MERSIA

MERSIA
Pria Pertama Yang Aku Cintai



Dear Tuan Alistaire,


Terima kasih atas segalanya, Mama, Grandpa Thierry dan Grandma Jane juga mengirimkan ucapan yang sama. Berkatmu penginapan Grandpa sudah mulai direnovasi, walau mereka sangat mengganggu dengan suara-suara bising sepanjang hari. Mereka berjanji akan menyelesaikan proses renovasi dengan cepat, tentu saja mereka mau karena bayarannya lebih bagus. Itu kata Mama.


Oh ya sekarang saya sudah punya SIM dan Mama sudah membelikan mobil seharga 10.000 Euro. Sangat bagus berwarna biru, kata Grandpa seperti warna jersey team sepakbola Perancis. Saya sangat bahagia, Tuan Alistaire. Semua hal yang aku inginkan akhirnya terpenuhi dalam waktu yang singkat.


Saya berjanji tidak akan mencari tahu tentang dirimu, Tuan Alistaire. Bahkan jika dirimu adalah seorang mafia sekalipun itu tidak akan mempengaruhi diriku. Tapi mana mungkin tatapan selembut Anda adalah seorang mafia. Senyum Tuan Alistaire itu cantik, hehe.. Maksud saya sangat bagus dipandang.


Minggu depan saya mulai berkuliah dan mengambil jurusan hukum. Betul juga kata Tuan Alistaire saya sangat suka berbicara. Berkaca dari pengalaman saya dan Mama yang sangat tertekan dengan kehidupan kami semala di Amerika, ke depannya semoga saya bisa membantu orang-orang yang mengalami masalah yang serupa. Bagaimana mereka mendapatkan hak bukan hanya sekadar diusir secara tidak terhormat dan tidak mendapatkan apa-apa.


Saya membalas lebih banyak dibandingkan surat email Tuan Alistaire sebelumnya. Tahu tidak, saya merindukan berbincang denganmu Tuan Alistaire. Saya juga merindukan dirimu, ini hal aneh bagiku. Bahkan Papa pun tidak pernah kurindukan sekalipun.


Tuan Alistaire, aku menyertakan kolase foto diriku di tepi danau. Tidak cantik hanya foto biasa agar Anda tidak melupakan diriku saja.


Hawaii Capucine.



~~


Hawaii menarik napas panjang, usai mengirimkan email kepada Tuan Alistaire. Ia pun beranjak dari tempat tidur, berjalan gontai keluar dari kamar dan menuruni tangga kayu yang berderit. Semoga saja setelah penginapan direnovasi, mamanya masih memiliki uang untuk memperbaiki tangga rumah utama sebelum salah satu di antara mereka terluka, mungkin lantai tangga terbelah atau terjadi hal merugikan lainnya.


"Hmmm, wanginya enak," sorak Hawaii ketika mencium aroma masakan Jeanne. "Beef Bourguignon, apakah kita akan berpesta?"


"Ya, sedikit. Hanya makan malam bersama. Kita berempat bersama pekerja rumah. Mr. Amaric kepala tukang dan anaknya, hanya mereka berdua. Tahu tidak jika Le Amaric adalah perusahaan kontruksi keluarga Amaric selama tiga generasi. Mama pikir suasana akan lebih ramai jika menambah dua orang tamu, sekaligus membahas perkembangan renovasi penginapan," jawab Jeanne sembari mengisi mangkok besar dengan kentang tumbuk.


"Mr. Amaric itu bukannya seorang duda," bisik Hawaii melirik Jeanne.


Wanita paruh baya itu tersenyum dan mengangguk. "Mama tidak tertarik, Hawaii. Satu pernikahan sudah membuat mama lelah, ini hanya sekadar makan malam biasa. Ya, sekaligus menambah teman di sini. Ke depannya La Caravelle bukan hanya sebuah penginapan melainkan restoran, walau tidak besar. Empat meja sudah cukup," kata Jeanne berangan-angan.


"Menarik, Hawaii akan membantu Mamo," Hawaii memeluk Jeanne sebentar dan menyipitkan manik hazelnya.


"Tidak usah, kamu harus kuliah. Jangan sia-siakan beasiswa dari temanmu," Jeanne mengingatkan Hawaii.


"Jika pulang kuliah," Hawaii tidak mau kalah. Ia ingin terlibat dengan usaha Jeanne.


"Tolong siapkan gelas,Hawaii Capucine," perintah Jeanne. Ia mengalihkan pembicaraan. "Antoine sangat tampan," tambahnya ketika melihat Hawaii mengeluarkan gelas-gelas wine dari lemari.


"Antoine Amaric?" tanya Hawaii meletakkan gelas di atas meja.


"Sepertinya dia menyukaimu, Mama sering mendapatinya sedang menatapmu, Sayang,"


Hawaii memutar matanya dan menghela napas. "Biarkan saja, bukan pertama kali anak laki-laki memandangku seperti itu, Mamo,"


"Antoine bukan anak laki-laki, dia sudah berusia 27 tahun. Cukup dewasa dan cukup umur untuk menikah,"


"Dia terlihat lebih muda dari usianya. Tapi Mamo, tolong jangan memandangku dengan sorot mata prihatin seperti ini. Traumaku sudah hilang, aku bisa menyukai pria. Hanya Papa yang jahat di hidup kita,"


Jeanne tertegun, ia melipat bibir dan membuang napas berat. "Jadi kau menyukai temanmu itu?" tanyanya riang. Jeanne ingin melupakan mantan suaminya, namun terkadang ingatan itu terlalu kuat terlebih ketika Hawaii mengungkit papanya.


Hawaii meremas pinggiran meja makan ia menoleh dengan wajah bersemu.


"Aha! Anak gadis Mama sudah mengenal cinta," seru Jeanne.


"Tuan Alistaire tidak seperti pria yang aku kenal, Mamo. Dia sangat sopan, dewasa, tidak berbicara hal yang tidak penting, tidak mengumbar kekayaan padahal mansion kakaknya dan sangat besar. Di Amerika Mamo tahu seperti apa laki-laki di sana. Berbual, berlagak hebat, memamerkan ototnya padahal otaknya sangat kecil. Aku tidak suka pria yang hanya melihat wanita dari bentuk tubuh, tidak memperhatikan ketika kami berbicara. Tuan Alistaire mendengarkan setiap aku berbicara, merekamnya dalam otak, dan menganalisanya. Dia tahu kondisi keluarga kita,"


"Dan dia menolong kita," sambung Jeanne. "Jika temanmu sangat kaya, kemungkinan besar bukan keluarga seperti kita..."


Hawaii menepuk lengan Jeanne. "Mamo, aku tahu posisiku. Walau masih muda, tapi banyak hal yang telah aku pelajari. Andai saja perasaan ini tidak berbalas setidaknya cinta pertamaku kepada orang yang sangat baik, Mamo,"


Jeanne tersenyum. "Setelah Captain Amerika. Bukankah dia idolamu, Sayang?"


Hawaii tertawa, matanya menyipit surai ikalnya bergerak ketika ia menggangguk. "Ya, setelah Captain Amerika,"


...


Philip tersentak kaget, bukan sesuatu kebiasaan baginya bangun seperti itu. Mimpi buruk, ya ia memimpikan jika Serenade kembali ke Amerika dan meninggalkannya.


"Demi Tuhan," desahnya beranjak bangun dari tempat tidur. Ia melangkah dengan tergesa-gesa setelah memakai jubah tidurnya yang berwarna maroon.


"Yang Mulia," pengawal yang berjaga di depan kamarnya terlihat kaget. Philip sangat jarang keluar dari kamar di bawah jam 6 pagi, ini bahkan masih pukul 5 pagi buta di Swedia.


Philip hanya mengangguk sambil mengikat jubahnya. Ia berjalan ke sisi barat, Royal Apartments dengan kamar tidur tunangannya berjarak 100 meter. Itu di karenakan kamar tidur Philip sangat luas, ia bahkan memiliki gym pribadi di dalamnya.


"Saya ingin bertemu dengan tunanganku," kata Philip kepada penjaga kamar Serenade.


"Baik, Yang Mulia," penjaga membungkuk setelah membuka pintu lalu menutupnya kembali.


Jantung Philip berdebar kencang namun ia menarik napas lega ketika mendapati kekasihnya masih tertidur lelap dengan posisi menyamping. Dengan sangat pelan Philip naik ke tempat tidur.


Ketika Philip menyusupkan tangan di bawah leher wanita bersurai emas, saat itu pula Serenade terbangun kaget.


"Ehhh, siapa!" pekik Serenade membuka matanya, samar-samar ia melihat tubuh besar di sampingnya.


"My Lady, ini aku," Philip menarik tubuh Serenade kembali ke kasur dan mendekapnya.


"Aku bermimpi buruk, Sayang. Dan aku tidak peduli dengan perkataan orang lain," Philip mengecup surai emas Serenade. Ia bahagia juga merasakan ketenangan. Sangat nyaman. Ia telah lupa akan mimpi buruknya.


"Aku bau, Yang Mulia," Serenade kikuk setelah sadar dengan kondisinya.


"Wangi, kamu sangat wangi. Kita harus terbiasa dengan wangi khas masing-masing, My Lady. Seperti inilah aku setelah tidur. Bagaimana tidurmu?" Philip bertanya dengan mata memejam. Ia tidak mengantuk namun ada sesuatu lain yang membakar dirinya. Ia sedang berusaha keras untuk meredamnya.


"Lelap, sampai Yang Mulia datang," jawab Serenade.


"Philip, Sayang, Cintaku. Saat berdua seperti ini panggillah dengan sebutan yang santai," protes Philip, Serenade tertawa pelan.


"Saya lebih senang memanggil dengan sebutan Yang Mulia. Formal karena aku sangat mengagumimu,"


Philip mencium lagi puncak kepala Serenade. Kekasihnya mengucapkan kata "aku" dibandingkan "saya", sepertinya Serenade mulai lebih santai. Tentu saja Philip tidak ingin menjalani pernikahan terakhir yang kaku. Kehidupan di Royal House sudah terlalu mengikat, banyak aturan yang harus dipatuhinya. Entah kenapa King Sigvard memberinya kelonggaran atas keberadaan Serenade di Royal House.


"Aku mencintaimu, My Lady. Sebaiknya kita bangun dan sarapan lebih dini. Aku tidak ingin berlama-lama di tempat tidur dan menahan gairah," kata Philip ringan namun Serenade bak tersengat aliran listrik.


"Yang Mulia, maafkan aku," seru Serenade setelah berhasil mendorong tubuh Philip. Ia malu mendengarkan perkataan Philip, ia juga takut jika dirinya-lah dijuluki wanita penggoda sang pewaris tahta.


Pria bermanik lion itu bangun sambil terkekeh. "Kekasihku sangat lucu," Philip mengacak surai lalu melingkarkan tangan di pinggang ramping Serenade.


"Yang Mulia, jahat. Saya tidak mau lagi di tempat tidur denganmu," sungut Serenade.


Philip mengecup pipi memerah milik Serenade. "Aku sangat tahu bahasa tubuh wanita, My Lady. Jadi tidak usah berpura-pura. Kita berdua memiliki gairah yang sama, bersabarlah hingga kita menikah. Oh ya, bukankah hari ini jadwal untuk mengukur gaun pesta?"


Bibir Serenade mengerucut lalu terlipat. Ia memilih mengangguk dibandingkan membalas dan membahas tentang gairahnya . "Yang Mulia tidak menemaniku?"


"Kau ingin ditemani, My Lady?" Philip memainkan ujung surai Serenade.


"Sebenarnya saya mau, tapi sepertinya Yang Mulia punya jadwal yang padat," tolak Serenade, matanya bertemu dengan manik kuning milik Philip. Teduh dan penuh cinta. Sangat berbeda ketika Philip memandang orang lain, tatapan yang inivhanya miliknya seorang.


"Semoga pekerjaan cepat selesai, My Lady. Aku akan menyusul," perkataan Philip dibalas gelengan kepala oleh Serenade.


"Ada asisten yang akan menemaniku, Yang Mulia. Saya tidak mau bertingkah kekanakan di usia 26 tahun, nanti akan ada cerita jika tunangan Prince Philip terlalu manja, tidak layak menjadi pendamping, Yang Mulia,"


Philip menangkup wajah kecil Serenade. Mereka bertatapan dengan lekat. "Maafkan aku menyeretmu masuk ke kehidupan seperti ini, My Lady. Hingga banyak aturan yang akan membatasi gerak-gerikmu, sungguh berbeda dengan kehidupanmu di New York. Tapi aku butuh kamu untuk menjalani hidup yang menyedihkan seperti ini. Seorang gadis cantik bernama Serenade. Aku hanya butuh ini,"


Serenade menggigit kecil bibirnya, ia tidak bisa menghadapi perkataan manis dan lembut dari Philip. Ia hanya bisa memberikan kecupan ringan di pipi pria tinggi besar itu. "Saya akan membersihkan diri terlebih dahulu sebelum sarapan," Serenade berlari usai melakukan hal tersebut sementara Philip memegang pipinya yang panas. Ia sama sekali tidak menyangka Serenade menciumnya lebih dahulu.


...


Serenade hanya bisa berdiri mematung dan membiarkan dua wanita berusia 40 tahun dan 30an itu mengambil ukuran tubuhnya. Kedua wanita tersebut adalah orang terpercaya Kerajaan Swedia yang bertugas mengukur size pakaian semua anggota keluarga kerajaan. Asisten Serenade yang berjumlah tiga orang hanya berdiridiam sembari memerhatikan dengan seksama tuannya.


"Tubuh Lady Serenade lebih ramping," ucap wanita berusia 40 tahun tersebut. Wilma Haurg, nama wanita itu, mereka sempat saling mengenalkan diri di awal pertemuan di ruangan tersebut, The Guest Apartment.


"Mungkin gen Mama turun ke saya, Ms. Haurg," sahut Serenade. Ia memerhatikan pantulan tubuhnya pada cermin antik setinggi 2,5meter. Ia memang terlihat lebih kurus dibandingkan sebelumnya. Sejak memendam perasaan terhadap Philip, ia telah berusaha makan yang banyak namun entah kemana semua kalori itu terbakar. Mungkin otak berpikir keras membuat tubuhnya mengering. Serenade tidak bisa membayangkan jika tadi pagi Philip lepas kontrol, mungkin saja pria itu akan mengurungkan niat ketika melihat tubuhnya yang tidak menarik ini.


"Jangan terlalu banyak pikiran, My Lady. Walau Anda nantinya akan diminta menjaga bentuk tubuh demi nama baik kerajaan tapi tidak seperti ini juga," tambah Ella Magarizmo. Wanita berusia pertengahan 30 tahun yang mengenakan blazer dan rok sepasang berwarna navy.


"Semoga setelah pesta pertunangan My Lady bisa memperbaiki pola makan, Anda juga bisa berolahraga dengan Yang Mulia. Pernikahan kali ini sungguh berbeda dengan yang pertama," celetuk Wilma tanpa sadar jika Serenade menahan napas mendengarkan perkataannya.


"Berbeda? Apa yang berbeda, Mrs. Haurg?" tanya Serenade dengan sopan.


Wilma tidak menyangka jika ucapannya di respon oleh Serenade. Wajah Wilma memerah tapi penjelasannya sedang ditunggu oleh wanita cantik bersurai emas yang rautnya sedang menyendu. "Maafkan saya, My Lady. Bukan ingin mengungkit masa lalu. Tapi dulu ketika Yang Mulia hendak menikah dengan Princess Lou, pada saat itu kami juga yang mengukur gaun pernikahan untuk Princess Lou. Tubuh My Lady hampir sama dengan Princess Lou, hanya saja saat itu wajah Princess Lou terlihat kurang tidur dan tertekan. Semua orang tahu jika Yang Mulia dan Princess Lou tidak saling menyukai. Mungkin itu penyebabnya tubuh Princess Lou menurun drastis, tapi setelah beberapa bulan kemudian terlihat sangat sehat dan bercahaya,"


Serenade termenung dan sedikit menunduk. Sebenarnya ia tidak cemburu terhadap masa lalu Philip hanya saja ia tidak suka suka jika dibanding-bandingkan atau disamakan dengan wanita yang pernah hidup bersama dengan prianya. Serenade tahu jika Philip mencintainya dengan segenap jiwa, namun ia merasa di hati kecilnya jika kehadirannya belum bisa diterima penuh oleh pihak kerajaan. Orang-orang seringkali menatapnya dengan sembunyi-sembunyi, sekarang selangkah lagi ia akan memiliki tugas selaku calon mempelai sang pewaris tahta namun orang seperti Wilma masih mengingat jelas tentang Lou. Apakah dulu semua orang berharap Philip tetap bersama dengan Princess Lou? Sementara Philip tidak peduli dengan siapalun, pria tangguh itu hanya berpegang teguh pada cintanya terhadap Princess Hiver.


Kepala Serenade memanas dan kram. Jantungnya berdebar lebih cepat, dan pantulan dirinya semakin mengabur di cermin. Kakinya melemas dan pandangannya menggelap. Hal terakhir yang Serenade dengar pekikan nyaring para asistennya.


"My Lady!"


###






alo kesayangan💕,


harusnya aku bikin chapter panas? misal bakso dikasih cabe sebotol?


wkwkwkwk.


jangan deh, aku tidak tahu nanti ada anak di bawah umur baca novel ini.


love,


D😘