninggalkan, Marjorie selamanya adalah istriku.”


River mengerang kecewa dan kembali memandang ke arah lautan biru di depannya. “Dulu aku pikir kau tidak tertarik bahkan tidak menyukai Hiver-ku. Rupanya saudaraku ini adalah pemangsa yang diam-diam menghanyutkan.” Todongnya dengan sinis.


Orion menarik napas pendek menatap River. Ia sangat mengasihi saudaranya, termasuk mengikuti semua keinginan River dalam mengelola Bluette Corporation hingga semakin mengukuhkan posisi perusahaan tersebut di dunia. Perkara Hiver berbeda, Orion tidak akan pernah menyerahkan istrinya kepada siapapun. Termasuk River yang sebentar lagi akan menjadi seorang ayah.


“Mungkin aku lebih dulu menyukai Hiver dibanding kau, River.”


“Menurutmu begitu?” sergah River.


Orion hanya tersenyum kemudian mengedikkan bahunya. “Tapi bukan itu permasalahannya, River. Sekarang kita masing-masing telah menikah. Kau dengan Carole, yang jelas dulunya dia adalah kekasihmu. Sementara aku berhasil memenangkan hati Marjorie.”


“Kau mengambilnya dari tanganku.”


Orion mendesah dibarengi suara tawa pelan. “Aku tidak mengambilnya, River Phoenix. Memang seperti inilah Tuhan bekerja. Rupanya aku lebih pantas mendapatkan Marjorie dibandingkan dirimu. Toh kau memiliki Carole, kalian berpacaran lama bukannya mengejar Marjorie untuk menjadi milikmu.”


“Dia adalah putri dari Mersia, Orion. Sepatutnya Hiver menikah dengan seorang pangeran. Ya, sungguh tepat Hiver memilih Prince Philip dan kemudian kau datang mengacaukan semuanya.” Tuduh River yang sepenuhnya dikuasai oleh amarah.


“Astaga, River. Kau berbicara seperti kita tidak memiliki sebuah hubungan darah. Betul kau kurang istirahat.” Kata Orion menepuk punggung River.


“Ya, aku tidak pernah bisa tidur dengan damai sejak menikahi Carole, terlebih tiga bulan terakhir ini dia semakin menjadi-jadi. Melarangku datang ke danau, melarangku berada satu ruangan dengan Hiver. Hampir setiap saat ponselku di cek oleh Carole. Aku sudah berkonsultasi dengan dokter, dan dokter s*alan itu hanya menyarankan untuk mengikuti semua keinginan Carole bukan menceraikannya.” River menggerutu sambil mengepalkan kedua telapak tangannya.


“Jangan begitu, River. Bagaimanapun Carole sedang mengandung anakmu. Belajarlah untuk hidup dengan dia. Anak kalian kelak membutuhkan kasih sayang kedua orang tuanya sambil kau belajar menguasai istrimu dengan baik. Yang terpenting adalah bukalah hatimu untuk mencintainya.” ucap Orion menasehati saudara kembarnya.


“Tidak. Aku tidak mencintai Carole, aku hanya memiliki satu wanita di dalam hatiku dan itu adalah istrimu.”


###




Orion ini model Androgini.. lebih banyak dia jadi model berpakaian cewek dibandingkan pakaian pria.. sekali jadi cowok dia topless 😂



alo kesayangan💕,


apakah kalian sudah melepas rindu dengan Mersia? tidak lupa kan dengan jalan ceritanya? maaf baru bisa menulis lagi.. butuh niat besar untuk duduk di depan lepi karena ak g bisa menulis 2000 kata dengan ponsel.


oh yah aku mau pamer tali maskerku..



love,


D😘