
“Kenapa kau terus menatapku, Marjorie?” tanya Orion sambil melirik kemudian kembali mengarahkan pandangannya kepada jalanan yang mulai ramai oleh kendaraan. Rencananya hari ini mereka akan berkunjung ke kediaman orang tua Orion, memenuhi janji yang telah mereka ucapkan di pesta pernikahan Lou dan Philip.
“Aku..” Hiver tergagap sambil meremas tangannya. Ia kembali menoleh memandangi hidung runcing milik Orion. Pria berwajah cantik itu terlihat santai, hanya mengenakan t-shirt berwarna biru dipadukan dengan celana pendek.
Kaki-kaki panjang berkulit putih pucat dipamerkan, bahkan Hiver kalah mulus dengan suaminya sendiri.
“Ada apa?” suara selembut sutra itu mengurangi kegugupan Hiver untuk menanyakan hal mungkin sensitif bagi Orion.
Sang putri mengenakan blus satin berwarna coklat muda dipadu celana panjang putih terlihat mendesah panjang.
“Aku melihatmu keluar dari kamar jam tiga dini hari tadi, Orion. Aku membuntutimu, dan melihatmu berlatih. Jujur, kau sangat hebat seperti pendekar dari China. Tubuhmu melayang sambil menendang, dan pria itu yang kau temani berlatih juga sama hebatnya.” ujar Hiver berbisik ala dirinya masih ada sedikit gugup ketika suaranya berhasil keluar.
Gigi taring itu terlihat serangkaian dengan tawa kecil Orion “Aku tahu, Marjorie. Aku melihatmu bersembunyi di balik pohon.”
“Hah!” pekik tertahan Hiver seraya menutup bibirnya.
Orion menoleh dan mengangguk “Ya, Marjorie. Aku melihatmu tapi membiarkanmu. Pria yang kau lihat itu adalah seseorang yang rutin datang sebulan sekali di mansion, dia adalah teman paman. Aku pikir kau tertidur lelap, seperti biasanya. Ternyata kau mengikutiku.” jelasnya sedikit serius.
Hiver sepenuhnya sudah tidak mempedulikan jalanan kota Lyon, tubuhnya membalik ke arah Orion. Pria yang penuh misteri, teman tidurnya selama tiga bulan belakangan namun semakin lama mereka bersama, semakin banyak hal unik yang terungkap dengan sendirinya. Contohnya kejadian dini hari tadi, Orion bak pendekar di film laga China, melayang dengan tendangan mematikan, suara pukulannya keras melawan arah mata angin.
“Siapa dirimu sebenarnya, Orion? Aku sudah curiga ketika di Dundas, kau memukul perut Philip hingga dia terlempar jauh ke belakang. Untungnya Philip rajin berolahraga, walau terluka dalam tapi masih bisa menahan sakitnya. Kau hampir melenyapkan nyawa pewaris tahta Kerajaan Swedia.” Ujar Hiver dengan suara perlahan memelan di penghujung kalimat.
“Orion Filante Bluette, putra pertama dari Adrien Pranaja dan Isla Bohemia. Aku tidak sendiri ketika lahir, ada River Filante dan Autumm Terra Bluette. Kami memiliki adik bungsu yang cantik bernama Kaia Jamaica Bluette.” Sahut pria bersurai emas pucat itu kemudian terbahak tawa yang manis.
Hiver menjawil pipi Orion sambil merenggut.
“Terima kasih atas informasinya, Tuan Filante.” Hiver gusar, bukan jawaban itu yang diinginkannya.
Tangan Orion meraih jemari Hiver dan menggenggamnya, ia menoleh memamerkan bibirnya yang melengkung indah ke atas. Putri Mersia mengerjap, jantungnya berdetak kencang.
“Apa yang kau lihat itu adalah warisan turun temurun di keluarga kami, Marjorie. Di antara kami bersaudara hanya aku yang menekuninya. River hanya berlatih untuk melindungi diri, kau pasti tidak tahu karena dia merahasiakan hal itu dari semua orang kecuali kami.”
Hiver terdiam. Kami dalam defenisi Orion adalah keluarga besarnya, orang tua, saudara dan pamannya. Bukan hanya sekali Orion menyebut pria jangkung bersurai putih berwajah datar dan juga menakutkan. Seperti itulah gambaran Hiver pada sang paman yang dibangga-banggakan suaminya.
“Turun temurun?” igau Hiver. Isi kepalanya merotasi kepada semua anggota keluarga Orion. Papa mertuanya yang sangat tampan, mewarisi dengan rata mata birunya kepada Orion, River dan Autumm.
“Papa?” tanya Hiver, manik hijaunya melebar. Ia tidak bisa puas dengan penjelasan setengah-setengah Orion.
Orion menggeleng lemah ketika berhenti pada lampu merah, Hiver akhirnya sadar jika sebentar lagi mereka akan sampai ke kediaman mewah orang tua suaminya.
“Kenapa kau sangat ingin tahu tentang itu, Marjorie. Ini bukanlah hal yang besar untuk dijadikan bahan pembicaraan.” Ucapnya menepuk tangan Hiver, ia menarik napas seraya menjalankan kendaraan.
“Pelit.” Gerutu hiver di sambut tawa lebih semarak dari Orion. Sekilas dia menoleh menatap wajah Hiver.
“Mendekatlah.” Telunjuknya mengirimkan kode agar Hiver mengikuti gerakan yang membuat sang putri mencondongkan tubuhnya ke Orion.
Cup!
Bibir panas Orion mendarat sekilas di bibir Hiver. Terdengar suara tawa Orion yang halus mengembalikan roh Hiver ke tubuhnya.
“Itu hukuman buat orang yang mengatakan suaminya pelit.”
Orion tampak sangat santai, terus menjalankan mobil sementara Hiver masih termangu dengan bibirnya ikut memanas oleh kecupan singkat yang akhirnya kembali ia rasakan. Selain pelukan dan sentuhan lainnya, ciuman Orion sama seperti jadwal latihan bela dirinya, yaitu sebulan sekali. Sesuatu yang jarang hadir, namun ketika datang sukses menjatuhkan jantung Hiver.
…
“Orion.” Autumm memegang tangan saudara kembarnya usai mereka bersantap siang bersama, Isla terlebih dahulu menarik menantu kesayangannya entah kemana.
Manik biru gelap Orion melebar “Ada apa?” sejenak ia melihat ke arah koridor panjang tempat terakhir melihat punggung Hiver sebelum menghilang bersama dengan kedua orang tuanya.
Autumm mengembuskan napas seraya menarik paksa tangan Orion.
“Aku perlu bicara, maksudku aku butuh saranmu.” Jawabnya sambil membimbing Orion keluar dari bangunan rumah. dua bersaudara itu berjalan menujiu serambi mansion di mana terdapat satu set kursi kayu import dari Asia dengan bantalannya berwarna banana, dua pot palem mini mengapit memberikan kesan hijau dan nyaman. Dari kursi mereka bisa melihat pohon buah yang sengaja di tanam oleh tukang kebun, tak terhitung berapa kali keluarga Bluette menikmati hasilnya.
“Tak biasanya.” Orion bergumam seraya mengerling kepada Autumm yang sedang melipat bibirnya.
Autumm membulatkan matanya sambil memperbaiki posisi tubuh menghadap kepada Orion.
“Memang tak biasa, Orion. Tapi aku memerhatikanmu kau sangat berubah sejak menikah, Hiver menjadikanmu orang yang berbeda. Jadi mungkin kau bisa memberikan sedikit masukan tentang masalah yang sedang kualami.” Terangnya lalu mencebik.
Orion hanya tersenyum tipis “Butikmu tidak ada masalah, bukan?” tanyanya.
Ya, Autumm memilih jalan lain sejak remaja. Kecintaan terhadap barang mewah membuatnya terjun di dunia fashion dan retail, Autumm menolak untuk bergabung dengan Bluette Corporation. Kemampuan Autumm di dunia tersebut tidak sehebat saudaranya pada bidang teknologi, tapi gadis berusia 30 tahun itu memiliki uang yang tak berseri membuat Autumm leluasa mempekerjakan orang-orang hebat dari balik brand “Terra B”.
“Tidak ada.” Jawabnya sambil menggeleng. Sejenak memandangi raut berseri saudara kembarnya. Benar apa yang dikatakannya tadi, jika Orion menjadi pribadi yang lebih terbuka sejak menikah dengan Hiver. sebelumnya, Orion hanya datang berkunjung sesaat itupun berbincang tentang perusahaan dengan papa mereka, dan bermanja dengan Isla, sang mama.
“Terus? Kau tidak mungkin membicarakan soal asmaramu denganku.” Ujar Orion menyeringai.
“Aku akan menyampaikan terima kasih kepada Hiver, dia mengubahmu, Orion. Dan benar tebakanmu jika aku ingin bercerita tentang seorang pria.” Kata Autumm berseri-seri.
“Apa?” Orion berbisik sambil melebarkan manik biru gelapnya.
“Yeah, kau tahu jika aku tidak pernah tertarik menjalin sebuah hubungan serius sejak pertunangan sialan itu berakhir. Tapi kini, aku bertemu dengan seorang pria Asia di butik Paris. Dia memiliki senyuman yang sangat indah, matanya sipit seperti kakek. Dan sekarang dia mirip denganmu, kesan pertama sangat misterius namun rupanya seorang yang memiliki pribadi yang hangat.” Ungkap Autumm dengan antusias.
“Akhirnya kau berhasil move on dari Gerard Leaud.” Singkat tanpa emosi dari Orion.
Semua orang tahu jika Autumm pernah bertunangan dengan kekasihnya sejak kuliah, cukup lama mereka bersama. Enam tahun, Autumm menjadi kekasih dari Gerard Leaud, pria yang semula hanyalah mahasiswa ekonomi yang sederhana, kemudian terkena cipratan nama besar keluarga Bluette. Gerard berhasil membangun usahanya di bidang retail. Keduanya bahkan telah menyiapkan rumah masa depan ketika kelak mereka menikah. Sayang, perselingkuhan Gerard dengan wanita yang berasal dari kota kelahirannya membuat Autumm tidak berpikir panjang untuk mengakhiri hubungan mereka.
Autumm mengalami patah hati yang sangat parah ketika menginjak usia yang sama dengan Hiver. Sejak itu, Autumm menjadi wanita yang semakin tergila dengan pengembangan jejaring butiknya.
“Sepertinya iya, Orion. Tapi sepertinya cuma aku yang memiliki perasaan memuja.” Ucapnya jujur.
Orion tertawa “Autumm Terra, kita sudah berusia 30 tahun. Jangan habiskan waktumu dengan cinta yang membuatmu bersikap seperti remaja. Jika kau menyukainya, katakan. Atau jauhi pria yang tidak menyukaimu. Itu hanya membuangmu waktu saja.” katanya memberikan saran.
Autumm mendesah pendek, ekspresinya berubah yang semula antusias, riang dan bahagia membahas si pria Asia kini menyendu.
“Tapi aku menyukainya, Orion. Aku sampai memeriksa akun sosial medianya, dan dia masih single. Maksudku, tahun lalu ia masih terlihat bersama dengan seorang wanita, yang aku yakini adalah kekasihnya namun sekarang Hiro Chevalier hanya menggungah fotonya sendiri dan beberapa teman dekat. Hiro pelanggan butik kita, Orion.”
Autumm tiba-tiba terlihat membaik, semangatnya kembali hidup usai menyebut nama pria idamannya.
“Hiro Chevalier?” Orion mengeja nama pria yang sangat asing di telinga.
“Kau terdengar begitu menyukainya, Autumm.” Orion mengangkat alisnya penuh makna.
“Tentu saja aku menyukai Hiro, makanya berikan aku saran yang bagus.” Kicau Autumm terdengar memaksa bak remaja yang sedang tergila-gila pada seorang idola di layar televisi.
“Berikan aku ponselmu.” Ucap Orion sambil meminta ponsel Autumm yang serta merta diberikannya tanpa banyak tanya.
“Kau pasti memiliki nomernya, bukan?” Orion mengerling sembari membuka daftar kontak di ponsel saudara kembarnya.
“Hiro.” Gumam Autumm memerhatikan jemari ramping Orion mengetik nama pria pemilik semyum indah. Seketika hatinya menjadi kebun bunga di musim semi hanya dengan memikirkan pria separuh Asia dan Perancis tersebut.
“Dari Hiver aku belajar bahwa cinta butuh pendekatan yang tanpa rencana matang. Jadi, lihat apa yang aku lakukan untukmu, Autumm.” Orion berdiri dan berjalan hingga mencapai tepian serambi kediaman orang tuanya.
Pria bersurai emas pucat menekan nomer Hiro tanpa berpikir banyak.
Halo..
Suara riang dan akrab di telinga menyapa Orion dalam dering pertama sambungan telepon. Sejenak Orion menoleh kepada saudaranya yang berdiri tepat di samping dengan wajah harap-harap cemas.
“Hai Hiro, ini Orion Filante. Saudara dari Autumm.” Orion balas menyapa dengan sopan namun akrab.
Tuan Filante, ini sebuah kehormatan berbincang denganmu. Wow, sungguh hari yang menyenangkan. Apa kabarmu, Tuan Filante?
Orion tertawa ringan “Baik, pastinya sejak aku menikah. Oh yah, maafkan aku jika terlalu campur tangan. Namun, saudariku meminta saran tentang seorang pria yang disukainya. Jujur, usia Autumm sudah menginjak 30 tahun. Saudari kembarku tidak muda lagi, Tuan Chevalier. Dan sekarang dia sedang move on kepadamu, tapi menurutnya dia hanya menyukai sebelah pihak. Aku menghubungimu hanya ingin memastikan, apakah Autumm tidak bertepuk sebelah tangan? Sedikit informasi untukmu jika Autumm tidak pernah berpacaran dalam kurun waktu tiga tahun terakhir.”
Pipi Autumm merona sambil menyikut Orion.
Aku.. Tuan Filante, bolehkah aku berkunjung ke Lyon? Hari ini juga.
Orion menahan tawa ketika mendengar suara Hiro yang terdengar lebih seperti teriakan bahagia.
“Tentu saja, Tuan Chevalier. Kami sekeluarga akan menanti kedatanganmu di sini.”
Ya.. Ya.. aku akan berganti pakaian dan segera ke Lyon dengan cara yang paling cepat. Maafkan jika aku memutuskan terlebih dahulu panggilan teleponnya. Dan katakan kepada Nona Terra jika dia tidak bertepuk sebelah tangan, aku juga sangat menyukainya. Cuma diriku tidak percaya diri untuk dekat dengan keluarga Bluette yang sangat hebat.
“Dia mencintaimu.” Orion menutup speaker ponsel sambil berbisik kepada Autumm.
…
Hiver berjalan lambat menuju sisi kolam, percakapan dengan kedua orang tua suaminya selama sejam akhirnya usai juga. Ia pun menyempatkan diri untuk menikmati hari yang cukup cerah untuk berjalan-jalan. Pelayan mansion mengatakan jika suaminya sedang berbincang dengan Autumm di serambi barat mansion.
Hiver memutuskan untuk memberikan kebebasan Orion bercengkerama dengan Autumm, ia tidak ingin hidup suaminya hanya berkutat dengan hubungan mereka saja. Sangat diperlukan sebuah interaksi antar manusia selain hubungan mereka berdua, terlebih Orion bukan tipe yang banyak bertemu dengan orang ketika kembali ke danau.
Bayang-bayang kenangan usia kecilnya perlahan muncul di ingatan Hiver,berpuluh pesta ia hadiri di halaman mansion mewah tersebut. Tak terhitung jumlahnya ia menghabiskan waktu untuk sekadar berenang di kolam, bermain dengan triplet khususnya River.
“Hiv.” Sapa River menyentakkan tubuh Hiver ketika mendengarkan suara bariton rendahdari belakang.
Manik hijau sewarna danau di mansion melebar melihat sosok pria mengenakan coat merah berjalan menghampirinya.
“Aku pikir kau di…”
River menggeleng “Washington? Aku pulang lebih awal, karena sejak awal telah mencium rencana kedatanganmu, Hiv. Orion sendiri yang menelepon untuk memastikan jadwalku ke Amerika. Sudah bisa ditebak jika dia ingin menjauhkanku denganmu”
Bola mata berwarna hijau itu memutar dengan malas “Demi Tuhan, Riv. Itu atas permintaanku, bukan Orion ingin menjauhkan kita, tapi aku. Aku-lah yang tidak ingin bertemu denganmu. Aku tidak ingin membahas sesuatu\ yang tidak mungkin terjadi.” sergah Hiver membela Orion dari tuduhan River.
Rahang River mengeras dengan wajahnya terlihat tegang.
“Apakah sudah hamil, Hiv?” tanya River tanpa mimik.
“Kenapa jika itu terjadi?” Hiver menantang sahabatnya sendiri. Hiver juga sendiri bingung kemana perginya perasaan cintanya kepada River. Berpuluh tahun lamanya ia memendam cinta, hilang dalam kurun waktu tiga bulan.
River menggigiti bibir bawahnya sambil menggelengkan kepala berulang kali dengan lemah tak bertenaga.
“Hiv, apakah kau bahagia dengan Orion? Apakah kau mencintainya?”
Mereka berdiri berhadap-hadapan, saling menatap dengan lekat. Manik biru River begitu jelas di bawah sinar matahari yang sedang indah-indahnya.
Sejenak Hiver memejam sambil mengambil napas panjang, sedetik kemudian ia kembali memandang ke depan.
“Ya, aku mencintainya. Aku mencintai suamiku.”
Tak jauh dari tempat Hiver dan River berdiri, Orion mendengarkan kalimat sederhana namun dinantikannya selama berjuta tahun. Orion menunduk dengan senyuman mengembang di bibir. Sangat indah, seperti hatinya yang sedang
berbahagia.
Sekian lama dalam penantian, akhirnya Orion mendapatkan cintanya.
###
alo kesayangan💕,
aku nanya ke adminku "defenisi cinta itu seperti apa menurutmu?"
Sumi jawab "seperti Orion ke Marjorie"
kalau kalian seperti apa defenisi cinta itu?
kalau aku, cinta lebih seperti Radit ke Rinjani.
love,
D😘