MERSIA

MERSIA
a Fact of Life




Pesta pernikahan Autumm dan Hiro telah berakhir, namun kesempatan berkunjung di negara para matador tidak disia-siakan oleh Hiver dan Orion. Pasangan tersebut melanjutkan perjalanan ke kota Barcelona. Kota terbesar yang berjarak 50 menit dari Mallorca, tempat saudara kembar Orion menikah.  umumnya keluarga besar Orion tetap tinggal di pulau itu untuk berliburan, beberapa ada yang ke mansion sang kakek yang berada di Minorca.


Siang itu Orion mengajak istrinya mengunjungi Picasso Museum yang terletak di Montcada tak jauh dari kota lama Barcelona. Wajah Hiver berseri-seri sambil menarik tangan Orion seperti anak kecil menaiki tangga batu.


“Sepi, Bintang Jatuh.” Ujarnya menoleh menatap wajah Orion yang mengulas senyuman lembut.


“Iya, sepi.” sahutnya mengiyakan perkataan Hiver.


Wanita cantik dan elegan itu membalas senyuman Orion. “Kau pasti melakukan sesuatu, Orion.” Tebak Hiver sambil mendengus geli.


“Aku hanya ingin istriku menikmati kesenangannya dengan nyaman dan tidak berbagi dengan orang lain.” Orion menatap lembut istrinya yang merona.


Hiver meragu sempat ia menggeleng kemudian mengangguk. Orion tergelak tawa ringan melihat ekspresi istrinya. “Kenapa?”


Tepat mencapai puncak tangga batu, Hiver mengecup pipi Orion. “Terima kasih, Orion. Aku tidak berharap hal sebesar ini, namun aku juga tidak ingin diganggu oleh tatapan pengunjung museum. Kau yang terbaik.”


“Apapun untukmu, Marjorie.” Orion tersenyum puas mendapati usahanya membuahkan rona bahagia terpatri di wajah Hiver. Jauh-jauh hari Orion telah menghubungi pihak museum perihal rencananya untuk memesan tempat tersebut.


“Selamat datang Tuan Putri Marjorie Hiver dan Tuan Filante.” Sapa Manager museum beserta dua pegawai menyambut pasangan berbahagia itu.


“Terima kasih atas sambutannya.” Balas Orion menyalami ketiga orang penanggung jawab museum yang telah berdiri sejak tahun 1963.


“Silahkan menikmati lukisan di tempat ini, Yang Mulia.” Ujar Javier Anegon, sang manager ketika menjabat tangan Hiver.


“Terima kasih.” Hiver mengangguk kepada pria yang berusia sama dengan King Robert.


Orion memeluk pinggang Hiver ketika melewati barisan pendek ketiga orang yang menyambutnya. Nampak Hiver telah memasuki dimensi lain ketika terpaku kepada lukisan dari awal abad 20. Lukisan-lukisan sang maestro yang tak lain Pablo Picasso. Salah satu pelukis pujaan Hiver dari beberapa legenda di dunia yang digelutinya.


“Bagaimana sebuah maha karya yang kaya dengan warna namun juga terlihat sendu.” Gumam Orion kepada lukisan dipandang sedemikian rupa oleh istrinya.


Hiver tersenyum melirik dengan ekor matanya kepada pria jangkung dengan surai emas pucat indah yang dibiarkan tergerai. “Itu berarti kau bisa masuk ke dalam jiwa seorang Picasso, Bintang Jatuh –ku.”


Orion tersanjung, ia mengecup lembut pipi Hiver yang terus merona. “Aku hanya bisa masuk ke dalam jiwa satu pelukis, namanya Marjorie Hiver. Dia seorang wanita yang sangat cantik dan pelukis hebat hanya saja belum terkenal. Hmm.. istriku seorang terkenal, namun bukan seorang pelukis. Tapi suatu hari dunia akan mengenalmu sebagai seorang yang sangat bertalenta. Aku akan selalu mendukungmu, Marjorie.”


Manik hijau Hiver membulat akan perkataan lembut suaminya. “Jika dipikir-pikir ada benarnya jika aku meneruskan hobby ini, Orion.”


“Bukan ada benarnya, tapi ini adalah takdirmu. Kau terlahir untuk menjalani jalan ini, Marjorie.”


Hiver mengangguk mendengar penjelasan singkat Orion. “Ya takdirku memilihmu, pria paling perhatian dan menyerahkan semua waktunya kepadaku. Maksudku, bakat ini aku dapatkan dari mama, Queen Summer. Namun mama tidak meneruskan jiwa seninya karena menemukan papa.” tukasnya seraya memegang kedua sisi pinggang Orion. Hiver menatap manik biru gelap milik Orion yang sekalipun tidak pernah padam memancarkan perasaan cinta yang besar.


“Dan sekarang waktumu untuk melanjutkan cita-cita mama. Aku pikir mama akan berbangga hati jika mengetahui ini. Teruslah melukis, Marjorie. Hingga suatu hari aku akan menggelar sebuah pameran untukmu di kota Lyon atau Paris. Aku memiliki istri yang sangat hebat.” Puja puji Orion sangat lembut terdengar mendayu hingga wanita yang disanjung bukannya menikmati lukisan-lukisan indah justru merebahkan kepala di dalam dekapan.


“Kaulah yang hebat.” Hiver bergumam pelan kemudian mendongak menyelipkan helaian surai emas pucat ke belakang telinga Orion. “Hebat bisa membuatku jatuh cinta sedemikian rupa hingga seluruh pusat hidupku hanya


mengarah pada dirimu.”



Lou melonjak kaget dari tempat tidur ketika mendengar bunyi ponselnya nyaring menggangu tidur sorenya. Ia kelelahan setelah menghabiskan waktu seharian hari sebelumnya di pedalaman menjenguk anak-anak buta huruf. Hampir tengah malam ia kembali ke kediaman bersama dengan Jonas, kekasihnya. Lou melihat dengan mata kepala sendiri keterbelakangan anak-anak tersebut menjadi sangat tersentuh dan iba. Ia pun bertekad untuk lebih banyak meluangkan waktu, dan meminta kepada Jonas untuk memenuhi kebutuhan sandang pangan daerah


terpencil tersebut.


Manik hijau membeliak kaget ketika melihat nama kakaknya tertera dengan jelas di layar ponsel. Sambil berdeham panjang Lou berdiri di depan bingkai kaca lebar yang memamerkan pesona perbukitan di penuhi pepohonan hijau.


“Princess Hiver.” Lou menyapa sang kakak dengan jantung jumpalitan. Ini merupakan kali pertama kakaknya menghubungi setelah perpisahan Lou dengan Philip.


Maryln Lou, ini aku. Saat ini aku berada di Barcelona dengan Orion. Tapi aku terus memikirkanmu. Ya, ini sejak Cyrus mengatakan jika kau berada di Afrika.


Jantung Lou meledak, terlebih suara Hiver terdengar dingin dan datar.


Kami bertemu di pesta pernikahan Autumm. Jujur, aku kecewa Maryln Lou. Aku berjuang di depan Philip untukmu, agar dia mencintaimu dengan sepenuh hati. Aku pikir kau akan mendampingi Philip hingga naik tahta.


Lou mendesah dengan takut-takut menyela perkataan Hiver. “Princess Hiver. Aku..” katanya terbata dengan dada menderu. Ia bahkan tidak pernah merasakan hal sama selama mencintai Jonas, bahkan di setiap sentuhan pria itu yang membangkitkan semua hasrat yang sempat terkubur di tempat Lou dan Philip berbulan madu.


“Prince Philip sendiri yang mengatur ini. Maksudku pendekatan Duke Jonas atas sepengetahuan Prince Philip.” Jelas Lou mencoba memberikan narasi.


Hiver terdiam di ujung panggilan, helaan napas panjang membuat tengkuk Lou meremang, seakan musim dingin Mersia menghampiri tubuhnya.


Jadi semua keinginan Philip? Dia tidak bisa menepati janjinya. Malah menyodorkan keluarganya kepadamu, Lou? Begitu?


Perkataan Lou tercekat di leher, sekarang bukan hanya dingin namun rasa marah tertahan jelas terdengar dari perkataan sang kakak.


“Kurang lebih seperti itu, namun bukan Philip yang salah. Kami –lah yang bersalah, aku yang bersalah, Big Sis. Aku jatuh cinta kepada Duke Jonas di saat harapanku kepada Philip melihat diriku sebagai seorang pendampingnya telah pupus. Semua punya andil masing-masing, Princess Hiver.” imbuh Lou menjelaskan duduk perkara sebelum kemarahan kakaknya mengarah kepada satu orang. Siapa lagi jika bukan pria yang pernah hampir meminang Hiver.


Kembali terdengar helaan napas buru-buru di telinga Lou, di saat yang sama tangan kokoh mendekapnya dari belakang. Ia menoleh kepada pemilik dada telanjang.


“Princess Hiver?” bisik Jonas yang sangat pelan. Lou mengangguk namun kemudian kembali berkonsentrasi pada Hiver yang juga terdiam. Ia takut jika suara pelan Jonas terdengar oleh kakaknya. Sebelum ini ia adalah putri terhormat yang menjaga semua perilaku dalam aturan ketat kerajaan. Kini ia mendapati hidupnya jungkir balik, tidak ada aturan mengikat bahkan dengan gampangnya Lou tidur bersama dengan Jonas. Tentu saja Lou tidak menyesalinya, bahkan menikmati hidup bebas tanpa peraturan yang mencekik leher. Jonas bukan dari kalangan biasa, dia adalah keluarga Kerajaan Denmark. Baik keduanya pernah merasakan hidup berada di lingkungan kerajaan.


Dia ada bersamamu, bukan? Duke Jonas.


Baiklah, semoga Duke Jonas mendengarkan perkataanku berikut ini. Begini..


Hiver memberikan jeda pendek dan di saat itu pula Jonas mengambil alih ponsel Lou dan memasang pengeras suara.


Aku belum mengenal kekasihmu, adikku. Walau aku telah mencoba mencari tahu tentang Duke Jonas Sandeberg, dari pengamatanku sepertinya dia pria yang baik. Kalian sudah di Afrika, dan menurut Cyrus jika Duke Jonas tinggal seatap denganmu, Lou. Aku memang kecewa dengan perpisahanmu dengan Philip tapi apa yang bisa aku lakukan selain menerimanya. Terlebih King Robert, papa kita -lah yang memberikan ijin untuk hidup di sana. Oh ya, jika kalian menikah aku pasti akan mengunjungi Afrika dengan Orion.


Lou tersenyum berpandangan dengan Jonas, kekasihnya pun melakukan hal yang sama.


“Terima kasih, Princess Hiver.” kata Lou yang kini bisa berlega hati. “Kakak merestuiku dengan Duke Jonas?” tanyanya.


Ya, berbahagialah. Dan buat Duke Jonas, saya titip adikku.


Lou mengembangkan senyuman, ia mengecup punggung jemari kokoh milik Jonas, pria bertubuh tegap itu mengangguk, mengiyakan permintaan Hiver namun segan untuk bersuara. “Big Sis, ada satu hal yang ingin kutanyakan.”


Apakah itu?


Lou yang masih penasaran tentang kehidupan mantan suaminya, memilih untuk menanyakan langsung kepada kakaknya, wanita yang membuat Philip tidak bisa melanjutkan pernikahan mereka.


“Setelah perceraian kami, apakah Prince Philip pernah menghubungimu? Tolong jangan terlalu kasar terhadapnya, Prince Philip seorang yang baik, jangan salahkan karena ia memiliki cinta besar terhadapmu, kak.” Kata Lou membela pria yang kini memilih tinggal di Chateu, berita tersebut ia dapatkan dari Jonas. Lou tidak memiliki keberanian mengutak-atik kehidupan Philip yang jelas-jelas telah melepaskan pernikahan bahkan tanggung jawabnya sebagai putra mahkota.


Suara dengusan Hiver pelan dan kemudian terkekeh.


Aku tidak berharap Philip menghubungiku, Adik Sayang. Kami tidak akan pernah bertemu lagi, walau sekarang aku tahu penyebab perceraian kalian. Tapi aku sama sekali tidak ingin menanyakan kabarnya. Aku tidak peduli tentang perasaan cintanya. Walau aku tidak membenci pria itu, namun lebih baik tidak membuka pintu. Seperti dirimu dan Jonas yang ingin hidup tenang, begitupun aku dengan Orion. Aku tidak akan melakukan hal yang mengganggu hubungan kami. Biarkan semua berjalan seperti ini, adikku. Lain kali aku menghubungi kalian, kami akan keluar makan malam bersama. Suatu hari cobalah mengunjungi kota ini, Barcelona sungguh hangat dan indah.


“Selamat menikmati malam di Barcelona, Princess Hiver. Suatu hari kami akan kesana, tentu saja setelah menikah.


Hiver mengucapkan salam perpisahan diikuti rengkuhan Jonas semakin kuat dan memiliki. “Adik sepupuku yang malang, dia sama sekali tidak mempunyai kesempatan sedikitpun untuk ada di hati Princess Hiver.” kata Jonas memandang Lou yang hanya bisa tersenyum simpul dan menganggukkan kepala.


“Semoga Prince Philip menemukan wanita yang mendapatkan cinta besar itu.” ujar Lou tulus.


Jonas menyeringai sembari menggelengkan kepala. “Dia butuh waktu lama, My Love. Philip mencintai Princess Hiver bukan dalam hitungan bulan, melainkan telah berjalan selama belasan tahun. Tidak semudah itu mengisi dengan cinta yang baru. Kau saja tidak bisa memenangkan hatinya. Dan minggu kemarin ia menolak mentah-mentah perjodohan dengan putri Denmark. Jadi biarkan saja berjalan apa adanya. Semua akan menemukan jalan bahagia masing-masing, seperti aku yang menemukan dirimu, My Love.”



Philip gusar ketika melihat berita tentang Hiver di ponselnya. Di dalam artikel tersebut menerangkan jika Hiver berada di Barcelona. Bahkan Hiver di jamu oleh Prince Charles V, begitu tahu jika putri dari Kerajaan Mersia mengunjungi negara tersebut.


Hiver terlihat sangat dingin di berita itu, namun tetap elegan dengan bibir tipis yang saling mengatup dan pandangan mata setajam elang. Philip tidak bisa tenang, andai ia bisa terbang ke negara tersebut semudah membalikkan telapak tangan, tentu saja sejak kemarin telah dilakukannya.


Sayang, Philip harus meredam keinginannya walau disertai dengan sumpah serapah yang panjang. Para orang kepercayaannya hanya bisa menahan tawa melihat sang putra mahkota tidak berkutik, pun dari pihak King


Sigvard tak hentinya mengirimkan utusan untuk membujuk kembali ke Royal House.


“Yang Mulia hanya perlu terbang 3 jam dan kita semua telah sampai ke Barcelona. Mungkin sekalian menonton bola.” Celetuk Hans memanas-manasi Philip.


Pria berbadan besar yang kesehariannya di Chateu tak lepas dari style kasual. Ia terkadang diledek oleh para orang kepercayaannya, bahwasanya Philip terlihat seperti model yang sedang menikmati liburan dibandingkan seorang pewaris tahta.


“Andai aku bisa melakukan itu dengan mudah.” Philip menggeram dan menajamkan manik lionnya. Pria-pria yang duduk di taman Chateu tergelak tawa mendengar gerutuan Philip.


Tak lama kemudian ponselnya berkedip menampilkan nama orang yang paling mengerti akan kondisi dirinya luar dan dalam.


“Joe, apa kabar? Tak biasanya kau menelepon.” Sapa Philip yang mendengar tawa pelan kakak sepupunya.


Kabarku baik saja, Yang Mulia. Lou juga sama. Oh ya, aku menelepon karena beberapa hari lalu Princess Hiver menghubungi Lou. Aku mendengar suaranya. Dia, Princess Hiver sangat datar dan dingin, pula tegas. Ada baiknya kau belajar melepaskan perasaanmu, Yang Mulia. Princess Hiver tidak memiliki sedikitpun hati untukmu. Aku berbicara seperti ini atas dorongan Lou, dia berbelas hati terhadapmu yang memiliki perasaan besar kepada**kakaknya. Princess Hiver sangat istimewa, dia ada sebuah angin musim dingin namun juga bisa menyentuh hati. Caranya mencintai tidak seperti wanita kebanyakan, namun dia telah menemukan pria yang bisa membuatnya hidup lebih baik. Princess Hiver mencintai Orion Filante, Yang Mulia. Kau sama sekali tidak memiliki kesempatan.


Philip menggeram lebih dalam dan menutup matanya agar bisa menahan perkataan yang menjadi santapan orang-orang di Chateu. “Tidak. Tidak, Joe. Aku masih memiliki kesempatan.” Ucapnya seakan menjawab sebuah tantangan dari Jonas.


“Dunia masih berputar, langit masih biru, udara masih segar, dan aku masih hidup. Aku tetap bertahan dalam perasaan ini, Joe. Kau menelepon malah membuatku semakin merindukannya. Apakah kau merekam percakapan kalian? Tolong, katakan ya.”


 





alo kesayangan💕,


Sepertinya aku ingin menetapkan aturan buat diriku sendiri, misal ketika aku mengupdate 1 novel, aku akan melanjutkan dua hari berturut atau ada jeda sehari untuk 2 chapter. Ya kembali tergantung dengan jadwal RL -ku. Jadi, sekarang telah mengupdate Mersia sebanyak dua chapter, next akan update Kai 2 episode. So, bersabarlah menunggu dan thank you banget buat kalian yang masih betah di MT walau semuanya telah sunyi senyap kek TNI lagi beroperasi. wkwkwkw..


Oh yah, sekadar bocoran..


Hiver tidak akan mengalami kisah yang sama dengan Summer.


[belum kuedit, dah keburu ngantuk, padahal baru jam 10 malam]


love,


D😘