MERSIA

MERSIA
Honestly



Serenade lupa kapan terakhir ia menginjakkan kaki di kediaman kakak sepupunya, Orion Filante. Namun suasana mansion itu masih tetap nyaman dan tenang seperti dulu, yang berubah hanya tanaman semakin banyak yang mungkin menandakan jika Orion lebih berwarna dibandingkan sosoknya yang tertutup di masa lalu.


"Selamat datang, Miss Rajendra," sapa Kepala Pelayan mansion milik Orion.


Serenade yang di sambut menyunggingkan senyuman. "Terima kasih, Paul. Kau masih mengingatku,"


Paul, pria berusia 50an itu mengangguk sopan. "Saya mengingat anda semua, Miss. Silahkan, Yang Mulia sedang membersihkan diri. Biasanya beliau agak lama," terangnya sambil berjalan di samping Serenade.


"Sebaiknya saya menunggu di taman belakang sambil melihat-lihat," cetus Serenade ketika hampir mencapai pintu depan. Ia mengurungkan niatnya untuk menunggu di dalam rumah.


"Baik, Miss Rajendra. Saya akan mengabarkan Yang Mulia tentang kedatangan anda," tutur Paul dengan pelan.


"Terima kasih, Paul," ucap Serenade kemudian menganggukkan kepala. Ia menyugar surai keemasannya ketika kakinya melangkah menuju bagian belakang mansion.


Blus satin berwarna biru muda milik Serenade tertiup angin sepoi-sepoi hingga tubuh indahnya menunjukkan lekukan tepat pada tempatnya. Ia memilih berdiri di tepian taman sambil memandang ke bawah, danau berwarna hijau yang tenang.


Wangi parfum bercampur dengan body wash segar membuat Serenade menoleh. Sosok jangkung mengenakan t-shirt hitam two tone dan celana denim membungkus tungkai kakinya yang sedang melangkah agak tergesa.


"Hei, kau datang," seru Onyx terlebih dahulu.


"Aku yang berjanji, bukan?" sahut Serenade akrab. Ia telah memikirkan di sepanjang jalan menuju mansion agar lebih terbuka dengan pewaris tahta itu.


"Aku juga baru sampai, mandi dan aku pikir akan duduk di ruang tengah sambil menunggumu. Bagaimana harimu, Nada?" alis Onyx terangkat sebelah, bibirnya mengukir senyuman bahagia.


"Sangat baik. Seharian kami, aku dan Daddy jalan-jalan di kota Lyon. Mama sibuk dengan Mami Isla entah kemana, sepertinya berbelanja. Bagaimana harimu, Onyx?" tanya Serenade sambil memandang wajah putih bersih sekaligus bercahaya milik Onyx.


Onyx berdeham sambil berpikir sejenak. "Berjalan baik, kami makan siang bersama kemudian berbicara santai namun memutuskan beberapa kesepakatan kerjasama antar kerajaan. Sebuah perjalanan ke Perancis yang membuahkan hasil,"


"Good for you, Onyx," kata Serenade. Ia tersenyum simpul tanpa rasa malu terus mengamati raut wajah Onyx yang berubah-ubah. Terkadang senyum kecil menghiasi bibirnya, kadang pula bibirnya terkembang penuh.


"Sudah menjadi tugasku, Nada. Beban sebagai pewaris tahta memang sangatlah berat, ditambah tekanan dari Dewan Kerajaan," keluh Onyx kemudian menghela napas panjang.


"Kau telah bekerja keras, Onyx. Di usiamu yang masih tergolong muda telah mengerjakan banyak hal," tambah Serenade, Onyx menaikkan kedua alisnya dengan senang.


"Aku mengerjakan tugas ini sejak usia belasan, walau pada saat itu hanya dijadikan simbol kerajaan yang belum bisa memutuskan sesuatu. Beberapa tahun lalu pun aku masih kerap disalahkan ketika mengambil sebuah keputusan. Ah, aku terdengar mengeluh, bukan? Maafkan aku, Nada," sesal Onyx menaikkan tangan ingin meraih sesuatu kemudian mengurungkannya.


Serenade menepuk lengan Onyx. "Tidak apa-apa, kau bisa menceritakan apapun kepadaku sore ini. Di tempat Orion aku bebas melakukan apapun, aku juga bisa bicara selancar ini denganmu,"


"Sebuah kemajuan," kata Onyx sembari memandang wajah Serenade. Ia sangat menyukai manik biru seperti langit itu, warna manik yang sama dengan Marion, putri pertama Orion dan Hiver.


"Pelayan membawakan teh dan kue," ujar Serenade ketika melihat dua pelayan meletakkan isi nampan di atas meja besi berukir antik.


"Sebaiknya kita duduk di sana sembari menyantapnya, Nada. Terkadang aku juga heran dengan Orion, dia sangat menyukai dengan tempat tenang namun di sisi lain dia juga mempekerjakan beberapa orang yang melayaninya selama 24 jam. Pelayan-pelayan di sini sigap dan terlatih sama dengan pelayan di Mersia," Onyx berjalan menghampiri meja, Serenade bersisian hanya mendongak menatap raut muka teman bicaranya sore itu.


...


Ada jeda sepi ketika kedua menikmati secangkir teh dan sepotong Buche de Noel.


"Ketika di Perancis aku bisa menikmati teh dengan cake seperti ini. Di Mersia lebih menyajikan teh dengan biskuit," celetuk Onyx membuat Serenade meliriknya lalu tersenyum.


"Iya aku tahu. Aku sudah pernah ke sana," balas Serenade. "Mersia yang indah, sejuk dan hijau. Mungkin ini perkataan standar yang sering kau dengar ketika seseorang mendeskripsikan Mersia,"


"Ya, seperti itulah Mersia," Onyx memandang wajah Serenade. Ia lalu menghela napas panjang.


Serenade terdiam, bibirnya saling mengatup, beberapa kali ia mengambil udara memenuhi paru-parunya.


Onyx berdeham, ia mengamati wajah Serenade yang terlihat gamang, gelisah namun mengerahkan semua fokus untuk tetap tenang. "Nada," panggilnya.


Wanita cantik di sebelahnya menoleh bersamaan manik birunya mengerjap. Hati Onyx meluruh.


"Kita berdua tidak pernah menjalin hubungan dengan siapapun. Jujur kalau aku jatuh cinta saat pertama melihatmu, Nada. Sebuah perasaan yang berbeda ketika mengenal wanita lain. Saat itu aku memutuskan ingin mendekatimu dan aku sudah berupaya. Aku terbang ke New York dan mengundangmu ke Mersia. Aku tidak sempurna seperti orang pikirkan. Ada hal yang pasti membuatmu kecewa," ucap Onyx dengan tenang.


Serenade sekilas menoleh menatap Onyx. Ia mengangguk kecil. "Momennya tidak tepat, hanya itu," kilahnya.


Onyx tersenyum. "Kau tidak ingin menceritakan siapa dia?" todongnya.


Manik biru Serenade membeliak mendengar perkataan Onyx. "Hei," serunya akrab. Onyx tergelak tawa sambil mengacak surai Serenade.


"Aku bisa menebaknya sejak pagi tadi, Nada. Perkataanmu mengambang dan caramu memandangku tidak seperti orang yang sedang jatuh cinta,"


Serenade menyentuh lengan Onyx, tatapannya bertabrakan dengan bola mata pewaris tahta itu. "Maafkan aku, Yang Mulia,"


"Serenade," Onyx menggeram lalu mencubit pipi wanita cantik itu hingga memerah. Serenade sampai harus memegang pipinya sementara Onyx justru malah terbahak.


"Itu hukuman bagi orang yang suka membantah. Jangan-jangan kau tidak memilihku karena titel itu," tebak Onyx sambil memicingkan matanya.


Serenade terdiam sesaat. "Bukan," sahutnya pelan sambil menggeleng lemah.


"Terus?" tuntut Onyx seakan ia sedang berbicara dengan teman yang dikenalnya sejak lama.


"Hmm.. Janji tidak akan sakit hati jika aku bercerita tentang dia," kata Serenade polos.


"Walau aku kecewa perasaanku tidak terbalas, bukan berarti aku tidak kuat menjalani hidup. Dan.. konon katanya cinta pertama kebanyakan tidak berjodoh," Onyx tidak sungkan untuk merangkul bahu Serenade. Mengetahui pianis itu tidak memiliki perasaan yang sama justru membuatnya lebih leluasa berperilaku.


"Aku suka kita seperti ini," Serenade lebih semangat dengan Onyx yang menanggapi pembicaraan mereka dengan ringan.


"Aku menunggu dari tadi,"


"Aku menyukaimu Onyx, bahkan sebelum pertemuan kita di Luxembourg. Aku berdebar menunggu hari itu, dan ketika melihatmu aku sangat gugup. Aku berusaha untuk mengenalkan diri karena hanya itu kesempatan yang kumiliki. Saat itu atau tidak sama sekali. Rupanya itu meninggalkan kesan,"


"Tentu, pertemuan itu membuatku terkesan," potong Onyx. "Terus apa yang membuat rasa sukamu tidak berkembang?"


"Dia. Pria itu..." jawab Serenade hati-hati.


"Dia lebih menarik? Tolong katakan siapa pria itu, Nada," tuntut Onyx. Dalam hati ia mengakui jika dirinya tidak berkurang, pun memiliki semua yang membuat wanita jatuh hati tanpa berpikir. Tanpa perlu berusaha dan menunggu seperti perjuangannya menaklukkan hati Serenade. Dan itu sia-sia.


"Malam itu, di Luxembourg. Aku mengenal pria selain dirimu, Onyx. Pria yang memiliki tanggung besar sama denganmu," kata Serenade.


Sontak Onyx berdiri dari duduknya. "Philip? Prince Philip Bernadotte?" serunya dengan mata melebar.


Serenade berdiri. "Iya, Prince Philip. Maafkan aku tidak jujur kepadamu jika di saat yang sama Philip juga melakukan pendekatan. Ia pernah datang ke New York menonton konserku, kami menghabiskan waktu dengan berperahu. Dan setelah kunjunganku di Mersia, aku terbang ke Swedia. Rupanya Kak Orion dan Philip berteman baik, semua terjadi karena dua orang itu yang merencanakannya. Tolong, jangan salah paham,"


Onyx menggeleng kemudian memegang kedua bahu Serenade. "Tidak, aku tidak salah paham," katanya kemudian terdiam. Ia memandang lekat-lekat wajah Serenade. Bola mata itu terlihat berkabut.


"Tolong jangan menangis, Nada. Kamu tidak salah apapun. Aku lega mengetahui kemana hatimu mengarah," Onyx tersenyum tulus. Ia mengangguk pelan.


"Semua berjalan tanpa aku sadari," aku Serenade lemah, ia menunduk hanya sesaat, Onyx menggoyangkan bahunya hingga ia kembali menaikkan pandangannya.


"Lihat aku, Nada," pinta Onyx. Serenade menggigit bibir bawahnya ketika bertatapan dengan calon penguasa Kerajaan Mersia yang terkenal dengan keindahan negerinya.


"Kau sudah tahu semuanya berarti. Tentang Orion, Marc dan Philip,"


"Iya, aku sudah tahu," jawab Serenade.


Onyx mendesah pelan, bibirnya terlipat, bola matanya terpejam sesaat. "Sungguh aku tidak sebanding dengan Philip. Dan kami punya utang budi dengan dirinya,"


Onyx terdiam usai menyudahi perkataannya.


"Aku tidak ingin membuatmu terluka dengan menceritakan bagaimana perasaanku kepadanya," lirih Serenade.


Tiba-tiba saja Onyx memeluk Serenade. "Tidak perlu, Nada," katanya dengan suara berat yang tertekan.


"Dia belum mengetahui ini, dia pikir aku akan memilihmu," ucap Serenade yang pasrah menyerap semua wangi yang berasal dari dada Onyx. Ini merupakan pelukan pertama dengan Onyx, walau kokoh dada kedua pria itu hampir sama. Di sini Serenade bisa membandingkan sensasi yang ditimbulkan berada di dalam dekapan dua pria berbeda.


Dekapan Onyx semakin mengencang kemudian mengendur setelah tahu jika tenaga yang dikeluarkannya tidak sebanding dengan tubuh yang menerima. Serenade tentu tidak bisa menahan lebih lama pelukan sekuat itu. "Maafkan aku dan terima kasih,"


Alis Serenade terangkat. "Terima kasih buat apa?" tanyanya kebingungan.


Onyx mengembuskan napas lega dan panjang. Ia tersenyum. "Kini aku tidak memiliki utang budi lagi dengan Philip. Berkat dia Marc bisa hidup bahagia bersama dengan Orion. Terima kasih, Nada. Aku akan mendoakan kamu dan Philip untuk hidup dengan bahagia. Kelak nanti ketika aku dan Philip menduduki tahta masing-masing, kita tidak bisa seperti ini lagi. Dan ingatlah hari ini, hari di mana aku merelakan perasaanku, wanita yang aku cintai untuk hidup dengan pria yang jauh lebih hebat. Aku akan bahagia untukmu, Nada," ucapnya tulus.


"Hei, belum! Philip belum tahu," pekik Serenade sambil mencubit pipi Onyx.


Sang pewaris tahta itu tergelak lalu merangkul bahu Serenade dengan akrab. "Kau harus memberitahunya, jika tidak aku bisa saja menculikmu ke Mersia dan menjadikanmu sebagai permaisuriku. Cepatlah bertindak sebelum aku gelap mata," ancam Onyx.


Serenade merenggut. "Kenapa kita tidak seperti ini sejak awal. Aku bisa mengembangkan perasaanku andai tidak ada pembatas tata krama seperti awal perkenalan kita,"


Onyx melirik dengan alis berkerut. "Apakah Philip melakukan hal seperti ini juga?"


Serenade menggeleng sambil tersenyum. "Philip hanya berdiri di sampingku, berbicara dengan penuh wibawa, sedikit tertawa. Dan aku telah memujanya,"


Onyx tidak bisa menahan diri untuk tidak berdecih. "Sudah.. sudah, jangan menyiramkan perasan lemon di hatiku," Onyx menekan dadanya dengan tangan kiri, seakan ia terluka parah.


Serenade tersenyum kecil, Onyx lalu tertawa. "Ayo kita masuk, hari sudah malam. Kau akan tinggal untuk makan malam denganku, bukan? Janji aku tidak akan membuatmu jatuh cinta," candanya membuat Serenade terkekeh.


"Kau akan menemukan cintamu sendiri, Yang Mulia. Bagaimana dengan Princess Stephani?" tanya Serenade sambil berjalan dalam rangkulan Onyx.


"Tidak, bukan wanita seperti dia yang akan menjadi pendampingku, Nada. Sebenarnya kau adalah kandidat kuatnya, tapi hasilnya berbeda. Banyak hal yang tidak bisa sejalan dengan Stephani sekarang dan kemungkinan besar ke depannya. Aku tidak ingin memaksakan itu. Berikutnya biarkan saja hati yang mengarahkanku, sama seperti ketika aku bertemu denganmu,"


Serenade termenung mencerna penjelasan Onyx. Tiba-bisa saja ia berandai-andai dalam hati. Andai mereka dekat seperti ini sejak dulu. Andai ia tahu posisi Stephani di hati Onyx seterang ini. Andai saja ia tidak tertarik dengan sisi misterius dari seorang Philip. Pun andai ia tidak pernah merasakan panasnya dada seorang Philip Bernadotte. Sebuah panas yang hingga hari ini tidak pernah padam.


###




alo kesayangan💕,


aku kembali, dan yah... membawa luka kepada Team Onyx, but cerita indahnya belum masuk.


sabar yah 😁


gimana kabar kalian?


sehat-sehat yah.


love,


D😘