MERSIA

MERSIA
Crazy In Love



“Apakah kau perlu sesuatu?” tanya Orion tanpa bergerak dari posisi duduknya. “Jus?”


Hiver menaikan telunjuknya dan menggoyangkan kiri dan ke kanan. “Aku akan meminta langsung kepada Paul jika membutuhkan sesuatu.” Putusnya menyebut nama kepala pelayan mansion milik mereka.


“Leherku lelah.” Keluh Orion memegang lehernya. Sudah dua jam ia duduk dengan posisi sama, bahkan ekspresi wajahnya harus tetap seperti yang diminta oleh Hiver.


“Bertahanlah, Bintang Jatuh.” Hiver terkekeh sambil menggerakkan kuasnya. Ia bisa melihat Orion mulai tak nyaman, pria bersurai emas pucat berkali-kali menatap Hiver dengan sorot mata malas yang tajam. Lucu bukan? Manik biru itu serba bisa, hanya dalam sekali tatapan mengartikan banyak hal.


Orion menyeringai menampakkan gigi taringnya, Hiver tergelak tawa.


“Aku tidak bisa bersabar lagi, Marjorie.” Orion berdiri sambil menyugar surainya ke belakang, yang tadinya diatur sedemikian rupa oleh Hiver menutup sedikit wajah d bagian samping. Tak ada protes dari Hiver, Orion mendekat ke arah kanvas besar yang disanggah dengan kayu.


“Astaga, Marjorie.” Sepasang manik biru gelap melebar dan bibir terbuka. “Ini sudah selesai dari tadi, taruhan jika 30 menit lalu hanya melukis cahaya matahari yang masuk melalui jendela.”


Hiver tidak terpengaruh dengan protes yang dilayangkan Orion, yang terdengar lebih seperti sebuah alunan musik klasik karena kelembutan suaranya.


“Tapi aku tampak sempurna di lukisan ini.” ujarnya lagi memuji replika diri yang sedang duduk di sofa berwarna putih, pun suitnya senada.


Hiver tersenyum mendengarkan celotehan Orion, ia kemudian terpaku menatap sebuah mahakarya setelah lama vakum dari dunia yang sangat ia sukai. “Ya, ini sempurna.” Ujarnya riang.


Orion bertepuk tangan sebanyak dua kali kemudian saling mengatupkan jemarinya. “Setelah 30 tahun aku menunggu ini. Terima kasih, Marjorie.” Ucapnya bahagia kemudian mengecup pipi istrinya.


Hiver tersipu seraya meletakkan perlengkapan melukisnya. Orion ikut membantu melepaskan celemek berwarna forest green yang telah ternodaol oleh cat minyak. Tidak banyak, karena ini merupakan hari pertama Hiver menggoreskan kuasnya. Itupun setelah menunggu ruangan melukis selesai di renovasi.


Demi satu ruangan khusus istrinya, Orion merubah struktur tembok dari bangunan lama menjadi sebuah dinding kacang yang bisa digeser. Dari ruangan melukis Hiver, mereka setiap saat disuguhkan dengan keindahan dan hembusan angin danau.


“Kau selalu sempurna.” Hiver meralat perkataannya kemudian tubuhnya ditarik masuk dalam dekapan Orion.


“Tidak, kau -lah  yang sempurna.” Bisiknya mendekap erat tubuh istrinya. “Ini luar biasa, Marjorie. Setidaknya kau bisa meluapkan kekesalanmu…”


“Kesal terhadap siapa?” potong Hiver sambil cemberut.


Orion tergelak tawa lalu mencium pipi Hiver. “Carole. Kau masih memikirkannya, bukan?” gumam lembut mencandai wanitanya.


“Tidak tertarik. Wajar dia menjadi seorang artis, Carole sangat pintar bersandiwara. Usai pesta, River menarikku ke tempat kami selalu bermain dulu dan mengatakan jika Carol baru telat datang bulan selama tiga hari, mereka bahkan belum sempat mengetesnya.” Terang Hiver yang baru mengatakan hal tersebut kepada suaminya.


Orion terdiam sejenak sambil berpikir. “Aku di mana saat River mengajakmu berbicara?” selidiknya.


Hiver tersenyum lalu tertunduk. “Kau sedang berbincang dengan Hiro dan Autumm.”


“Dasar.” Rutuk Orion kemudian menatap wajah istrinya. “River tidak memperlakukanmu dengan kasar? Atau mengatakan hal yang melukaimu, Marjorie? Jika iya, sekarang juga kita terbang ke kota.”


“Tidak. Justru River menangis.” Ujarnya jujur mengingat kejadian minggu lalu.


Orion tipe pria yang jarang tersenyum, pun tidak banyak menampakkan ekspresinya kepada orang selain Hiver. Kini pria cantik sekaligus rupawan itu membelalakkan mata dan derajat kesempurnaan wajahnya malah makin bertambah.


“Kenapa dia menjadi lemah seperti itu, aku pikir River sangat tangguh. Hmm.. lukisan ini akan kugantung di ruang tamu, biar semua orang melihatnya.” Kata Orion kemudian menggenggam jemari tangan Hiver. “Mau makan atau mandi dulu?”


“Makan.”sahut Hiver dengan mantap. “River, dia tertekan. Aku tidak tahu menjelaskannya Bagaimana jika dirimu sebagai saudara kandungnya berbicara secara langsung. River butuh seseorang, dan itu bukan aku.” Tandasnya.


“Kenapa harus aku? Terlebih River adalah seorang yang dewasa, dia pastinya tahu apa yang harus dilakukannya. Aku juga tidak ingin membiarkan kau bertemu dengan saudaraku yang jelas-jelas menyukaimu.” Orion bersungut.


“Bintang jatuhku sedang kesal rupanya. Apakah kau cemburu kepada saudara kembarmu?”


“Tidak, Marjorie. Hanya saja aku bingung dengan River dan Carole. Mereka seperti dua sisi yang saling membelakangi. Aku tidak tahu yang mana wajah sebenarnya kedua orang itu, di depan keluarga mereka terlihat baik-baik saja.” kata Orion dengan tenang.


“Dan di depanku, River menjadi seorang yang penuh masalah.” Dengus Hiver mengikuti Orion yang berjalan pelan menuruni tangga. “Tapi aku pikir kau harus bicara dengannya, Orion. Seiring kita semakin dewasa, teman-teman untuk ditempati berbicara semakin berkurang, tapi aku tidak ingin mendengarkan permasalahannya dengan Carole. Aku sungguh tidak menyukai wanita itu, terlalu berlebihan.”


Orion tersenyum lembut ketika langkah kaki mereka mengarah ke ruang makan, samar-samar wangi makanan tercium di inderanya. “Makanlah yang banyak kemudian kita beristirahat setelah itu. Aku juga akan mencoba berbicara dengan River. Dia sebenarnya dekat dengan Autumm, tapi kita tahu sendiri jika Autumm tengah sibuk dengan persiapan pernikahannya. Ya, kita akan kembali ke kota, tapi aku tidak menyukai berbicara lewat telepon. Atau memanggilnya kesini?”


Hiver mengangguk pelan. “Baiknya kau mengundang River.”



Lou tersenyum lebar ketika membuka pintu rumahnya, wajah cantik merona merah melihat sosok tinggi mengenakan polo shirt hitam dipadu celana putih. Jonas tampak kelimis dan tubuhnya lebih ramping dengan atasan slim fit.


“My love.” Kata Jonas memeluk Lou, keduanya saling berpelukan melepaskan rindu yang menumpuk di dada.


“Kau akhirnya datang.” Lou mengerang. Mendekap erat-erat tubuh tegap dan terlatih tersebut.


Lou tidak khawatir apalagi takut berada di Afrika. Di samping beberapa pengawal terbaik kerajaan mengawasi kediamannya dari kejauhan, pun kini Jonas datang. Pria yang merupakan kakak sepupu dari Philip itu adalah seorang panglima tentara yang terlatih di medan perang. Tidak akan ada yang bisa mengganggu ketenangan Lou, baik dari hewan buas maupun suku asli di negara itu.


“Sepertinya kau telah mengatakan kepada pengawalmu di bawa sana, jika aku akan datang.” Jonas memandang wajah cantik kekasihnya. Setelah berapa lama mereka terpisah, akhirnya waktu itupun datang kepadanya.


Lou mengiyakan dengan anggukan kepala yang riang. “Ya. Mereka juga aku minta tidak melaporkan kehadiranmu di sini kepada papa.”


Jonas menaikkan alisnya penasaran. “Bagaimana dengan sang ratu?”


Lou terkekeh sambil tersenyum manis. “Mama tahu tentang dirimu, Joe. Bahkan meminta data-data tentang dirimu hanya untuk mengetahui pria mana yang sedang dekat denganku. Apakah ini tidak apa-apa?” tanyanya meminta persetujuan yang terlambat.


Lou tersengal mendengar perkataan Jonas yang membuatnya melambung. “Calon suami.” Ia mengeja dengan lambat-lambat.


“Aku mengajukan diri untuk dibebastugaskan dari kemiliteran Swedia. Philip sendiri yang mengusahakannya, dan menutup semua informasi tentang kepergianku ke sini. Aku adalah pria yang bebas, dan sepenuhnya menjadi teman sekaligus kekasihmu, putri cantik milikku.”kata Jonas penuh dengan godaan.


Sang putri itu terus-terusan memerah wajahnya. “Apakah kau akan tinggal bersama denganku?”


Penawaran Lou membuat manik biru Jonas berkilat bahagia. “Kau tidak boleh meralat perkataanmu, My Love. Kebetulan semua barangku ada di mobil, jadi tinggal aku angkat masuk ke dalam rumah. Terima kasih, Lou.”


“Untuk apa?” tanya Lou cepat. Ia memandang wajah Jonas dengan manik hijau terangnya. Lou mengagumi mencintai pria itu dalam waktu singkat. Kedewasaan dan ketegasan Jonas membuat Lou takluk dalam pemujaan.


“Untuk menerimaku, pria yang tidak pernah dianggap.” Ujar Jonas merendah.


“Tuhan. Jangan mengatakan itu, sayang.” tangan Lou memegang rahang Jonas yang  mulus tanpa bulu. Baik penampilan bersih atau bercambang, semuanya Lou suka. Ia tergila-gila dengan Jonas, dan tidak bisa menunda kepergiaannya ke Afrika lebih lama. Lou tidak puas dengan panggilan telepon berjam-jam dengan kekasihnya, ia ingin memeluk Jonas seperti yang sekarang ia lakukan.


“Aku tidak pernah membayangkan jika kandasnya kisah cintaku yang terdahulu akan membawa dirimu, Lou. Seorang putri yang sangat cantik dari Kerajaan Mersia. Aku tidak pernah bermimpi akan mendaparkan seorang putri. Dan aku tidak akan pernah pergi sedetikpun dari sisimu. Kita akan terus bersama mulai hari ini hingga dunia berakhir.”


“Aku pernah menikah dengan adik sepupumu.” Desah Lou.


“Semua orang tahu itu, dan aku tidak mempermasalahkannya. Kita menunggu hingga semua tenang, dan mencari cara agar bisa menikah di sini.” Ujar Jonas penuh puja dan cinta yang terus membara membakar dadanya.


“Aku sangat mencintaimu, Duke Jonas Sandeberg.” Lou menatap takjub dan mencinta.


Jonas mengulas senyuman penuh arti, ia menemukan hatinya yang hilang pada putri Mersia tersebut. Pelabuhan terakhirnya, ujung dari penantian panjang akan datangnya cinta sejati. Jonas teramat yakin akan wanita cantik yang berada dalam genggaman tangannya. Sama sekali tidak ada keraguan, dan keputusan Lou untuk meninggalkan Mersia adalah tanda besar keseriusan putri cantik itu dengan Jonas.


“Apakah ada kalimat lain dari aku juga mencintaimu, Lou? Sebuah kalimat luar biasa yang bisa menggambarkan isi hatiku kepadamu. Tidak, sepertinya tidak ada kata yang bisa mewakilkan perasaanku.”



Philip mendengus kasar, ia memutar matanya ketika para asisten setianya sengaja datang ke chateu miliknya. Bukannya Philip telah meminta mereka untuk mengerjakan segala macam pekerjaan yang sebenarnya harus ia selesaikan di Royal House. Alih-alih bekerja, para asisten itu malah mendengerkan perintah King Sigvard untuk datang membujuk Philip. Ya, apalagi jika meminta agar masa pengasingannya berakhir dan mulai kembali menjalankan semua rutinitas yang membosankan itu.


Sementara Philip telah mendapatkan ritme menetap di chateu indah itu. Udara yang sejuk, kadang sangat dingin ketika malam tiba, kicauan burung-burung di pagi hari membangunkannya untuk berolahraga. Perapian hangat tempatnya bersantai di sofa tunggal sambil menulis puisi. Ya benar, Philip menulis rangkaian kata indah yang ditulisnya di dalam buku.


“Aku sudah bilang jika selama berapa bulan ke depan tidak ingin memikirkan Swedia. Dia sungguh raja yang plin plan.” Umpatnya kepada sang ayahanda.


Dua dari lima asisten Philip terkekeh mendengarkan gerutuan putra mahkota. Bukan tidak hormat, namun kedekatan Philip dengan para asistennya juga -lah yang membuat mereka tidak segan untuk menunjukkan hal semacam itu. Tentu saja selama berada di luar Royal House.


“Raja menginginkanmu hadir di pesta kerajaan minggu depan, Yang Mulia.” Ujar Johan menyampaikan titah King Sigvard.


Philip menaikkan kedua tangan di depan dada, seakan menunggu bola yang hendak menghantam tubuhnya. “Tidak. Aku tidak berniat menghadiri pesta apapun dalam waktu dekat. Bagaimana bisa Swedia menggelar sebuah pesta, sementara aku baru saja bercerai? Sungguh menggelikan dan apa kata rakyat nanti. Tidak cukupkah drama perceraian dengan Lou yang berhasil membuat satu kerajaan mengumpat kepadaku? Dan aku tahu maksud raja kalian itu menggelar pesta tersebut.” Tuduhnya sambil menatap satu persatu pria-pria berbadan besar tersebut.


“Yang Mulia. Maksud sang raja sangat baik, beliau tidak ingin melihat anda bersedih lebih lama dan menjauh dari Royal House. Anda membutuhkan seorang pendamping, seorang putri dari kerajaan lainnya.” Imbuh Johan berusaha membujuk sang pewaris tahta.


Philip berdecak menggelengkan kepala. “Katakan kepada raja kalian jika aku tidak akan menikah lagi dalam waktu lama. Jika syaratnya aku harus menikah terlebih dahulu baru akan naik tahta, lebih baik raja kalian menyiapkan cucunya untuk menggantikan posisi itu. Mengerti?” tandas Philip setengah murka mengingat keinginan gila ayahandanya.


Dari perpisahannya dengan Lou, ia banyak belajar. Atau bisa dikatakan dari kegagalannya mempersunting Hiver, Philip seharusnya tidak melibatkan orang lain untuk mengobati kekecewaan hatinya. Kini ia harus mengenang semua tingkah laku bodohnya di chateu terpencil yang berada di perbukitan dan terus berandai-andai akan adanya lorong waktu yang bisa membawanya kembali pada usia remaja. Sebuah usia yang sempurna memulai dari awal untuk mendapatkan Hiver. Ya, Hiver. Putri Mersia yang mengajarkannya tentang cinta. Wanita yang sama pula, kini membencinya hingga ujung-ujung rambutnya yang berwangi orange segar itu.


Apakah kau begitu membenciku, Hiver? Aku justru merindukan ujung belatimu di dadaku. Goresan kecil itu telah hilang, rasanya abadi.


###







alo kesayangan💕,


masih ancang-ancang drama part 2, wkwkwkwk..


aku tuh pengen beranjak next ➡ Prince Onyx. apakah kalian sudah melupakan dia? masih ada Cyrus si bengal kek Jason..


kangen gak ma Jason?


hihi😎


happy weekend y'all


love,


D😘