MERSIA

MERSIA
Si Bintang Jatuh



“Kau tidak pernah mengatakan jika memiliki rumah di sini.” Ujar Hiver memandang ke arah luar dari jendela kaca besar, pepohonan besar nampak menjadi penghias kokoh halaman depan tempat itu.


Orion tersenyum bahkan kelopak matanya ikut menyipit bahagia ketika beradu pandangan dengan istrinya.


“Grandpa adalah orang yang sangat suka membeli aset tak bergerak, baik berubah tanah maupun bangunan. Dan rumah atau villa ini diberikan kepada kita.” tutur Orion yang berdiri di belakang Hiver, ia mengalunkan tangan pada leher istrinya.


Hiver tercenung dengan rumah besar yang menjadi tempat bulan madunya. Orion bukan mengajaknya ke Eropa, atau kemanapun . Pria beraroma maskulin earthy justru membawanya melintasi dua benua, hingga dua jam lalu mereka berhasil mendarat di Pulau Bali.


Hiver tidak pernah mengunjungi pulau ini, kecuali tanah kelahiran sang mama. Predikat sebagai putri dari Kerajaan Mersia yang disandangnya membuat Hiver terbatas dalam bepergian tanpa ada puluhan pengawal yang menemani. Sejak dini Hiver dididik untuk menjadi seorang putri yang kelak akan menjadi seorang permaisuri, tak dinyana seiring waktu ia tidak tertarik dengan kehidupan bersistem monarki. Itu mengapa Hiver tidak bisa beranjak dari perasaan terpendamnya kepada River, dulu ia berpikir bahwa bersama dengan pria tersebut adalah jalan satu-satunya untuk keluar dari Mersia.


Hiver tidak ingin menjauh dari keluarganya, bukan itu alasan kuatnya. Salah satu alasannya adalah Hiver tidak ingin berhadapan dengan aturan Dewan Kerajaan yang dengan seenaknya menentukan nasib seseorang, yang terkadang membuat King Robert tak bisa bersabar lebih banyak. Andai saja Hiver menikah dengan seorang pewaris tahta, tentu saja ia harus berhadapan dengan Dewan Kerajaan yang kurang lebih sama ketatnya dengan Mersia.


Bukan River mengabulkan impian Hiver, melainkan Orion. Pria yang tidak menyukai tampil di muka umum, memelihara otak jeniusnya dengan menjauh dari kerumunan orang dan kini tak disangka membawa Hiver ke Indonesia untuk berbulan madu. Sungguh seorang pria yang tidak bisa ditebak jalan pikirannya.


“Dari banyaknya tempat wisata di dunia, kenapa Indonesia? Kenapa Bali?” tanya Hiver mendongak menatap wajah tampan dan cantik yang sedang mengulas sebuah senyuman simpul.


Orion menghela napas dalam sambil mengetatkan pelukannya.


“Keajaiban keluargaku berawal dari pulau ini. Tiga generasi sebelum era kita, memulai kisah cintanya di sini. Dan aku juga ingin mengawali perjalanan kita di tempat yang sama.”


“Kenapa?” tanya Hiver pelan dengan dada berdegup kencang.


“Hmmmm.. Aku percaya bahwa pulau ini membawa kita ke sebuah hubungan rumah tangga yang kekal dan harmonis.” Sahut Orion disertai kekehan tawa yang manis.


Hiver pun ikut tertawa, ia bergerak melepaskan pelukan dan menatap dalam wajah suaminya.


“Aku tidak percaya seorang Orion yang dingin bisa mengatakan hal romantis.” Kata sang putri seraya menggenggam tangan ramping Orion. “Aku ingin melihat setiap sudut rumah ini. Walau kau tidak pernah mengunjunginya, tapi pasti tahu letak kamar tidur dan lain sebagainya.”


Orion hanya mengangguk dan mengikuti kemana tarikan tangan posesif wanita cantik bersurai hitam yang begitu semangat ketika sampai di bandara.


“Rumah ini hanya memiliki tiga kamar, dua berada di bawah dan satu di atas. Kita akan tidur di lantai dua, viewnya sangat bagus karena mengarah ke laut. Sejak awal modelnya sudah seperti ini, grandpa membangun beberapa villa untuk kami. Karena aku tidak menyukai orang asing menyentuh barang milikku, menjadi alasan tempat ini hanya pernah dipakai oleh anggota keluarga kita yang berkunjung ke Bali. Selebihnya milik River, Autumm dan Kaia disewakan untuk para wisatawan.” Terang Orion sambil menapaki tangga dari kayu berwarna hitam. Ia tidak tahu jenisnya, tapi bisa merasakan kekokohan jenis kayu yang dipijaknya tanpa menimbulkan sedikitpun bunyi deritan.


“Ya, ini sungguh indah.” Kata Hiver ketika berada di kamar berdinding kaca dan melihat pemandangan laut yang berkilau oleh teriknya sinar matahari. Sebuah keputusan yang tepat berwisata ke negara tropis, dibandingkan harus merasakan musim semi di Eropa yang masih berada di bawah 10 derajat celcius.


“Kau bebas berjemur di pantai atau berenang, Marjorie. Tidak akan ada orang yang mengambil gambarmu. Grandpa itu sangat hebat, mengenal kepribadian cucunya dengan baik.” Ujar Orion sambil mengulum senyuman.


“Memberikanmu rumah ini yang jauh dari keramaian.” Tebak Hiver sambil menggamit lengan suaminya.


Orion menepuk puncak kepala Hiver dengan lembut “Sepertinya kau telah mengenalku dengan baik, Marjorie.”


Hiver terdiam sambil memerhatikan deburan ombak yang memecah di bibir pantai. Mersia sebenarnya adalah kerajaan yang memiliki semua hal indah, pantai berombak besar dan dingin, pun alamnya yang alami. Hiver yang lahir di Perancis bagian selatan, menghabiskan tiga tahun masa kecilnya di tepi pantai pun tidak bisa membandingkan cuaca tropis di Pulau Bali.


“Tentu saja aku mengenalmu, 28 tahun lamanya aku melihatmu. Seorang anak kecil pendiam yang tidak bisa lepas dari buku tebal di tangannya. Orion Filante, kami bersaudara memanggilmu Si Bintang Jatuh.” Tutur Hiver riang dan bahagia.


Manik biru gelap itu melebar sekaligus tersenyum memamerkan gigi taringnya.


“Bintang Jatuh?”


Hiver mengangguk “Ya, bintang jatuh.” Sahutnya membenarkan.


Orion terkekeh “Orion adalah rasi bintang. Bukan sebuah bintang tunggal, Marjorie. Yang kau lihat di langit bukan bintang, melainkan kilatan meteor. Ada-ada saja kalian.” Katanya sambil mengecup pipi istrinya. Orion tidak bisa mengontrol keinginannya untuk mencium wanita cantik yang sedang tersipu dan merona.


Hiver mengerjap.


“Oh ya, sepertinya hanya kita berdua di tempat ini, Orion. Bagaimana kita akan makan tanpa ada pelayan, dan siapa yang akan mengurus semuanya?” tanya Hiver terbata-bata, masih bersemu merah karena suara mendayu Orion yang menjelaskan arti namanya, dan tentu akibat kecupan singkat tersebut.


“Kita berdua, Marjorie. Memasak, membersihkan, mengatur rumah, mencuci pakaian adalah tugas kita berdua.”


“Hah?” seru Hiver dengan spontan.


Orion tertawa tarbahak-bahak melihat ekspresi istrinya yang melongo, ia bahkan mengetahui jika isi kepala Hiver blank dalam seketika.


“Dimulai dengan berbelanja, kita akan ke kota membeli kebutuhan rumah, termasuk makanan dan lain-lain. Mungkin sekalian makan malam di restoran, karena ini sudah menjelang sore.” Ujar Orion sambil menepuk pipi Hiver.


“Apa benar kau adalah suamiku? Orion Filante Bluette?” tanya Hiver menarik pipi putih Orion seolah-olah wajah pria itu sedang mengenakan topeng yang terbuat dari kulit terbaik.


“Sakit, Marjorie. Ya, benar ini aku masih suamimu.” Rajuk Orion berusaha melepaskan tangan Hiver yang semena-mena mencubit pipinya


Hiver menggeleng dan cemberut “Tidak. Orionku adalah pria yang dingin. Bukan yang seperti ini berbicara banyak. Tolong kembalikan suamiku!” teriaknya masih enggan melepaskan tarikan tangan yang sebagian wajah pria bersurai emas pucat tersebut memerah.



Kala Philip sedang sibuk dengan urusan kerajaan, Lou memilih menghabiskan waktu di rumah kaca sambil melihat beberapa tukang kebun menyirami atau memangkas dahan-dahan bunga. Untuk sementara waktu Lou dibebastugaskan oleh Philip dari berbagai tugasnya sebagai istri sang pewaris tahta. Philip mengatakan jika mereka sedang menjaga kemungkinan Lou akan mengandung penerus Kerajaan Swedia, hingga kesehatan istrinya adalah hal yang paling utama.


Terang saja Lou kini semakin jatuh hati kepada Philip, mereka telah mereguk indahnya hidup sebagai sepasang suami istri. Perlakuan Philip juga semakin hari semakin banyak kepada Lou. Tiada lagi malam-malam yang kesepian di kamar tidur mereka, Philip rutin kembali dari pekerjaannya sebelum jam 10 malam. Bahkan ketika sang pewaris tahta itu mengunjungi daerah di luar kota tetap berusaha tidak pulang larut malam.


Pijakan kaki di atas kerikil membuat Lou menoleh ke asal suara. Sosok tinggi berwajah rupawan, dengan balutan suit abu mahal dengan dasi hitam nampak berjalan menghampirinya. Pria itu memiliki alis yang lurus, dagu terbelah, dan rambut tersisir rapi. Lou menautkan alisnya, sambil berpikir identitas pria tersebut.


“Hai, halo.” Sapa sang pria tampan seraya mengulurkan tangannya ke depan.


“Ya, saya Lou.” Lou berdiri, seketika itu juga ia tersadar jika sedang berada di dalam istana Swedia yang memiliki aturan ketat hingga seseorang tidak bisa dengan mudahnya keluar masuk tanpa memiliki sebuah kepentingan.


“Jonas Sandeberg. Kau pasti tidak mengenalku, Princess Maryln Lou.” Ucapnya ramah sambil tersenyum tipis.


Lou berkedip namun tetap menjabat tangan kokoh yang terulur dengan akrab.


“Sepertinya aku pernah mendengar nama Sandeberg.” Kata Lou mencoba mengingat silsilah keluarga suaminya. Jujur jika ia belum bisa menghapal dengan sepenuhnya anggota keluarga Philip Bernadotte, terlebih sang raja terdahulu konon memiliki banyak wanita. Mungkin saja pria yang sedang tersenyum lebar itu adalah salah satu anak dari selir sang raja.


“Bolehkah aku duduk?” tanya Jonas mengerling ke arah kursi kosong di samping tempat duduk Lou.


“Ah, maaf. Silahkan duduk Duke Jonas Sandeberg.” Lou dengan gugup menyilakan agar pria rupawan itu mengambil tempat duduk.


“Tidak usah memanggilku dengan sebutan itu, Princess Lou. Sekadar informasi jika keluarga Sandeberg adalah adik tiri dari King Sigvard. Jadi aku adalah sepupu dari suamimu. Usia kami terpaut 4 tahun, aku adalah kakak baginya.” Ujar Jonas menerangkan silsilah keluarga yang patut Lou pahami saat itu juga.


Lou mengangguk.


“Tapi maafkan aku, sebelum ini tidak pernah melihatmu, Duke Jonas. Aku akan terus memanggilmu dengan sebutan formal karena kita berada di dalam istana.” ujarnya sopan dan hormat kepada seseorang yang lebih dewasa dari dirinya dan Philip.


Jonas terkekeh dengan suara  tidak berlebihan, dan pula sangat bijak.


“Baiklah jika kau bersikeras. Oh ya, aku baru kembali dari dinas militer di Afrika, aku memimpin pasukan perdamaian di sana. Hampir dua tahun lamanya berada di perbatasan negara yang sedang konflik, dan ketika mendengar kabar pernikahan kalian, sayang sekali aku tidak bisa pulang. Jadi baru kali ini aku berkesempatan bertemu dengan kalian. Philip sedang sibuk, jadi terlebih dahulu menemuimu, Tuan Putri.” Tutur Jonas yang sangat akrab.


Lou tidak bisa menutupi perasaan kagetnya, mendapati kenyataan bahwa ada seorang anggota kerajaan bisa berbicara dengannya secara panjang lebar, dan menganggapnya seperti seorang teman lama yang baru kembali bertemu setelah sekian lama.


“Selamat atas pernikahan kalian.” Jonas kembali mengulurkan tangannya ke samping. Ucapannya terdengar sangat tulus.


“Terima kasih, Duke Jonas.”


Jonas terlihat menarik napas dalam sambil mengamati wajah Lou. Sang putri tersenyum bodoh mendapati tatapan Jonas yang terlihat mencari sesuatu di wajahnya.


“Ada apa?” tanya Lou sambil mengerutkan alisnya.


Jonas menggeleng lalu terbahak tawa. Pria tampan itu memiringkan kepala dan ikut mengerutkan alisnya.


“Tidak. Aku hanya berpikir, Princess Lou.”


“Berpikir tentang apa?”


Jonas menarik napas panjang dan tersenyum.


“Kau lebih cantik dibandingkan di foto. Tapi ada satu yang membuatku bertanya-tanya.” Katanya masih menatap wajah Lou.


Lou tidak menimpali, kerutan alisnya semakin dalam dan hal tersebut membuat Jonas semakin tergelak tawa.


“Jadi begini, Princess Lou. Aku adalah kakak dari suamimu. Aku mengenalnya dengan sangat baik, luar dan dalam. Aku tahu seperti apa kehidupan Philip dengan wanita-wanitanya. Siapa saja dikencaninya, aku sangat tahu. Termasuk kakakmu yang Philip sangat cintai. Ya, Princess Marjorie Hiver. Satu-satunya wanita yang Philip puja, bahkan saat itu mereka belum pernah bertemu. Terus bagaimana ceritanya dia bisa menikah dengan dirimu, Princess Lou? Aku tidak habis pikir, membayangkan isi hati Philip sekarang. Maafkan aku, tapi dia sangat mencintai kakakmu. Sangat-sangat mencintainya.”


Seketika itu juga Lou seakan mengandung bayi berusia 8 bulan, dan bayinya menendang ke arah ulu hati, sekaligus menarik jantungnya hingga lepas ke bawah.


“Oh yah, Princess Hiver bahkan lebih dahulu menikah, bukan? Atau jangan-jangan Philip hanya melarikan diri dari sakit hatinya. Tuhan, kenapa kisah kehidupan kalian sangat rumit.” Jonas berkomentar ringan, sementara Lou berjuang untuk tetap sadar walau penglihatannya perlahan mulai menggelap.



Orion tertawa-tawa melihat istrinya sedang membenahi topi lebar yang menutupi kepala dan sebagian wajah cantiknya.


“Mereka akan mengenaliku.” Ucapnya sambil menyipitkan mata hingga menjadi garis tipis yang berkilauan.


“Tidak, Marjorie.” Orion menggeleng dengan wajah dan bahasa tubuhnya sangat santai. Tampilan Orion bahkan sangat berbeda, pria bersurai emas pucat itu tak lebih seperti seorang turis asing yang memenuhi setiap sudut Pulau Bali.


“Kita menjadi perhatian.” Hiver menoleh ke arah orang-orang yang sibuk memilah barang belanjaan di swalayan.


“Terus bagaimana jika ada orang yang tahu, kecuali membiarkan mereka mengambil gambar kita. Ayolah, Marjorie, belajar menjadi orang biasa. Bukankah kau memilihku untuk hidup tanpa ada pengawalan, dan bebas dari semua aturan.” Tuntut Orion kembali mengingatkan istrinya. Pria berwajah cantik dan tampan itu berkomentar sambil mengisi bahan makanan di kereta dorong yang separuh terisi berbagai macam kebutuhan mereka di villa.


“Begitu?” cicit Hiver berjalan di samping Orion dengan gugup.


“Bukankah sudah aku katakan jika kita belajar memulai kehidupan kita di sini, Marjorie. Kau yang dulunya sebagai seorang putri dari Mersia, di pulau ini hanya sebagai istriku. Begitupun dengan seseorang yang memiliki Bluette Corporation. Aku tak lebih dari Orion Filante yang berstatuskan suami dari Marjorie Hiver. Kita hanya pasangan biasa pada umumnya yang sedang berbulan madu.”


“Berbulan madu.” Kata Hiver singkat dengan kaki yang lemah dan dada berdetak kencang.


 Orion menoleh dan nyaris memamerkan gigi taringnya kepada orang lain. Hiver tidak suka jika ada yang memandang takjub ke arah suaminya. Ia bahkan lebih menyukai Orion yang dingin, bukan pria yang banyak bicara seperti adik-adiknya.


“Jangan tersenyum di tempat umum.” Hiver melayangkan protes lalu cemberut.


Manik biru gelap itu melebar dan mencoba mengerti perkataan singkat sang putri berwajah cantik.


“Cepatlah menyelesaikan kegiatan berbelanja hari ini. Aku akan belajar memasak, dan menyimpanmu di villa selama-lamanya.” Sungut Hiver dengan cemburu ketika mendapati salah satu pengawai swalayan menatap Orion lalu tertunduk dengan wajah memerah.


Orion tergelak tawa keras namun tetap manis, mendayu.


“Baiklah, jika itu yang kau inginkan. Tapi ingat konsekuensinya mengurungku di villa, Marjorie. Aku akan menggigitmu di semua bagian tubuh.” Ancam Orion sambil menjilat gigi drakulanya.


Hiver menganga dan syok. Putri bermanik hijau itu menggelengkan kepala dengan tidak percaya.


“Tuhan, aku merindukan Orion yang dulu.” sungut Hiver sambil berjalan meninggalkan suaminya.


“Marjorie!” teriak Orion mengejar Hiver.


Pun kemudian Hiver menghentikan langkah kaki dan berbalik sambil terkekeh. Ia kemudian memeluk Orion dengan erat.


“Aku pikir kau merajuk.” Gumam Orion membalas pelukan Hiver.


Hiver menggeleng “Tidak. Aku tidak bisa melakukan itu.” katanya seraya menatap wajah kekasihnya dengan penuh perasaan memuja dan mencinta.


Orion menurunkan kepala dan menancapkan giginya dengan perlahan di pipi Hiver.


“Jadi kau rela menyerahkan tubuhmu kepadaku, Marjorie?” bisiknya menggoda.


Hiver melipat bibirnya dan berpegangan dengan kuat-kuat di bagian belakang jaket hoodie Orion.


“Aku milikmu, Tuan Bintang Jatuh.” Angguknya dengan sangat perlahan.


###


Duke Jonas




aku kasih Orion yang topless biar mata kalian ternoda! 😂




alo kesayangan💕,


dah mulai sedikit oleng di perahu Princess Lou, sementara Hiver dan Orion sedang manis-manisnya.


hmmm...


buat kalian di sana, semoga memiliki kisah cinta yang manis juga. dan yang lagi struggle, atau lagi hambar hubungannya semoga mendapatkan jalan keluar yang terbaik.


aku ngomong apa sih?


wkwkwkwk.


love,


D😘