MERSIA

MERSIA
Cinderella



"Iya, Ma." gadis bersurai emas menyahut sambil mengecek dandanannya.


Jaga sikap selama di pesta, Sayang.


Ucapan bernada lemah lembut lewat ponsel membuat Serenade menganggukkan kepala. "Mama memperlakukan Nada seperti anak remaja, Nada sudah 26 tahun."


Sang mama tertawa renyah mendengar protes Serenade. Maafkan mama, Sayang. Mama hanya mengkhawatirkan dirimu di tengah para bangsawan.


Serenade melebarkan senyuman. "Ma, dan para pangeran. Eli mengatakan jika banyak pangeran yang juga teman Prince Henri akan datang di pesta nanti malam."


Lady Elizabeth. Biasakan memanggil sahabatmu dengan sebutan itu, Sayang. Atau kau memanggilnya dengan Princess Elizabeth. Tegur Sky.


"Baik, Ma. Oh yah, Eli.. maksud Nada, Lady Elizabeth mengatakan jika Prince Alistaire Onyx juga akan hadir. Ma, apakah Nada boleh menyapanya dan memperkenalkan diri? Memang sudah lama pesta di Lion, kami masih kecil."


Jika Nada memiliki kesempatan berbincang dengan Prince Alistaire, perkenalkan dirimu, Sayang. Tapi tetap dengan cara yang sopan. Dia adalah pewaris tahta Kerajaan Mersia."


"Nada tahu, Ma. Nada tidak menginginkan lebih dari itu. Bagaimanapun Kak Orion menikah dengan Princess Hiver. Hanya Nada yang tidak pernah bisa hadir di setiap pesta di Lyon."


Selama ini Nada sibuk dengan sekolah. Ini ada daddy-mu ingin bicara, Sayang.


Serenade bersorak riang. "Mana? Daddy." panggilnya.


Suara dehaman rendah membuat Serenade tersenyum. "Daddy."


Halo, kesayangan papa. Sudah siap ke pesta?


"Belum, Daddy. 30 menit lagi kami akan turun ke lobby dan menuju ke Istana Luxembourg." jelas Serenade yang kini berdiri menuju cermin besar di pojokan.


Daddy mendengar mama membahas Prince Alistaire.


Sambil mematutkan diri di depan cermin, Serenade mengangguk mendengar perkataan daddy-nya. "Ya, Prince Alistaire Onyx akan hadir di pesta, Daddy. Nada mengatakan ke mama andai bisa bertemu ingin memperkenalkan diri, tapi tidak begitu berharap karena pasti banyak orang. Mama mengingatkan Nada untuk sopan, Mama tidak mempercayai Nada." lapornya.


Axel terkekeh sebentar kemudian kembali berdeham pendek. Ya mungkin mama was-was putri cantiknya kehilangan kontrol di tengah orang penting. Mungkin mama lupa kalau Nada sudah sangat dewasa, bahkan sudah kemana-mana, bukan?


Serenade merenggut. "Ya, Daddy. Nada sudah banyak tampil di depan petinggi namun memang ini pertama kali akan bermain di dalam istana. Andai bukan Eli.. eh Lady Elizabeth, sepertinya Nada tidak punya kesempatan sebesar ini." akunya jujur.


Nikmati kesempatan ini dengan baik-baik, Anakku. Bagi daddy, Nada adalah putri yang sempurna, cantik dan memiliki bakat yang luar biasa. Nada mewarisi Papa Micah.


"Daddy jangan membuat dandanan Nada luntur. Sekarang Nada berkaca-kaca." Serenade tidak berbohong, terlihat jelas manik birunya berkabut. Ia kemudian menarik napas panjang. "Bakat papa mengalir ke Nada, tapi daddy-lah yang mendidik Nada sampai seperti sekarang. Nada mencintai papa dan daddy."


Terima kasih, Sayang. Apakah boleh daddy meminta ke Nada jika setelah urusan selesai di Luxembourg, Nada mengunjungi kami?


"Tentu saja, Daddy. Nada rindu dengan rumah." sahut Serenade cepat.


Baiklah, Anakku. Bersiaplah ke pesta. Sampai bertemu di Hollywood.


"Sampai bertemu, love you Daddy." Serenade menyudahi panggilan suara dengan orang tuanya.


Gadis cantik yang rambutnya digelung sederhana kini duduk di tepian tempat tidur. Tangannya masih setia menggenggam ponsel, manik birunya terpaku pada pesan grup yang saling bersahutan memberikan informasi tentang persiapan pesta mereka.


Selang semenit kemudian muncul pemberitahuan pesan baru, pengirimnya dari "Daddy".


Love you too, Anakku. Mama masih membahas putriku yang akan bertemu dengan para pangeran. Mama mengatakan mungkin Serenade adalah titisan Cinderella.


Serenade tidak bisa menahan tawanya. Dengan cepat ia membalas pesan sang ayah.


Katakan kepada mama untuk menunggu Serenade membawakan pangeran ke Hollywood dan kita semua hidup bahagia selama-lamanya.


*


...*


Teman-teman Serenade tertawa cekikikan saling berbisik membahas para pria tampan yang hadir di pesta malam itu. Entah berapa kali ia harus menengok hanya untuk menatap pria yang mereka bicarakan. Kelompok mereka berjumlah 4 orang dan semuanya adalah wanita dan merupakan teman dekat dari Lady Elizabeth.


"Arah jam 6, pria itu lumayan." ujar Yara, gadis bertubuh paling tinggi di antara mereka. Yara berdarah Jerman memiliki tinggi badan 182 cm. Uniknya, dia tidak menyukai kegiatan olahraga apapun kecuali menonton acara Football Amerika yang menurutnya tempat para pria bertubuh lebih tinggi dan besar berada. Tentu saja Yara menginginkan pria lebih tinggi dari dirinya.


"Ya, tampan tapi aku lebih tertarik dengan pria sebelumnya." sahut Phoebe , gadis yang piawai memainkan violin sama dengan Yara.


Hannah tertawa sambil menatap Serenade yang hanya bisa tersenyum simpul. "Kamu belum mendapatkan pria-mu." ujarnya.


"Belum. Dia belum datang." jawab Serenade dan seketika itu teman-temannya terpekik.


"Siapa?" tanya Hannah dengan cepat.


Serenade berbalik dan mencari di tengah banyaknya tamu. Ia kemudian menggelengkan kepala. "Sepertinya belum datang."


Ketiga teman Serenade mengerling sambil menyeringai. "Come on, ternyata teman kita yang selalu menolak para pemujanya rupanya memiliki seseorang yang ditunggu." sindir Phoebe lalu mencubit pipi temannya.


"Lady Elizebeth." Hannah berseru ketika melihat sosok sang mempelai wanita yang mengenakan gaun berwarna dark coral.


"Hai, apakah kalian menikmati pestanya, Sayangku?" tanya Elizabeth riang. Wanita paling bahagia se-antero negeri Luxembourg.


Dengan kompak keempat gadis yang merupakan teman dekat Elizabeth di Juilliard School menganggukkan kepala.


"Kami sedang memata-matai para pria di sini." ungkap Hannah seraya tertawa lepas. Elizabeth pun ikut tertawa ringan walau ia harus menutup bibirnya.


" Tetap saja Prince Henri, suamiku yang tertampan." ucap Elizabeth.


"Tampan namun sudah jadi milikmu seorang, Lady Elizabeth. Biarkan kami mencari pria tampan lainnya." sahut Hannah yang baru 4 bulan lalu berpisah dengan kekasihnya. Sepertinya Hannah telah melupakan sakit hatinya akan cinta dan sudah mulai membuka hati untuk segala kemungkinan.


Elizabeth mencondongkan kepala ke tengah. "Jujur, jika aku tidak menikah dengan Prince Henri, pria yang sedang berbicara itu menjadi incaranku." ucapnya sambil menunjuk ke arah pria yang dibicarakannya.


Wanita-wanita cantik tersebut memandang ke arah yang sama. Yala mendengus pelan ketika mereka hanya melihat punggun yang lebar dibalut suit berwarna abu.


Elizabeth tersenyum kemudian menggigit bibir bawahnya. "Pria itu adalah Prince Philip Bernadotte, pewaris Kerajaan Swedia. Berusia 36 tahun, sangat matang dari segi usia dan masih lajang"


"Terlalu tua untukku." sanggah Yara. "Walau tubuhnya sangat tinggi, tapi tetap saja dia hampir seumuran dengan saudara mamaku yang paling bungsu.


Serenade masih menatap pria yang sedang asyik berbicara, tak lama kemudian pria tersebut berbalik sedikit dan tampak tergelak tawa.


"Ya, dia sangat tampan." Serenade membeo.


"Benar, dia paling tampan di antara semua pria yang telah kita lihat tadi. Lady Elizabeth apakah benar Prince Philip masih lajang? Atau mungkin telah memiliki seorang lady yang akan mendampinginya." tukas Hannah sangat bersemangat.


Elizabeth menggamit lengan Serenade dan Phoebe, kembali ia mencondongkan kepalanya. "Kalian terlalu sibuk dengan komposisi musik. Prince Philip pernah menikah 3 tahun yang lalu dengan Princess Maryln namun berpisah. Sejak itu Prince Philip masih sendiri. Bagaimana?"


"Bagaimana apanya?" tanya Phoebe. "Lady kita ini berbicara seolah-olah Prince Philip tertarik dengan wanita seperti kami."


"Tidak menutup kemungkinan, bukan? Kita adalah Quintet Flowers dari Juilliard. Sejak dulu terkenal dengan paras dan kepintaran kita dalam bermusik. Jadi tunjukkan pesonamu malam ini, Sayang." Elizabeth memprovokasi teman-temannya.


"Hei. Apa yang kau lihat?" Yara menyenggol Serenade yang sedang terpaku pada satu tempat.


"Dia." gumam Serenade. Para wanita cantik itu memandang sosok jangkung mengenakan suit rapi. Tubuhnya menjulang tinggi dengan surai berwarna hitam, bibirnya tersenyum simpul, dan langkah kaki yang luwes.


"Siapa dia?" tanya Yara yang ikut terpana.


Serenade tersenyum ketika melihat pria jangkung itu memeluk suami dari Lady Elizabeth. "Dia adik dari Princess Maryln Lou, pria yang aku tunggu. Prince Alistaire Onyx of Mersia."


...


Sepertinya keberuntungan sedang berada di pihak Serenade. Usai memainkan beberapa lagu permintaan teman akrabnya yang tak lain mempelai wanita, Serenade kini berada di dekat para pangeran yang beberapa saat lalu menjadi bahan pembicaraan dengan teman-temannya.


"Jadi kita pernah bertemu?" Onyx tidak bisa menyembunyikan perasaan terkejutnya ketika Serenade mengatakan jika mereka pernah berada di pesta ulang tahun kakaknya.


"Sepertinya ulang tahun ke 15 Kak Orion, River dan Autumm. Saya masik kecil, Yang Mulia." jawab Serenade. Ia tersenyum ketika menatap Onyx namun tak kuasa berlama-lama memandang Prince Philip. Pria itu memiliki manik berwarna kuning dan tajam. Sejenak saja ia bertatapan mata, jantungnya seakan ditusuk ribuan pedang.


"Aku tidak mengingatnya, apakah ada foto bersama?" Onyx mengembangkan senyuman yang mampu melelehkan sebongkah gunung es di kutub sana.


"Sepertinya ada, papi dan mami selalu membuat dokumentasi di setiap acara keluarga." jelas Serenade.


"Tapi di Lyon." imbuh Onyx.


Serenade mengangguk. "Iya. Saya jarang berkunjung ke Lyon, kami sekarang lebih sering berkumpul di Berlin." tambahnya.


Philip terlihat menarik napas panjang sembari menatap Serenade. "Aku tidak tahu jika seorang Orion Filante memiliki saudara secantik dirimu, Miss Rajendra." katanya membuat Serenade terhenyak dan kemudian membeku.


Philip tersenyum memamerkan giginya. "Kenapa terdiam?"


Onyx melirik kesal Philip, pria yang terkenal dengan pemuja abadi Marjorie Hiver kini sedang melancarkan rayuan kepada si gadis cantik bermata biru. "Berhentilah." bisiknya.


Philip tidak peduli. Ia tetap memandang Serenade yang terlihat gugup.


"Apakah Yang Mulia pernah bertemu dengan Autumm dan Kaia, kedua kakakku juga memiliki paras yang lebih menarik." Serenade menjawab dengan terbata-bata dan kepala menunduk sejenak.


"Kita belum berkenalan, Nona Cantik." Philip mengulurkan tangan dan ketika jemari Serenade yang gemetar naik ke atas. Secepat itu pula Philip menyambut kemudian mengecupnya.


"Prince Philip Bernadotte dari Swedia. Sungguh menyenangkan bisa bertemu dengan Miss Serenade Rajendra. Namamu sungguh indah seperti melodi yang kau mainkan tadi. Oh ya, aku sangat menyukai wanita yang mempunyai jiwa seni. Entah itu dia seorang pelukis atau pianis. Aku sangat tertarik." tandasnya dengan tegas.


"Aku.." tangan Serenade memanas, Philip belum juga mau melepaskannya.


"Yang Mulia, mungkin kita perlu mencari minuman lain yang menyegarkan. Sebuah kehormatan jika Miss Serenade meluangkan waktu untuk berbincang dengan kami malam ini." kata Onyx dengan sopan sekaligus saat itu pula Serenade melepaskan diri dari genggaman tangan pewaris tahta Kerajaan Swedia.


"Bagaimana?" Philip menaikkan alisnya menunggu persetujuan Serenade.


"Tentu saja, Yang Mulia." jawabnya sembari mengambil udara yang banyak untuk memenuhi paru-parunya yang sesak. Dua pria rupawan dan berkuasa sedang memandangnya lekat-lekat, tentu saja itu penyebab Serenade salah tingkah. Mungkin ini bukan keberuntungan melainkan cobaan yang sangat mendebarkan dada.


"Kesana." Onyx menunjukkan arah.


Philip menggoyangkan kepala seakan mengajak Serenade ke tempat itu.


"Bolehkah aku menggandeng tanganmu?" tanya Onyx seraya mengulurkan tangan. Philip menatap dengan tajam, kemudian ia menarik napas lega ketika Serenade menggelengkan kepala.


"Maaf Yang Mulia, banyak orang memerhatikan nantinya. Kita bisa jalan bersama-sama." tolak Serenade. Sungguh ia belum biasa menjadi pusat perhatian dari dua pangeran yang memiliki ketampanan berbeda.


Saat itu pula, Serenade merasakan dirinya lebih hebat dari seorang Cinderella.


###





alo kesayangan💕,


Aku akan libur menulis dalam rentang waktu tidak tentu.. Ini dikarenakan harus keluar kota dalam waktu dekat. maaf, nantinya tidak jelas waktu meng- UP novel.


Semoga kita semua dalam lindungan Tuhan. Tetap sehat, Ladies💪🏻.


love,


D😘