
"Apa yang kau cari di ponselku?" tanya Onyx sembari melihat adiknya tertunduk mematutkan mata pada layar ponsel.
"Aku ingin tahu seperti apa isi ponsel seorang pewaris tahta." jawab Cyrus menaikkan kepala dan lagi ia menggelengkan kepala ketika melihat penampilan kakaknya. "Semoga tidak ada yang mengenalimu kecuali nona itu, Yang Mulia."
"Aku hanya ingin tampak santai." sanggah Onyx mengecek penampilannya. Onyx mengenakan jaket denim berwarna hitam dengan t-shirt pada bagian dalam, dan hal yang membuat Cyrus sengit adalah celana pendek hitam yang dikenakannya.
"Berdoalah." gumam Cyrus sambil menyandarkan diri pada batang pohon Ek merah yang daunnya sedang berguguran.
Onyx melayangkan pandangan ke arah jalanan yang tampak lengang untuk ukuran Central Park, taman seluas lebih 3 kilometer persegi yang berada tepat di pusat Kota Manhattan, umumnya dipakai untuk kegiatan seperti berolahraga. Cyrus sendiri yang menentukan lokasi pertemuan dengan Serenade di Central Park, sejak di Mersia si bungsu mengambil alih kendali hidup atas Onyx. Sebenarnya Cyrus mencari tempat bertemu yang dekat dari tempat Serenade latihan.
"Coba lihat." panggil Cyrus dengan tenang. Onyx merapatkan jarak yang tadinya membentang dengan pemuda berusia 25 tahun tersebut.
"Apa?" tanya Onyx.
"Lihat." Cyrus memperlihatkan layar ponsel dengan wajah seorang gadis belia dan cantik. "Temanku Prince Onyx, ini adalah foto Stephani adikku satu-satunya. Aku terus memikirkan Luxembourg dan Mersia memiliki ikatan yang lebih erat."
Cyrus membacakan pesan Prince Henri kemudian tergelak sambil menggelengkan kepala. "Aku akui Putri Luxembourg sangat cantik, kenapa kau bersusah payah ke New York jika tawaran dari mereka lebih menarik?"
"Kembalikan ponselku." Onyx mengambil ponselnya lalu memandang dengan lekat-lekat gambar gadis yang mengenakan touser biru dan rok kotak-kotak merah.
Cyrus mendengus melihat Onyx yang terpaku dengan ponselnya. "Bagaimana? Apakah kau telah jatuh cinta dengan gadis itu? Hmm.. dia terkesan kuno." celetuknya menarik kesimpulan sendiri.
"Kau tidak membalas pesan temanmu? Prince Henri bersusah payah menjodohkan Yang Mulia Alistaire Onyx, dan seperti ini balasannya?" sindir Cyrus melihat sang kakak memasukkan ponselnya ke dalam saku celana.
"Kau terlalu cerewet untuk ukuran seorang pria." Onyx berkomentar, di saat yang sama dari kejauhan ia melihat sosok Serenade berjalan seolah mencari sesuatu. Tentu saja keberadaan Onyx -lah yang sedang dicarinya.
"Serenade datang." Ucap Onyx kemudian menampakkan diri ke jalanan, tangannya melambai ke udara dan gadis cantik yang berpenampilan sangat memukau lalu membalas dengan senyuman simpul.
Sebulan yang lalu Onyx melihat Serenade dengan gaun indahnya, kali ini ia melihat penampilan yang sepertinya adalah gaya keseharian wanita cantik itu.
"Apakah aku terlambat?" sapa Serenade dengan riang.
"Wow." seruan takjub keluar dari bibir Cyrus. "Hai, Nona Serenade." sambungnya mengulurkan tangan.
"Yang Mulia, Prince Cyrus." mata Serenade ikut menyipit selaras dengan bibirnya yang tersenyum melengkung ke atas.
"Cukup Cyrus." pemilik manik hijau itu mendengus geli setelah melepaskan tangan Serenade. "Dan kamu tidak terlambat, kami yang memilih untuk lebih cepat datang sekalian menikmati Central Park."
"Ya itu benar." giliran Onyx menyalami hangat pianis cantik dengan dandanan yang berbanding terbalik dengan Princess Stephani. Benar kata Cyrus yang memiliki mata jeli, Stephani terkesan kaku dan tertinggal.
"Bagaimana dengan latihanmu?" tanya Cyrus memimpin dua orang yang sempat saling pandang kemudian tersenyum bodoh.
"Berjalan lancar." Serenade menatap Cyrus agak lama, pria itu membalas tatapannya, dengan cepat ia menoleh. "Resitalnya masih lama, Yang Mulia."
Cyrus melotot. "Tolong jangan panggil aku dengan sebutan itu, Nada. Kita hanya selisih setahun, jadi tidak masalah jika kita berbicara lebih santai. Anggap aku temanmu."
Serenade menunduk sebentar, tak lupa ia melirik Onyx yang terkekeh. "Tadinya aku merasa sangat lancang jika hanya menyebut Cyrus."
"Dia memang seperti itu, pemberontak di Mersia." sela Onyx.
Cyrus mengangkat bahu. "Aku hanya menjadi diri sendiri. Jangan dengarkan perkataannya, Nada. Walaupun di cap pemberontak namun aku melakukan semua kewajibanku di Mersia."
Serenade tertawa halus, ia menutup bibirnya. Onyx terpaku mendengar suara tawa yang membuat dadanya berdesir hebat.
Cyrus berjalan di depan satu langkah dan Onyx beserta Serenade bersisian dengan canggung.
Selama 30 menit kemudian mereka berjalan menyusuri rute jogging track Central Park yang rindang disebabkan sebagian besar jalanan berada di bawah pepohonan besar. Cyrus yang lebih banyak berbicara, dan Onyx hanya menambahi beberapa kali. Sementara Serenade menikmati percakapan kedua pemuda dengan logat Skotlandia-nya yang kental.
"Burger? hotdog?" Cyrus menoleh menawarkan setelah melihat kedai yang berada di sisi kiri jalan, lada saat itu cukup ramai oleh pengunjung Central Park.
"Aku mau tapi nantinya kalian akan dikenali oleh orang-orang." sahut Serenade.
Cyrus mendengus. "Tidak akan ada yang mengenalinya dengan penampilan seperti itu." kembali ia menyindir penampilan Alistaire Onyx.
"Kita duduk di sana." tunjuk Onyx ke kursi yang masih kosong. "Hotdog dengan mineral."
"Baiknya kita pesan bersamaan." Serenade menatap bergantian kedua pemuda yang bisa meluluhkan para wanita muda hanya dengan menyebutkan gelar di depan nama. Oh tentu saja mereka akan histeris, mengalahkan teriakan ketika melihat anggota boyband yang terkenal sejagad raya.
Ketika Cyrus sibuk dengan meminta minuman tambahan, saat itu Onyx mengetikkan sesuatu di ponselnya.
"Nada, bisakah kau mengecek ponselmu?" tanya Onyx.
"Ya?" Serenade bingung, namun ia tetap mengambil benda yang dikatakan Onyx.
Apakah kau memiliki waktu luang nanti malam? Aku ingin mengajakmu makan malam pasti menunya bukan hotdog.
Serenade tersenyum lebar lalu mengangguk. "Ya, aku ada waktu."
...
Tepat jam 7 malam, Serenade duduk anggun dan di seberang meja ia menatap Prince Alistaire Onyx. Pria yang dianugerahi dengan senyum memikat hati, sungguh tampan dan menawan hati.
"Bagaimana wine-nya?" Onyx bertanya setelah Serenade mencicip isi gelasnya sedikit.
"Ini sangat enak." jawab Serenade menaruh gelasnya kembali. Ia memandang ke arah sang pewaris tahta dengan surainya hitam diberikan gel. Penampilan yang sangat rapi khas seorang bangsawan, tidak ada cela sedikitpun yang nampak.
"Dulu ibunda ratu pernah berkuliah di kota ini."
"Aku tahu, Yang Mulia." Serenade berbisik terlebih ketika menyebut panggilan resmi pria di Mersia. Sebenarnya tidak ada yang perlu Serenade takutkan ketika menyebut kata Yang Mulia, mereka berada di ruangan VVIP yang isinya hanya ada dua orang di satu meja dengan pemandangan malam kota New York yang indah.
"Bukan rahasia." Onyx tertawa pelan sambil memandang lama Serenade.
"Bulan lalu Orion dan Hiver berkunjung di Mersia. Aku jadi banyak tahu tentang Serenade Rajendra dari Orion."
"Oh ya?" seru Serenade.
Onyx meraba gelasnya sambil tersenyum. "Banyak hal yang tidak kuketahui sebelumnya, namun berkat Orion dan kini apa saja tentangmu tersimpan di sini." tunjuknya ke arah kepala.
"Tidak ada yang istimewa, aku hanya gadis seperti pada umumnya."
"Tapi aku tertarik mengenalmu lebih jauh Nada." todong Onyx tanpa aba-aba.
Serenade tidak bisa menahan diri untuk mendesah lalu tertunduk. "Bukannya telah banyak dari Kak Orion." kilahnya kemudian menatap bibirnya rapat. Ia gelisah.
"Gambaran secara umum, namun satu hal yang tidak kuketahui yaitu seperti apa pria yang kau cari hingga sekarang memutuskan untuk tetap sendiri." Onyx tidak menyiakan waktu untuk mengeluarkan pertanyaan-pertanyaan yang tidak bisa ia lontarkan di depan Orion.
"Bagaimana jika aku menanyakan hal yang sama kepada Yang Mulia. Pendamping seperti apa yang kamu cari hingga di usia sekarang belum menentukan pilihan?"
Onyx menarik napas sambil menatap Serenade, wanita cantik dengan surai emasnya seakan menanti jawaban. "Sebenarnya aku tidak memiliki standar tentang wanita yang akan kupersunting. Hanya satu hal yang tidak kusukai atau bisa dikatakan sangat kuhindari yaitu wanita yang berasal dari kalangan yang sama. Aku menyanjung percintaan raja dan ratu, mereka bukan berasal dari kalangan yang sama namun hingga sekarang masih bersama dan saling mencintai. Ya, aku butuh seorang wanita yang bisa menjadi penopang yang kokoh ketika tugas besar itu turun kepadaku. Agak susah menemukan wanita itu karena mungkin aku yang terlalu pemilih dan meragukan banyak hal."
"Tidak tertarik dengan perjodohan antar kerajaan?" tanya Serenade hati-hati.
Onyx tersenyum tanpa memperlihatkan giginya. "Jika aku tertarik pastinya aku telah menikah jauh sebelum Hiver bertemu dengan Orion. Justru kerajaan akan sangat bahagia jika pewaris tahta menikah di usia awal 20 tahun."
"Yang Mulia setahun di atasku." ujar Serenade.
"Jawab pertanyaanku, Nada. Aku telah menjawab pertanyaanmu." Onyx mengingatkan.
"Harus?" tawar Serenade.
Onyx mengangguk sekali, sorot manik coklat itu terlihat serius.
Serenade mengerjap. "Seperti Daddy." singkatnya sambil mengingat Axel, Daddy-nya.
Onyx menaikkan alisnya. "Tuan Axel Yu?"
Serenade mengangguk pelan. "Daddy adalah cinta pertamaku. Ingatan pertama kali ketika bertemu dengan Daddy sampai sekarang tersimpan jelas, padahal saat itu usiaku baru tiga tahun. Daddy mengajarkan banyak hal dan tidak pernah sekalipun aku menganggap Daddy hanya seorang ayah sambung. Tentu saja aku mencintai Papa lewat peninggalannya."
"Pastinya jiwa seni itu mengalir dari Tuan Micah." cetus Onyx memahami pembicaraan Serenade.
"Iya." sahut Serenade seraya mengambil gelas yang berisi wine. Perlahan ia meneguknya karena sepasang manik coklat tak mempunyai obyek pemandangan lain selain ke arahnya.
Serenade tersenyum. "Tepatnya aku menyukai pria dewasa."
...
Suara ******* lemah keluar dari bibir Serenade yang sedang memerhatikan bangunan-bangunan yang dilewati untuk kembali ke flatnya. Ia menolak di antar pulang oleh Onyx, tentu tujuannya hanya untuk menghindari para paparazzi yang haus akan berita tentang sang pangeran.
Serenade sendiri terlahir dari keluarga yang sering mendapatkan sorotan media, bahkan sampai sekarang ia masih dikait-kaitkan dengan papanya, Micah Rajendra. Tidak masalah bagi Serenade jika orang-orang mengatakan ia mewarisi bakat sang papa, yang tidak dimengertinya adalah ketika para wartawan menanyakan tentang kehidupan Micah semasa hidup sementara ia sama sekali tidak tahu menahu tentang itu. Serenade hanya tahu dari cerita keluarga besarnya, sosok Micah Rajendra. Ya, semua sebatas cerita bukan kasih sayang yang Serenade dapatkan.
Tidak ada yang perlu disalahkan dalam jalan hidupnya, tidak ada yang menginginkan Micah pergi selama-lamanya sebelum Serenade lahir. Serenade pun tidak berani berandai-andai melawan takdir. Ia tidak pernah memikirkan andai saja Micah masih hidup. Serenade sangat bersyukur dengan kehadiran Axel, ia tidak pernah meminta lebih dari apa yang ada di hadapannya.
Serenade sangat mengagumi sosok Axel, seorang pria yang penuh tanggung jawab begitupun dengan curahan kasih sayang yang sangat besar. Pula tidak ada yang berbeda dengan cara Axel membagi kasih sayang dan perhatian kepada Serenade, Lake, dan Forest, adik-adiknya.
Serenade memimpikan seorang pria seperti Axel untuk menjadi pendamping hidupnya. Bukan pria seperti Justin yang mata keranjang. Sungguh Justin adalah pria terakhir yang ingin ditemuinya.
"Sudah sampai, Nona." ucap sopir taksi menatap lewat kaca tengah ke arah Serenade yang tadinya sedang melamun.
"Oh iya." Serenade buru-buru mengambil uang pecahan 50 Dollar dari dompetnya. Sebelumnya ia melirik sekilas jumlah argo yang menunjukkan 36,20 sen. "Simpan kembaliannya, Tuan."
Bersamaan Serenade hendak membuka pintu, saat itu pula ia melihat sosok Justin berdiri di depan pintu bangunan flat-nya yang berlantai 8. Ia sendiri tinggal di lantai 5 selama hampir dua tahun terakhir.
"Oh Tuhan, tidak." Serenade mengurungkan diri untuk membuka pintu mobil. Ia menatap sang sopir taksi yang memiliki ras Meksiko.
"Pak, apakah boleh membawaku sekali lagi berputar di pusat kota?" pintanya sambil menurunkan tubuh agar Justin tidak melihat bayangan tubuhnya lewat jendela mobil.
"Baik, Nona." sahut sang sopir taksi tanpa banyak bertanya. Bunyi klik berbunyi menandakan argo taksi kembali berjalan.
Serenade menekan dadanya yang sakit, ia seolah melihat jelmaan monster berdiri di depan bangunan flatnya. Ia sungguh tidak menyukai Justin Perry yang terkenal paling hebat menghancurkan hati wanita. Bagi Serenade, Justin adalah sosok yang bertolak belakang dari pria idamannya.
Melihat Justin di tempat yang seharusnya Serenade pulang dan melepaskan penat, membuat ia akhirnya berpikir untuk mencari tempat tinggal baru. Ya, sebuah tempat yang tidak bisa dijangkau oleh pria itu.
###
alo kesayangan💕,
seminggu waktunya ak menulis, ak masih disibukkan berbagai hal yang ditinggalkan selama 2 bulan terakhir.
sengaja Mersia yang dilanjutkan, karena ceritanya telah berkumpul di kepala.
berikutnya Kai.
love,
D😘