MERSIA

MERSIA
Hanya Saja



“Kau terlihat pucat.” Hiver menegur Orion yang sedang fokus dengan tablet canggihnya. Pria berwajah cantik itu hanya mengerling dengan tatapannya yang lembut. Hiver mendesah, dadanya bergemuruh hanya sebuah kerlingan sederhana.


“Ini sudah biasa, Marjorie.” Sanggah Orion sambil tersenyum.


Hiver melipat bibir dan mengarahkan pandangan ke arah luar jendela, hujan sedang turun membasahi tanah beserta pepohonan di sekitar mansion milik mereka. “Musim dingin sebentar lagi tiba.” Gumamnya.


“Kemarilah.” Orion membuka tangannya sebelah, Hiver pun tanpa diminta dua kali langsung menelusup ke dada bidang milik suaminya. “Ini musimmu bukan, Marjorie? Istriku sebentar lagi berulang tahun ke 29, apakah ada yang kau inginkan?” bujuknya.


Hiver mendongak menatap wajah Orion yang sempurna karena ulah para malaikat memahatnya di surga sana. “Tidak ada. Aku memilikimu, Bintang Jatuh.” Erangnya seraya mengecup ujung dagu Orion.


Wajah Orion memerah dan mendekap tubuh Hiver dengan tablet masih tergenggam di tangan kirinya. Ia mengecup puncak kepala sang putri. “Bersamamu waktu berjalan dengan cepat, Marjorie. Sebelum kita menikah, aku bisa menghitung hari


yang tak kunjung berganti. Lihat sekarang, kita hanya duduk di ruang tengah dan jam sudah menunjukkan pukul tiga sore.”


“Aku membenci River ketika memberikanmu pekerjaan sebanyak ini.” Hiver menggerutu sekaligus mengerucutkan bibirnya.


Orion tertawa. “Bukan memberikan, Marjorie. Tapi ini adalah tanggung jawab yang seharusnya diselesaikan. Jika aku tidak bekerja, kau akan makan apa, Marjorie?” guraunya yang kemudian mendapatkan cubitan di pipi dari Hiver.


“Orang tuaku masih bisa memberikan kita makanan, tapi aku tidak ingin kembali ke Mersia.” Sahut Hiver tak mau kalah merendah. Keduanya kemudian tergelak tawa sambil berpelukan.


“Kita bisa tinggal di Dundas, tempat itu sangat nyaman. Suasananya hampir sama dengan rumah ini.” Orion menerawang.


Hiver menggeleng. “Tidak ada tempat senyaman rumah kita, Orion. Padahal dulu aku sangat tidak menyukai tempat ini.” ucapnya jujur sambil terkekeh.


Manik biru tua itu melebar mencari jawaban akan perkataan istrinya. “Kau tidak menyukaiku.”


Hiver mengangguk. “Aku tidak menyukaimu, lebih tepatnya takut keberadaanku tidak dianggap olehmu. Kau selalu ketus, bahkan terlihat marah ketika melihatku. Aku tidak salah jika memilih menjauh dan tidak menegurmu. Kau sangat dingin.”


“Itu karena aku mencintaimu, Marjorie. Aku sangat mencintaimu.”


Hiver terkikik bahagia, hatinya meledak oleh ucapan Orion yang lembut dan mendayu. “Terima kasih telah terbang ke Mersia, dan menculikku. Aku tidak pernah membayangkan jika seseorang akan datang seperti itu. Seseorang yang berani memecah ballroom Mersia dengan tatapan dinginnya.”


Orion terdiam dengan jemari sibuk mengetikkan hal yang tidak terjangkau oleh isi kepala Hiver. Orion menghela napas berat, Hiver memandang wajah suaminya yang tenang. “Ada apa?” tanyanya dengan alis saling bertaut.


“Aku hanya berpikir, andai aku tidak datang. Kau pastinya telah menjadi istri dari pangeran itu, Marjorie. Begini..” Orion meletakkan tabletnya di atas coffee table, ia kemudian menangkup wajah Hiver. Orion menatap wajah Hiver dalam-dalam.


“Aku melihat sendiri bagaimana sikap Philip ketika di Swedia, Marjorie.” kesah Orion dengan pelan.


“Yang mana?” Hiver dingin dengsn bibir tipis yang cemberut.


Orion tersenyum geli. “Pertemuan kita yang terakhir. Di situ aku melihat dengan jelas perasaan Philip yang sangat mencintaimu, Marjorie.”


Hiver menggeleng keras, suasana pun berubah tak menjadi romantis lagi. “Tidak! Dia hanya bernafsu untuk menguasai, Philip adalah pria yang tidak bisa memegang perkataannya. Dia pernah berjanji akan membahagiakan Lou, dan itu hanya omong kosong.”


Senyuman Orion memudar. “Kapan Philip berjanji seperti itu, Marjorie?”


“Hah?” Hiver menganga dan bingung, ia lupa jika pembicaraannya dengan Philip harus dipendamnya dalam-dalam.


Orion terlihat menggeleng lalu mengambil napas panjang. “Baik jika hal itu adalah rahasia bagimu, Marjorie. Aku tidak ingin membahasnya.”


“Kau cemburu?” tanya Hiver tiba-tiba. Ia tidak pernah melihat Orion memasang wajah dinginnya sejak mereka menikah.


“Jujur, aku cemburu. Tapi kenyataannya kau adalah milikku, hanya saja aku mengingat Philip dan pembicaraan ini berkembang. Aku berpikir andai saja aku tidak datang pada waktu itu, kau pastinya telah hidup bahagia dengan Philip, pria itu sangat mencintaimu dan aku yakin dengan gampangnya dia bisa membuatmu jatuh cinta.”


Hiver mendengus singkat, manik hijaunya seolah ingin melompat keluar dari tempatnya. “Jadi kau ingin memutar waktu dan menyerahkan diriku kepada Philip? Tidak. Aku tidak akan pernah memiliki perasaan kepadanya, dia mempunyai reputasi buruk di mataku. Apa kau menyesal menikahiku, Orion?” ujarnya dengan nada dingin. Hiver berdiri, melepaskan tubuhnya dalam dekapan Orion.


“Marjorie, bukan itu maksudku. Maafkan aku.” Orion memegang jemari tangan istrinya. Pun ia ikut berdiri.


“Aku tidak ingin menjadi ratu, Orion. Terlalu sering aku mengatakan ini jika aku bukan wanita kebanyakan yang ingin menikah dengan seorang pangeran. Aku tumbuh besar di dalam lingkungan Mersia, aku sangat paham dengan semua aturannya. Bahkan Lou pun tidak bisa bertahan hidup di Swedia. Aku jatuh cinta kepadamu karena kau gigih, Orion. Di balik sikapmu yang dingin kau adalah pria yang penuh kasih sayang, jiwamu yang penyendiri berhasil memikatku. Kau adalah ketenangan dan kenyamanan yang selama ini aku impikan. Jadi tolong, jangan pernah


berandai-andai. Seperti kau katakan tadi, aku adalah milikmu. Aku tidak pernah berpikir menjalani hidup selain berada di sampingmu.” ucap Hiver dengan tegas, tak terbantahkan betapa kuatnya ia bertitah.


Orion pria yang lembut, bermimik arogan dan dingin kini wajahnya memerah. Pria bersurai emas pucat itu kemudian memeluk tubuh istrinya dengan erat-erat. “Terima kasih, Marjorie. Terima kasih atas keteguhan cintamu. Dulu, aku iri dengan gelak tawamu ketika bersama River. Aku pikir hanya River yang bisa membahagiakan dirimu.”


Hiver mengecup pipi Orion dan menggeleng. Manik hijaunya berembun tebal. “Masa kecil dan masa sekarang adalah dua fase yang berbeda. Ketika aku kecil, sudah sewajarnya aku menikmati hidup dengan penuh keceriaan. Kini aku sudah dewasa, aku ingin menjadi ceriamu. Aku ingin mengganti fase masa kecilmu yang kau jalani dengan sendiri. Kita bersama-sama menjalani hidup dengan penuh suka cita, pun duka. Aku akan selalu bersamamu, Orion Filante.”


Orion menggigit bibir, manik biru gelapnya berkaca-kaca. “Kau adalah wanita hebat, Marjorie. Milikku.”




Sementara itu di Afrika, Jonas penuh harap-harap cemas menanti Lou yang berada di dalam kamar mandi. “Bagaimana?” tanyanya dengan sedikit berteriak.


Pintu kamar mandi terkuak dan muncullah wajah Lou yang semringah. “Tidak. Aku tidak hamil.” Jawabnya diikuti helaan napas lega.


Jonas memejamkan mata sesaat kemudian mendesah. “Aku terdengar jahat jika mengatakan “aku bersyukur” tapi nyatanya itulah yang kurasakan, My Love. Aku belum siap dengan kondisi kita seperti ini.”


Lou menggelengkan kepala. “Aku juga belum mau hamil, Joe Sayang. Kita belum menikah.”


Jonas memeluk Lou lalu mengecup puncak kepala kekasihnya. “Aku berusaha berhati-hati, mungkin kemarin kita lepas kontrol.” Katanya sambil menghela napas panjang. “Tapi, ini sudah pasti bukan?”


“Iya. Sepertinya kita menunggu siklusku dua tiga hari ke depan.” Lou menarik Jonas menuju sofa.


“Aku bukan pria yang tidak bertanggung jawab, Sayang. Tapi aku tidak ingin melihatmu mengandung sementara kita belum menikah. Maafkan aku tidak bisa menahan gairah yang terus menerus mengajakmu memadu kasih.” Jonas mengerang namun pula matanya mengerdip nakal.


“Tidak.” Sanggah Lou menggeleng. “Aku juga menginginkan itu, Sayang. Aku tidak membandingkanmu dengan mantan suamiku, hanya saja ketika aku melakukannya denganmu penuh perasaan. Aku mencintaimu, Duke Jonas.”


Pria yang disanjung memamerkan ceria di wajahnya. “Ini sudah cukup, Princess Maryln Lou. Jika kau meneruskan perkataanmu yang sangat manis itu, aku akan melucuti pakaian ini.”


Lou tergelak tawa keras, ia pun mencubit perut kekasihnya. “Dasar maniak. Setelah menikah aku akan membatasi jumlah anak kita, Duke Jonas.”


“Afrika kekurangan manusia, Bumi bagian di sini perlu menambah banyak populasi manusianya, Tuan Putri. Jadi minimal empat atau lima anak, please.” Jonas menghiba sambil bertekuk lutut di depan Lou yang tergelak tawa ringan.


“Terlalu ramai, kau pasti tidak bisa mengurusnya. Dan kita akan ketahuan jika pergi berlibur bersama. Membawa banyak anak akan menjadi pusat perhatian orang-orang, Joe Sayang.” Lou tercenung membayangkan masa depan mereka.


Lou terpekik kemudian berdiri. “Duke Jonas.” Lirihnya dengan tubuh tegang dan manik hijau yang berair.


Jonas mendongak seraya memasangkan cincin berlian di jemari Lou dengan perlahan. “Jadilah istriku, Princess Maryln Lou. Perkara hidup kita di masa depan, mari kita pecahkan secara bersama-sama. Maafkan aku yang melamarmu dengan cara sederhana seperti ini, tanpa ada alunan musik klasik dan restoran mewah. Kita berada di tengah hutan Afrika.” Katanya mengingatkan.


Lou justru menangis sambil menggeleng. Beberapa kali ia berdeham agar sekat bahagia di tenggorokannya hilang dan suaranya bisa kembali. “Ini lebih baik daripada dijodohkan.” Katanya yang langsung memicu tawa keras dari Jonas.


“Kau sangat menggemaskan, My Lovely Fiance.” Jonas berdiri kemudian memeluk Lou, tak lupa memberikan ciuman lembut di bibir wanitanya.


Lou menaikkan jemarinya dan memandang cincin berlian yang sangat indah melingkar dengan sempurna. “Kapan kau membelinya?” gumamnya dengan suara yang masih tercekat perasaan sukacita.


Jonas melirik cincin Lou yang sangat pas, tidak longgar pun tidak setengah mati ketika ia memasangkannya. “Tradisi keluarga kami adalah tidak pernah membeli sebuah perhiasan, Sayang. Di Swedia, perhiasan diwariskan secara turun temurun. Apakah kau tidak tahu jika Kerajaan Swedia memiliki tambang batu-batu bernilai tinggi? Tapi aku tidak menyukai perhiasan baru, sama sekali tidak memiliki sebuah catatan sejarah. Yang kau pakai ini adalah milik ibu dari nenekku, My Love.”


“Tuhan.” lirih Lou kemudian menangis di dalam dada bidang Jonas.


“Sebelum meninggalkan Swedia, aku telah memikirkan hari ini, Lou. Aku telah menyiapkannya. Walau sempat merasakan bimbang tentang keinginanmu datang ke tempat ini. Aku bertaruh nasib hingga ke Afrika dan lihat.. aku berhasil mendapatkanmu.”


“Aku milikmu, Duke Jonas.”


“Tentu saja, kau adalah milikku selamanya.” Jonas berseru riang, maniknya berseri seterang matahari yang bersinar di belahan benua Afrika.



Philip berdeham dengan satu tangan menopang dagunya. Di atas meja terdapat berbagai perhiasan berkilau indah dengan daya tariknya masing-masing.


“Ini bagus, Yang Mulia.” Saran Johan menunjuk kepada satu set kalung berlian beserta antingnya. Kalung antik dengan batu berlian berwarna hijau, termasuk salah satu koleksi yang sangat langka dan juga indah.


Philip semakin memerhatikan perhiasan yang menjadi pilihan Johan, asisten pribadinya. “Apakah ini tidak terlalu berlebihan?” tanyanya sambil menatap pria yang berdiri walau hanya sekilas.


Johan menggeleng. “Sepertinya tidak, Yang Mulia. Princess Hiver berulang tahun, sudah sangat wajar jika wanita secantik dirinya mendapatkan hal seperti ini. Tentu saja, Yang Mulia tidak ingin kalah bersaing dalam memberikan sebuah hadiah dengan pria kaya itu. Maksudku, Yang Mulia juga sangat kaya raya namun..”


“Sudah. Hentikan ucapanmu, Johan. Hal seperti itu bisa membuatku berkecil hati. Baiklah aku akan memberikan perhiasan ini, tolong yang lainnya dikembalikan ke tempatnya semula. Dan aku ingin menuliskan sebuah surat ucapan ulang tahun. Aku butuh waktu untuk sendiri.” Philip terdengar arogan, namun jujur terkadang kehadiran Johan mengganggu konsentrasinya.


“Baik, Yang Mulia.” Johan menoleh ke arah belakang dan dua pria itupun kemudian berjalan mendekat. Ia beserta kedua temannya lalu membawa kotak-kotak perhiasan yang sengaja didatangkan ke Chateu atas permintaan sang pewaris tahta.


Philip menahan pena yang gemetar di jemarinya. Tadi ia penuh semangat untuk menuliskan sepatah kata mungkin ribuan kata untuk Hiver. Ia kini ragu dengan dirinya sendiri.


“Kau adalah putri paling sederhana yang pernah aku temui, semua hal seperti ini hanya akan sia-sia di depanmu, Sayang.” Monolog Philip seraya meletakkan pena dan beranjak menuju sisi jendela.


“Selamat ulang tahun Princess Hiver.” gumamnya sambil menatap ke arah puncak perbukitan yang hijau. Pemandangan yang berwarna hijau itu, mengingatkan Philip akan manik indah milik Hiver.



Tawa Hiver merebak pun bibirnya terus mengembang dengan indah. “Aku tidak percaya kau bisa membuat kue seindah ini, Tuan Filante.”


Orion mengulum senyuman sembari memegang cake buatannya di depan Hiver. “Buatlah permintaan, Marjorie.” Ucapnya lembut bak halusnya benang sutra.


Hiver mengangguk dan kemudian memejamkan mata sejenak. Tak lama kemudian ia membuka kelopak mata yang berpijar indah memandang pria hebatnya. “Terima kasih, Orion.”


Sepasang manusia bertubuh tinggi dan sama rampingnya pun meniup lilin berwarna warni yang menghiasi kue. “Enak.” Puji Hiver mencuil cream berwarna baby blue dan menjilatinya.


“Aku belajar di bawah arahan chef rumah kita.” ujar Orion sambil tertawa ringan.


“Uhh sayang, kau sampai meluangkan waktu hanya untuk ini.” kata Hiver merajuk dan manja.


“Tidak, Marjorie. Aku telah mengosongkan jadwalku hari ini hanya untukmu.” Orion meletakkan kue di atas meja. “Mau dipotong?” tawarnya kepada wanita cantik dengan gaun tanpa lengan berwarna hitam.


“Tidak. Aku ingin berdansa riang denganmu.” Tolak Hiver sambil menautkan jemari tangan mereka.


Orion menggeleng. “Aku tidak pandai.” Katanya meragu sambil melihat sang istri telah memilih lagu dengan beat sedang, cukup membuat tubuh bergoyang.


“Ini ulang tahunku, tolong berikan aku goyanganmu yang indah, Tuan.” Tanpa aba-aba Hiver menarik Orion ke tengah ruangan dan mulai bergoyang. Pria yang di tangan sebelah tak sudi ia lepaskan walau kaku tak tahu melakukan sedikitpun gerakan seirama hentak lagu.


Hiver terus bergoyang, sesekali ia mengecup pipi Orion yang tetap berdiri tak bergeming dari tempatnya. Hiver tergelak tawa bahagia, dan ketika ekor matanya menatap wajah Orion bak vampire yang memucat, spontan ia berhenti meliukkan tubuhnya.


“Orion.” Hiver mendadak ikut pias dan memegang kedua jemari suaminya yang mendingin.


“Marjorie.” Orion mengerang lirih dan kemudian terjatuh ke dalam pelukan Hiver.


Hiver tersengal dan terpekik histeris Ia telah terduduk menahan tubuh Orion yang tak berdaya. “Orion, hei! Orion Filante, tolong kembali!”


###







alo kesayangan💕,


apakah Orion berumur pendek?


uh tidak..


aku masih menyayangi nyawaku untuk tidak di santet berjamaah oleh para readers.


love,


D😘