MERSIA

MERSIA
Crazy Rich Europeans



Orion menatap ponselnya dengan mata tajam, ia baru saja menerima panggilan suara dari Adrien, papanya yang mengabarkan tentang putri pertama Kerajaan Mersia akan bertunangan dengan calon pewaris tahta Kerajaan


Swedia.


Orion terus terdiam, tidak menampakkan emosi sedikitpun. Isi kepala bekerja di dalam kesunyian ruang kerja pribadinya.


Ingatannya kembali kepada sosok Hiver yang tidur bersama dengannya beberapa minggu yang lalu. Tepatnya, Orion terjaga hingga pukul 3 dini hari sambil memandangi wajah Hiver yang terlelap.


Sejak kecil Orion adalah seorang yang penyendiri, walau memiliki sifat seperti itu tetapi perhatiannya selalu terfokus kepada sosok Hiver. Anak perempuan bersurai hitam dengan manik hijau yang telah mengambil hati Orion sejak lama. Karena pembawaan diri yang tertutup mengakibatkan Orion tidak tahu cara mengambil hati


Hiver. Orion bukan River yang sejak kecil sudah menjadi teman bermain Hiver.


Orion berbeda. Ia seorang anak yang sangat pandai menyembunyikan garis senyuman di bibir kala kedua orang tuanya mengajak untuk berkunjung ke Mersia. Sementara pada saat itu hatinya bersorak kegirangan dan ketika berada di Mersia, Orion membagi perhatian antara buku bacaan dan sosok riang Hiver yang sedang bermain dengan River dan Autumm.


Perasaan Orion tumbuh besar, seiring usianya yang semakin bertambah hingga menjelang ulang tahun mereka yang ke 20, saat itu River mengatakan jika mencintai Hiver. Sebuah perkataan sederhana yang terlontar dari bibir River, namun seolah mengatakan jika “Hiver tidak bisa dimiliki oleh orang lain”. Orion kaget, ia tidak pernah mengatakan apapun kepada saudara kembarnya tentang perasaan istimewa yang terus berkembang di hati untuk Hiver. Untungnya River menjelaskan jika hanya meminta dukungan agar dia bisa mengatakan perasaan kepada sang putri.


Orion penasaran mengikuti pergerakan River dan Hiver saat pesta ulang tahun, bahkan ia melihat bagaimana River mencium Hiver di taman belakang mansion miliknya. Bisa dikatakan saat itu hati Orion patah, dan bertekad


untuk menjauh dan tidak mau ambil pusing dengan cerita River dan Hiver.


Ia mengubur perasaan dengan sibuk terhadap pengembangan produk Bluette Corporation, dan semakin menjauh dari Hiver. Tindakan yang paling masuk akal di tempuh Orion adalah memusuhi gadis yang dicintainya. Bahkan ketika River telah berpacaran dengan Carole pun tidak membuat Orion ingin mendekati sang putri. Bukan kenapa, Orion sama sekali tidak mengetahui caranya. Terlebih harus bersikap manis kepada gadis yang hanya dihitung jari berbincang di atas lima menit dengannya.


Kemudian River menikah, harapan itu kembali muncul ketika melihat tangisan Hiver yang berlari sambil tersedu di pekarangan luas Hotel Carro, milik orang tuanya.


Kebersamaan selama 18 jam tersebut menghidupkan kepercayaan diri Orion, jika ia mempunyai kesempatan. Hingga pagi ini, sebelum papanya mengabarkan berita tersebut.


Orion hanya bisa melontarkan satu kalimat panjang kepada Adrien.


“Kenapa daddy baru mengatakan ini ketika ingin berangkat ke Mersia? Dan berharap aku ikut serta? Padahal daddy pasti sudah tahu berita itu dari beberapa hari yang lalu.”


Orion melirik jam di atas meja nakas, pukul 8 lebih 45 menit. Kedua orang tuanya akan terbang 2 jam ke depan menyesuaikan undangan pertunangan yang akan dihelat pukul 5 sore.


Pria bersurai emas pucat itu berdiri dan mematung di depan cermin besar, menatap pantulan wajahnya yang memucat seperti mayat hidup. Ia menggeleng lalu bergegas keluar dari kamar tidur menuju ruang kerjanya.


Sebuah tarikan napas panjang ketika melihat komputernya seolah melambai untuk di jamah.


Kemarilah, aku kekal di hati dan isi kepalamu. Putri itu hanya penggoda dari otakmu yang jenius. Banyak hal yang bisa kita pecahkan bersama, termasuk menguasai dunia.


Orion tersenyum kepada benda mati tersebut seraya mempercepat langkah kakinya. Meraih mouse berwarna hitam, menggerakkannya dengan perlahan.


Benda mati itu seakan berkata kepadanya,


Terima kasih telah memilihku, kita kekal. Ilmumu akan kekal, namamu akan terpatri dalam sejarah teknologi dunia hingga beratus tahun ke depan. Kita abadi, Orion Filante.


Pria bersurai emas pucat tenggelam dalam layar datar di depannya, rangkaian rumus menari di kepala di tuangkan ke dalam benda persegi di depannya.


Hingga beberapa jam kemudian hembusan angin masuk ke dalam ruangan kerja, membelai wajahnya, meniup rambutnya.


Orion, kenapa kau membenciku..


Suara lembut dan bergetar di bawa oleh angin menyelusup ke indera pendengaran Orion. Pria berwajah cantik itu sontak menghentikan pekerjaannnya, tangannya gemetar hebat. Dadanya tersengal seperti habis berlari jarak jauh dengan laju yang sangat cepat.


“Marjorie!” pekiknya berdiri dengan tiba-tiba. Orion berlari menuju kamar tidurnya, menuju walking closet mengambil pakaian yang bisa dijangkau oleh tangannya dan berganti kostum secepat kilat.


“Tolong siapkan chopper, isi bahan bakarnya dan sediakan cadangan.” Perintahnya lewat sanbungan telepon.



Sepasang pria dan wanita paruh baya menatap kepergian Orion dan Hiver yang berlalu keluar dari ballroom Palace.


“Kak Adrien, apakah kita mampu membeli Kerajaan Swedia?” tanya Isla kepada suaminya. Pria tampan bermanik biru berkabut putih itu mendengus geli.


“Ya, Orion bisa. Bahkan dengan kerajaan ini jika dia mau.” Sahutnya menggelengkan kepala tidak percaya dengan apa yang baru saja putranya lakukan.


Isla melirik jauh ke arah sahabatnya yang tak lain ratu Mersia beserta sang raja, keduanya terlihat sangat tegang di kursinya.


“Aku tidak tahu apa yang harus aku katakan kepada sang ratu, kak. Lihat, tanganku masih gemetar, kakiku juga. Bukannya Orion tidak ingin ikut dengan kita, anak itu sungguh tidak bisa di tebak isi kepalanya.” Isla


memperlihatkan kedua jemari tangannya yang gemetar kepada Adrien.


“Tuhan, cherie. Andai ada pintu rahasia yang bisa mengembalikan kita ke Lyon, saat ini juga aku sudah menarikmu pergi. Sepertinya tulang mukaku hilang karena ulah putra kita.” ucap Adrien berbisik, sebagian orang yang mengenal, mengarahkan pandangan kepada orang tua si pemuda bersurai emas pucat.


Isla dan Adrien tetap pada tempatnya, ketika suasana semakin riuh. Orang-orang bergerak tidak beraturan, raja dan ratu Swedia telah berlalu bersamaan dengan pria yang tadinya hendak mengikat tali pertunangan dengan


Hiver. Oh yah, wajahnya menegang, dan entah mungkin ada amarah yang di pendam namun tak ingin ditampakkan kepada orang di ballroom.


“Maafkan kami, Tuan dan Nyonya Pranaja. Yang Mulia Raja dan Ratu menunggu di ruangan keluarga.” Ucap seorang staff yang kedatangannya tak disadari pasangan suami istri tersebut.


“Baiklah.” Jawab Adrien dengan sopan dan mengangguk. Sekilas ia melirik istrinya yang menggelengkan kepala dengan lemah.


“Bernapaslah, cherie.” tegur Adrien seraya tersenyum yang berhasil menenangkan hati istrinya.



Orion terus berjalan separuh berlari membawa Hiver dalam genggaman tangannya, ia sangat mengenal setiap sudut dan ruangan di Palace. Tidak ada satupun orang menghadang kepergian Orion yang berhasil menculik Hiver di depan calon tunangannya, pun dua pasang raja dan ratu tidak berkutik dengan perbuatan tak sopannya itu. Sangat tidak memiliki tata krama, perbuatan Orion bisa dikatakan terkutuk di Kerajaan Mersia.


Tapi apa yang dilakukan olehnya adalah yang terbaik, setidaknya untuk Orion. Mungkin juga Hiver, terbukti gadis cantik bermahkota batu safir langka itu terus menguraikan air mata.


“Jangan menangis, Marjorie.” Orion menoleh menatap Hiver menggigit bibirnya dan manik hijau itu tergenang air mata kemudian meluap ketika terkumpul banyak.


Hiver menggeleng lalu tertunduk dan jemarinya menyeka air matanya, ia terus patuh dengan pergerakan tubuh Orion yang sepertinya mengarahkan mereka ke ruangan melukis milik sang ratu.


“Tinggalkan kami.” Perintah Hiver kepada pelayan yang berjaga di depan pintu ruangan kaca yang dari luar menampakkan berbagai macam bunga yang tumbuh dengan subur walau di luar sedang turun salju yang sangat lebat.


Orion melepaskan genggaman tangannya ketika mereka saling berhadapan di tengah ruangan tersebut, beberapa bunga bermekaran dan dan pula hanya setia tumbuh dengan daunnya yang hijau namun hidup dengan sehat.


Hiver tertunduk menatap ujung gaunnya, air mata masih saja setia jatuh walau tak sebanyak tadi.


“Apa kau butuh pelukan, Marjorie?” tanya Orion dengan suaranya yang mendayu lembut namun menghentakkan kesadaran Hiver.


Putri cantik bermanik hijau itu mendongakkan kepala menatap wajah cantik Orion, kulitnya putih bak pualam tak memiliki goresan dan cacat sedikitpun.


Orion mengangguk pelan seraya mengembangkan kedua tangannya. Sejenak Hiver terpaku.


“Sekarang atau tidak.” Ancam Orion tertawa memamerkan sepasang gigi taringnya yang indah, pula menggemaskan.


Tenang. Seketika Hiver merasakan hal tersebut. Segala beban di kepala dan pundak selama berhari-hari meluruh jatuh turun ke bawah kaki. Tenggelam ke dasar Bumi.


Hiver terisak membalas pelukan Orion.


“Aku tidak menyukai pangeran itu, Orion. Tapi Dewan Kerajaan menekan King Robert, hingga tidak berkutik. Prince Philip, dia sempurna. Tapi aku tidak ingin bersamanya, aku tidak mengenalnya. Dan dia hanya melihat apa yang


ada di luar diriku. Aku tidak pernah ingin menjadi seorang seorang ratu. Apalagi dari seorang pria yang tidak aku cintai.” Tutur Hiver dengan parau. Kini kemeja putih Orion telah basah dengna air mata sang putri.


Pria bersurai emas pucat itu hanya diam, namun salah satu tangannya mengusap punggung Hiver dengan lembut.


“Hampir saja aku bertunangan dengan Philip. Tuhan, terima kasih Orion telah menyelamatkanku.” Hiver menengadah dan tatapan Orion terpusat kepadanya. Saat itu pula, ribuan juta volt menyentak jantung Hiver.


Orion mengukir sebuah senyuman simpul.


“Bukankah menjadi seorang permaisuri itu sangat hebat, Marjorie?” ledek Orion


Hiver cemberut seraya mengurai pelukan Orion, ia berjalan ke sisi jendela yang memberikan pemandangan salju yang menumpuk di luar bangunan.


“Kau marah?” tanya Orion berdiri di sisi Hiver. Putri cantik itu menelengkan kepalanya.


Hiver terdiam lalu mengembuskan napasnya panjang.


“Tidak. Aku tidak akan marah apapun kepadamu, Orion. Kau telah menolongku. Dia tidak akan mencoba lagi, bukan? Prince Philip.” Kata Hiver sedikit ketakutan.


Kembali tangan kokoh Orion mendarat di punggung Hiver dan menepuknya dengan pelan.


“Aku serius dengan perkataanku tadi di ballroom, Marjorie. Aku akan membeli Kerajaan Swedia untukmu jika mereka berani atau pria itu ingin berusaha kembali mengambilmu.”


Dari tanganku !


Hiver menggerakkan tubuhnya ke kanan, ia melihat wajah Orion menyiratkan kesungguhan akan perkataannya.


Hiver mengembuskan napas panjang dan melegakan isi paru-parunya yang tadinya sangat berat dan nyeri.


Mereka kemudian terdiam dengan pandangan ke luar bangunan kaca, keduanya menyaksikan butiran-butiran salju jatuh dari langit, menyatu dengan temannya yang terlebih dulu turun.


“Orion, dengan apa kau datang ke Mersia?” tanya Hiver memecah keheningan di antara mereka.


Suara dehaman ringan dari pria sebelah Hiver membuatnya menoleh.


“Dengan helicopter, aku terbang dari mansion menuju ke sini. Aku sempat singgah sekali untuk mengisi bahan bakar, entah di daerah mana.” Jawabnya dengan santai.


Tangan Hiver sontak memegang lengan Orion “Itu sangat berbahaya, Orion. Cuaca seperti ini, dan itu bukan penerbangan pendek. Aku pikir kau tidak datang, karena Autumm mengatakan jika kau tidak pernah mau pergi jauh


mansionmu.”


Orion mengulum bibirnya dan mengedikkan bahu “Ya, terakhir aku kesini ketika kau berulang tahun yang ke 17, Marjorie. 10 tahun lebih, aku kembali menginjakkan kaki di Mersia. Tidak ada yang berubah, semua sama. Tetap


dingin dan indah, seperti dirimu. Oh ya, aku yang menerbangkan helicopter hingga ke Mersia.” Terangnya yang di respon genggaman tangan Hiver bergetar.


“Kau gila! Kenapa kau membahayakan dirimu untuk ke sini, bukankah kau bisa ikut bersama dengan papi dan mami? Tuhan, apa yang kau lakukan ini sungguh bodoh.” Pekik Hiver dengan suara meninggi. Wajah cantiknya


memerah dan tangannya mencengkeram kuat lengan Orion.


“Bukannya baru saja tadi kau mengatakan tidak akan marah kepadaku, Marjorie?” tanya Orion dengan lembut sambil mengusap sisa air mata di pipi Hiver.


“Dimana choppermu?” tanya Hiver


Orion tersenyum “Aku mendarat di taman depan. Di halaman berumput, seingatku tidak ada bunga yang  rusak.”


Hiver mendenguskan tawa tertahan.


“Aku tidak tahu jika kau bisa melakukan hal gila seperti ini, Orion.” Ucapnya dengan jantung bergemuruh oleh tatapan manik biru tua yang seakan menenggelamkan Hiver semakin dalam ke samuderanya.


Kedua tangan Orion memegang bahu Hiver. keduanya beradu pandangan dengan lekat. Adalah Hiver tak tahan dan menyerah akan tatapan Orion, iapun langsung menundukkan kepala. Saat itu pula tubuhnya kembali masuk ke


dalam dada bidang Orion.


“Selama 30 tahun, ini adalah hal gila yang pertama aku lakukan, Marjorie.”


Hiver mendongak, sepasang manik biru tua itu terus menatapnya dengan sorot yang tidak biasanya. Ya, sorot mata itu melembut dan melindungi. Hiver seakan kembali ke suatu tempat yang sangat nyaman dan tenang.


“Orion, apa maksud dengan semua ini? Kau hadir di saat yang tepat, dan nekat terbang hanya dengan chopper melintasi beberapa negara. Apakah murni kau ingin menolongku, ataukah ada maksud lain?” Tanya sang putri.


Kembali senyuman penuh makna membalas pertanyaan Hiver.


“Biar aku rubah pertanyaannya.” Kata Hiver seraya menghela napas dan selama beberapa detik ia mencoba meredakan detak jantungnya yang sedang bergemuruh keras.


Orion melebarkan manik biru tuanya dengan senyuman manis di bibir, merupakan hal indah dipandang oleh Hiver.


“Orion, apakah kau ingin menikah denganku?” tanya pemilik manik hijau yang membulat dengan suara bergetar dan juga serak.


Tangan Orion terulur ke atas dan memegang kedua sisi rahang Hiver. Orion menatap lebih lembut dari sebelumnya kemudian tersenyum lebih indah dari semua senyuman yang pernah Hiver lihat.


“Ya, Marjorie. Aku ingin menikah denganmu.”


###




alo kesayangan💕,


kemungkinan besar besok aku akan libur mengupdate, hari minggu jadwalku lari lebih jauh. sebenarnya berat dengan bulan ini karena sangat banyak lomba virtual yang aku ikuti.


jangan teriak minta Mersia dulu yah, wkwkwk.


love,


D😘